Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Seorang wanita bergaun velvet gelap melangkah dengan elegan, bergerak penuh keanggunan yang sialnya menambah kesan kharismatik, tangan kiri memegang erat tas Chanel Flap Klasiknya, sedangkan yang lain tengah menyeimbangkan rantang makanan berat untuk sang suami.
Langkah kakinya mendekat, high heels YSL Tributenya sesekali bergesekan dengan lantai marmer yang mengkilap, menciptakan dengungan rendah pada koridor perusahaan mewah yang tengah ia pijak.
Afnan menarik kacamata hitamnya hingga terselip di atas kepala, menghela nafas kasar dengan bibir mengerucut, "Apa aku akan diusir?" Ia menerka-nerka, namun memilih abai, ia akan menjadi istri pengertian.
"Selamat siang nona, dengan saya Elizabeth, adakah yang bisa kami bantu?" Seorang resepsionis berwajah ayu dan berpakaian formal namun nampak elegan itu berseru lembut.
Sejenak Afnan terdiam, ia cukup mengagumi bagaimana resepsionis itu menyambutnya dengan hangat serta profesional, pula wajahnya yang sangat cantik membuat ia sempat tergugu.
Memilih menggelengkan kepala, "Saya Afnan, ingin bertemu dengan pimpinan kalian, Mr Dareen."
Elisabeth terlihat menganggukan kepala, "Baik, sebelum itu apakah anda sudah membuat janji temu?"
Mendengar itu membuat kening Afnan mengerut. Janji temu katanya? Sungguh absurd! Dareen adalah suaminya yang sah, bersumpah di hadapan Tuhan dan pendeta, diakui negara, maka ia berhak bertemu kapan saja. Mengapa masih memerlukan janji temu?
Tak ingin membuat masalah, Afnan memilih untuk menggelengkan kepala, "Belum, saya pikir tidak perlu ada janji temu."
"Mohon maaf, namun untuk bertemu dengan Tuan Dareen harus memiliki janji temu terlebih dahulu, nona. Apakah anda ingin saya buatkan janji temu?" Elizabeth bertanya lembut, memohon maaf dengan menyatukan jemarinya.
Afnan menutup mata sejenak, menghela napas kesal, ia menunjuk rantang makanan yang sedang dipegangnya erat, oh my god apa sepenting itu membuat janji temu?
"Begini, saya ini istri pimpinan kalian! Apakah patut seorang istri yang membawa bekal makan siang untuk suami tersayangnya harus melalui peraturan yang sedemikian rumit?"
Elizabeth diam tak langsung menjawab, wajah tak percayanya terlihat sebab ia sudah bosan menangani kasus serupa, "Nona bercanda, sudah banyak yang mengaku sebagai istri Tuan Dareen berujung diusir keamanan."
Mendengar itu Afnan mendengus, "My Gosh, jangan samakan saya dengan para wanita sinting itu, saya ini berbeda!" Serunya cepat, "Sama saja sih dulu juga sempat mengaku-ngaku." Gumamnya.
"Nona mohon pengertianny-"
"Hubungi suami saya itu, katakan padanya jika istri terkasihnya datang!" Tandas Afnan yang sudah mulai kesal, sebab sang resepsionis yang mendebatinya sedari tadi.
Elizabeth menelan ludah, lantas ia meraih interkom di mejanya, "Tentu, nona, mohon tunggu sebentar."
Jemari Elizabeth yang ramping itu dengan ragu mulai menekan sebuah tombol satu persatu yang langsung menghubungkan ia dengan pimpinan. Bagaimanapun ia masih takut, jika ternyata nona di hadapannya ini penipu.
"Siang, dengan saya Elizabeth di resepsionis. Mohon maaf mengganggu tuan, namun ada seorang wanita bernama Nona Afnan yang meminta untuk bertemu dengan anda sekarang, beliau mengaku sebagai istri sah anda, tuan." Jelas Elizabeth.
Sejenak tak ada jawaban sama sekali, hanya ada deru nafas, hingga terdapat jeda yang lumayan panjang, namun tak lama dari itu suara Dareen akhirnya terdengar, bernada dingin dan tegas.
"Afnan? Istri saya? Siapa pula itu? Saya sedang berada dalam pertemuan krusial, katakan padanya jika saya tidak memiliki janji temu dengan beliau, jika masih ngotot, panggil petugas keamanan." Alibi Dareen, sebab ia tidak ingin diganggu.
Kata-kata itu, diucapkan tanpa ragu, terasa menampar harga diri Afnan, benar-benar suami yang menjengkelkan, bagaimana bisa tidak tau nama istri sendiri? Amnesiakah? Atau memang faktor usia?
Dengan gerakan cepat yang mengejutkan, Afnan merebut interkom dari tangan Elizabeth, membuat resepsionis itu terlonjak kaget, lantas Afnan menempelkan speaker itu ke mulutnya dan langsung berbicara dengan nada tinggi.
"Perhatian, Tuan Dareen Kristian Fisnatoon Moore." Suara Afnan menggelegar di lobi utama, membuat beberapa pasang mata melihatnya dengan heran, gerangan siapa yang berteriak bagai orang gila?
"Ini aku! Afnan Hors Michelle, yang baru Kak Dareen nikahi kemarin, tanggal 13 Oktober 2025 pukul 19.00 PM! Jangan berani-beraninya kakak berlagak pikun dan mengatakan tidak mengenal istri mungil kakak ini!" Afnan menarik napas dramatis.
"Kakak pikir aku datang dari rumah menuju Gedung Megah ini hanya untuk bermain-main? Aku membawakan Kak Dareen makanan bergizi, bukan racun tikus! Sebaiknya kakak segera turun atau aku akan mengirimkan seluruh isi rantang ini melalui jendela kantor kakak!" Ancamnya.
Di seberang sana, terdengar suara Dareen yang kini penuh amarah dan rasa malu, bercampur dengan suara orang lain di ruangannya, "Sudah, cukup Afnan! Makan bekalmu sendiri, aku tidak memerlukan itu."
Dan benar saja, telfon dimatikan secara sepihak begitu saja.
Afnan terdiam sejenak, menatap interkom di tangannya dengan tatapan tak percaya, "Suami durhaka sungguh!" Ia mendesis, menyerahkan kembali interkom yang masih panas itu kepada Elizabeth.
Sedangkan Elizabeth menerima interkom itu dengan menahan tawa sekaligus rasa ngeri akan nasibnya sendiri itu, hanya bisa menunduk hormat sebab baru pertama kali ini ada seorang wanita yang berani memaki tuannya.
"Sekali lagi mohon maaf Nona Afnan, Tuan Dareen tidak bisa diganggu untuk saat ini."
Memutar bola matanya jengah, Afnan berkecak pinggang, benar-benar bajingan kelas kakap suaminya ini, "Berarti saya bisa mengganggunya nanti?" Ejeknya tersenyum.
"Nona, say-"
"Diam." Afnan mengacungkan jari telunjuknya, mengisyaratkan agar Elizabeth menutup bibirnya.
Dengan pelan Afnan membuka tas Chanel Flap Klasiknya, lantas ia mengeluarkan dokumen tebal berwarna krem yang disegel rapi. Ini adalah senjata pamungkas yang sengaja ia bawa.
Afnan membentangkan selembar kertas besar yang sudah dilaminating -KUTIPAN AKTA PERKAWINAN- tepat di atas meja marmer resepsionis.
"Baiklah, Nona Elizabeth, tolong baca baik-baik, saya ini memang istri pimpinan kalian, hanya saja suami saya itu sangatlah kurang ajar dan menyebalkan, jadi tolong maklumi."
"Jadi Tuan Dareen sudah menikah?" Beo Elizabeth sembari meneliti dokumen itu dengan cermat, palsu atau asli? Seolah menerka-nerka.
Decakan kecil terdengar, "Tentu saja sudah menikah, tidak mungkin kumpul kebo." Afnan menjawab sewot, sebal sendiri karena menghabiskan waktunya dengan hal yang tidak berguna.
Netra Elizabeth terbelak melihat keaslian dokumen itu, wanita itu langsung bangkit berdiri, membungkuk dalam-dalam dengan wajah penuh penyesalan.
"Nyonya saya sudah berlaku tidak sopan, anda bisa menghukum saya."
"Tidak perlu, apakah sekarang saya sudah bisa masuk?"
"Tentu nyonya, mari saya antar."
"Duduk saja, saya bisa berjalan sendiri."
"Baik nyonya, selamat pagi dan semoga hari anda menyenangkan."
Afnan hanya diam tak menjawab, namun bibirnya tersenyum memberi respon, dengan langkah lebar ia masuk melalui lift khusus CEO, tidak ingin sibuk mengantre dengan menggunakan lift umum.
Setelah bunyi lift terdengar tanda ia sudah berada dilantai paling atas tepatnya lantai 106, Afnan dengan kasar membuka pintu, sebab hanya ada satu ruangan dilantai paling atas ini, ruangan sang CEO.
"KAK DAREEN BERANINYA KAK-"
Tunggu.... Tunggu?! Mengapa ada banyak orang di ruangan suaminya ini!?