Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'
Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.
Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 : Pengobatan Azalea Dimulai
...Happy Reading^^...
...💮...
Akhirnya tiba juga hari di mana Azalea akan memulai pengobatan dari Edelweiss Miravale.
Aku sudah selesai disemprotkan parfum oleh Mama Daisy yang ikut membantu beberapa pelayan untuk membasuh tubuhku dengan air tadi.
Sungguh! Aku tidak nyaman hanya dengan dilap pakai air selama beberapa hari ini! Aku ingin mandi sungguhan! Aku ingin memakai sabun dan gosok gigi!
Huh! Untung saja tubuh Azalea memang dari asalnya wangi, jadi kalau pun hanya dilap air masih tetap bersih dan wangi.
"Nah, sayang. Mama sudah selesai memberikan parfum padamu, kita hanya tinggal menunggu kedatangan Bibi Edel ke sini untuk melakukan pengobatan padamu." ucap mama dengan nada lembut dan senyuman cantiknya.
Aku pun ikut tersenyum. "Baik mama,"
Mama Daisy pun mengelus rambutku. "Mama senang kamu akan perlahan bisa sembuh,"
"Aza juga senang mama, maaf selama ini Azalea selalu menyusahkan kalian semua." ucapku sambil menatap Mama, Dayang serta pelayan-pelayan yang ada di dalam kamarku.
"Sayang! Kamu tidak pernah menyusahkan kami, oke? Sudah seharusnya juga para pelayan dan Dayang melayanimu. Jadi, jangan pernah merasa bersalah." mendengar jawaban mama Daisy membuatku sedikit lega, aku pun mengangguk juga sebagai jawaban mengerti.
Lalu aku menoleh ke sekeliling dan tidak menemukan dua orang laki-laki yang aku cari. "Papa dan Kak Ash mana, Mama?" tanyaku yang tidak menemukan kedua orang tersebut.
"Mereka berdua sibuk, sayang. Papamu ada rapat dengan beberapa bawahannya sejak tadi, sementara Asher kan sedang melakukan persiapan untuk pergi ke Pelabuhan." jelasnya padaku.
Aku terdiam beberapa saat, sesaat akan bertanya pintu terbuka dengan lembut.
"Bagaimana jika aku ikut Kak Asher pergi ke Pelabuhan untuk pemeriksaan ketika Azalea sudah sembuh, Mama?" tanyaku pada Daisy Lorienfield dan berharap dia akan mengizinkanku.
"Oh! Oh! Oh! Kamu tidak boleh pergi ke mana-mana anak cantik! Aku tidak akan mengizinkanmu sebelum kamu benar-benar sudah sembuh!" ucap Bibi Edelweiss yang datang membawa secawan cangkir di tangannya. Kami semua menoleh padanya yang berjalan dari pintu depan sampai ke samping kasurku.
"Aku tidak akan mengizinkanmu pergi sebelum kamu benar-benar pulih menurutku! Kamu mengerti?" seru Bibi Edelweiss berkacak pinggang dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang cangkir yang dia bawa.
Aku yang awalnya ingin membantah seketika terdiam melihat ekspresi galak milik Bibi Edelweiss. Wajah Bibi Edelweiss seperti ingin memakanku membuatku sangat amat takut.
"Baik, Bibi Edelweiss." jawabku dengan nada ketakutan.
Bibi Edelweiss tampak puas melihat wajahku yang takut. Dia memberikan cangkir itu pada Mama Daisy.
"Tolong pegang cangkir ini Daisy, aku akan mengobati anak ini dengan kekuatan penyembuhku."
Mama Daisy pun patuh pada perintah Bibi Edelweiss. Kulihat juga saat Dayang atau Pelayan ingin mengambil cangkir itu agar mereka saja yang memegangnya, ditolak oleh Mama Daisy.
Kedua tangan Bibi Edelweiss didekatkan ke perutku, seketika juga cahaya hijau bersinar dari tangan Bibi Edelweiss.
Aku takjub melihat sinar itu, sinar berwarna hijau yang mirip dengan apa yang aku lihat dan baca dari beberapa manhwa yang memang bertemakan fantasi dan sihir.
Aku juga merasakan rasa dingin yang menyebar dari perut hingga ke seluruh tubuhku. Rasa dingin yang terasa sangat sejuk dan nyaman, menenangkan tubuhku dan menghilangkan rasa sakit di beberapa tubuhku.
Apa seperti ini rasanya diobati oleh sihir penyembuh?
Bibi Edelweiss menghentikan kekuatannya. Dia menatap padaku.
"Sekarang, coba gerakan tanganmu!" perintah Bibi Edelweiss.
Aku hanya menurutinya saja, aku menggerakkan jari-jariku dan tidak terasa sakit lagi seperti sebelumnya, aku bahkan menggerakkan tanganku ke depan dan tidak terasa sakit.
Aku menoleh takjub pada Bibi Edelweiss, aku pun menggerakkan tanganku ke segala arah dan mengayunkannya ke kanan maupun kiri.
"Tidak sakit!" seruku.
Dayang dan para pelayan bersorak melihatku bisa menggerakkan tanganku, aku melihat Mama Daisy terharu sampai meneteskan air mata. Aku pun tiba-tiba saja ikut terharu dan meneteskan air mata juga. Aku kembali menoleh ke Bibi Edelweiss yang melihatku bangga.
"Sekarang! Kamu minum herbal buataku ini," Bibi Edelweiss pun mengambil cangkir yang dia bawa tadi dari tangan mama Daisy.
Mama Daisy juga langsung mendekat untuk membantuku sedikit bangun dari tempat tidur agar bisa meminum herbal buatan Bibi Edelweiss.
Saat meminumnya, aku merasakan rasa yang sangat pahit, bahkan lebih pahit ketimbang semua obat yang pernah aku rasakan di duniaku yang sebelumnya.
Setelah meminum habis obat herbal itu, aku tidak langsung direbahkan tapi tetap dalam posisi itu hingga nyaris setengah jam agar memberikan waktu tubuhku untuk mencerna.
Mama Daisy pun merebahkanku pelan-pelan dan tubuhku tidak merasakan sakit seperti biasanya, aku sangat bersyukur.
"Apa tubuhmu sakit sehabis digerakan seperti sebelumnya, sayang?" Mama Rose memperhatikan wajahku, melihat-lihat apakah ada ekspresi kesakitan yang aku perlihatkan.
Memang sebelum Bibi Edelweiss datang, tubuhku yang sulit digerakan akan merasakan sakit bila digerakan. Bahkan hanya sekedar ingin duduk sedikit agar bisa makan dan minum pun aku langsung merasakan sakit. Tapi karena aku sendiri juga harus makan, maka mereka tega tidak tega tetap membantuku untuk duduk agar bisa makan dan minum.
Ya aku juga sama, mau tidak mau aku harus tahan merasakan sakit di seluruh tubuhku agar bisa makan dan minum.
"Aku tidak merasakan sakit sedikit pun Mama," ucapku dengan tenang. Mama pun ikut lega melihat responku.
"Syukurlah!" Mama tersenyum senang namun dengan linangan air mata terharu. Dia menoleh pada Bibi Edelweiss dan segera memeluknya. Bibi Edelweiss awalnya tampak terkejut, namun tangan kirinya yang tidak memegang cangkir pun balik memeluk Mama.
"Terima kasih!"
"Sudah tugasku untuk menyembuhkan orang, apalagi yang kesembuhankan sekarang adalah keponakanku sendiri."
Mereka pun langsung melepas pelukan mereka lalu tersenyum bersama.
"Aku akan kembali memberikan kekuatan penyembuhku agar proses kesembuhannya bisa lebih cepat," ucap Bibi Edelweiss, lalu dia meletakkan cangkir kosong itu ke meja yang berada di sebelah kasurku. Dia duduk ke kasurku lalu memberikan kembali kekuatan penyembuh kepada tubuhku.
Kekuatan penyembuh milik Bibi Edelweiss sangat luar biasa, padahal kasusku ini termasuk kasus yang sangat parah. Butuh waktu bertahun-tahun di dunia nyata untuk bisa sembuh dan sekedar menggerakkan tangan. Tapi aku langsung bisa menggerakkan tangan dalam sekali penyembuhan. Seharusnya kekuatan penyembuh ini ada juga di dunia nyata.
"Tidak akan bisa!"
Aku berusaha menetralkan wajahku agar tidak terlihat terkejut, aku kembali mendengar lagi suara itu.
'Kenapa?'' tanyaku dalam batin.
"Manusia tercipta itu untuk tunduk kepada sang Maha Pencipta, jika ingin kesembuhan atau dilancarkan semua rencana maka berdoalah pada sang Pencipta dengan rajin agar bisa dikabulkan. Jika sihir penyembuhan ada di dunia nyata, maka kebanyakan orang akan lupa berdoa pada sang pencipta."
Aku terdiam mendengar penjelasan dari suara itu. Dan dia memang benar sekali.
...💮...
...Bersambung....
...Thanks For Reading My Story^^...
...Dipublikasikan pada tanggal 25 Januari 2026....