NovelToon NovelToon
Istriku Dosen Killer 30+

Istriku Dosen Killer 30+

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dosen / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:498.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kaisar Pramudya, berandal kampus berusia 23 tahun, hidupnya berantakan antara skripsi yang tak kunjung selesai dan ancaman orang tua yang ingin menikahkannya secepat mungkin.

Namun, semua berubah dalam satu hari paling kacau dalam hidupnya. Di sebuah rumah sakit, Kaisar dipaksa menikahi seorang wanita berusia 32 tahun, wanita yang dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh emosi. Shelina Santosa, Dosen killer yang paling ditakuti di kampusnya.

Pernikahan itu terjadi di depan ayah Shelina yang sekarat. Dan tepat setelah ijab kabul terucap, pria itu mengembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Kaisar bertahan dalam hubungan
tanpa cinta, atau memilih mengakhiri sebelum semuanya berubah menjadi cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Pintu ruang rawat itu terbuka, lalu tertutup kembali dengan pelan.

Arman berdiri di hadapan istri dan anaknya, telapak tangannya menempel sebentar di daun pintu seolah menahan beban yang tak kasatmata. Tatapannya jatuh pada Kaisar dan ia tahu, anak bungsunya itu sedang berada di ambang penolakan.

“Dad…” suara Kaisar terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Arman mengangkat satu tangan, isyarat agar Kaisar berhenti bicara.

“Kali ini kamu harus bantu Daddy,” ucapnya tegas, namun suaranya tidak keras.

“Rudi sudah banyak sekali membantu Daddy dan Mommy kamu dulu. Tanpa dia, mungkin keluarga kita tidak akan seperti sekarang.”

Kaisar menggeleng cepat. “Tapi aku belum mau menikah, Dad. Aku masih kuliah, aku harus lulus, kerja—”

Dia beralih memeluk lengan Kinara, suaranya berubah memohon.

“Mommy, aku belum siap. Aku masih mau hidup normal.”

Kinara mengusap punggung tangan Kaisar, matanya berkaca-kaca. Namun, sebelum ia bisa menjawab, Arman kembali bersuara.

“Dia seorang dosen,” katanya pelan. “Mungkin dengan menikah dengannya, kamu bisa lebih cepat lulus. Dia bisa membimbing kamu.”

Kaisar mendongak cepat.

“Dia lebih tua dari aku?!” serunya kaget.

Karina mengangguk perlahan.

Kaisar mundur setapak. “Seberapa tua?”

“Sembilan tahun,” jawab Karina lirih.

“Sembilan tahun?!” suara Kaisar kembali menggema di koridor.

Pintu ruang rawat terbuka, seorang wanita keluar. Langkahnya tenang, wajahnya pucat, tapi sikapnya tetap tegak. Matanya langsung bertemu dengan Karina.

“Tante,” sapanya singkat.

Kaisar membeku, darahnya seperti berhenti mengalir. Wanita itu adalah Shelina Santosa. Dosen killer yang mengusirnya dari kelas.

Wanita dingin yang baru seminggu ini menjadi sumber kekesalannya. Kening Shelina sedikit mengerut ketika melihat Kaisar, namun ia segera menoleh pada Arman.

“Saya siap menikah,” ucapnya tegas, tanpa ragu.

“Tolong panggilkan penghulu. Kondisi ayah saya semakin memburuk.”

“Tidak!” Kaisar langsung berseru. “Tunggu dulu! Aku belum mau menikah!”

Namun, Arman tidak menggubrisnya.

“Kalian duduk dulu,” kata Karina cepat, menunjuk kursi tunggu di depan ruangan. “Ngobrol biar kalian bisa saling kenal.”

Kaisar dan Shelina duduk berdampingan dalam keheningan yang canggung. Kaisar menoleh, lalu berbisik pelan, “Miss … kenapa nggak nolak aja sih?”

Shelina diam.

“Miss mau nikah sama bocah kayak saya, nggak malu apa?” lanjut Kaisar, suaranya setengah bercanda, setengah putus asa. “Dikira pedofil nanti.”

Shelina menoleh, tatapannya tenang, tanpa amarah.

Kaisar tersenyum kikuk. “Ya … terserah Miss aja, mau menikah atau nggak.”

Dia berdiri, lalu melangkah masuk ke ruang rawat, mencari ibunya, mencari jalan keluar yang tidak ada.

Di sebuah ruang rawat rumah sakit yang sunyi. Di depan Rudi yang terbaring lemah dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.

Di bawah lampu putih yang terlalu terang untuk sebuah janji seumur hidup. Seorang penghulu, dua saksi, dan napas seorang ayah yang semakin berat.

Kaisar duduk kaku di kursi, telapak tangannya dingin, rahangnya mengeras. Di sampingnya, Shelina duduk tegak, wajahnya tenang, seolah pernikahan ini hanyalah formalitas yang harus diselesaikan sebelum waktu habis.

“Saudara Kaisar Pramudya,” suara penghulu terdengar pelan namun jelas, “apakah Anda siap menikahi Shelina Santosa dengan mas kawin tersebut, tunai?”

Kaisar menelan ludah, matanya melirik ke arah ranjang. Rudi menatapnya dengan mata yang sudah sayu, namun penuh harap.

“Jawab, Kaisar,” bisik Kinara lirih.

Kaisar menarik napas dalam-dalam.

“Saya … saya terima nikahnya Shelina Santosa binti Rudi Santosa dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Hening sesaat.

“Sah.”

Kata itu menggantung di udara, dan bersamaan dengan itu, terdengar bunyi panjang dari alat monitor. Rudi menghembuskan napas terakhirnya, Shelina berdiri perlahan. Hari itu menjadi hari paling menyakitkan dalam hidup Shelina.

Namun, yang membuat Kaisar terdiam Shelina tidak menangis. Dia merapikan tubuh ayahnya yang telah kaku dengan tangan gemetar yang disembunyikan. Ketika dokter dan perawat datang, Shelina menepi, berdiri dengan tatapan kosong menatap tubuh ayahnya yang tak lagi bernyawa.

Dia melawan kesedihannya di depan semua orang.

Kaisar menatapnya lama.

“Aneh,” gumamnya pelan. “Berhati batu banget … kayak nggak kenapa-kenapa.”

Dia tidak tahu, Shelina bukan tidak sedih, dia hanya memilih untuk tidak runtuh di hadapan siapa pun.

Pemakaman Rudi berlangsung dalam keheningan yang terasa menekan dada.

Langit mendung menggantung rendah, seolah ikut berkabung. Tanah merah masih basah ketika peti jenazah perlahan diturunkan ke liang lahat. Di barisan pelayat, Kinara berdiri dengan wajah sendu. Dia secara khusus meminta putra sulungnya, Aksa Pramudya, untuk datang, bersama Elara, Aurelia, dan Serena. Rudi bukan orang asing bagi keluarga mereka. Pria itu telah banyak membantu, tanpa pamrih, tanpa sorotan.

Shelina berdiri paling dekat.

Tubuhnya tegak, wajahnya pucat. Tatapannya lurus menembus liang kubur tempat jasad ayahnya kini terbaring. Tak ada air mata, tidak ada isak dan bahkan tidak ada suara kehilangan. Dari kejauhan, Kaisar memperhatikannya. Semakin lama, semakin ia tak mengerti, wanita itu, dosennya, sekarang menjadi istrinya.

“Bener-bener aneh,” batinnya.

“Seolah yang dimakamkan bukan ayahnya sendiri.” Ia tidak melihat detail kecil itu.

Dua tangan Shelina saling menggenggam begitu erat, hingga kuku-kukunya menancap dalam ke kulit punggung tangannya sendiri. Luka kecil mulai terbentuk, tapi Shelina tak bereaksi. Seakan rasa sakit fisik itu satu-satunya cara agar ia tetap berdiri.

Aksa yang berdiri tak jauh darinya menyadari hal itu. Ia menunduk ke arah Kinara dan berbisik pelan, nyaris tak terdengar,

"Mom … peluk Shelina.”

Kinara menoleh, ragu.

“Aksa kenal dia,” lanjutnya lirih. “Kami sering ketemu dulu. Waktu kuliah … dia bukan orang yang gampang nunjukin perasaan.”

Kinara mengangguk pelan, tapi langkahnya tertahan.

Di sisi lain, Elara berdiri di samping Kaisar. Serena dan Aurelia ikut memperhatikan Shelina dengan sorot mata yang sama rasa iba dan khawatir.

“Tot,” bisik Elara. Panggilan itu panggilan sayang untuk Kaisar, adik bontotnya.

“Mendekatlah.”

“Iya,” sambung Serena pelan.

“Dia istrimu sekarang.”

Aurelia mengangguk setuju. “Setidaknya … berdiri di sisinya.”

Namun, Kaisar menggeleng.

“Nggak,” jawabnya singkat. “Aku nggak sedekat itu sama dia.” Jawaban itu dingin dan jujur dari Kaisar.

Setelah prosesi pemakaman selesai, para pelayat mulai berpencar. Udara masih berat oleh bau tanah basah dan doa-doa yang menggantung di langit sore.

Kinara mendekat ke arah Shelina.

“Shelina,” ucapnya lembut, namun tegas, “ayahmu sudah menyiapkan rumah untukmu.”

Shelina menoleh perlahan.

“Rumah impianmu,” lanjut Kinara.

“Nggak jauh dari kampus. Paling sepuluh sampai lima belas menit. Di perumahan Bumi Asri.”

Shelina terdiam.

“Sertifikat rumah itu ada pada Daddy,” kata Kinara sambil melirik Arman di sampingnya.

Arman mengangguk pelan. Tanpa banyak kata, ia merogoh saku jasnya lalu menyerahkan sebuah kunci pada Shelina. Logam dingin itu mendarat di telapak tangannya terasa ringan, tapi juga terasa berat.

“Ini rumahmu,” ucap Arman singkat.

Shelina menatap kunci itu beberapa detik, lalu menggenggamnya erat. Arman lalu melanjutkan, dengan nada yang tak memberi ruang bantahan,

“Dan mulai sekarang … Kaisar juga akan tinggal bersama kamu.”

“Apa?” Kaisar refleks bersuara.

“Daddy, maksudnya—”

“Aku nggak—” Kaisar hendak menolak, suaranya naik seperti hendak merengek.

Namun, kalimat itu terhenti tatapan Aksa. Hanya satu pandangan, datar namun penuh peringatan, sudah cukup membuat Kaisar menelan sisa kata-katanya. Selama ini, Aksa bersama Elara, Serena, dan Aurelia, terlalu sering memanjakannya. Terlalu sering menutup mata atas kelakuannya. Dan hasilnya berdiri jelas hari ini, Kaisar tumbuh menjadi pribadi yang sulit diatur, terbiasa menghindar dari tanggung jawab.

Kinara maju satu langkah, berdiri tepat di hadapan putranya.

“Kaisar,” ucapnya pelan, tapi menusuk. “Mommy udah capek.”

Kaisar terdiam.

“Mommy nggak bisa terus jagain kamu. Kakak-kakakmu juga sudah punya hidup masing-masing.” Kinara menahan napas sejenak.

“Berhenti bikin masalah.”

Ia menatap putranya lurus-lurus.

“Sekarang kamu punya tanggung jawab.”

“Rawat Shelina dengan baik, dia istrimu dan kamu harus menjaganya," Nada suaranya mengeras di kalimat terakhir.

“Dan ingat satu hal,” tambah Kinara. “Jangan biarkan dia sendirian.”

Kaisar menghembuskan napas berat. Bahunya turun, seolah beban itu baru sekarang benar-benar mendarat.

Shelina akhirnya menoleh ke arahnya. Tatapan itu singkat, tanpa benci, tanpa harap. Lalu ia memalingkan wajahnya kembali, seakan Kaisar hanyalah bagian kecil dari keputusan hidup yang tak pernah ia minta.

1
Cinta Rodriques
thour g ada part ya...????Aksa blm nikah,???anak kau blm keluar rumh sakit???kok udh tamat...
Mira Hastati
bagus
tini_evel
mulai gemas sm pasangan ini 🥰🥰
Sheila Aquariana
lanjuut
Yulia
Meskipun konfliknya ringan tapi kisah kaisar ini cukup bikin perasaan campur aduk dan author berhasil bikin aku netesin air mata ,,mksh semangat terus berkarya 💪🙏
Aisyah Alfatih: Terima kasih kakak 💕
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Kyaknya terlalu kasar kalau memanggil "kamu" pada mommy nya...
mimief
the end...
wow kisah yg membagongkan ya
semua nya berproses
dr anak yg selalu insecure karena selalu merasakan sendiri, walaupun Dimata orang lain tegar
anak yg selalu terluka karena kurang penerimaan dr keluarga nya
dan keluarga yg terlihat sempurna tapi tidak utuh
sampai kita mati memang semua orang belajar menjadi lebih baik.
terimakasih atas cerita indah nya Thor 😍
Aisyah Alfatih: semangat kakak 🤣
total 5 replies
mimief
eh..dokter nya anak pak kades 🤣
mimief
trus si kembar anak siapa?
mimief
semangat sar
semua butuh berproses
mimief
yah . beginilah mang kalau hidup sama berondong
emang sedikit susah nyartuin visi kita🥹
mimief
😍😍😍😍🫰🫰
mimief
senioritas memang menyebalkan yaa🫣
mimief
lagian tu kampus punya Pramudya kan yaaa
mimief
kyk Rangga cemburu kali
liat dia turun dr mobil nya si Bu dosen
jadi gitu,nyerang secara pribadi 🫣
mimief
emang rumah tangga itu isinya 80 % komunikasi sisanya toleransi
cinta..memang harus ada
karena dr rasa semuanya bermula
tapi.. walaupun kita cinta setengah mampus Ama pasangan kita,tapi komunikasi nya buruk
ditambah ga ada yg namanya menghargai
selesai lah semua 🫣🥹
mimief
😍😍😍😍😍🫰🫰
mimief
lagian Shell..kl lu nuntut kai berubah menjadi yg lu mau
lu juga mesti tau batasan yg boleh dan ga boleh buat perempuan yg udah nikah
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
Kardi Kardi
DUARRRRRR. BOMMMMMMMMMMM. BLEDARRRRRRR
Kardi Kardi: THANKS MISS AL FATHHHH. DUARRRRRR
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!