Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: VANYA YANG JATUH
#
Aku masih berlutut di tengah kerumunan.
Anak-anak pada sibuk sendiri. Ada yang teriak seneng karena namanya masuk. Ada yang nangis karena gak lolos. Ada yang sibuk foto pengumuman.
Tapi aku...
Aku cuma berlutut. Kosong.
Adrian jongkok di sebelah aku. Dia pegang pundak aku.
"Sat... Sat ayo berdiri. Jangan di sini..."
Suaranya pelan. Lembut.
Tapi aku gak denger. Telingaku kayak ditutup kapas. Semua suara jadi jauh. Buram.
"SAT!"
Adrian teriak. Dia goyang pundak aku.
Aku akhirnya sadar. Aku angkat kepala. Aku liat Adrian. Mukanya khawatir. Matanya merah.
"Sat... lu gak papa? Lu... lu shock ya?"
Aku berdiri pelan. Kaki aku lemes. Hampir jatuh lagi. Adrian pegang tangan aku.
"Pelan-pelan, Sat."
Aku jalan gontai keluar dari kerumunan.
Di belakang aku, aku denger suara tawa.
"HAHAHA! LIAT TUH! SI ANAK MISKIN GAK LOLOS!"
Suara Bagas. Keras. Penuh kemenangan.
"YA IYALAH! NAMANYA JUGA ANAK MISKIN! PANTES GAK LOLOS!"
Suara Keyla.
Temen-temennya pada ketawa. Keras. Ngejek.
Aku berhenti jalan.
Tangan mengepal.
Gigi gemeretak.
"Sat... jangan dipikirin. Ayo jalan."
Adrian narik tangan aku. Aku ikutin dia.
Kami jalan ke tangga darurat. Sepi. Gak ada orang.
Aku duduk di tangga. Adrian duduk di sebelah aku.
Hening.
Cuma suara burung di luar jendela.
"Sat... gue tau lu sedih. Gue juga gak lolos. Gue juga kecewa. Tapi... tapi kita harus tetep kuat. Kita gak boleh nyerah."
Aku liat Adrian. "Buat apa kuat, Dri? Buat apa gak nyerah? Usaha gak ada gunanya. Kerja keras gak ada artinya. Yang penting cuma uang. Cuma koneksi. Anak kayak kita... gak akan pernah menang."
Adrian diem.
Dia gak bisa jawab.
Karena dia juga tau aku bener.
Kami duduk dalam diam. Lama.
Sampai bel masuk berbunyi.
"Sat... kita masuk kelas yuk. Gak papa. Kita lewatin hari ini dulu."
Aku ngangguk. Aku berdiri. Kami jalan ke kelas.
Tapi pikiranku gak di kelas.
Pikiranku di rumah.
Gimana caranya bilang ke ayah dan ibu... bahwa aku gagal?
***
Jam istirahat pertama.
Aku gak ke kantin. Gak ke perpustakaan.
Aku duduk di bangku paling belakang. Sendirian. Kepala di atas meja.
Tiba-tiba, keributan di luar kelas.
Anak-anak pada lari ke koridor.
"EH LIAT! VANYA NAIK ANGKOT!"
"SERIUS?! VANYA?!"
"IYA! GUE LIAT SENDIRI TADI! DIA TURUN DARI ANGKOT DI DEPAN GERBANG!"
Vanya?
Vanya Clarissa Valerine?
Ratu sekolah yang paling cantik? Yang selalu dijemput mobil BMW putih sama supir pribadinya?
Naik angkot?
Aku gak peduli. Aku tetep duduk.
Tapi keributan makin keras.
"EH LIAT! VANYA MASUK! BAJUNYA... BAJUNYA KUSUT!"
"DAN SEPATUNYA LUSUH!"
"APA YANG TERJADI SAMA DIA?!"
Aku angkat kepala. Aku liat ke arah pintu kelas.
Vanya masuk.
Dan...
Aku hampir gak percaya.
Ini Vanya yang sama?
Vanya yang biasanya dateng dengan makeup sempurna, rambut di-blow rapi, seragam bersih wangi parfum mahal, sepatu mengkilap, tas branded?
Sekarang...
Rambutnya diiket asal. Gak rapi. Mukanya pucat. Gak ada makeup. Ada kantung mata hitam di bawah matanya. Seragamnya kusut. Ada noda di lengan kanan. Sepatunya lusuh. Putihnya udah abu-abu. Tasnya... tas sekolah biasa. Bukan tas branded yang biasa dia bawa.
Dia jalan masuk ke kelas dengan kepala tertunduk.
Semua anak ngeliatin dia.
Bisikan mulai.
"Kenapa dia jadi begitu?"
"Katanya ayahnya bangkrut..."
"Serius? Emang kenapa?"
"Gak tau. Tapi katanya utangnya miliaran. Rumahnya disita bank."
"Pantesan..."
Vanya duduk di bangkunya. Bangku yang biasanya dikelilingin temen-temennya.
Tapi sekarang... kosong.
Gak ada yang duduk di sebelahnya.
Temen-temennya yang biasanya nempel terus, sekarang duduk jauh-jauh.
Vanya liat sekeliling. Matanya kosong.
Dia buka tasnya. Dia keluarin buku. Tapi tangannya gemetar.
Keyla masuk kelas. Dia liat Vanya. Dia nyengir.
Keyla jalan ke arah Vanya. Dia berdiri di depan meja Vanya.
"Vanya... kamu kenapa? Kok tiba-tiba jadi... miskin gini?"
Suara Keyla keras. Sengaja biar semua orang denger.
Vanya angkat kepala. Matanya merah. "Keyla... tolong jangan..."
"Jangan apa? Aku cuma tanya kok. Katanya ayahmu bangkrut ya? Kabur ninggalin utang? Kasian banget sih... Ibumu juga katanya masuk RSJ? Gila ya?"
Vanya berdiri. "Keyla! Kumohon jangan bahas itu!"
Keyla ketawa. "Kenapa? Malu? Harusnya kamu udah biasa kan? Dulu kamu suka ngehina anak-anak miskin. Sekarang kamu jadi salah satunya. Rasain!"
Temen-temen Keyla pada ketawa.
Vanya duduk lagi. Tangannya nutup muka. Bahunya bergetar.
Dia nangis.
Keyla jalan balik ke tempat duduknya sambil ketawa.
"Eh, jangan deket-deket Vanya ya. Nanti kemiskinannya nular!"
Semua ketawa.
Aku liat Vanya.
Dia nangis di mejanya. Sendirian.
Persis seperti aku dulu.
Persis seperti yang aku rasain setiap hari.
***
Jam istirahat kedua.
Aku jalan ke toilet.
Toilet cowok di lantai dua. Sepi. Gak ada orang.
Aku masuk. Aku cuci muka. Air dingin bikin aku sedikit seger.
Aku liat cermin.
Wajah aku pucat. Mata cekung. Kurus.
"Lu gagal, Satria. Lu gagal. Ayah dan ibu pasti kecewa. Lu... lu gak berguna."
Bisikku pelan ke cermin.
Tiba-tiba, aku denger suara.
Suara tangisan.
Dari toilet cewek sebelah.
Aku diem. Aku dengerin.
Tangisan itu keras. Nggak ditahan. Kayak orang yang udah gak kuat lagi.
Aku keluar dari toilet cowok. Aku berdiri di depan pintu toilet cewek.
Aku ragu mau masuk atau enggak.
Tapi tangisan itu... tangisan itu bikin aku gak bisa pergi.
Aku ketuk pintu pelan.
TOK TOK TOK.
Tangisan berhenti sebentar.
"Siapa?"
Suara cewek. Serak. Parau.
"Aku... Satria."
Hening.
"Kenapa... kenapa kamu di sini?"
Aku gak tau harus jawab apa.
"Aku... aku denger kamu nangis. Aku cuma... cuma mau tau kamu gak papa."
Hening lagi.
Lama.
Terus pintu terbuka pelan.
Vanya keluar.
Mukanya berantakan. Mata merah bengkak. Pipi basah air mata. Rambut acak-acakan.
Dia liat aku. Matanya kosong.
"Kamu... kamu mau ngejek aku juga?"
Suaranya lemah. Gak ada kekuatan.
Aku geleng. "Enggak. Aku cuma... cuma mau mastiin kamu gak papa."
Vanya ketawa. Tapi ketawanya... ketawanya sedih. Miris.
"Gak papa? Aku gak papa? Kamu pikir aku gak papa, Satria? Hidup aku hancur! Ayah aku kabur! Ibu aku gila! Rumah aku disita! Mobil aku disita! Semua harta aku hilang! Temen-temen aku ninggalin aku! Mereka ngehina aku! Mereka ngejek aku! Dan kamu... kamu tanya aku gak papa?!"
Dia teriak. Suaranya memantul di koridor kosong.
Terus dia jatuh berlutut. Nangis lagi.
"Aku... aku gak tau harus gimana... Aku gak tau harus hidup gimana... Aku... aku gak kuat..."
Aku berdiri di depan dia. Aku liat dia nangis.
Bagian dalam hati aku... ada yang pengen bantuin dia.
Tapi bagian lain... bagian lain inget semua yang dia lakuin ke aku.
Dulu Vanya sering ketawa waktu Bagas lempar sampah ke muka aku.
Dulu Vanya sering ikut ngehina aku.
Dulu Vanya bilang, "Anak miskin harusnya gak sekolah di sini. Bikin pemandangan rusak."
Dan sekarang...
Sekarang dia jadi kayak aku.
Aku jongkok. Sejajar sama dia.
"Sekarang kamu tau rasanya kan?"
Suaraku dingin.
Vanya angkat kepala. Dia liat aku. Matanya kaget.
"Sekarang kamu tau gimana rasanya dihina. Dijauhin. Diejek. Dilempar sampah. Dicemooh. Sekarang kamu tau gimana rasanya jadi anak miskin yang gak punya apa-apa. Yang cuma bisa nangis sendirian. Yang gak ada yang peduli."
Air mata Vanya makin deras.
"Aku... aku minta maaf... aku minta maaf, Satria... aku salah... aku bodoh... aku... aku jahat... maafin aku..."
Dia nangis sambil tutup muka pake kedua tangannya.
Aku berdiri. Aku mau pergi.
Tapi...
Tapi aku gak bisa.
Kaki aku gak bisa melangkah.
Karena aku liat Vanya. Aku liat diriku sendiri.
Aku inget waktu aku nangis sendirian di toilet. Waktu gak ada yang peduli. Waktu dunia kayak runtuh.
Dan waktu itu... Adrian datang. Adrian bantuin aku.
Aku berbalik. Aku jongkok lagi.
Aku ulurin tangan.
Vanya liat tangan aku. Bingung.
"Aku tau kamu jahat ke aku dulu. Aku tau kamu sering ngehina aku. Tapi... tapi aku gak mau jadi kayak mereka. Aku gak mau jadi orang yang ngehina orang lain waktu mereka jatuh. Aku... aku mau jadi orang yang ngasih tangan waktu orang lain butuh."
Vanya nangis makin keras. Dia pegang tangan aku. Erat.
Tangannya dingin. Gemetar.
Aku bantu dia berdiri.
Kami berdiri berhadapan.
Vanya masih nangis. Tapi dia senyum. Senyum yang... yang penuh terima kasih.
"Terima kasih... terima kasih, Satria... aku... aku gak nyangka kamu... kamu bakal bantuin aku..."
Aku senyum tipis. "Sama-sama."
Vanya lap air matanya pake lengan baju.
"Satria... aku denger kamu juga gak lolos beasiswa tadi. Aku... aku ikut sedih. Aku tau kamu butuh beasiswa itu. Kamu... kamu yang paling berhak. Tapi mereka... mereka curang. Mereka korupsi. Aku... aku tau."
Aku liat Vanya. "Kamu tau?"
Vanya ngangguk. "Iya. Dulu waktu aku masih kaya, ayahku sering ngasih uang suap ke sekolah. Buat banyak hal. Termasuk beasiswa-beasiswa kayak gini. Aku tau sistemnya kotor. Aku tau... tapi aku diem aja. Karena aku... aku diuntungin."
Dia nunduk. Malu.
"Aku jahat, Satria. Aku egois. Aku... aku pantas dihukum kayak gini."
Aku geleng. "Kamu gak pantas dihukum. Gak ada orang yang pantas ngerasain penderitaan kayak gini. Kamu... kamu cuma perlu belajar. Belajar jadi orang yang lebih baik."
Vanya liat aku. Matanya berkaca-kaca lagi.
"Satria... kamu... kamu terlalu baik. Aku gak ngerti kenapa kamu mau bantuin aku. Padahal aku udah jahat ke kamu."
Aku senyum. "Karena aku tau rasanya sendirian. Dan aku gak mau orang lain ngerasain hal yang sama."
Vanya nangis lagi. Tapi kali ini... kali ini nangisnya beda.
Nangis karena terharu.
Dia peluk aku tiba-tiba.
Aku kaget. Tapi aku gak nolak.
Dia nangis di pundak aku.
"Terima kasih... terima kasih, Satria... kamu... kamu sahabat pertama yang aku punya setelah semuanya hancur..."
Aku belai punggungnya. Pelan.
"Sama-sama, Vanya. Sekarang kamu gak sendirian lagi."
***
Kami berdua keluar dari koridor itu bareng.
Anak-anak pada ngeliatin kami. Bingung. Heran.
"Eh liat, Satria sama Vanya?"
"Mereka ngapain bareng?"
"Aneh deh..."
Aku gak peduli. Vanya juga kayaknya gak peduli.
Kami jalan ke kelas bareng.
Adrian liat kami. Dia senyum. Dia ngerti.
Dia jalan ke arah kami.
"Vanya... kamu gak papa?"
Vanya liat Adrian. Dia senyum tipis. "Aku... aku gak papa. Terima kasih."
Adrian ngangguk. "Kalau kamu butuh temen... kami ada kok. Aku sama Satria. Kami... kami juga anak-anak yang susah. Jadi kami ngerti."
Vanya nangis lagi. Tapi dia senyum.
"Terima kasih... terima kasih kalian berdua..."
Kami bertiga duduk di bangku paling belakang.
Bertiga.
Anak-anak miskin yang dilupakan dunia.
Tapi kami punya satu sama lain.
Dan itu... itu cukup.
***
Pulang sekolah, aku jalan sendirian.
Vanya dan Adrian udah pulang duluan.
Aku jalan pelan. Gak mau cepet-cepet sampe rumah.
Karena aku harus bilang ke ayah dan ibu... bahwa aku gagal.
Sepanjang jalan, aku mikir.
Gimana caranya bilang?
Gimana reaksi mereka nanti?
Pasti ayah kecewa.
Pasti ibu nangis.
Pasti mereka... mereka sedih.
Aku sampe di depan rumah. Aku berhenti.
Aku tarik napas dalam.
"Ya Allah... beri aku kekuatan..."
Aku masuk.
Ibu lagi nyuci baju di belakang. Ayah terbaring di kasur.
Ayah liat aku. Dia senyum.
"Satria... kamu pulang. Gimana? Pengumumannya udah keluar kan?"
Jantungku berhenti.
Mulut aku kelu.
"Yah... aku..."
Ayah masih senyum. Penuh harap. "Kamu lolos kan? Kamu pasti lolos. Ayah yakin."
Aku gak bisa ngomong.
Air mata jatuh.
Ayah liat air mataku. Senyumnya hilang.
"Satria... kamu... kamu gak lolos?"
Aku ngangguk pelan.
Ayah diem.
Lama.
Terus dia tutup muka pake tangan.
Dia nangis.
Nangis dalam diam.
Aku jatuh berlutut di sebelah kasur ayah.
"Maafin aku, Yah... maafin aku... aku udah berusaha... aku udah belajar keras... tapi aku... aku gak lolos... maafin aku..."
Ayah buka tangannya. Dia liat aku. Matanya merah.
"Kamu... kamu gak salah, Nak... kamu udah berusaha... ini bukan salah kamu... ini... ini takdir..."
Ibu datang dari belakang. Dia liat kami berdua nangis.
"Kenapa? Ada apa?"
Ayah geleng pelan. "Satria... Satria gak lolos beasiswa..."
Ibu langsung tutup mulut. Air matanya jatuh.
Dia peluk aku dari belakang.
"Satria... gak papa, Nak... gak papa... kita... kita cari jalan lain..."
Kami bertiga nangis.
Keluarga yang hancur.
Keluarga yang kehilangan harapan terakhir.
***
*