Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Nyonya Widya segera beralih dari amarahnya kepada Baskara dan mendekati ranjang Swari dengan wajah yang jauh lebih lembut.
Ia meletakkan sebuah kotak hangat yang aromanya sangat menggoda di atas meja dorong Swari.
"Swari, Sayang. Ini Mama bawakan martabak coklat kesukaanmu. Mama sudah pastikan berkali-kali ke penjualnya, ini benar-benar tanpa kacang," ucap Nyonya Widya sambil mengusap punggung tangan Swari dengan penuh kasih.
"Mama tahu kamu alergi, jadi Mama awasi sendiri tadi saat mereka membuatnya."
Swari menatap kotak martabak itu dengan mata berbinar.
Aroma coklat yang lumer dan mentega yang wangi seolah menjadi obat penenang di tengah keributan tadi.
"Terima kasih, Ma. Maaf sudah merepotkan Mama," jawab Swari tulus.
"Sama sekali tidak repot, Nak. Dibandingkan penderitaanmu selama ini, martabak ini tidak ada apa-apanya," Nyonya Widya melirik sinis ke arah Baskara yang baru saja selesai memakai kemejanya dengan terburu-buru.
"Bas! Tunggu apa lagi? Cepat potongkan martabaknya untuk Swari! Pastikan jangan sampai ada remahan yang jatuh ke bajunya!"
Baskara yang masih meringis karena kulit kepalanya perih segera mendekat.
Ia membuka kotak martabak itu dan aroma coklatnya langsung menyeruak.
Dengan telaten, ia mengambil satu potong yang paling banyak coklatnya dan menyodorkannya ke arah Swari.
"Ini, Swa. Makanlah. Mama benar-benar mencarikan yang paling bersih dari kacang," ucap Baskara lembut.
Swari menerima potongan martabak itu. Gigitan pertama yang manis dan lembut membuatnya memejamkan mata sejenak. Namun, saat ia melihat Baskara masih menatapnya dengan wajah penuh penyesalan, Swari sengaja mencocolkan sisa coklat di jarinya ke hidung Baskara.
"Enak. Tapi hidungmu sekarang jadi coklat, Bas," goda Swari dengan senyum tipis yang mulai muncul kembali.
Ratri dan Navy yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggelengkan kepala.
Di satu sisi ada ketegangan masa lalu yang kelam, namun di sisi lain, martabak coklat tanpa kacang itu seolah menjadi awal dari rekonsiliasi yang manis di dalam kamar rumah sakit itu.
Wajah Nyonya Widya langsung berubah serius saat melihat nama Pak Handoko muncul di layar ponselnya.
Ia menarik napas panjang, menyadari bahwa urusan dengan keluarga Bella yang selama ini dijodohkan dengan Baskara harus segera diselesaikan sebelum menjadi masalah besar.
"Halo, Pak Handoko. Iya, saya mengerti. Baik, kita bertemu di rumah setengah jam lagi," ucap Nyonya Widya dengan nada formal namun tegas.
Setelah menutup telepon, Nyonya Widya menepuk dahi pelan.
Ia hampir lupa bahwa selama ini ia membiarkan Pak Handoko dan Bella berharap terlalu jauh. Kini, dengan kenyataan bahwa Baskara telah menemukan "calon istri".
Ia menatap Baskara dengan pandangan tajam yang membuat putranya itu langsung tegak.
"Bas, Mama harus pulang sekarang. Pak Handoko sudah di jalan ke rumah menanyakan kepastian hubunganmu dengan Bella," ucap Nyonya Widya sambil merapikan tasnya.
"Mama akan beritahu mereka kalau kamu sudah menemukan calon istri. Kamu tetaplah di sini, jaga Swari baik-baik. Kalau sampai ada lecet sedikit saja pada Swari saat Mama kembali, rambutmu yang lain akan Mama jambak sampai botak!"
Baskara menelan salivanya saat mendengar ancaman dari Mama nya
"Iya, Ma. Hati-hati di jalan."
Nyonya Widya mencium kening Swari dengan lembut.
"Istirahat ya, Sayang. Jangan dipikirkan soal Bella atau Pak Handoko, Mama yang akan urus semuanya. Makan martabaknya sampai habis."
Dengan langkah anggun namun penuh tekad, Nyonya Widya keluar dari kamar rumah sakit, meninggalkan suasana yang kembali sunyi.
Swari menatap pintu yang tertutup, lalu beralih ke Baskara yang kini tampak sedikit gugup memikirkan konfrontasi ibunya dengan keluarga Pak Handoko.
"Jadi, Bella itu cantik ya, Bas?" tanya Swari tiba-tiba dengan nada yang sulit ditebak, sambil mengunyah potongan martabak coklat terakhirnya.
Baskara langsung menoleh, menyadari bahwa "pertanyaan maut" baru saja dilontarkan.
Baskara menghentikan aktivitasnya merapikan sisa kotak martabak.
Ia menatap Swari dalam-dalam, membiarkan keheningan sejenak menyelimuti mereka sebelum menjawab dengan suara rendah yang terdengar sangat jujur.
"Masih cantik kamu, Sayang. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan ibu dari anak-anakku," ucap Baskara lembut, matanya mengunci pandangan Swari.
Swari yang sedang mengunyah langsung tersedak kecil.
Wajahnya yang tadi pucat kini merona merah hingga ke leher.
Ia membuang muka, mencoba menyembunyikan senyum yang hampir lolos dari bibirnya.
"Gombal, Bas! Hidungmu masih ada coklatnya saja gayanya sudah selangit," ketus Swari sambil memberikan tisu dengan kasar ke arah Baskara.
Baskara menerima tisu itu, namun bukannya membersihkan hidungnya, ia justru menggenggam tangan Swari.
"Aku tidak sedang merayu, Swa. Itu kenyataan. Enam tahun aku tidak bisa melihat wanita lain karena bayanganmu selalu menghalangi jalanku. Bella itu hanya urusan bisnis Mama, tapi kamu itu urusan hidup dan matiku."
Swari merasakan perutnya seperti diaduk, ada sensasi aneh yang menggelitik hatinya.
Ia menarik tangannya pelan, meski sebenarnya tidak terlalu ingin melepaskannya.
"Sudah, pakai bajumu yang benar. Dan bersihkan coklat di hidungmu itu. Kalau Pak Handoko melihat calon menantunya seperti ini, dia pasti akan langsung membatalkan perjodohan tanpa perlu penjelasan Mama," ucap Swari sambil mengerucutkan bibirnya, berusaha tetap terlihat galak padahal hatinya sudah mulai mencair.
Baskara tertawa kecil, ia berdiri dan membersihkan hidungnya di depan cermin kecil.
"Biarlah dia membatalkannya. Aku memang ingin dia tahu bahwa pemilik hatiku ini sangat galak dan suka makan martabak coklat tanpa kacang."
Nyonya Widya melangkah masuk ke ruang tamu kediaman Surya dengan keanggunan yang tak tergoyahkan, meski pikirannya masih tertinggal di kamar rumah sakit bersama Swari.
Di sana, Pak Handoko sudah duduk dengan wajah serius, sementara Bella tampak cantik sempurna dalam balutan gaun desainer terbaru.
Begitu melihat Nyonya Widya, Bella langsung berdiri dengan senyum manis yang telah ia siapkan.
"Tante Widya! Apa kabar? Aku membawakan sesuatu untuk Tante," ucap Bella sambil menyodorkan sebuah tas mewah bermerek Hermes berwarna krem yang sangat langka.
"Aku ingat Tante pernah bilang suka koleksi ini waktu kita di Paris bulan lalu."
Nyonya Widya menerima tas itu dengan senyum tipis yang sopan, namun tidak ada binar kegembiraan di matanya.
Ia meletakkan tas tersebut di atas meja marmer tanpa membukanya.
"Terima kasih, Bella. Kamu selalu tahu cara menyenangkan hati orang tua," ujar Nyonya Widya tenang.
Ia kemudian beralih menatap Pak Handoko yang tampak sedang menunggu kepastian.
"Silakan duduk, Pak Handoko, Bella. Maaf membuat kalian menunggu lama. Ada urusan mendadak yang harus saya selesaikan di rumah sakit tadi," ucap Nyonya Widya sambil memberi isyarat kepada kepala pelayan untuk menyajikan teh.
Suasana di ruang tamu yang megah itu mendadak terasa sedikit tegang.
Pak Handoko berdeham, mencoba membuka pembicaraan yang menjadi tujuan utama kedatangan mereka.
"Widya, saya rasa kita tidak perlu berputar-putar lagi. Kedatangan kami ke sini ingin menanyakan kelanjutan rencana pertunangan Baskara dan Bella. Perusahaan kita sudah mulai mengintegrasikan beberapa proyek, dan saya rasa stabilitas hubungan mereka akan sangat berpengaruh pada kepercayaan pasar," ujar Pak Handoko dengan nada bicara khas pengusaha besar.
Bella menunduk malu-malu, namun matanya penuh harap.
Ia sudah membayangkan dirinya menjadi Nyonya Baskara Surya sejak lama.
Nyonya Widya menyesap tehnya perlahan, otaknya bekerja cepat.
Ia teringat janji pada dirinya sendiri dan juga rasa bersalahnya pada Swari.
Ia harus memotong harapan ini sekarang juga sebelum semuanya semakin rumit.
"Pak Handoko, Bella..." Nyonya Widya meletakkan cangkirnya.
"Saya sangat menghargai niat baik dan persahabatan keluarga kita selama ini. Namun, ada sesuatu yang harus saya sampaikan mengenai Baskara."
Nyonya Widya menarik napas panjang, menatap Bella dengan tatapan prihatin.
"Baskara sudah menemukan wanita yang akan ia nikahi. Bahkan, mereka sudah memiliki dua orang anak yang sangat tampan dan cantik."
Mendengar hal itu, tas tangan yang dipegang Bella merosot dari pangkuannya.
Pak Handoko langsung terbelalak, wajahnya memerah karena terkejut sekaligus merasa dihina.
"Apa maksud Anda, Widya?! Anak? Jangan bercanda!" seru Pak Handoko tak percaya.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor