Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surprise (2)
"Tutup mata kamu!" suruh Dom tanpa menjelaskan.
"Ogah," tolak Berlian.
"Berlian Putri Wiranata," panggil Dom. Kalau sudah begitu, mana mampu Berlian membantah.
Berlian menutup mata seperti permintaan Dom.
Dominic memegang tangan Berlian yang dingin.
"Kamu gugup?" tanya Dominic.
"Saya takut tuan. Takut tuan mendorong saya dari lantai teratas ini, atau jangan-jangan Tuan Dom mau ninggalin saya di sini," bahas Berlian.
"Kebanyakan nonton drama," Dominic menyentil kening Berlian.
"Awh, sakit tahu," gerutu Berlian dan hendak membuka mata.
Dominic segera menutup mata Berlian dengan kedua telapak tangannya.
"Jalan!" suruh Dominic.
"Stop!" perintah Dominic terdengar kembali setelah berjalan kurang lebih dua puluh meter dari tempat semula
"Buka matamu," tegas Dominic.
Berlian membuka mata.
Dengan pandangan yang masih buram, Berlian mengamati sekeliling.
Ruangan ini ditata sedemikian rupa, Berlian terpana sampai menutup mulutnya.
'Apa tuan Dom yang melakukannya. Pria es balok ternyata romantis juga,' puji Berlian dalam hati.
Dominic mengajak Berlian duduk. Hanya satu meja yang tersedia di sana.
Pemain biola tunggal mengiringi makan malam romantis yang diciptakan Dominic. Music instrumental mendayu, menambah romantisme suasana
"Makasih," ucap lirih Berlian terharu.
Berlian meneteskan air mata. Tujuh tahun hidup bersama Arya, tak pernah ada perlakuan macam begini. Sementara dengan Dominic, Berlian sampai tak bisa berkata-kata.
"Aku bukan pria romantis yang pandai merangkai kata. Dan aku bukan tipe pria yang hanya memberi janji kosong belaka. Berlian Putri Wiranata, apakah kamu bersedia menjadi pasanganku hari ini dan kelak," ucap Dominic tanpa keraguan.
"Tuan Dom, apa saya pantas? Apa tuan nggak keberatan dengan status saya? Apalagi trauma saya masih terpatri di sini," Berlian memukul dadanya perlahan, mengurangi rasa sesak yang menghujam. Teringat saat Arya sedang bergelut dengan Intan di ranjang kamarnya.
"Aku lebih tahu yang kamu alami melebihi kamu sendiri. Bahkan melebihi pria bangsat yang tujuh tahun hidup bersamamu," bilang Dominic.
Berlian mengerutkan dahi, tanda tak paham.
Obrolan terjeda karena menu makanan datang.
Dengan lincah, tangan Dominic memotong steak daging yang terhidang dan menyerahkan pada Berlian.
"Makanlah!" kata Dominic.
'Wanita mana yang tak meleleh dengan perlakuanmu ini tuan Dom?' bisik hati Berlian.
"Jadi gimana jawaban kamu?" tanya Dominic memastikan.
"Hhhmmm," Berlian berhenti mengunyah makanan yang terlanjur di mulut.
Dominic menyodorkan segelas air putih untuk diminum Berlian.
"Terus terang saya masih ragu tuan untuk berkomitmen," jawab jujur Berlian dan Dominic mengangguk tanda mengerti.
"Hhhmmm, baiklah. Apa itu artinya aku dtolak?" kata Dominic.
"Saya nggak bilang begitu tuan," sahut Berlian.
"Maksudnya?" telisik Dominic.
"Anda sudah terlalu baik sama saya tuan Dom," ujar Berlian.
"Berlian, dengar. Jangan karena balas budi, kamu menerimaku. Aku tak mau seperti itu," ucap Dominic.
"Kita jalani saja seperti biasa tuan," jawaban Berlian sangat ambigu bagi Dominic.
"Hhhmmm, baiklah. Aku tak bisa memaksamu," Dominic mengangkat kedua tangannya.
"Apa sebaiknya ku terima saja perjodohan keluarga Sentosa?" gumam Dominic untuk menggoda Berlian.
"Itu lebih baik tuan. Secara, keluarga anda berdua setara," reflek Berlian berkata.
Dominic kembali menyentil kening mulus Berlian.
"Awh, tuan," Berlian mengelus kening yang barusan disentil Dominic.
"Kalau ngomong tuh pakai filter. Enak aja nyuruh aku nerima perjodohan," Dominic kesal.
"Gimana sih?" Berlian serba salah.
"Aku mau nya menua bersama Berlian Putri Wiranata. Titik," tegas Dominic.
"Maksa banget,' sahut Berlian.
"Mau nggak?" Dominic memegang tangan Berlian dengan harapan Berlian menerimanya.
"Kita jalani dulu tuan," jawab Berlian seraya tersenyum. Senyuman yang bisa melelehkan hati Dominic.
'Sampai detik ini, kamu belum mengingatnya Berlian,' batin Dominic.
.
Maura menunggu Berlian di depan lobi.
"Ngapain di sini? Nggak masuk duluan?" Berlian melihat Maura mondar mandir bak setrikaan baju kusut.
"Tuh di dalam," bisik Maura.
"Apa lagi?" kalau Maura dalam model begini, pasti ada yang tak beres di lobi.
"Ayah kamu," beritahu Maura.
Arah pandangan Berlian ke arah lobi.
"Ayah kamu sudah membuat onar lagi di lobi," bilang Maura.
"Sebaiknya kita lewat jalan lain aja," saran Maura.
"Aku hadapi," Berlian masuk dengan langkah pasti.
"Selamat pagi ayah," Berlian menghampiri tuan Adrian yang tengah duduk menyilangkan kaki.
"Akhirnya, datang juga kau," sambut tuan Adrian
"Aku butuh modal usaha. Layaknya anak sudah sukses yaang akan memberikannya," beritahu tuan Adrian.
Tersungging senyum paksa di bibir Berlian.
"Ayah, sabar pun ada ambang batas nya. Selama ini aku diam, tanpa banyak menuntut," kata Berlian perlahan.
Ini di lobi, Berlian tak ingin kehadiran ayahnya memicu keributan lagi, walau sebelumnya telah terjadi.
"Ingat, siapa yang merawat kamu sejak ibumu meninggal," nada bicara tuan Adrian nak satu oktaf.
"Kamu tahu bukan, jika tak ada yang gratis di dunia ini? Dan kini aku menagih nya," arah muka tuan Adrian mendekat ke arah Berlian.
"Aku sekolah, kuliah dengan kerja paruh waktu. Makan pun aku dapat dari kantor. Di rumah, kalian memperlakukan aku bak babu gratisan. Lantas hutang mana yang harus aku bayar Yah?" ucap Berlian dengan nada kecewa.
"Bahkan, setelah aku menikah pun kalian tak lelah untuk merepotkan ku,"
"Orang tua macam apa yang mengharap balas budi dari anaknya?" sindir Berlian.
Tuan Adrian melonggarkan dasinya. Kesal dengan ucapan Berlian.
"Aku dengar rumah Arya sudah kamu jual? Uang itu saja yang kamu berikan," sahut tuan Adrian.
"Anda memang tak tahu malu tuan Adrian. Jerih payah anak tega anda peras," Berlian mengepalkan tangannya erat.
"Ngga usah banyak bicara, nanti siang aku tunggu transferan darimu. Atau?" wajah tuan Adrian mendekat ke arah Berlian. Berlian reflek memundurkan wajahnya.
"Atau apa?" telisik Berlian.
"Atau aku akan minta langsung ke ayah kandungmu," ucap tuan Adrian seraya tersenyum licik.
"Apa maksud ayah?" Berlian menahan lengan tuan Adrian.
"Transfer dulu! Baru aku cerita," tuan Adrian keluar perusahaan Wijaya dengan pongah.
"Ayah kandung? Bukannya ayahku dia sendiri? Apa ada yang tidak aku tahu?" perang batin Berlian.
.
.
Satu jam sebelumnya.
POV tuan Adrian.
"Pah, aku nggak mau tahu. Kamu harus ke perusahaan Wijaya. Minta uang ke anak tahu diuntung itu," teriakan nyonya Kusuma.
.
.
Entahlah... Ada apa di masa lalu.
Masih abu, Berlian pun ikut bertanya.