Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 : Hama datang lagi
Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung rendah di antara dahan pohon persik yang mengelilingi Paviliun Utama. Di dalam kamar, suasana sunyi menyelimuti kedua insan yang masih terjaga dalam hening. Qinqin perlahan membuka matanya, merasakan hangat yang menjalar di sisi wajahnya. Kepalanya bersandar nyaman pada dada bidang Wu Lian yang kokoh. Wangi kayu cendana yang menenangkan dari tubuh suaminya seolah menjadi pelindung alami dari kegaduhan dunia luar.
Wu Lian sendiri sudah terjaga sejak fajar menyingsing, namun ia tidak bergerak sedikit pun. Ia menatap langit-langit ranjang dengan pandangan dalam, seolah sedang menghargai setiap detik ketenangan yang jarang didapatkannya. Tangannya yang kasar karena terbiasa memegang gagang pedang, melingkar pelan di bahu Qinqin, menjaga agar selimut sutra itu tidak merosot. Tidak ada kata-kata, hanya ada napas yang teratur di antara mereka berdua.
Namun, kedamaian itu segera terusik oleh suara langkah kaki halus yang mendekat ke arah pintu depan. Disusul oleh ketukan ritmis dan pelan, sangat sopan seolah sang pengetuk takut mengganggu debu yang beterbangan.
"Kakak Sepupu Wu Lian? Apakah Kakak sudah bangun?" suara lembut Yan Er menembus celah pintu, terdengar merdu namun bagi Qinqin itu seperti gesekan kikir pada besi. "Yan Er membuatkan sup sarang burung dan teh bunga krisan untuk membantu menjernihkan pikiran Kakak sebelum pergi ke barak. Bolehkah Yan Er masuk untuk menghidangkannya?"
Qinqin menarik napas panjang, lalu perlahan menjauhkan wajahnya dari dada Wu Lian. Ia menatap suaminya yang kini kembali menegang, wajahnya mengeras seperti patung.
"Wah, rajin sekali tamu kita ini, Mr. Jenderal," bisik Qinqin menyindir namun tetap rendah. "Baru satu malam di sini, dia sudah tahu jadwal bangun pagimu. Padahal aku yang istrimu saja lebih memilih menarik selimut lebih tinggi."
Wu Lian menghela napas, ia bangkit dan duduk di tepi ranjang sembari merapikan jubah tidurnya yang sedikit kusut. "Masuklah," ujarnya dengan suara berat yang khas.
Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Yan Er yang terlihat segar dengan hanfu hijau pucat. Ia membawa baki kayu dengan gerakan hati-hati. Saat matanya menangkap sosok Qinqin yang masih duduk di atas ranjang dengan rambut sedikit berantakan, sorot matanya meredup sejenak, penuh dengan rasa iba yang dibuat-buat.
"Maafkan Yan Er jika lancang masuk ke kamar pribadi Kakak," ucap Yan Er lirih, ia menundukkan kepala dalam-dalam saat mendekat ke meja. "Yan Er hanya teringat pesan Bibi Wu sebelum beliau jatuh sakit. Beliau bilang, Kakak Sepupu seringkali mengabaikan kesehatan diri demi negara. Karena Bibi Wu sedang tidak berdaya, Yan Er merasa bertanggung jawab memastikan Kakak mendapatkan apa yang terbaik. Aku hanya ingin melakukan kebaikan kecil ini..."
Yan Er meletakkan mangkuk sup itu, lalu melirik Qinqin dengan tatapan seolah meminta maaf. "Nona Xu, mohon jangan salah paham. Saya tahu tugas ini seharusnya milik Anda, namun saya khawatir Anda mungkin terlalu lelah karena kejadian kemarin, jadi saya memberanikan diri mengambil alih sebentar. Ini semua demi kebaikan Kakak Sepupu."
Qinqin tersenyum tipis, ia bangkit dari ranjang dan berjalan perlahan menuju meja, membiarkan rambut panjangnya tergerai indah. "Oh, tidak apa-apa, Nona Yan Er. Aku justru berterima kasih ada orang yang begitu berdedikasi melakukan pekerjaan dapur di saat fajar begini. Tapi, bukankah di Utara sana ada pepatah bahwa tamu seharusnya dilayani, bukan malah sibuk di dapur seperti pelayan?"
Wajah Yan Er seketika berubah pucat, ia menggigit bibir bawahnya, menatap Wu Lian dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kakak... saya tidak bermaksud menganggap diri saya pelayan. Saya melakukannya atas dasar kasih sayang keluarga. Kenapa... kenapa Nona Xu selalu memandang niat baikku dengan cara yang begitu dingin?"
Wu Lian menatap sup itu, lalu beralih pada Yan Er. "Terima kasih atas perhatianmu. Tapi di kediaman ini, ada aturan yang harus dipatuhi. Qinqin benar, kau adalah tamu. Han Luo akan menyiapkan segala kebutuhanmu, jadi kau tidak perlu repot-repot ke dapur lagi."
Yan Er menunduk lesu, air mata yang sejak tadi ia tahan kini jatuh setetes di atas baki. "Baik, Kakak Sepupu. Maafkan jika niat tulusku malah menimbulkan ketidaknyamanan. Aku hanya... merindukan suasana keluarga kita yang dulu." Ia membungkuk rendah, lalu berbalik pergi dengan langkah gontai, seolah hatinya baru saja teriris sembilu.
Setelah kepergian Yan Er, suasana kembali sunyi. Qinqin mendekati mangkuk sup yang masih mengepulkan uap tipis itu. Ia mengendus aromanya dengan teliti.
"Aromanya sangat manis," gumam Qinqin. Ia mengambil sendok, mengaduk sup itu perlahan. "Terlalu manis untuk sekadar sup sarang burung biasa."
Wu Lian berdiri di dekat jendela, memperhatikan bayangan Yan Er yang menghilang di belokan lorong. "Apa kau menemukan sesuatu?"
"Tidak ada racun yang bisa membunuhmu seketika, Mr. Jenderal," sahut Qinqin sambil meletakkan kembali sendoknya. "Tapi ramuan di dalamnya mengandung bunga Shu Xin yang jika diminum terus-menerus akan membuat seseorang merasa sangat bergantung secara emosional pada si pemberi. Ini bukan tentang membunuh nyawamu, tapi tentang membunuh logikamu. Dia ingin kau merasa bahwa hanya dialah satu-satunya tempatmu merasa tenang."
Qinqin berjalan mendekati Wu Lian, berdiri di hadapannya dengan tatapan serius. "Wanita itu tidak sedang mencoba meracunimu, dia sedang mencoba membius perasaanmu dengan label 'kebaikan'. Jika kau terus meminum pemberiannya, lama-lama kau akan melihatku sebagai gangguan dan dia sebagai malaikat pelindungmu."
Wu Lian menatap Qinqin dalam. Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya dengan kekuatan yang mantap. "Aku sudah cukup melihat kekacauan yang dibuat oleh ibuku dengan cara yang sama. Kau pikir aku akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya?"
Qinqin menyeringai, ia menyandarkan tubuhnya pada dada Wu Lian. "Aku tahu kau pintar. Tapi Teratai Putih itu punya seribu satu cara untuk terlihat menderita. Ia akan menggunakan kenangan masa kecil kalian untuk membuatmu merasa bersalah. Dan rasa bersalah adalah senjata yang lebih tajam dari pedang mana pun."
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?" tanya Wu Lian.
"Biarkan dia bermain dengan perannya sebagai wanita suci yang teraniaya," jawab Qinqin sembari memainkan kancing jubah Wu Lian. "Sore nanti, aku akan mengajaknya menjenguk Nyonya Besar di ruang isolasi. Aku ingin tahu, apakah ia masih bisa mempertahankan wajah 'kebaikan' itu saat melihat bibinya meracau tentang hantu dan dosa. Aku ingin melihat apakah bungkusan merah yang ia bawa kemarin benar-benar untuk 'menyembuhkan' atau untuk 'menutup mulut' bibinya agar rahasia mereka tidak terbongkar."
Wu Lian terdiam, menatap ke luar jendela di mana langit mulai membayang. Ada kekhawatiran yang tersirat di matanya, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk badai yang mungkin menerjang istrinya. Namun, melihat sorot mata Qinqin yang penuh kecerdikan, ia sadar istrinya bukanlah wanita lemah.
"Lakukan sesukamu," ujar Wu Lian akhirnya. "Tapi ingat, aku akan selalu ada di belakangmu. Jika keadaan menjadi tidak terkendali, jangan ragu untuk memanggil namaku."
Qinqin tertawa kecil, ia mengeratkan pegangannya pada lengan Wu Lian. "Tentu saja, Suamiku." detik berikut nya , bibir Qinqin langsung menempel lembut di rahang tegas Wu Lian.
"Kecupan selamat pagi hehe, aku hampir saja lupa gara gara si teratai tadi." Lontar Qinqin dengan bersemangat. Wu lian membeku. Telinga nya merah merona. Ia segera berpindah dari posisi dan pergi tanpa sepatah kata pun.
"Kenapa?" Tanya Qinqin pada diri sendiri dengan memincingkan mata bulat nya. "Lagipula aku hanya memberi kecupan. Kita tidak melakukan hal yang lebih kok. Dia benar benar kaku." Qinqin terkikik pelan.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
dan diabaikan🥹