Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
“Queenora?” Suara Nyonya Adreine terdengar seperti dari kejauhan, penuh kekhawatiran.
“Kamu kenapa, Nak? Kamu pucat sekali.”
Pertanyaan itu adalah cambuk yang menyentakkan Queenora kembali ke kenyataan yang mengerikan.
Dunia yang tadinya miring dan kabur kini menjadi tajam dengan fokus yang menyakitkan. Foto itu. Wajah-wajah itu. Di sini. Di rumah ini. Jaringan neraka yang ia kira telah ia tinggalkan ternyata memiliki tentakel yang menjulur hingga ke dalam sangkar emasnya.
“Saya… saya…” Queenora tergagap, otaknya berputar liar mencari kebohongan yang bisa dipercaya. Ia tidak bisa membiarkan Adreine melihat foto itu. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun tahu.
Dengan gerakan yang ia harap terlihat seperti kehilangan keseimbangan, Queenora sedikit terhuyung ke depan. Tangannya yang gemetar menyenggol album foto tebal itu, membuatnya tertutup dengan bunyi ‘blap’ yang tumpul. Jantungnya berdebar begitu kencang, ia takut Adreine bisa mendengarnya.
“Maaf, Nyonya,” bisiknya, memegangi kepalanya.
“Kepala saya tiba-tiba pusing. Mungkin karena debu di sini, udaranya pengap sekali,” kilah Quuenora cepat.
Adreine langsung sigap, rasa khawatirnya mengalahkan rasa penasarannya.
“Ya Tuhan kenapa kau tidak bilang dari tadi nak, tentu saja udara di sini tidak begitu baik. Seharusnya kita tidak berlama-lama di sini. Ayo, kita keluar. Biarkan saja barang-barang ini.”
Wanita tua itu membantunya berdiri, lengannya yang rapuh namun kokoh menopang Queenora.
Setiap langkah keluar dari gudang itu terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Pintu gudang ditutup, mengunci para hantu itu kembali dalam kegelapan, tetapi Queenora tahu mereka tidak akan tinggal diam. Mereka kini telah merasukinya.
“Kamu langsung istirahat saja di kamar, ya? Biar Bi Asih nanti antarkan teh hangat,” kata Adreine sambil menuntunnya menyusuri koridor.
“Terima kasih, Nyonya. Saya tidak apa-apa, sungguh. Hanya butuh berbaring sebentar,” jawab Queenora, suaranya nyaris tidak terdengar.
Begitu sampai di kamarnya, ia mengucapkan terima kasih sekali lagi dan menutup pintu, menguncinya dengan bunyi klik yang terasa begitu rapuh. Ia bersandar di pintu, napasnya tersengal-sengal seolah baru saja berlari maraton puluhan kilometer. Aman? Mungkin? Untuk saat ini.
Tapi rasa aman itu palsu. Rumah ini tidak lagi terasa seperti tempat perlindungan.
Dinding-dinding yang tadinya menawarkan ketenangan kini terasa mengawasinya. Darian. Pria yang mulai meruntuhkan tembok es di sekeliling hatinya, pria yang putranya ia cintai seperti miliknya sendiri, ternyata pernah tertawa bersama monster-monster yang merenggut segalanya darinya.
Dengan tangan yang masih gemetar, Queenora meraih ponselnya. Ia membuka peramban internet, jarinya ragu-ragu mengetik nama ‘Darian Kertanegara’. Hasilnya melimpah artikel bisnis, wawancara, profil perusahaan. Bukan itu yang ia cari. Ia menambahkan kata kunci: ‘media sosial’.
Akun-akun profesionalnya terkunci rapat, tetapi ia menemukan sebuah akun lama yang tampaknya sudah tidak aktif, sebuah relik dari masa kuliahnya. Foto dimana Darian yang jauh lebih muda, tersenyum canggung ke arah kamera. Akun itu bersifat publik, sehingga Quuenora bisa lebih foto yang pernah di posting.
Queenora menahan napas dan mulai menggulir.
Jaring itu mulai terlihat. Foto-foto pesta dari bertahun-tahun yang lalu. Darian yang merangkul sekelompok pemuda, wajah-wajah yang sebagian ia kenali dari album tadi.
Jemari Quuenora terus mengusap layar, halaman sosial media milik Darian terus menggulir, mencari koneksi yang lebih langsung. Ia mengetik nama kakaknya, Arya, di daftar pertemanan Darian. Tidak ada. Ia mengetik nama manusia monster yang merebut semua dari Quuenora. Juga tidak ada.
Ada sedikit kelegaan, tetapi itu cepat menguap. Darian mungkin tidak berteman langsung dengan mereka sekarang, tetapi lingkaran pertemanan mereka tumpang tindih seperti noda minyak di atas air.
Ia melihat Arya meninggalkan komentar di foto salah satu teman Darian. Ia melihat monster itu ditandai dalam sebuah foto bersama orang yang juga ditandai di foto lain bersama Darian. Mereka berada di orbit yang sama, menghirup udara yang sama, mungkin berbagi lelucon yang sama.
Pikiran itu membuatnya mual. Apakah Darian tahu apa yang telah mereka lakukan? Apakah ia salah satu dari mereka yang menertawakan ‘gadis kampung naif’ seperti yang pernah Luna tulis di jurnalnya?
Rasa takut yang dingin dan familier merayap di sepanjang tulang punggungnya. Insting bertahan hidup yang telah lama tertidur kini menjerit-jerit di dalam kepalanya.
Jaga jarak. Jangan percaya. Semua orang adalah ancaman.
***
Beberapa hari berikutnya, kehangatan yang baru mulai mekar di antara Queenora dan Darian membeku menjadi musim dingin yang tiba-tiba.
Queenora kembali menjadi bayangan, sosok fungsional yang tugasnya hanya satu, merawat Elios. Ia akan masuk ke kamar bayi, menyusui, bermain, dan menidurkannya dengan efisiensi seorang robot. Senyumnya hanya untuk Elios. Tawanya hanya untuk Elios.
Setiap kali Darian masuk ke ruangan, tubuh Queenora menegang. Ia akan menghindari tatapan pria itu, menjawab pertanyaannya dengan satu atau dua kata, lalu segera mencari alasan untuk pergi. Ia menolak ajakan Nyonya Adreine untuk makan malam bersama, beralasan tidak enak badan.
Perubahan itu begitu drastis hingga mustahil untuk diabaikan. Darian, yang baru saja mulai belajar cara berkomunikasi, mendapati dirinya kembali berbicara dengan tembok. Bedanya, tembok kali ini memiliki mata yang sarat akan ketakutan yang tidak ia mengerti.
Malam itu, setelah menidurkan Elios, Queenora hendak menyelinap kembali ke kamarnya saat sebuah tangan dengan lembut menahan lengannya.
“Tunggu.”
Suara bariton Darian membuatnya membeku. Ia tidak berbalik.
“Kita perlu bicara, Queenora.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan, Tuan. Saya lelah,” jawabnya pelan, mencoba melepaskan cengkeramannya, tetapi Darian tidak bergeming.
“Jangan bohong padaku,” kata Darian, nadanya tidak marah, tetapi sarat dengan frustrasi yang tertahan.
“Sudah berhari-hari kamu seperti ini. Kamu menghindariku seolah aku ini wabah penyakit. Kenapa?”
Queenora akhirnya berbalik, menatap Darian dengan mata yang dipenuhi gejolak. Ia ingin berteriak, ingin menanyakan tentang foto itu, tentang teman-temannya, tentang Arya.
Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya, tercekik oleh rasa takut. Jika ia salah, ia akan menghancurkan satu-satunya hal baik dalam hidupnya. Jika ia benar, ia berada dalam bahaya yang lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
“Bukan salah Tuan,” jawabnya akhirnya, suaranya bergetar
. “Ini… ini masalah pribadi saya.”
“Masalah pribadi?” Darian maju selangkah, sorot matanya menuntut. “Beberapa hari yang lalu di gudang, kamu baik-baik saja. Lalu tiba-tiba kamu membangun kembali semua tembok yang susah payah mulai kita runtuhkan. Apa yang terjadi di gudang itu?”
Jantung Queenora serasa berhenti berdetak.
Dia tahu?
“Tidak ada apa-apa,” desisnya, mundur selangkah.
“Saya hanya… saya hanya sadar posisi saya di sini. Saya hanya karyawan, Tuan. Seharusnya kita tidak terlalu… dekat.”
Rasa sakit melintas di mata Darian, begitu cepat hingga Queenora nyaris meragukan apakah ia benar-benar melihatnya. Wajah pria itu kembali mengeras.
“Posisi?” ulangnya dengan nada dingin yang menusuk.
“Setelah semua yang kita lalui, kamu kembali ke sana? Setelah kamu membuat putraku tertawa untuk pertama kalinya? Setelah kamu membuatku merasa….” Ia berhenti, tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Rahangnya mengeras.
“Aku tidak percaya ini.”
Keheningan yang tegang menyelimuti mereka. Di ujung koridor, jam besar berdentang, setiap detiknya terasa seperti palu godam.
“Kalau Tuan tidak percaya, itu bukan urusan saya,” kata Queenora dengan keberanian yang dipaksakan.
“Sekarang, kalau Tuan tidak keberatan, saya ingin istirahat.”
Ia mencoba melewatinya, tetapi Darian menghalangi jalannya. Pria itu menatapnya lurus-lurus, intensitas di matanya seolah mencoba mengupas lapisan pertahanannya satu per satu.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai kamu memberiku jawaban yang jujur, Queenora. Aku… aku butuh tahu kenapa. Apa aku sudah melewati batasan? Apa aku membuatmu tidak nyaman?”
Pertanyaannya yang tulus dan penuh kerentanan itu justru terasa lebih menyakitkan daripada kemarahannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Queenora. Ia menggelengkan kepalanya dengan putus asa.
“Bukan begitu, Tuan. Tolong… jangan bertanya lagi.”
Tepat saat Darian hendak mendesaknya lebih jauh, sebuah getaran singkat disusul nada dering yang tajam memecah ketegangan. Ponsel di saku Darian berbunyi, cahayanya berkedip-kedip di koridor yang remang-remang.
Darian menggeram pelan karena frustrasi, tetapi ia tetap mengeluarkan ponselnya. Ia melirik layar, dan ekspresinya berubah seketika. Wajahnya yang semula dipenuhi emosi kini menjadi pucat pasi, digantikan oleh kewaspadaan yang dingin dan berbahaya.
Ia mengangkat telepon itu ke telinganya tanpa mengalihkan pandangan dari Queenora.
“Ya, Anton?” sapanya, menyebut nama pengacaranya.
Hening sejenak. Queenora hanya bisa mendengar gumaman samar dari seberang telepon. Mata Darian menyipit.
“Apa?” tanyanya tajam.
“Kau yakin informasinya valid?”
Lagi-lagi hening. Queenora melihat buku-buku jari Darian memutih saat ia menggenggam ponselnya lebih erat. Otot-otot di rahangnya menegang. Apa pun berita yang ia dengar, itu adalah berita buruk.
Darian menutup telepon tanpa mengucapkan selamat tinggal. Bunyi klik yang final menggema di koridor yang sunyi. Ia menurunkan ponselnya perlahan, matanya yang kelam terkunci pada Queenora, tetapi tatapannya kini menembus gadis itu, melihat ancaman yang lebih besar yang sedang merayap mendekat.
“Itu tadi pengacaraku,” katanya, suaranya datar dan tanpa emosi, membuat bulu kuduk Queenora meremang. Ia berhenti sejenak, seolah menimbang berat kata-kata berikutnya.
“Estrel telah menyewa seorang detektif swasta.”
Dunia Queenora yang sudah retak kini pecah berkeping-keping.
Darian menelan ludah, matanya memancarkan badai yang akan datang. “Dia ingin tahu segalanya tentangmu, Queenora. Sedalam-dalamnya.”