Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli Rumah Mantan Suami
Adrian tersenyum mendengar perkataan dan doa dari Hanin mantan istrinya, lalu mengangguk..
"Terima kasih ya Han doanya.. "ujar Adrian. Hanin pun mengangguk dan tersenyum.
"Mbak Hanin, apa penjualan dari e-commerce banyak?" tanya Davina.
"Alhamdulillah mbak Davina, bisa menggaji pegawai-pegawai aku.. "ujar Hanin. Davina pun mengangguk.
"Oh ya mbak, sekarang ganti merk ya jadi 'HK' itu nama mbak sendiri?" ujar Davina. Hanin pun tersenyum.
"iya, betul .. Alhamdulillah saya diberi kepercayaan untuk bisa menggunakan brand sendiri, inisial 'HK' itu nama saya HANIN KIRANA, produk yang di jual ya masih itu-itu juga, kandungan atau ingredient di dalamnya sama dan sudah lulus BPOM juga mbak, begitu.." ujar Hanin.
Adrian tampak menyimak setiap kata-kata Hanin, beda sekali rasanya Hanin yang dulu dan yang sekarang, Adrian begitu kagum.
Davina pun mengangguk mendengar penjelasan Hanin yang cukup detail.
"Aku kan tempo hari dibelikan paket lengkap perawatan dari mas Adrian tuh.. kemasannya bagus sekali lho mbak, yang cream daylight aku pakai 5 hari aja wajah jadi cerah, noda hitam lenyap, bagus banget produknya.. "ujar Davina tersenyum.
"Syukurlah, mbak Davina kalau cocok mah.. oh ya yang kemarin itu ada gift masker lumpur thailandnya nggak? include kuasnya?" ujar Hanin.
"Sepertinya nggak ada mbak, hanya ada gift cream siang malam di tube kecil, atau itu hanya sampel ya mbak?" ujar Davina.
"Oh gitu, iya yang itu sampel.. jadi belum ada gift maskernya ya?, oke deh nanti aku kasih masker lumpur thailandnya include kuas ya, by the way mungkin nanti mas Adrian mbak Davinanya mau menikah ada juga kok perawatan khusus pengantinnya.. sampai ke dalam-dalamnya hehe, tapi itu produk Korsel ya, bahan dasarnya jamu-jamuan Korea" ujar Hanin.
"Tuh Vin, Hanin aja bicara kalau kita menikah," ujar Adrian tersenyum sambil melirik Davina. Davina pun tertawa, "Aah mas Adrian ini.. kalau jodoh nggak akan kemana ya mbak Hanin?" ujar Davina.
"iya betul.. "ujar Hanin yang hatinya seluas samudra Atlantik ini. Mereka tertawa bersama.
Terdengar panggilan dari ponsel Adrian, ia lalu mengangkat telpon dari ibunya.. "Halo bu, ada apa?" tanya Adrian. "Halo Adrian, di mana kamu? kamu usir Sita ya?, sudah pernah ibu bilang jangan mengusir Sita nak ibu nggak suka, kasihan Sita Adrian dia banyak berkorban untuk kamu," ujar bu Hemas.
"Bu cukup, aku nggak suka sama dia.. aku sudah punya pilihan sendiri, sudahlah bu jangan terlalu intervensi hidup Adrian," ujar Adrian di hadapan 2 wanita yang ia cintai.
Tampak Hanin dan Davina hanya terdiam, Adrian kemudian berdiri dan berjalan ke teras lobby sambil membawa ponselnya.
Hanin menggelengkan kepalanya, lalu menatap Davina, "mbak Davina.. ini kalau misalnya ya, mbak Vin jadi istri mas Adrian harus kuat mental, harus kuat hadapi sikap ibu dan kakak perempuannya, dan ke depan supaya mas Adrian bisa lebih baik lagi, "ujar Hanin.
"Mbak, saya belum memutuskan bersama mas Adrian, saya masih harus menguatkan jiwa saya sendiri karena kepergian suami saya.." ujar Davina tertunduk.
"Mm, iya insyaAllah suami mbak Vin husnul khotimah" ujar Hanin bijaksana. "Aamiin ya rabb, terima kasih doanya.." ujar Davina terharu dengan doa Hanin.
"Begitulah mbak, makanya saya memberanikan diri untuk umroh, hati saya rapuh, saya hanya ingin menguatkan saja" ujar Davina, Hanin pun lalu mengusap-usap punggung Davina.
Adrian tampak kembali masuk ke lobby ruang tamu lagi, Hanin melihat perubahan wajah Adrian, "Kenapa mas? muka kok kayak kepiting rebus?" tanya Hanin. "Biasa Han, ibu .. aku nggak suka di jodoh-jodohin seperti itu, aku capek!," ujar Adrian terlihat kesal.
"Ya, yang sabar mas.. ibu sudah tua, sifatnya akan sulit berubah" ujar Hanin. Adrian terdiam.
"Oh ya Han, aku mau jual rumah" ujar Adrian lalu meminum jeruk hangatnya. "Di jual?" tanya Hanin terkejut. "iya Han, rencananya gitu.. aku nggak suka kalau perempuan yang di jodohkan ibu bertamu ke rumah, seperti dia mau menguasai rumah itu, aku nggak suka, dasar perempuan murahan!" ujar Adrian kesal.
"Husss, mas Adrian nggak boleh ngomong begitu nggak baik.. bilang perempuan murahan, sudah laku belum rumahnya?" ujar Hanin.
"Belum Han, tapi teman kantorku ada yang sudah pernah lihat hanya belum deal aja, "ujar Adrian. Adrian juga bercerita tentang Sita kepada Hanin dan Davina.
"Mas, apa mas nggak malu cerita soal tunangan mas itu sama kita nih.. "ujar Hanin. "nggak kok, biar aja, aku orangnya open bukan bermaksud membuka aib Sita.." ujar Adrian. Davina pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Mm, terus emang mas mau pindah kemana?" tanya Hanin, yang sebenarnya sangat menyukai rumah Adrian yang pernah ditinggalinya bersama Adrian dulu.
"Mau cari rumah yang dekat dengan ayangku ini Han, ya biar nggak jauh kalau ngapel malam minggu.. "ujar Adrian tersenyum.
"iiih, mas ini apaan sih?" ujar Davina tersipu malu. Adrian hanya tersenyum melihat Davina yang salah tingkah.
"Oh gitu, mm.. ya sudah mas aku beli aja rumahnya, berapa nettnya?, aku nggak nawar ya jadi aku langsung tanya nett aja.. "ujar Hanin, Adrian terkejut dengan ucapan Hanin.
"Beneran Han kamu mau beli rumahku?" tanya Adrian hampir tidak percaya.
"Ya beneran, kenapa?, aku kan dari dulu suka dengan lay out rumah itu, desainnya mungkin juga karena terbiasa, jadi kalau mau di jual biar sama aku aja, makanya aku tanya nett langsung.. aku bayar cash sekarang juga, tapi include ya dengan barang-barangnya hehe.." ujar Hanin yang terlihat sangat serius.
"Oke, 1.1M aja Han nggak apa-apa biar aku cuma bawa baju ajalah keluar rumah itu, lagi pula barang-barang yang ada di dalam, furniture set dan lainnya itu kan pilihan kamu juga walau uangnya dari aku, "ujar Adrian tersenyum.
"Oke harga nggak masalah, aman.. jadi sudah deal ya!, besok kita sama-sama ke bank, bayar cash pindah rekening aja nanti, tapi orang yang nawar sebelumnya cancel ya, karena siang ini kita udah deal" ujar Hanin santai.
Adrian tampak bahagia, tidak menyangka rumahnya di beli oleh Hanin mantan istrinya itu.
"Salaman dulu dong, hitung-hitung akad jual beli" ujar Adrian sambil mengulurkan tangannya.
"Nggak mau ah.. maaf ya mas, kita bukan muhrim" ujar Hanin sambil bercanda, Davina dan Hanin pun tertawa melihat tingkah Aryo. Davina tampak kagum dengan sikap Hanin.
"Aku kasih waktu deh 2 hari ya setelah pembayaran buat mas nanti cari rumah yang baru," ujar Hanin. "Wah, tega kamu Han cuma 2 hari buat aku cari kosan, 7 hari gitu atuh" ujar Adrian. "Nggak bisa mas, cukup 2 jari aja" ujar Hanin sambil tertawa.
"Mas pakai bank Jabar ya, aku mah BCA da atau mau bayar pakai cek mas?" ujar Hanin. Adrian hanya mengangguk. Hanin tampak menuliskan cek untuk Adrian, "Sertifikat rumah, surat SHM, IMBnya aku akan ambil sekarang" ujar Adrian menerima cek BCA dari Hanin.
"Mas, di seberang komplek rumahku ada kosan bagus, mas di sana aja kosnya" ujar Davina. Adrian pun mengangguk.
"Mm, ini bisa di cairkan besok ya mas.. dan lusa aku bisa segera menempati rumah itu" ujar Hanin, Adrian mengangguk. Adrian tampak mengirim pesan pada pak Dodi temannya memberitahu bahwa rumahnya sudah terjual.
Adrian dan Davina pun berpamitan, dan rencananya Adrian akan mengantar Davina ke rumah lalu mencari kosan untuk sementara.. tiba di depan kosan dekat komplek Davina ternyata ada 1 kamar yang tersisa, jadi Adrian langsung membayarnya.. Davina tampak belum ingin kembali ke rumah jadi Adrian mengajaknya untuk kerumahnya karena sudah janji dengan Hanin bertemu di sana.
Dengan PCX silvernya Hanin meluncur ke rumah Adrian, ia lalu memarkirkan motor maticnya masuk ke halaman karena sebelumnya Adrian menyerahkan kunci yang baru di gantinya.
Hanin merasakan aura yang berbeda di dalam rumah Adrian yang dibelinya, rumah terlihat berantakan, "Hmm.. mungkin rumah ini pernah dipakai berhubungan intim oleh mas Adrian dan Sita," gumam Hanin.
Hanin memeriksa ke dalam kamar, dan seperti mencium aroma khas parfum wanita.. lalu menemukan celana dalam perempuan, lingerie yang tampak tergantung,
"Jangan-jangan ini punya Sita, apa iya mereka sering hubungan di luar nikah ya?" gumam Hanin dalam hati.
"Hah, biarlah itu bukan urusanku juga.. yang jelas aku harus merukiahnya dulu rumah ini, harus bersih dari aura negatif" gumam Hanin.
Terdengar suara mobil berhenti, Adrian dan Davina pun sampai ke rumah, mereka lalu masuk ke dalam rumah..
Adrian mengambil beberapa dokumen rumah itu, "Han.. ini dokumen-dokumennya, aku titip ya nanti rumah ini, jangan di jual lagi" ujar Adrian.
"Mm, iya mas.. rumah ini akan aku rapikan lagi, aku mau renovasi lagi" ujar Hanin. "Mas, kamar mas kok bau perempuan ya, terus berantakan lagi dalamnya" bisik Hanin pada Adrian.
"Ya, itu tadi yang aku ceritakan.. itu ulah Sita" bisik Adrian pada Hanin. Hanin mengangguk. Davina tampak kagum dengan rumah Adrian.
Adrian lalu membereskan baju-bajunya, laptop dan lainnya, "Han .. sorry aku titip dulu ya barang-barang aku, belum semuanya nanti aku ambil" ujar Adrian.
"Siap Mas, biar aja di sini dulu" ujar Hanin.
Adrian dan Davina lalu pamit, Adrian tampak membawa sebagian barangnya ke kosan, sedangkan Hanin membantu membereskan barang peninggalan Adrian yang masih ada.
"Aku harus cari asisten rumah tangga, sekalian membereskan ini semua" gumam Hanin, lalu ia menghubungi kang Bagas agar membantunya.
Menjelang magrib Hanin baru keluar dari rumah itu, rumah Adrian yang sekarang menjadi miliknya.. Hanin lalu mengunci pagar lalu kembali ke ruko dengan motor maticnya.
****