NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Jiwa Yang Patah

Lunaris perlahan membuka matanya. Kesadarannya kembali bukan dengan kelegaan, melainkan dengan hantam realitas yang brutal.

Rasa sakit di sekujur tubuhnya, perih di kulitnya, dan dinginnya lantai keramik memberitahunya satu hal: kejadian mengerikan itu nyata. Itu bukan mimpi buruk yang akan hilang saat pagi datang.

Dengan sisa kewarasan yang nyaris putus, Lunaris bergerak. Setiap gerakannya memicu rasa sakit yang luar biasa terutama dibagian bawahnya. Tangannya yang gemetar memunguti semua pakaian yang berserakan di lantai basah.

Ia memaksakan tubuhnya yang hancur untuk kembali berpakaian. Rasanya menjijikkan. Kain itu menempel pada kulitnya yang penuh luka, tapi ia tidak punya pilihan. Ia mengenakan sepatunya dengan susah payah pada kaki yang bengkak, lalu berdiri dengan berpegangan pada dinding.

Saat ia berhasil keluar dari neraka itu —pintu yang ternyata hanya dililit rantai tanpa gembok oleh Bracia— langit di luar jendela sudah senja kemerahan. Lorong sekolah sudah kosong. Sunyi. Mati.

Lunaris menyeret langkahnya menuju kelas. Tujuannya hanya satu: mengambil tasnya dan pergi.

Sesampainya di kelas, pemandangan lain menyambutnya. Meja kayunya penuh dengan coretan spidol permanen dan tip-ex. Kata-kata kasar memenuhi permukaannya: "Pelacur," "Murahan," "Mati aja lo," "Sampah."

Biasanya, tulisan itu akan membuatnya sedih dan kesal. Tapi kali ini, Lunaris hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

Hatinya sudah mati rasa. Coretan itu tidak lagi menyakiti hatinya karena jiwanya sudah lebih dulu dihancurkan. Ia tidak peduli. Ia sudah melampaui batas rasa sakit.

Ia meraih tasnya, menyandangnya di bahu yang lebam, lalu berjalan keluar.

Lunaris keluar dari gerbang sekolah, ia tidak berjalan menuju halte bus. Kakinya membawanya melangkah tanpa tujuan, menyusuri jalanan kota yang mulai gelap.

Malam turun perlahan, membawa kesunyian yang menemani setiap langkah gontainya.

Burung-burung gagak kembali beterbangan di atas langit gelap, suara kaak-kaak mereka yang nyaring seolah menjadi musik pengiring bagi prosesi pemakaman jiwanya sendiri.

Namun, Lunaris tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan, membiarkan kakinya menuntun ke mana pun takdir membawanya.

Dunia ini sepertinya memang tidak pernah benar-benar menginginkan keberadaan Lunaris.

Ketika Lunaris mendongak menatap langit, ia kini menyadari jika langit di atas kepalanya selalu tampak lebih rendah dibandingkan langit yang menaungi orang lain.

Warnanya bukan biru cerah seperti dalam lukisan-lukisan Renaissance yang sering ia lihat di buku seni perpustakaan, melainkan abu-abu—sebuah kanvas kotor yang lupa dicuci oleh Tuhan.

Lunaris menyadari jika hidupnya lebih mirip gerhana yang tak kunjung usai. Gelap, dingin, dan tertutup bayang-bayang.

Malam itu, hujan mulai turun perlahan seakan ikut menangisi satu jiwa yang tengah hancur.

Bukan hujan yang romantis, bukan jenis hujan yang membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh sambil tertawa renyah. Ini adalah hujan yang marah.

Airnya jatuh menghantam aspal seperti ribuan jarum kaca, mencuci dosa kota ini namun gagal membersihkan noda hina yang kini melekat abadi di jiwa Lunaris.

Lunaris berjalan menyusuri trotoar yang retak, membiarkan air merembes masuk ke dalam sepatu ketsnya yang sudah usang dan basah. Dingin. Tapi rasa dingin itu tidak sebanding dengan kebekuan yang bersarang di rongga dadanya.

Orang-orang berlalu-lalang di sekitarnya, bersembunyi di balik payung warna-warni mereka, tampak seperti jamur-jamur plastik yang tumbuh subur di atas bangkai kota. Mereka tidak melihat Lunaris.

Bagi mereka, gadis yang berjalan terseok-seok dengan wajah lebam dan baju lusuh itu hanyalah spasi kosong di antara paragraf kehidupan mereka yang sibuk.

Sebuah bayangan yang lewat, tak bernama, tak berwajah.

Dan mungkin, memang begitulah seharusnya.

Di sekolah, ia adalah hantu. Bukan hantu yang menakutkan, melainkan hantu yang menyedihkan. Ia ada untuk menjadi alas kaki bagi mereka yang terlahir dengan sendok perak di mulutnya.

Sekilas bayangan ibunya melintas dalam kepalanya yang penuh dengan ingatan menyakitkan.

Nova, wanita dengan punggung yang tak pernah tegak karena terlalu sering membungkuk pada majikan yang selalu merendahkannya.

Ibunya yang mencintai Lunaris tanpa syarat, tanpa meminta imbalan meskipun hidupnya sangat sulit.

Tapi cinta itu terasa seperti rantai. Setiap kali ibunya meminta untuk bersabar, setiap kali ibunya meminta untuk menelan harga diri demi "masa depan", rasanya seperti ia sedang meminta Lunaris untuk perlahan-lahan mematikan nyala api kehidupan dalam dirinya.

"Bertahanlah, Lunaris. Sedikit lagi," bisikan itu terngiang di kepalanya.

Tapi "sedikit lagi" itu tak pernah berakhir. Garis finis yang dijanjikan selalu bergerak menjauh, dan kini, garis itu telah hilang sepenuhnya.

Bahkan kini orang yang selalu memberi dan menjadi alasan agar Lunaris selalu bersabar dan tidak menyerah pun sudah tidak ada.

Lantas sekarang apa gunanya Lunaris tetap bertahan? Apalagi mereka semua sudah merenggut semua milik Lunaris. Mereka sudah membuat masa depan Lunaris hancur hanya dalam hitungan jam.

Tanpa sadar, langkah kaki Lunaris berbelok ke sebuah gang sempit yang jarang dilewati orang.

Bau sampah basah dan lumut menyeruak, tapi anehnya, ia merasa lebih nyaman di sini. Di sini sepi. Di sini tidak ada mata yang menghakimi, tidak ada tawa yang mengejek, tidak ada ekspektasi yang mencekik.

Langkah kakinya membawanya semakin jauh dari pusat kota yang bising, menuju distrik tua yang telah lama ditinggalkan.

Jika Lunaris tidak salah ingat tempat ini sering diceritakan oleh orang-orang tua dilingkungannya.

Tempat dari sebuah legenda yang mengatakan jika konon dulu adalah pusat peradaban sebelum kota modern dibangun di atasnya.

Tapi sekarang, tempat itu hanyalah kumpulan tulang-belulang beton dan batu bata yang menyerah pada waktu. Gedung-gedung kuno yang runtuh seperti orang tua yang lelah berdiri, jendela-jendela dari kaca patri pecah menganga seperti mulut yang berteriak dalam diam.

Ada sebuah ironi yang pahit: Lunaris merasa memiliki kekerabatan dengan reruntuhan ini. Mereka sama-sama rusak, sama-sama dilupakan, dan sama-sama menunggu waktu untuk benar-benar roboh menjadi debu.

Dalam setiap langkah burung-burung gagak yang sejak tadi beterbangan mulai hinggap di beberapa puing reruntuhan. Mata burung-burung itu mengikuti setiap pergerakan Lunaris.

Kemudian langkahnya terhenti di depan sebuah struktur yang berbeda. Sebuah bangunan tua, satu-satunya yang puing-puingnya masih nampak megah dan kokoh —mungkin kuil, mungkin makam kuno— yang sebagian besar tertimbun tanah dan akar pohon beringin liar.

Batu-batunya hitam legam, menyerap cahaya alih-alih memantulkannya. Ada aura aneh yang menguar dari tempat ini, sebuah getaran halus yang membuat bulu kuduk meremang.

Bukan ketakutan, melainkan... sebuah panggilan.

Seolah-olah ada sesuatu di dalam sana yang berbisik, "Kemarilah, jiwa yang patah. Di sini kau bisa beristirahat."

Lunaris melangkah masuk melalui celah dinding yang runtuh.

Bagian dalamnya gelap gulita, hanya diterangi oleh bias cahaya suram yang menerobos masuk dari retakan di atap. Udara di sana berat, berbau debu kuno dan sesuatu yang metalik—seperti darah yang telah mengering selama berabad-abad.

Kakinya gemetar hebat. Bukan karena dingin atau rasa sakit pasca penyiksaan tadi, tapi karena kelelahan batin yang luar biasa.

Lunaris merosot duduk di lantai batu yang dingin, bersandar pada sebuah pilar yang penuh dengan ukiran aneh dan terlihat seperti sebuah altar utama yang berada di tengah kuil.

Tangannya merogoh saku tas sekolahnya, mengeluarkan benda tajam yang tak sengaja ia temukan di jalan tadi—sebuah pecahan kaca kotor.

Gadis itu menatap benda itu. Kaca itu memantulkan bayangan matanya yang kosong. Hijau yang pudar. Hijau yang layu dan mati.

"Apa gunanya?" Tanyanya pada kegelapan. Suaranya parau, pecah di tenggorokan yang kering. "Kalo takdir emang ada, kenapa takdir seolah begitu benci sama gue?"

Air mata akhirnya jatuh. Satu tetes, dua tetes, lalu menderas seperti hujan di luar sana. Tapi air mata ini terasa panas, membakar pipinya yang lebam.

Lunaris menekan pecahan kaca itu ke telapak tangannya, cukup kuat hingga kulitnya robek. Rasa perih itu menyentaknya, tapi juga memberinya kepuasan yang ganjil.

Setidaknya, rasa sakit ini nyata. Setidaknya, rasa sakit ini miliknya sendiri, bukan sesuatu yang dipaksakan oleh orang lain.

Darah segar menetes dari telapak tangannya, jatuh ke lantai batu hitam yang dia duduki.

Tes.

Tes.

Tes.

Suara tetesan itu menggema aneh di ruangan luas ini, jauh lebih keras dari yang seharusnya. Dan saat darahnya menyentuh ukiran kuno di lantai, sesuatu terjadi.

Tanah di bawahnya bergemuruh pelan. Bukan gempa, tapi seperti detak jantung raksasa yang baru saja dibangunkan dari tidur panjang.

Angin dingin berhembus entah dari mana, mematikan suara hujan di luar, menciptakan keheningan yang absolut. Udara di sekitarnya memadat, seolah-olah gravitasi tiba-tiba melipatgandakan kekuatannya.

Lalu Lunaris merasakan getaran hebat dari bawah lantai batu yang dia duduki, membuat Lunaris langsung tersentak dan menjauh dari sana.

"Ada apa ini? Apa ada gempa?"

Rasa dingin dari angin yang tiba-tiba berhembus membawa hawa dingin yang terasa tidak wajar. Seolah berbisik memperingatkannya untuk pergi sebelum terlambat.

Namun, belum sempat Lunaris memproses apa yang terjadi, getaran itu semakin besar dan menjadi guncang yang bisa membelah lantai batu dengan ukiran kuno.

Kemudian mata Lunaris membelak tak percaya saat melihat sebuah peti mati dengan ukiran kuno yang tak kalah rumit keluar dari lantai yang terbuka itu.

Saat tutup peti mati terbuka perlahan, di tengah kegelapan ruangan itu, sepasang mata terbuka.

Warnanya perak. Perak cair yang bersinar, dingin, dan tajam seperti pedang yang baru ditempa. Mata itu menatap Lunaris, menembus kulit, daging, hingga ke tulang sumsumnya.

Lunaris terdiam, napasnya tercekat. Rasa takut merayapi punggungnya, tapi anehnya, kakinya menolak untuk lari.

Dari balik bayang-bayang pilar di depannya, sesosok tubuh mulai terwujud. Sosok yang tertidur dalam peti itu bukan monster bertaring atau hantu berwajah rusak seperti yang dibayangkan dalam mimpi buruk. Tidak. Ia... indah. Indah dengan cara yang mengerikan.

Seorang pemuda. Rambut hitamnya panjang dan berantakan, seolah ia baru saja bangun tidur setelah pesta yang panjang. Wajahnya tampan dengan kulit putih cerah. Alis tebal yang mempertegas matanya yang memiliki sorot mata tajam. Juga rahang tegas dipadukan dengan hidung mancung semakin menambah kesan dingin pada pemuda itu.

Pakaiannya adalah campuran aneh antara jubah kuno yang compang-camping dan aura keagungan yang tak bisa disembunyikan.

Ia meregangkan tubuhnya, sendi-sendinya berbunyi pelan, seolah-olah ia sudah membeku dalam posisi itu selama seribu tahun.

Ia bangun dari posisi tidurnya dan melangkah maju, dan anehnya, langkah kakinya tidak menimbulkan suara sama sekali. Ia berhenti tepat di depan Lunaris yang terduduk dengan wajah menatap ngeri pada sosok itu.

Si pemuda bermata perak itu menunduk menatap gadis yang masih terduduk gemetar dengan tangan berdarah itu. Rambut gelapnya yang panjang bergoyang diterpa angin malam yang berhembus pelan menelusup dari celah-celah jendela yang tidak tertutup rapat.

Senyum miring terbentuk di bibirnya. Senyum yang tidak menjanjikan keselamatan, tapi menawarkan sesuatu yang jauh lebih menggoda: pembalasan.

"Manusia," Suaranya rendah, serak namun melodius, seolah ia sedang membaca puisi kematian. "Kau punya sopan santun yang buruk. Membangunkan seseorang dengan bau darahmu yang... menyedihkan itu."

Ia berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan Lunaris. Mata peraknya menari-nari di wajah gadis itu, seolah sedang membaca sebuah buku yang membosankan namun terpaksa ia selesaikan.

"Apa yang membawamu kesini? Apa kau datang ke sini untuk mati?" tanyanya, nada suaranya terdengar santai, bahkan sedikit mengejek. "Atau kau datang untuk membuat kesepakatan dengan iblis?" Ucapnya yang diakhiri dengan suara bernada menyebalkan.

Lunaris tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Tapi di dalam hatinya, di sudut tergelap jiwanya yang selama ini ia tekan, ada suara yang berteriak lantang. Suara yang menginginkan kehancuran bagi mereka yang telah menghancurkannya.

"L-lo siapa?"

Pemuda itu memiringkan kepalanya, seolah bisa mendengar teriakan batin itu. Ia mengulurkan tangannya yang pucat ke arah Lunaris.

"Siapa aku tidak penting. Yang jelas kau sudah mengganggu tidurku dengan ratapanmu." Suaranya acuh, tanpa empati.

"Dan kelihatannya, Nona Kecil, kau baru saja membuat kesalahan terbesar dengan datang kesini, karena sekali kau datang ke sini kau tidak akan bisa lepas dariku dengan mudah."

1
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!