Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjara tanpa Jeruji
Suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela penthouse setinggi langit-langit itu terdengar seperti ribuan jarum yang jatuh bersamaan. Di dalam ruangan megah itu, suasana terasa jauh lebih dingin daripada udara luar. Setelah ledakan amarah Alexander kemarin, suasana rumah ini berubah menjadi zona perang yang sunyi.
Almira duduk di tepi ranjang, tangannya masih gemetar saat ia membelai perutnya yang masih datar. Kata-kata Alex semalam terus terngiang di telinganya seperti kaset rusak: Singkirkan anak itu, atau lihat ibumu mati. Sebuah ultimatum yang lahir dari hati yang sudah membeku oleh arogansi.
Pagi ini, Alex tidak pergi ke kantor. Pria itu berdiri di balkon, membelakangi Almira, dengan kepulan asap cerutu yang membumbung di sekitarnya. Bahunya yang lebar tampak tegang. Sejak tadi malam, ia tidak menyentuh Almira, namun kehadirannya terasa lebih menyesakkan daripada sentuhan kasarnya.
Almira mencoba bangkit untuk menuju dapur, namun begitu ia membuka pintu kamar, dua pria bertubuh tegap dengan setelan hitam sudah berdiri di sana. Mereka adalah penjaga baru yang disewa Alex secara khusus.
"Nona, Tuan Eduardo memerintahkan Anda untuk tetap di dalam kamar sampai dokter datang," ucap salah satu penjaga dengan suara robotik.
"Saya hanya ingin minum," bisik Almira, matanya mulai berkaca-kaca.
"Bi Inah akan membawakannya untuk Anda. Silakan kembali masuk."
Pintu ditutup di depan wajahnya. Almira mundur perlahan, jatuh terduduk di atas karpet bulu yang mahal. Ia menyadari satu hal: ia bukan lagi sekadar pelayan atau pemuas nafsu. Sekarang, ia adalah tahanan. Alex telah mengubah penthouse mewah ini menjadi penjara paling eksklusif di Jakarta.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Alex masuk dengan langkah yang angkuh. Ia tidak lagi tampak mabuk, namun kemarahan dingin di matanya jauh lebih menakutkan daripada kemarahan saat ia berteriak kemarin.
"Kau pikir kau bisa melarikan diri, Almira?" tanya Alex sambil menarik kursi dan duduk di hadapan gadis itu. "Aku tahu kau sempat mencari nomor telepon pengacara di tabletku kemarin sore. Kau pikir hukum bisa melindungimu dariku?"
Almira menatap Alex dengan tatapan yang hancur. "Tuan, saya hanya ingin menyelamatkan nyawa yang tidak berdosa ini. Kenapa Anda begitu kejam? Anda punya segalanya—kekuasaan, kekayaan. Kenapa satu nyawa kecil ini begitu mengganggu Anda?"
Alex mencondongkan tubuhnya, mencengkeram rahang Almira dengan jemarinya yang kuat. "Karena dia adalah kesalahan! Dia adalah bukti kelemahanku semalam saat aku memikirkan Elara! Aku tidak ingin ada pengingat tentang betapa rendahnya aku saat menyentuhmu!"
Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tamparan. Alex membenci janin itu karena janin itu adalah simbol dari fakta bahwa ia pernah kehilangan kendali atas dirinya sendiri di depan Almira.
"Besok jam sepuluh pagi, ambulans pribadi akan menjemputmu. Kita akan pergi ke klinik milik temanku di pinggiran kota. Semuanya akan selesai dalam satu jam, dan setelah itu, kau akan tetap menjadi pelayanku sampai hutangmu lunas," ucap Alex final.
Setelah Alex keluar, Almira merasa dunianya benar-benar telah kiamat. Ia harus bertindak. Ia tidak bisa membiarkan fajar esok menyingsing jika itu berarti kematian bagi anaknya.
Saat Bi Inah masuk membawa nampan makanan, Almira meraih tangan wanita tua itu. "Bi, tolong saya... Saya harus pergi dari sini. Tolong bantu saya menelepon ibu saya atau siapa pun."
Bi Inah menangis, menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Neng, semua telepon di rumah ini sudah diputus. Ponsel Bibi juga disita Tuan. Penjaga di depan pintu itu tidak bisa disuap. Mereka orang-orang kiriman pusat."
Almira merosot lemas. Namun, di tengah keputusasaannya, ia melihat sebuah harapan kecil. Di atas nampan makanan itu, ada sebuah kartu nama yang terselip di bawah piring.
Elara.
Di balik kartu itu ada tulisan tangan yang rapi namun tajam: "Temui aku di balkon belakang pukul sembilan malam saat penjaga berganti shift. Aku akan membantumu menyingkirkan 'masalah' ini tanpa melibatkan Alex."
Almira mengerutkan kening. Mengapa Elara ingin membantunya? Apakah karena Elara peduli? Tidak mungkin. Almira tahu Elara melakukannya karena ia tidak ingin Alex memiliki anak dari wanita lain, yang mungkin suatu saat akan mengancam posisinya di hati Alex. Namun, bagi Almira, bantuan setan sekalipun akan ia terima asal ia bisa keluar dari tempat ini.
Pukul sembilan malam, suasana penthouse sangat sunyi. Alex sedang berada di ruang kerjanya, menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas dan botol wiski. Dengan gerakan mengendap-endap, Almira menuju balkon belakang yang terhubung dengan akses darurat.
Elara sudah ada di sana, tampak seperti bayangan hitam di tengah kegelapan malam.
"Kau datang juga," ucap Elara tanpa menoleh.
"Anda bilang akan membantu saya pergi?" tanya Almira cepat.
Elara berbalik, senyum miring tersungging di bibirnya yang merah. "Aku tidak akan membantumu pergi dengan bebas, Almira. Aku akan membantumu menghilang. Alex sangat terobsesi padamu belakangan ini, dan itu menggangguku. Jika kau tetap di sini dengan perut buncit, dia tidak akan pernah kembali padaku sepenuhnya."
Elara menyodorkan sebuah amplop cokelat. "Di dalamnya ada sejumlah uang dan tiket bus menuju desa terpencil di Jawa Tengah. Ada seseorang yang akan menjemputmu di terminal. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Kau harus meninggalkan surat yang mengatakan bahwa kau sudah menggugurkan kandungan itu dan kau pergi karena membencinya. Aku ingin dia membencimu, Almira. Aku ingin dia merasa jijik padamu agar dia tidak pernah mencarimu lagi."
Almira menatap amplop itu. Ini adalah taruhan nyawa. Jika ia pergi, ibunya mungkin akan kehilangan pengobatan. Namun, Elara seolah bisa membaca pikiran Almira.
"Soal ibumu... aku yang akan menanggung biayanya secara rahasia. Aku punya yayasan sosial. Alex tidak akan tahu. Baginya, ibumu akan terlihat seolah masih dibiayai oleh perusahaannya. Aku hanya butuh kau lenyap dari pandangannya."
Almira ragu. Elara adalah wanita yang licik. Namun melihat ke arah kamar Alex di mana pria itu sedang merencanakan pembunuhan terhadap anaknya besok pagi, Almira tidak punya pilihan lain.
"Baik. Saya terima," ucap Almira tegas.
Almira kembali ke kamarnya, menulis sepucuk surat dengan tangan yang basah oleh air mata. Setiap kata yang ia tulis adalah kebohongan yang pahit, namun ia harus melakukannya.
Tuan Alex, saya sudah pergi. Saya sudah melakukan apa yang Anda inginkan—janin ini sudah tidak ada. Saya membenci Anda lebih dari apa pun di dunia ini. Jangan pernah cari saya lagi.
Ia meletakkan surat itu di atas bantal. Tepat saat ia hendak melangkah menuju pintu balkon lagi, pintu kamar terbuka.
Alexander berdiri di sana. Ia tampak berantakan, matanya merah, mungkin karena wiski atau mungkin karena sesuatu yang lain. Ia berjalan mendekati Almira, memojokkan gadis itu ke dinding.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Alex, suaranya serak.
"Saya... saya tidak bisa tidur," jawab Almira, jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia takut Alex bisa mendengarnya.
Alex terdiam cukup lama, menatap wajah Almira dengan intensitas yang aneh. Tiba-tiba, ia menyentuh pipi Almira dengan jempolnya, mengusap bekas tamparan yang masih sedikit memerah.
"Aku benci diriku sendiri karena tidak bisa berhenti memikirkanmu, Almira," bisik Alex. "Kenapa kau harus datang ke hidupku di saat aku sedang hancur? Kenapa kau harus membuat semuanya menjadi rumit dengan anak ini?"
Untuk pertama kalinya, Almira melihat kerentanan di mata Alex. Di balik arogansinya, pria ini hanyalah jiwa yang tersesat yang tidak tahu cara mencintai atau dicintai. Namun, kelembutan sesaat itu sudah terlambat. Luka yang Alex torehkan sudah terlalu dalam.
"Tidurlah. Besok akan menjadi hari yang panjang," ucap Alex sebelum mengecup dahi Almira sekilas dan keluar dari kamar.
Almira terpaku. Kecupan itu... terasa seperti perpisahan. Ia menangis dalam diam, merapatkan jubahnya. Dengan keberanian terakhir, ia keluar melalui balkon, menuruni tangga darurat yang sudah disiapkan oleh orang suruhan Elara.
Di bawah hujan yang semakin deras, Almira berlari meninggalkan gedung pencakar langit itu. Ia meninggalkan kemewahan, ia meninggalkan ibunya untuk sementara, dan ia meninggalkan pria yang tanpa disadari mulai menumbuhkan benih obsesi yang akan berubah menjadi penyesalan paling dalam di hidupnya.
Almira menghilang di kegelapan malam, membawa rahasia besar di dalam rahimnya. Sementara di lantai tiga puluh, Alexander Eduardo belum tahu bahwa mulai besok, hidupnya akan menjadi pencarian tak berujung yang akan menghancurkan kewarasannya.