NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Pandora

​Jakarta di bawah lampu neon tampak seperti hutan beton yang haus darah saat Agil, Laila, dan Gito kembali menyelinap masuk ke ibu kota. Mereka kini berada di sebuah apartemen tua yang hampir roboh di kawasan padat penduduk Tambora. Agil menatap tumpukan dokumen manual yang diberikan Surya Wijaya dengan mata merah karena kurang tidur. Di tangannya, dokumen itu terasa seperti kunci surga, namun bagi siapa pun yang mengenal Baskoro, itu adalah beban yang bisa menyeret mereka ke dasar neraka.

​"Pak Agil, semua sudah siap," bisik Gito sambil memeriksa senjatanya. "Kontak kita di media internasional, seorang jurnalis investigasi bernama Sarah, akan menemui kita di sebuah gudang tua di kawasan pelabuhan Sunda Kelapa pukul dua dini hari nanti. Jika dokumen ini terbit, Baskoro tidak akan punya tempat sembunyi lagi di dunia ini."

​Agil mengangguk, namun pikirannya tidak tenang. Ia menoleh ke arah Laila yang sedang duduk di sudut ruangan, mencoba menjahit bajunya yang sobek. Laila tampak lebih tenang, namun ketenangan itu terasa kosong—seperti seseorang yang sudah menyerahkan jiwanya pada takdir.

​"Laila, setelah malam ini, semuanya akan berakhir. Kita akan pergi ke luar negeri, mengganti identitas kita, dan hidup tenang," ucap Agil mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

​Laila menatap Agil, matanya yang sayu tampak berkaca-kaca. "Mas... aku punya perasaan buruk. Papa... dia tidak pernah membiarkan musuhnya memegang senjata yang bisa membunuhnya. Kenapa dia membiarkan Pak Surya hidup selama sepuluh tahun dengan buku ini?"

​Pertanyaan Laila menghantam Agil seperti godam. Ia terdiam. Benar. Mengapa Baskoro yang sangat rapi dan kejam membiarkan Surya Wijaya menyimpan rahasia sebesar ini di panti jompo yang lokasinya bahkan bisa dilacak oleh Andy?

​Trik di Dalam Trik

​Agil kembali membuka buku catatan itu. Ia mulai meneliti nama-nama yang tertera. Di halaman terakhir, ia menemukan sebuah nama yang membuatnya membeku: Jenderal Wirawan. Dia adalah kepala badan intelijen saat ini dan teman dekat presiden.

​"Jika aku mempublikasikan nama ini, bukan hanya Papa yang hancur... seluruh stabilitas negara akan goyang," gumam Agil.

​Tiba-tiba, ponsel satelit yang diberikan Andy bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal: "Buka halaman 42, baris ke-12. Lihatlah nomor seri rekeningnya."

​Agil dengan cepat membuka halaman yang dimaksud. Ia memeriksa nomor seri rekening tersebut dan membandingkannya dengan nomor rekening yang digunakan dalam Proyek Icarus yang sebelumnya ia duga milik Baskoro.

​Jantung Agil hampir berhenti. Nomor rekening itu bukan milik Baskoro. Itu adalah rekening atas nama yayasan yatim piatu yang dikelola oleh... ibunya, Rina. Dan transaksi di sana ditandatangani oleh Agil sendiri—tanda tangan yang sangat mirip namun ia tahu ia tidak pernah menandatanganinya.

​"Sial! Ini jebakan!" teriak Agil.

​Baru saja Agil menyadari hal itu, suara deru helikopter terdengar tepat di atas apartemen mereka. Lampu sorot raksasa menembus jendela kaca yang kotor, menyilaukan mata mereka. Melalui pengeras suara, sebuah perintah menggelegar:

​"Agil Baskoro, Anda dikepung oleh Satuan Anti-Teror. Letakkan senjata dan keluar dengan tangan di atas!"

​Pengkhianatan Ganda

​"Satuan Anti-Teror?!" Gito terkejut. "Kenapa bukan polisi biasa?"

​"Karena dokumen ini!" Agil melemparkan buku itu ke lantai. "Baskoro menanam nama-nama pejabat tinggi yang paling sensitif agar jika aku membawanya, aku tidak lagi dianggap sebagai koruptor, tapi sebagai teroris informasi yang mencoba menggulingkan pemerintah. Dia ingin aku ditembak mati di tempat tanpa sempat bicara!"

​Baskoro tidak ingin Agil dipenjara. Penjara masih memungkinkan Agil bicara. Baskoro ingin Agil "dihapus".

​"Gito, bawa Laila lewat jalur evakuasi sampah! Sekarang!" perintah Agil.

​"Lalu Anda, Pak?"

​"Aku akan menjadi umpan. Jika mereka mengejarku, mereka tidak akan fokus pada kalian. Pergi ke alamat yang kuberikan tadi, temui Sarah. Katakan padanya jangan publikasikan dokumen ini, tapi gunakan ini untuk mengancam Jenderal Wirawan secara pribadi agar dia menarik dukungannya pada Baskoro. Itu satu-satunya cara!"

​Perpisahan itu terjadi dalam hitungan detik. Laila menjerit saat Gito menariknya paksa menuju lubang pembuangan sampah. Agil berdiri di tengah ruangan, memegang sebuah suar yang ia nyalakan untuk memancing perhatian helikopter.

​Lika-Liku Pelarian Maut

​Agil meloncat dari balkon lantai tiga ke atap gedung sebelah, tepat saat peluru-peluru mulai menghujani kamar apartemennya. Ia berlari di atas atap seng yang licin karena sisa hujan. Di belakangnya, pasukan bersenjata lengkap turun dari helikopter menggunakan tali.

​Agil tidak berlari menuju pelabuhan. Ia justru berlari menuju pusat kota, menuju kawasan Menteng. Ia tahu, satu-satunya tempat di mana mereka tidak akan berani melepaskan tembakan besar-besaran adalah di lingkungan elit tempat tinggal para pejabat—dan rumah Baskoro sendiri.

​Dalam pelariannya, Agil harus melewati gang-gang sempit, merayap di bawah selokan, dan membajak sebuah sepeda motor untuk menghindari kepungan barikade jalan. Ia menggunakan kemampuan gerilyanya yang terasah selama di kontainer kargo untuk menghilang di balik bayangan.

​Namun, Baskoro terus memantaunya. Di ruang kendali rahasianya, Baskoro tersenyum melihat titik merah di layar monitor yang bergerak menuju rumahnya.

​"Dia datang padaku," gumam Baskoro. "Anakku yang malang... dia pikir tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman."

​Pertemuan di Sarang Singa

​Pukul tiga pagi. Mansion Menteng tampak sunyi namun dijaga ketat oleh 'The Praetorians'. Agil berhasil menyelinap melalui pipa air di bagian belakang rumah yang ia ketahui sejak kecil. Dengan pakaian yang basah kuyup dan napas yang tersenggal-senggal, ia masuk ke ruang kerja ayahnya.

​Baskoro duduk di kursi kebesarannya, membelakangi pintu, menatap taman melalui jendela besar.

​"Kau terlambat sepuluh menit dari perkiraanku, Agil," ucap Baskoro tanpa berbalik.

​Agil menodongkan pistol yang ia ambil dari salah satu penjaga yang ia lumpuhkan di luar. "Hentikan semua ini, Pa. Tarik pasukan anti-teror itu, atau aku akan meledakkan kepalamu sekarang juga."

​Baskoro berbalik perlahan. Ia tidak tampak takut. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang menampilkan rekaman live. Di layar itu, terlihat Gito dan Laila sedang terpojok di sebuah gudang di Sunda Kelapa. Mereka dikelilingi oleh pria-pria berpakaian hitam.

​"Kau pikir kau bisa menyelamatkan mereka dengan menjadi umpan?" Baskoro tertawa kecil. "Aku punya mata di setiap lubang semut di kota ini, Agil. Sekarang, letakkan senjatamu, atau aku akan memberikan perintah untuk menghabisi istrimu sekarang juga."

​Agil gemetar. Pistol di tangannya terasa sangat berat. "Kenapa... kenapa Papa lakukan ini? Aku ini anakmu!"

​"Karena kau adalah kegagalanku, Agil. Kau terlalu lemah untuk menjadi ahli warisku, tapi terlalu pintar untuk menjadi musuhku. Jadi, aku harus mematahkan jiwamu sepenuhnya agar kau bisa menjadi pelayan yang sempurna."

​Baskoro berdiri, berjalan mendekati Agil yang masih menodongkan pistol. Ia menempelkan dahinya tepat di ujung laras pistol Agil. "Tembak, Agil. Tunjukkan padaku bahwa kau punya keberanian untuk menjadi sepertiku. Tembak ayahmu, dan jadilah monster yang kau benci. Atau... menyerahlah, dan aku akan membiarkan Laila hidup."

​Agil berada di persimpangan yang mematikan. Jika ia menembak, ia akan menjadi pembunuh dan kehilangan legitimasinya untuk selamanya. Jika ia menyerah, Laila akan kembali masuk ke dalam neraka yang lebih gelap.

​Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari arah gerbang depan mansion. Suara sirine yang berbeda—sirine dari militer yang dipimpin oleh seseorang yang tidak terduga.

​Rina, ibu Agil, masuk ke dalam ruangan dengan langkah tegas, didampingi oleh beberapa perwira militer yang tampak sangat serius.

​"Cukup, Baskoro!" teriak Rina. "Permainanmu sudah berakhir."

​Agil tertegun. Ibunya yang selama ini tampak pasif dan lemah, kini berdiri dengan otoritas yang luar biasa. Namun, Baskoro justru tersenyum lebih lebar.

​"Ah, Rina... kau akhirnya keluar dari persembunyianmu. Kau pikir perwira-perwira ini bisa menangkapku? Mereka ada di sini bukan untuk menangkapku, tapi untuk menjemput 'Daftar Hitam' itu. Dan sayangnya... Agil tidak membawanya."

​Ketegangan meningkat ke level baru. Agil menyadari bahwa ibunya pun memiliki agenda rahasia. Di ruangan itu, tidak ada yang bisa dipercaya. Agil berdiri di tengah-tengah tiga kekuatan: ayahnya yang iblis, ibunya yang misterius, dan bayang-bayang kematian Laila yang sedang disandera.

​Lika-liku perjuangan Agil kini bukan lagi soal benar atau salah, melainkan soal bertahan hidup di tengah pusaran pengkhianatan keluarga yang paling dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!