Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27🩷 serangan jantung
Inggrid memang tak bisa diajak bercanda ala MIPA 3, wajar saja ia ketus, sebab tak tau gaya bercanda mereka.
"Suttth!" Tian menyikut orang yang ada di dekatnya yaitu ketua kelasnya, Tama. Namun jelas itu bukan untuk Tama, sebab kini yang sudah bersuara adalah Fajar.
"Wah, ada Jenny blackpink!" seru Fajar ketika keduanya mendekat.
Damn Dea! Balik aja yuk! Begitu kiranya ekspresi Inggrid menatap Dea sambil melotot, bahkan tangannya sudah terkepal ketika Rio bilang, "mau ngajak konser atau mau ke villa si koko."
Rama menggeplak kepala Rio.
Mau minta maaf aja susahnya minta ampun, Inggrid memberengut. Dea tersenyum saja, bukan pada Tian, Fajar atau Rio yang sudah menggoda. Sadar dengan wajah keruh Inggrid yang siap meledak, Dea memegang tangannya.
"Sorry. Gue mau cari Narasheila sama Ramadhan, bukan mau ngajakin MIPA 3 berantem, Tam..." jelas Dea sedang bicara pada Tama namun pandangannya sedang memberi Inggrid pengertian, meminta Inggrid lebih bersabar, dan betul....gadis itu begitu menahan emosi dengan mengedarkan pandangan ke lain arah.
Rifal mengehkeh tanpa suara melihat cara Dea menenangkan Inggrid. Gadis itu, apakah sengaja datang ke kelas dengan kacamata yang kini telah berani ia pakai di depan umum. Lihatlah dirinya sekarang, begitu nyaman dengan kacamata bingkai bulatnya diantara poni jarang dan rambut tergerai sedikit berantakan yang disengaja agar terlihat menggemaskan.
Dea tak berani melirik pemuda itu, takut jika wajahnya mendadak panas sampai ke telinga saat ini, sebab ia tau sejak tadi Rifal telah menatapnya. Bukan apa-apa, cukup syok therapy untuk Inggrid hari ini, jangan sampai ia curiga jika antara dirinya dan Rifal...bahkan mungkin sebagian anak di sekolah sudah menggunjingkan dirinya dan Rifal, gara-gara sering terlihat bersama belakangan ini.
"Ing?" Nara menyapa, yang langsung ditarik Inggrid, "Ra...sini deh."
"Kenapa mesti jauh-jauh atuh ngobrolnya?" goda mereka lagi. Dan tak lama setelah Nara ikut menjauh beberapa, Nara memanggil Rama.
"De," panggil Rama sebelum itu, "thanks udah bantu gue."
"Sama-sama. Rifal yang bantu, kan? Gue cuma cerita aja." Rifal turut mendekat dan menyapa sementara Rama mengalihkan perhatian Inggrid, "i'm coming sayanggg!" serunya membuat Inggrid mencebik sebal dan kembali bicara setelah Rama mendekat.
"De! Teriak kalo ada yang gatel-gatel!" seru Inggrid diokei Dea yang tertawa.
"Apa atuh, dikira kita ulet bulu!" balas Fajar lagi.
Hampir saja Muti dan Tasya meledakan kata cieee nan gemasnya. Namun saat Rifal memberikan kodenya mereka langsung membekap mulutnya.
"Udah terbuka sama yang lain?" tunjuk Rifal ke arah kacamata.
Dea mengangguk, dan interaksi canggung itu justru menjadi bahan olok-olokan mereka yang ada di belakang dan sudah merasa gemas sendiri.
"Seluruh kotaaaa!" teriak Muti di dalam kelas, dan gelak tawa kembali tercipta.
"Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu, ngga punya nyaliiii!"
"Tembak--tembak! Dorr---dorr!"
"Itu mereka kenapa?" tanya Dea.
"Lagi kambuh." Jawab Rifal menggertakan giginya kesal, "kapan les? Bisa sambil jalan..."
Dan Dea kembali terdistrek dengan Yusuf yang membuat gerakan seperti kejang-kejang.
Ingin sekali Rifal mengumpat disana dengan kerandoman mereka.
Tian menyudahi game nya justru bergabung dengan Cupid dengan menggusurnya ke dalam kelas, "weeyyy bantuin ini! Butuh dokter cinta!"
Wajah Rifal keruh dengan alis menukik ke arah teman-temannya itu, dan mereka kembali berseloroh dengan berlarian, "cari ctm...ctm woyyy!"
Para siswa perempuan tertawa.
"Hari ini. Tapi----"
"De!" Lantas suara perintah itu kembali mengganggu, "Yuk balik!"
Dea mengangguk, "oh udah?" Tanpa melirik Rifal Dea berjalan meninggalkan kelas MIPA 3 itu.
"Yaaaa....pergi. Jangan datang lagi cinta, bagaimana aku bisa lupa, padahal kau tau keadaannya, kau bukanlah untukku...."
Rifal menggeram kecil, "sini Lo semua! Bang ke emang Lo semua..." mereka langsung berhamburan mencari tempat berlari saat Rifal masuk ke dalam kelas mengurung semua yang disana dan menutup pintu kelas agar tak ada yang keluar.
**Rifaldi**
*Mau aku jemput les? Anggap aja ojek gratis*.
Tanpa ada komitmen apapun, namun hubungan backstreet ini mengalir begitu saja antara Dea dan Rifal. Backstreet, karena interaksi mereka hanya terjadi di belakang orang-orang. Rifal sering menjemput Dea les, karena hanya itu alasannya bisa bertemu, selain dari di sekolah dengan interaksi minim itu.
Jangan salahkan, sebab...rasa rivalitas dan perbedaan lingkungan pertemanan yang sudah ada sejak lama itu masih berefek pada Rifal dan Dea untuk tidak saling berinteraksi.
"Jajan dulu cuanki mau?" Dea mengangguk, "boleh." Maka laju motor Rifal menuju taman kota setelah berhasil menjemput Dea dari tempat lesnya.
"Minggu besok UTS." Angin sepoi-sepoi yang menerpa menjadi efek sejuk lainnya setelah pohon-pohon besar di tengah kota ini. Menjadi tempat teduh untuk rehat sebagian warga kota Bandung termasuk mereka kali ini.
Namun tak ada tanggapan dari Rival, pemuda ini mana peduli dengan UTS.
Dea terkekeh diantara kunyahan pedasnya, "kamu ngga bisa duduk ya kalo makan?" tanya Dea menggeplak pundak Rifal yang berjongkok di atas bangku taman sementara mangkuk basonya di taruh di bawah dekat dengan mangkuk Dea.
"Eh, keterusan." Refleksnya duduk bersila, Rifal menyeruput kuah bening dengan sambalnya.
"Ada rencana kuliah kan, Fal?" tanyanya lagi.
Rifal mengangguk, "ambil swasta aja lah. Negri udah pasti ngga masuk."
Dea tertawa kecil, "pesimis."
"Bukan pesimis, liat realita aja."
Dea mengangguk, "kamu sengaja jemput aku dari rumah atau----"
"Dari basecamp. Tadi kebetulan lagi pada benerin motor. Mau ada race."
"Kamu ikut?" mendadak tampilan cuanki di mangkuk tak lebih menarik dari cerita Rifal.
"Ngga melulu harus aku. Lagian yang besok cuma race kecil...cuma bantu yang lain mantesin motor aja. Vian yang ikut."
Dea mengangguk paham, kembali memandang baso cuanki dengan getir meski tak urung membuatnya kembali melahap itu. Getir, sebab ...mungkin dalam waktu dekat ia harus mengucapkan kata pisah juga.
"Kalo race gitu, papa kamu tau? Suka larang engga?"
Rifal menggeleng dan mendengus sumbang, "aku udah ngga punya papa, De. Yang di rumah cuma donatur uang jajan sama uang bertahan hidup aja."
Dea mendesis, "sorry, masih suka dipukul kalo kamunya nakal?"
Rifal mengangguk, "belakangan aku ngga nakal loh, soalnya gaulnya sama cewek berkacamata."
Dea tertawa mendorong bahu Rifal, "Kayanya besok atau lusa aku juga bakalan ngomong tentang asmaku sama Inggrid---Willy."
Rifal kembali mengangguk-angguk, "biar ngga ada dusta diantara kita?"
Dea tertawa renyah, "bahasanya lawas banget."
"Kira-kira kalo temen-temen kamu tau kita sering jalan begini, bakal pingsan atau langsung serangan jantung?" tanya Rifal.
"Paling Inggrid langsung ngacak-ngacak kelas MIPA 3."
"Kaya yang berani aja. Dikeroyok Muti sama Tasya aja kalah." Dan tawa renyah kembali keluar dari mulut Dea, "lagian, serapi-rapinya naro bang kai, nanti kecium juga. Yang ada nanti, *De*!" tiru Rifal memperagakan bentakan Inggrid kemarin.
Dea tersenyum menyipit, "iya sih. Harus siapin jawaban dari sekarang. Tapi ngapain juga, mau jawab apa, lah..kita aja ngga ada apa-apa, ngga ngapa-ngapain kan?" angguk Dea mantap.
"Emangnya mau ada apa-apa?" tanya Rifal membuat Dea memandangnya lekat, lalu tertawa menggeleng, "punyaku udah habis." Dea mendorong mangkuk cuanki miliknya agak ke depan.
"Udah makan gini enaknya apa? Jangan jawab tidur..." tanya Dea meneguk air minum kemasannya.
Tapi rupanya ucapan Dea itu justru dibenarkan Rifal, benar-benar tak habis pikir dengannya. Dea bisa melihat sendiri jika ucapan anak-anak di sekolah itu benar adanya.
"Lagi ngga buru-buru pulang kan?"
Dea menggeleng, "engga, kenapa emangnya?" Dea mengira Rifal akan mengajaknya jalan ke lain tempat lagi, namun ternyata....
Rifal menaruh jaketnya di pangkuan Dea lalu tidur disana, "eh..." Dea mendadak dibuat gugup olehnya.
Di tengah taman kota yang tersembunyi diantara pepohonan besar ini, Rifal memejamkan matanya di pangkuan Dea, menekuk lututnya menyesuaikan dengan panjang bangku beton itu.
"Fal," Dea mencolek-colek dan menusuk-nusuk pipi pemuda ini, "ini kamu beneran tidur?" matanya terpejam namun mulutnya menggumam, "5 menit aja, De." Tak peduli jika perasaan Dea dan perasaannya sudah tak baik-baik saja dengan posisi saat ini. Rifal justru sengaja akan terus menggempur pertahanan Dea.
Gadis ini merasa jika asmanya akan kambuh lagi saat ini, ia memalingkan wajah ke lain arah sebab, wajah Rifal yang damai itu, dengan pahatan sempurna yang Tuhan ciptakan itu sukses bikin tremor.
Pandangannya tak bisa untuk tak melihat wajah Rifal, terutama, ya ampun! Bibir yang menciumnya dua kali itu.
Dea memilih mengeluarkan ponsel dan memainkannya disana, scroll media sosial demi membunuh rasa jenuh selama Rifal memejamkan mata.
Sebelah tangannya refleks menyentuh kepala Rifal dan mengusapnya. Tak sengaja, ia menemukan fotonya yang banyak di like orang-orang, namun akun terakhir yang memberikan itu, cukup membuatnya dilanda gugup berkelanjutan, sebab orangnya ada bersamanya sekarang.
Bahkan ketika ia mengklik profil akun media sosial itu, postingan terakhir dan memang hanya beberapa itu ramai oleh komentar teman-temannya dimana sebuah foto yang sengaja Rifal berikan efek buram itu ia posting. Dea sangat hafal dengan foto itu, meski buram ia akan langsung mengenalinya. *Foto box dengannya*. Meski tanpa caption apapun.
.
.
.
.
eh bentarr aku malah inget film dilan kalau pas kejadian inii sama milea 🤣🤣
tau sendiri lah, males ngetik guee 🤣🤣🤭
gimana tantrumnya rifal saat tau dea akan pindah yaaa 🤔