NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Tangan Arlan bergetar hebat di atas touchpad laptop itu. Keringat dingin mulai merembes dari pelipisnya, jatuh tepat di kemeja putihnya yang sudah tidak lagi selicin tadi pagi.

[Waktu tersisa: 10 detik. Memulai pemulihan protokol data...]

"Arlan? Sedang apa kamu?"

Suara staf HRD itu terdengar tepat di belakang telinganya. Arlan bisa merasakan hawa dingin menyergap punggungnya. Dia tidak berani menoleh. Jari-jarinya terasa kaku, tapi layar laptop di depannya bergerak sendiri dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Barisan kode muncul dan hilang dalam sekejap.

{Tuhan, kalau aku tertangkap sekarang, aku bukan cuma gagal dapat kerja. Aku bakal masuk penjara.}

"Itu... anunya, Mbak," suara Arlan tercekat di tenggorokan.

"Anu apa?" Suara staf itu kini terdengar curiga. Dia melangkah maju, tangannya sudah terjulur ingin meraih laptopnya kembali.

[Proses Pemulihan Selesai. Menghapus Jejak Digital...]

Klik. Layar laptop itu kembali ke tampilan desktop biasa tepat sebelum mata staf itu melihatnya.

Arlan segera menarik tangannya dan mundur dua langkah. Dia membungkuk sangat dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi.

"Maaf, Mbak! Tadi ada lalat besar hinggap di layar laptop Mbak. Saya takut lalatnya masuk ke sela-sela keyboard, jadi saya coba usir. Maaf kalau saya lancang menyentuh properti perusahaan."

Arlan memejamkan mata erat-erat. Alasan itu terdengar sangat bodoh di telinganya sendiri.

{Lalat? Benar-benar alasan yang paling payah di dunia, Arlan!}

Staf HRD itu terdiam sejenak. Dia melihat ke arah laptopnya, lalu melihat ke arah Arlan yang masih membungkuk gemetar. Keheningan di lorong itu terasa sangat menekan.

"Lalat?" tanya staf itu pelan.

"Iya, Mbak. Maaf sekali lagi."

Staf itu menghela napas panjang. Dia memijat keningnya, lalu kembali duduk di kursi samping dispenser. "Ya sudah, nggak apa-apa. Saya memang lagi pusing banget hari ini. Banyak kerjaan, sistem juga lagi sering error. Terima kasih ya sudah... mengusir lalatnya."

Arlan mengangkat kepalanya perlahan. "Sama-sama, Mbak. Kalau begitu, saya permisi pulang dulu."

"Iya, hati-hati."

Arlan berjalan menuju lift dengan langkah yang terasa seperti melayang. Begitu pintu lift tertutup dan dia sendirian di dalam, Arlan langsung menyandarkan punggungnya ke dinding besi lift. Dia merosot hingga terduduk di lantai.

[Misi Darurat Berhasil: Berkas Digital Dipulihkan] [Hadiah: Peningkatan Skill 'Ketenangan di Bawah Tekanan' +5] [Status: Berkas Anda sekarang aman di server utama.]

"Hampir saja..." gumam Arlan. Napasnya masih tersengal. "{Hampir saja aku kehilangan segalanya bahkan sebelum dimulai. Siapa sebenarnya yang mencoba menghapus dataku?}"

[Analisis Sistem: Terdeteksi upaya akses dari perangkat 'Mobile-T01' milik pengguna di lantai ini.]

Arlan teringat jam tangan emas itu. Teringat gaya angkuh pria bernama Tegar. "{Tegar? Apa dia benar-benar sejahat itu sampai ingin menghancurkan nasib orang lain?}"

Lift berdenting di lantai dasar. Arlan bangkit dan merapikan pakaiannya. Dia keluar dari gedung Megantara Group dengan perasaan yang campur aduk. Cahaya matahari siang itu terasa sangat terik, membakar kulit lengannya yang hanya terbalut kemeja tipis.

Arlan berjalan menuju halte bus. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulit yang ujung-ujungnya sudah mengelupas. Di dalamnya hanya ada selembar uang dua puluh ribu dan beberapa koin.

"{Ini sisa uangku sampai akhir minggu. Kalau aku tidak dapat pekerjaan ini, aku bahkan tidak tahu bisa makan apa hari Senin nanti.}"

Di halte, Arlan duduk di bangku kayu yang sudah reyot. Seorang penjual koran tua lewat di depannya. Arlan hanya bisa menatap aspal jalanan yang berdebu.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul.

[Ibu: Lan, sudah selesai wawancaranya? Jangan dipikirkan hasilnya ya, yang penting kamu sudah usaha. Tadi Ibu masak sayur lodeh kesukaanmu. Pulang ya, kita makan bareng.]

Mata Arlan terasa panas. Dia mengetik jawaban dengan jari yang masih sedikit gemetar.

[Arlan: Sudah, Bu. Ini Arlan lagi jalan pulang. Tunggu Arlan ya, Bu.]

Dia memasukkan ponselnya kembali. Perasaan emosional itu menyelimuti hatinya. Selama ini dia merantau ke kota, berharap bisa mengubah nasib keluarganya di desa yang hanya bergantung pada sawah kecil yang sering gagal panen. Megantara Group adalah satu-satunya tiket emasnya.

"Aku harus dapat pekerjaan ini," bisik Arlan pada dirinya sendiri.

[Misi Baru Terdeteksi: Persiapan Hari Pertama] [Deskripsi: Meskipun pengumuman belum keluar, sistem memprediksi peluang diterima sebesar 98%. Belajarlah dasar-dasar penggunaan perangkat lunak analisis Megantara.] [Hadiah: Pengetahuan Domain Perusahaan +20%]

Arlan sedikit tersenyum melihat kotak biru itu. "Kamu yakin banget aku bakal diterima, ya?"

[Sistem: Subjek Arlan Dirgantara memiliki tingkat ketekunan di atas rata-rata. Kegagalan hanya terjadi jika intervensi eksternal tidak segera diatasi.]

Bus kota datang dengan suara mesin yang berisik dan asap hitam yang mengepul. Arlan naik ke dalam bus yang penuh sesak itu. Dia berdiri, berdesakan dengan buruh pabrik dan anak sekolah. Bau keringat dan debu jalanan mulai terasa, tapi Arlan tidak peduli.

Di dalam bus, dia memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Seorang bapak tua yang tertidur sambil memeluk tas kumalnya, seorang ibu yang mencoba menenangkan anaknya yang menangis.

"{Semua orang sedang berjuang, ya?}" batin Arlan. "{Aku bukan satu-satunya yang merasa hidup ini tidak adil.}"

Tiba-tiba, Arlan melihat seseorang yang sangat familiar di dalam bus itu. Di barisan kursi paling belakang, duduk seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda. Dia mengenakan seragam yang sama dengan staf HRD di Megantara Group tadi. Wajahnya terlihat sangat sedih, dan dia terus menatap layar ponselnya yang retak.

[Informasi Subjek: Siska (Asisten HRD)] [Status: Terancam dipecat karena kehilangan dokumen penting.]

Arlan terkejut. "{Siska? Itu kan pewawancara wanita yang tadi di ruangan! Kenapa dia ada di bus ini? Dan kenapa dia terancam dipecat?}"

Arlan ingin mendekat, tapi bus tiba-tiba mengerem mendadak. Arlan hampir terjatuh jika tidak segera memegang tiang besi di depannya. Saat dia kembali menyeimbangkan diri, dia melihat Siska sedang menghapus air mata dengan punggung tangannya.

[Misi Sampingan: Bantu Siska menemukan dokumen yang hilang.] [Hadiah: Peningkatan Reputasi di Megantara Group +50%]

Arlan ragu-ragu. "{Membantu dia? Tapi aku bahkan belum resmi jadi karyawan. Kalau aku salah bicara, dia malah makin curiga.}"

Bus berhenti di halte berikutnya. Siska berdiri dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah gontai. Arlan tanpa sadar mengikutinya turun.

"Mbak Siska!" panggil Arlan saat mereka sudah berada di trotoar.

Gadis itu menoleh. Matanya yang sembab menatap Arlan dengan bingung. "Iya? Kamu... Arlan yang tadi wawancara, kan?"

"Benar, Mbak. Maaf kalau saya mengganggu. Saya tadi tidak sengaja lihat Mbak di bus."

Siska mencoba memaksakan senyum, tapi gagal. "Oh, iya. Saya baru mau pulang. Ada apa, ya?"

"Mbak... Mbak kelihatannya lagi ada masalah. Apa ada yang bisa saya bantu?"

Siska menghela napas, bahunya merosot. "Terima kasih tawarannya, Arlan. Tapi ini masalah internal kantor. Saya menghilangkan salah satu berkas fisik kandidat penting. Entah jatuh di mana. Kalau besok pagi tidak ketemu, Pak Hendra bakal benar-benar marah."

Arlan teringat map birunya. Dia juga teringat saat dia membungkuk di depan laptop tadi.

[Sistem: Dokumen tersebut terselip di bawah meja resepsionis saat Siska sedang terburu-buru mengambil kopi tadi pagi.]

Arlan menelan ludah. Dia harus berpura-pura tahu dengan cara yang alami.

"Berkas kandidat? Tadi sewaktu saya di resepsionis, saya sepertinya melihat ada lembaran kertas yang terselip di celah antara meja marmer dan dinding, Mbak. Saya pikir itu cuma brosur, jadi saya tidak ambil. Mungkin Mbak bisa cek di sana besok?"

Mata Siska tiba-tiba melebar. "Di meja resepsionis? Di sela-sela dinding?"

"Iya, Mbak. Sepertinya begitu."

Siska terdiam sejenak, wajahnya mulai menunjukkan secercah harapan. "Ya ampun... saya memang sempat ke sana tadi pagi buat ambil berkas lain. Bisa jadi jatuh di sana! Arlan, kamu serius lihat itu?"

"Saya tidak berani menjamin seratus persen, tapi seingat saya bentuknya memang seperti map kantor."

Siska tiba-tiba memegang lengan kemeja Arlan. "Terima kasih! Terima kasih banyak, Arlan! Kalau itu benar, kamu baru saja menyelamatkan karier saya. Saya akan langsung ke kantor lagi sekarang buat cek!"

"Eh, sekarang, Mbak? Bukannya kantor sudah mau tutup?"

"Security masih ada! Saya harus pastikan malam ini juga supaya bisa tidur tenang. Terima kasih ya, Arlan! Sampai ketemu lagi!"

Siska berlari menuju arah kantornya kembali dengan semangat yang berbeda. Arlan hanya bisa berdiri terpaku melihat punggung gadis itu yang menjauh.

"{Apa aku baru saja melakukan hal yang benar?}"

[Sistem: Anda baru saja membangun aliansi dengan salah satu pemegang keputusan kunci. Peluang diterima meningkat menjadi 99,9%.]

Arlan menghela napas lega. Dia kembali berjalan menuju rumah kontrakannya yang kecil. Langkahnya terasa lebih ringan meskipun perutnya mulai keroncongan. Hari ini benar-benar perjalanan yang luar biasa. Dari seorang pengangguran yang tidak dianggap, sampai menjadi orang yang memegang rahasia sistem perusahaan besar.

Tapi di balik rasa senang itu, Arlan tahu satu hal.

"{Tegar tidak akan tinggal diam kalau tahu aku masih ada dalam persaingan ini. Aku harus siap untuk babak selanjutnya.}"

Sesampainya di rumah kontrakan, bau sayur lodeh masakan ibunya menyambutnya di pintu. Arlan tersenyum. Untuk hari ini, dia ingin melupakan sejenak tentang sistem, Megantara, dan Tegar. Dia hanya ingin menjadi Arlan, anak yang merindukan masakan rumah.

"Ibu, Arlan pulang!"

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!