arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIMA
Dulu dia benci dengan jam tangan pemberian dari Erika dan membantingnya ke atas lantai. Namun, Erika menggunakan lem untuk merekatkannya kembali.
Meskipun jamnya sudah tidak berfungsi lagi, Erika tetap tidak tega untuk membuangnya.
Sementara itu, Gardan tiba-tiba menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dan berbalik lalu melihat Erika menatapnya dengan acuh tak acuh. Dia mendengus dan melempar jam itu ke atas meja rias.
"Berani-beraninya kau memajang barang rusak di sini. Apakah menurutmu vilaku ini toko barang bekas?"
Bibir Erika berkedut. "Kalau begitu kau buang saja. Setelah mengatakan itu, dia berjalan melewati Gardan untuk mencari kalungnya.
Pupil mata Gardan menyempit.
Dulu, Erika sangat peduli dengan jam tangan ini. Sekarang, dia menyuruhku untuk membuangnya seakan-akan itu tidak berharga lagi.
Ya, dia sudah berubah!
Kalau tidak, kenapa dia mau bertemu dengan pria lain dan terlihat sangat gembira saat berbicara dengannya?
Pembuluh darah di kening Gardan menyembul keluar seraya ekspresi wajahnya menggelap. "Erika! Apa kau sudah menemukan laki-laki lain? Itu sebabnya kau langsung setuju untuk bercerai?"
Erika terkekeh. "Kau bisa berpikir begitu jika kau mau."
Setelah mengatakan itu, dia melangkah menuju ke meja rias dan mengambil sebuah kotak berisi kalung dari dalam laci. Meskipun mereka berdiri sangat dekat, Erika tidak menatapnya dan berbalik hendak keluar kamar.
Wajah Gardan memucat, lalu meraih pinggangnya. "Kau pikir kau bisa datang dan pergi sesukamu?"
Erika tidak bisa melepaskan diri dan menatapnya dengan bingung. "Apa maumu?"
Gardan tidak mau mendengarkan alasan apapun! Aku tidak pernah melihat suasana hatinya berubah-ubah seperti ini sebelumnya.
Melihat Erika yang masih enggan, Gardan mencengkeram tangannya dengan erat dan berkata, "Nenek ingin bertemu denganmu, jadi malam ini kau ikut denganku ke Mansion Wistam!"
Erika mengernyit dan tercengang menatap Gardan. "Apa ada yang salah denganmu? Bukankah seharusnya kau membawa Lanni untuk bertemu dengannya?"
Ekspresi wajah Gardan semakin menggelap mendengar kata-katanya yang tajam. "Aku sudah bilang tadi. Nenek ingin bertemu denganmu! Kalau tidak, untuk apa aku repot-repot menghabiskan waktu berdua denganmu?"
Erika mendengus. "Dulu, saat nenek ingin bertemu denganku, kau selalu mencari alasan untuk mencegahku agar tidak bertemu dengannya, Kenapa sekarang kau bersikeras menyuruhku pergi menemuinya?"
Gardan mencibir dengan penuh ejekan. "Erika, nenek sangat peduli padamu. Apa kau sudah melupakannya setelah kita bercerai?"
Erika mengerutkan bibirnya. Nenek adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya dengan baik di dalam keluarga Wistam dan sangat peduli dengannya. Dia tahu Gardan tidak mencintai Erika, jadi dia merasa kasihan padanya dan mencoba menebus kesalahan cucunya.
Bagaimanapun juga, Nenek telah melakukan banyak hal yang membuat Erika merasa seperti bersama dengan nenek kandungnya sendiri. Jadi, Erika tidak pernah bisa menolak permintaannya.
"Sebelumnya, kau selalu perhatian terhadap nenek, dan sekarang, kau ingin mengabaikannya. Erika, kenapa aku tidak pernah menyadari betapa egoisnya dirimu? Apa sekarang kau ingin mengabaikannya karena dia sudah tidak berguna lagi untukmu?"
"Aku bukan orang seperti itu!" Erika melotot padanya.
Gardan mengejek. "Kalau begitu temui dia."
Erika masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk. Pernikahan palsuku selalu membuat nenek khawatir.
Jika aku tidak bersikeras untuk menikah dengan...
Tak butuh waktu lama, Erika dan Gardan pun tiba di Mansion Wistam.
Mereka baru masuk ke dalam rumah, lalu mendengar suara yang sangat bersemangat dari sofa. "Cucu menantuku tersayang akhirnya datang jugal Erika, kemarilah dan duduk di sampingku! Aku sudah menunggu untuk bertemu denganmu selama ini. Akhirnya sekarang kau ada di sini!"
Bulu mata Erika sedikit bergetar. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan yang rumit di matanya saat dia memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Nenek, aku minta maaf. Selama ini..."
Namun, Yulia Sumitra menyela dan mengelus tangannya dengan lembut. Nada bicaranya sangat lembut saat mengatakan, "Kau tidak perlu menjelaskan apapun. Aku tahu kesulitan yang kau hadapi."
Erika terkejut menatap Yulia dan mencoba bertanya, "Kau... Kau tahu semuanya?"
Tetapi, jika nenek tahu tentang perceraian kami, dia tidak akan berbicara padaku dengan nada ini...
Bahkan Gardan pun terlihat bingung saat melihat Yulia.
Yulia menatap Gardan dengan marah sebelum berbalik pada Erika dengan penuh haru. "Ya,
Aku tahu semuanya. Anak nakal ini memang brengsek. Aku sudah memilihkan istri yang baik untuknya. Tapi dia justru tidak menghargaimu!"