NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Istri Buta Sang CEO

Transmigrasi Ke Istri Buta Sang CEO

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / CEO / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Orang Disabilitas / Dokter Genius / Tamat
Popularitas:6.2M
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Nova Spire, seorang ahli medis dan racun jenius, tewas tragis dalam ledakan laboratorium saat mencoba menciptakan obat penyembuh paling ampuh di dunia. Tapi kematian bukan akhir baginya, melainkan awal dari kehidupan baru.

Ia terbangun dalam tubuh Kaira Frost, seorang gadis buta berusia 18 tahun yang baru saja meregang nyawa karena dibully di sekolahnya. Kaira bukan siapa-siapa, hanya istri muda dari seorang CEO dingin yang menikahinya demi tanggung jawab karena membuat Kaira buta.

Namun kini, Kaira bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak seenaknya. Dengan kecerdasan dan ilmu Nova yang mematikan, ia akan membuka mata, menguak kebusukan, dan menuntut balas. Dunia bisnis, sekolah elit, hingga keluarga suaminya yang penuh tipu daya, semua akan merasakan racun manis dari Kaira yang baru.

Karena ketika racun berubah menjadi senjata tak ada yang bisa menebak siapa korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Sekolah

Di salah satu kamar tamu di mansion Frost, suasana terasa tegang. Pakaian dan barang-barang berserakan di atas ranjang besar, tanda seseorang tengah terburu-buru berkemas.

Maura duduk di tepi ranjang, membanting koper kecil dengan wajah cemberut. Ia berkali-kali mengeluh sambil menggertakkan giginya, penuh amarah.

"Sialan! Seharusnya si Kaira itu mati saja waktu itu!" geram Maura, mengepalkan tangannya erat. "Kalau dia terus di sini, bagaimana aku bisa mendekati Leonel? Dia itu penghalang segalanya!"

Natalie, sang ibu, duduk di kursi santai sambil melipat gaun-gaun Maura. Ia tampak lebih tenang, meski ada kemarahan terpendam di matanya.

"Tenang, Maura. Jangan terlalu emosional," kata Natalie sambil mengelus tangan putrinya. "Biar saja untuk sekarang. Kita pulang dulu."

Maura mendongak, matanya merah karena marah.

"Pulang? Lalu membiarkan dia seenaknya di sini? Dia bahkan sudah berani menyiram pelayan dengan kuah panas! Berani menentang Nyonya Selina! Bahkan Leonel saja sudah hampir tidak tahan!" serunya, nadanya penuh frustrasi.

Natalie tersenyum licik. Ia menepuk-nepuk tangan Maura seperti menenangkan anak kecil.

"Justru karena itu, kita harus bersabar. Nanti kita adukan semua ini ke Papa Ben, Kaira masih menghormati ayahnya. Kalau ayahnya yang bicara, Kaira pasti tunduk."

Maura mengerutkan kening, berpikir sejenak.

"Tapi, bagaimana kalau Papa malah memihak Kaira?"

Natalie menggeleng pelan.

"Tidak akan. Kau tahu bukan, kita selalu bisa mengambil hati si pria tua itu. Kita akan buat cerita seolah-olah Kaira sudah berubah. Kita katakan dia sudah tidak menghormati keluarga lagi, bahkan mempermalukan keluarga Dorry di depan umum. Kau lihat tadi? Sikapnya yang kasar itu akan jadi senjata kita."

Maura perlahan mulai tersenyum. Ada secercah kelegaan di wajahnya.

"Benar juga, Ma. Dengan begitu, Papa akan memaksa Kaira menyerahkan mansion ini, dan aku bisa kembali ke sini, mendekati Leonel."

Natalie mengangguk penuh arti.

"Ya. Sedikit demi sedikit, kita rebut semuanya kembali. Termasuk Leonel."

Keduanya saling menatap dan tersenyum penuh konspirasi.

Suasana kamar dipenuhi aura busuk dari rencana licik yang tengah mereka susun. Tak ada rasa bersalah sedikit pun di wajah keduanya—hanya keserakahan dan iri hati yang mendidih.

*****

Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut melalui celah tirai jendela kamar Kaira.

Terlihat gadis itu sudah rapi mengenakan seragam SMA Internasional, rok lipit sampai lutut, kemeja putih bersih, dan jas almamater berwarna hitam merah. Rambut panjangnya diikat kuda sederhana namun tetap membuat pesonanya terpancar meski tanpa penglihatan.

Tiba-tiba, terdengar ketukan halus di pintu.

Tok!

Tok!

Tok!

Kaira, yang sudah memegang tongkat, berjalan pelan ke pintu dan membukanya. Seorang pelayan muda berdiri di depan pintu, membawa perlengkapan tambahan.

"Nona Kaira, saya datang untuk membantu Anda bersiap—"

Belum sempat pelayan itu melanjutkan, Kaira mengangkat tangan, menghentikannya. "Tidak perlu," kata Kaira datar. "Aku sudah siap."

Pelayan itu terdiam, sedikit kikuk, lalu membungkuk kecil sebelum mundur.

Kaira mengunci pintu kamar, lalu berjalan perlahan ke arah lift, tongkat di tangan kanannya menyentuh lantai dengan ritme pelan namun pasti.

Sesampainya di lantai bawah, suasana mansion terasa tenang, hampir mencekam.

Kaira berjalan anggun menuju ruang makan, seolah dia bisa melihat meski matanya buta. Dia membuka kursi sendiri dan duduk dengan tenang.

Di meja makan, sudah duduk Leonel Frost, mengenakan setelan kasual rapi, dan Nyonya Selina, ibu Leonel, yang seperti biasa bersikap dingin.

Kaira mengangguk kecil sebagai salam, lalu menggumam sambil mengambil sendok:

"Indahnya sarapan tanpa adanya tikus-tikus liar."

Kalimatnya terdengar santai, tapi penuh sindiran tajam. Suasana meja makan langsung menegang.

Leonel menatap Kaira dengan ekspresi tidak suka. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan sedikit suara denting.

"Kaira," tegur Leonel, nadanya berat dan tegas. "Jaga ucapanmu. Ini bukan pasar."

Kaira hanya tersenyum tipis, lalu dengan tenang menyendok bubur hangat ke dalam mangkuknya.

"Ah, maaf," katanya dengan suara lembut tapi sinis. "Aku kira rumah ini sudah berubah fungsi sejak ada tikus berani berkeliaran di ruang tamu."

Nyonya Selina mendengus kesal, tapi menahan diri untuk tidak ikut bicara.

Leonel menatap tajam ke arah Kaira, mencoba membaca ekspresi istrinya itu. Tapi Kaira tetap tenang, seperti perisai baja yang tidak bisa ditembus.

"Makanlah cepat," ucap Leonel akhirnya, menyerah untuk memperpanjang pertengkaran pagi itu.

"Tentu," balas Kaira kalem, lalu mulai makan dengan sopan, tanpa terburu-buru, menikmati sarapannya seolah dunia di sekitarnya tidak ada.

Suasana meja makan menjadi sangat sunyi, hanya terdengar dentingan sendok dan piring.

****

Langkah-langkah Kaira terdengar mantap saat ia berjalan perlahan memasuki gerbang besar Sky School, sekolah internasional bergengsi yang dulu menjadi tempat tragedinya.

Para murid yang tengah berkumpul di lapangan langsung menghentikan aktivitas mereka. Bisik-bisik pelan terdengar di antara kerumunan.

"Itu ... Kaira, kan?" bisik seorang gadis, wajahnya syok.

"Bukannya dia koma? Katanya hampir mati gara-gara lompat dari gedung?" sahut seorang pria berjaket kulit, bagian dari geng motor sekolah.

Di sisi lain lapangan, berdiri sekelompok gadis, termasuk Maura yang hari ini tampil lebih kalem.

Maura mendesah kecil lalu berkata dengan nada polos tapi menyindir, "Iya, dia sudah sadar. Tapi sekarang, sikapnya jadi jauh lebih kasar dan aneh."

Mendengar itu, salah satu teman Maura yang bernama Sonia, gadis dengan rambut pirang kecokelatan dan sikap sok manis, tersenyum licik.

"Kalau begitu, kita sambut dia dengan hangat," gumam Sonia, sebelum melangkah maju dengan cepat.

Semua orang menahan napas, diam-diam menonton.

Sonia menghampiri jalur yang akan dilewati Kaira dan diam-diam menggerakkan kakinya untuk mencegat langkah Kaira yang berjalan dengan tongkat.

"Heh, lihat tuh, pasti jatuh," bisik salah satu teman geng motor, tertawa kecil.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Kaira yang tampak tenang, tanpa memperlambat langkah, justru menginjak keras kaki Sonia dengan tumit sepatunya.

Krak!

"Aaaah!!" Sonia menjerit keras sambil memegang kakinya yang diinjak bahkan Sonia hampir terjatuh, membuat semua orang membelalak kaget.

Kaira berhenti sejenak, lalu memiringkan kepala seolah bingung. Dengan nada polos tapi penuh sindiran, ia berkata, "Ups, maaf ... aku tidak sengaja." Dia lalu tersenyum manis, menambahkan, "Lagi pula, kenapa ada orang bodoh menghalangi jalan orang buta?"

Semua orang tercengang, beberapa menahan tawa. Tawa kecil mulai terdengar dari sudut-sudut lapangan.

Wajah Sonia merah padam karena malu dan marah.

Maura buru-buru maju ke depan, berusaha menenangkan situasi.

"Kaira! Kau ... kau terlalu kasar! Sonia tidak sengaja!" seru Maura dengan nada tinggi.

Kaira hanya tersenyum datar, lalu berkata dengan suara datar namun menghujam. "Kalau tidak sengaja, kenapa dia menghalangi jalanku? Apa sekarang orang buta harus terbang supaya tidak menginjak penghalang?"

1
ara lianna
apakah bapak.ibu ini akan jadi couple kedua setelah kaira & sky 😍
YNa Msa
keren kk Bagus Cerita nya ❤️❤️❤️
Sri Afrilinda
ceritanya keren bgt kx Authur... apalagi liat kelakuan Brian sama Brianna, ampun dah mereka...🤭🤣😂😂😂🤗💪😍
Yunita Arriviani
Luar biasa
Sri Afrilinda
🤣🤣🤣🤣🤣
Intania Naj_Va
Bagus
khzaa
/Hunger/
khzaa
pocecip
khzaa
DEWA LANGFEi
Memyr 67
𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗇𝖺 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖺𝗐𝖺 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗅𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂 𝖼𝖺𝗅𝗈𝗇 𝗆𝖺𝗇𝗍𝗎?,𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂𝗂 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗇𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗍𝗂𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝖼𝖺𝗇𝗍𝗂𝗄 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁?
Memyr 67
𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝗋𝖾𝗇𝖼𝖺𝗇𝖺 𝖻𝗋𝗇 𝖽𝗈𝗋𝗋𝗒. 𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗍𝖾𝗋𝖻𝗎𝗄𝖺 𝖽𝗂 𝗌𝗂𝗇𝗂
khzaa
harus jadi buku iniiiiii😍😍😍😍
ara lianna
wah ternyata dravien 11 12 sama ben
Rossa Amelia _99
astaghfirullah pagi" udh bikin ngakak🤣🤣🤣
Fina Chan :)
ini nih camer (calon mertua ) idaman gw 😍
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗅𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗇𝖺. 𝗍𝗎, 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗍𝗎 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗇𝖺 𝗒𝗀 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖿𝗋𝗈𝗌𝗍 𝗄𝖾𝗁𝗂𝗅𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗉𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗇𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗇𝖽𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖾𝗅𝗎𝖺𝗋.
Memyr 67
𝗁𝖺𝖽𝗂𝖺𝗁 𝗉𝗈𝗂𝗇 1? 𝖠𝗊 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖺𝗀𝗂 𝖻𝖺𝗀𝗂 𝗉𝗈𝗂𝗇 5
ara lianna
ternyata benar
ara lianna
apakah ibu clarissa?
Memyr 67
𝗂𝗒𝖺. 𝗉𝖾𝗋𝖻𝗎𝖺𝗍𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗍𝗎 𝗄𝖾𝗌𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗅𝗂𝗇𝖺, 𝗒𝗀 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗉𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗌𝖺𝗋 𝗋𝗎𝗇𝗍𝗎𝗁.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!