"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28. perubahan Aksara
Semua terkejut dan syok ketika melihat semua siluman anak buah kolonyowo beku dalam sekejap. Tak terkecuali Nadira dan Aksara serta Rehan
"Ups maaf hehe kalian kena juga" cengir Elsa yang tanpa sengaja membekukan semua yang ada disana
"bagiamana bisa dia melakukan semua ini?" ucap Ki Satya yang masih terkejut
"dia hanya memainkan imajinasinya" ucap kiyai Syafiq terkekeh
"cepat bebaskan kami Elsa! Kenapa malah kami juga yang kena!" teriak Rehan
"ya maaf namanya juga nggak sengaja" ucap Elsa sambil mengelilingi mereka bertiga
"ini gimana ya? apa mau di panggang di atas api dulu?" tanya Elsa
"kamu pikir kami daging panggang! Cepat hancurkan es ini! Dingin tau!" ucap Nadira yang mulai menggigil
"kamu tuh kalo pakai kekuatan yang kira-kira. Masa teman sendiri diserang" ucap Ki Satya
"maklum Ki, masih amatir" jawab Elsa santai
Ki Satya mengulurkan tangannya pada tubuh Rehan yang membeku. perlahan tangan Ki Satya mengeluarkan cahaya api yang melelehkan Es dalam sekejap
"wooaahh elemen api!!!" sorak Elsa
"ini ilmu lama" singkat Ki Satya
kolonyowo yang melihat semua anak buahnya beku menjadi geram bukan main. Ia tahu jika para siluman itu akan segera musnah karena dibekukan oleh Elsa
"Saruji!! Bawa kelemahan anak itu agar ia menyerahkan diri dengan sukarela!" Perintah kolonyowo pada paklek Saruji
"baik Tuan ku!" Saruji membungkuk dan menghilang sebentar
"hah kemana paklek Saruji?" gumam Aksara
Mata Aksara bertatapan dengan kolonyowo. Aksara tanpa sadar menatap langsung ke arah mata kolonyowo yang merah menyala.
Aksara sedikit tersentak dan kemudian menggelengkan kepalanya. ia merasa tidak terkendali.
entah ada apa dengan dirinya. Ia seperti melihat pemandangan yang mengerikan. D*arah, mayat-mayat dan tangisan.
"Aksara kamu kenapa?" Nadira mendekati Aksara setelah mereka semua tidak beku lagi
"Nadira jangan dekati aku!" Aksara mundur ke belakang dengan memegang dadanya
"Aksara ada apa denganmu?" Tanya Nadira semakin mendekati Aksara
"tidak Nadira! Menjauh dariku sekarang!" teriak Aksara yang mengejutkan mereka
"Satya!! Ini saatnya!" ucap kiyai Syafiq yang langsung duduk bersila di tanah dengan membaca sesuatu
"Tidak Syafiq ini berbahaya!" Cegah Ki Satya
sedangkan Aksara merasa ia sangat haus dan ingin minum, tapi bukan air. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya
perlahan-lahan, tubuhnya berubah menjadi besar hingga bajunya pun robek. Matanya merah menyala.
"Aksara!" Semua terkejut melihat perubahan pria tampan itu yang kini berwujud mengerikan
"Astaghfirullah Aksara!! Anakku!!" Bu Mutia yang baru sampai bersama suaminya seketika histeris melihat anaknya yang begitu mengerikan
"HAHAHA Selamat datang anakku!!!!" Suara kolonyowo menggelegar.
mereka terkejut karena kolonyowo menyebut aksara adalah anaknya
"Aksara anak kolonyowo?" gumam Nadira
"tidakk!!! Dia putrakuu!!" teriak Bu Mutia
"Bagaimana bisa kolonyowo menyebut aksara anaknya?" Bingung mereka semua
pandangan Rehan mengarah ke pak Rusdi yang menunduk dalam.
"om katakan yang sebenarnya?!" Ucap Rehan yang memegang bahu pak Rusdi
"Katakan sesuatu om jangan diam saja!" desak Rehan
"hahahaha!!! Aksara adalah anakku yang ku titipkan pada mereka!" ucap kolonyowo menunjuk Rusdi dan Bu Mutia
"Awassss Nadiraa!!!!"
BRUKHH
Elsa sempat mendorong Nadira agar tidak terkena serangan dari aksara.
"Aksara sadarlah!! kami teman mu!!" teriak Elsa
"Aku mau diiaaa!!!" Aksara menunjuk Nadira dengan tatapan lapar
"Aksara ini aku, Nadiraa!!" ucap Nadira yang masih syok
"dapatkan dia Anakku!! Dan kita akan bisa hidup abadi setelah ini hahahaha!!!!"
Wuusshhh
wuusshhh
Kiyai Syafiq dan Ki Satya menyerang kolonyowo yang sedari tadi menghasut aksara. Ia tak ingin menyerang karena tujuannya adalah menyakiti mereka hingga mentalnya lemah
"hahahah manusia Rendah ini!! Akan ku pastikan kau tidak bisa menyentuhku lagi!!" teriak kolonyowo yang membalas serangan kiyai Syafiq
"Allah bersamaku!! Aku akan pastikan kau musnah untuk selamanya!!" kiyai Syafiq dan Ki Satya mengeluarkan seluruh kemampuan mereka untuk melawan kolonyowo
Sedangkan Aksara semakin tidak terkendali, ia menyerang teman-temannya dengan membabi buta.
wuusshhh
Tringgg
tringgg
"sejak kapan aksara punya cakar?" gumam Rehan
"matilah kau!!!"
Craashhh
Duaakhhh
Rehan terlempar hingga menabrak dinding gerbang rumah setelah mendapat cakaran dan tendangan di dadanya
Uhukk uhukkk
Hueekkk
"Rehan!!" Elsa menghampiri Rehan yang m*ntah darah
"minum ini agar tubuhmu cepat pulih" Elsa memberikan air dibotol yang ia dapat dari kiyai Syafiq
"kita harus bagaimana? Jika Mengalah maka nyawa Nadira dalam bahaya. Jika kita lawan bisa jadi nyawa aksara yang bahaya" ucap Rehan yang masih tersengal
"aku tahu! Akan aku coba bekukan dia" Elsa melompat ke dahan pohon untuk memainkan serulingnya.
"berisik!!!"
wuusshhh
Crasshhh
aaaghhhh
"Elsaaa!!!!" teriak Nadira yang melihat Elsa terkena anak panah dari Aksara
"cukup aksara!!! Sadarlah!!"
Namun Aksara justru menyeringai dengan mendekati Nadira.
Nadira menatap tajam ke arah Aksara dengan perasaan campur aduk
"maafkan aku Aksara" Nadira memejamkan mata dan menggenggam erat pedangnya
Sringgg
Nadira mengayunkan pedangnya ke arah Aksara, namun Aksara tidak melawan ia membiarkan tubuhnya di tebas Nadira. Ia tidak kesakitan walaupun darah telah mengucurkan dari bekas sabetan pedang naga.
"lawan aku Aksara!" teriak Nadira yang tidak menyangka jika aksara membaurkan tubuhnya sendiri terluka
"Hanya ini yang bisa kulakukan Nadira agar aku tidak menyakitimu" Ucap Aksara
"kamu sadar?" tanya Nadira yang terkejut karna Aksara rela diserang agar tidak bisa menyentuhnya
"Cepat serang aku Nadira! Aku tidak ingin menyakitimu!" aksara memegang dadanya menahan gejolak yang memerintahkannya untuk menyerang
Aaaghhhhh
crasshh
Crasshhh
Nadira berhasil menghindar dari serangan Aksara. Ia tidak tega jika harus menebaskan pedangnya lagi.
"lawan aku Nadira!!!" teriak Aksara yang
"Tidaaakkkkk!!!!!"