NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menembus Awan Menuju Perasingan

Penyihir Petir mencengkeram sisik naga itu dengan kuat saat mereka membelah badai yang ganas. Kilat menyambar di sekeliling mereka, namun Naga Petir justru menyerap energi tersebut untuk menambah kecepatan terbangnya. Di tengah badai yang memekakkan telinga, Naga itu berkomunikasi bahwa mereka akan segera tiba di kediaman sang penyihir serbuk. Wilayah ini tidak bisa dicapai dengan jalan kaki; ia tersembunyi oleh ilusi optik dan sihir pelindung yang sangat kuat. Hanya mereka yang menunggangi elemen petir yang bisa menembus dinding penghalang tersebut tanpa terbakar menjadi abu.

Setelah melewati lapisan awan yang paling pekat, pemandangan di bawah mereka berubah drastis. Mereka kini berada di atas sebuah lembah yang terisolasi sepenuhnya dari dunia luar. Di tengah lembah itu, terdapat pepohonan yang ukurannya sangat raksasa, seolah-olah dahan-dahannya mencoba menggapai langit. Naga Petir mulai menukik turun dengan anggun, menuju ke arah sebuah pohon yang paling besar di antara semuanya. Pohon itu tidak memiliki daun, namun batangnya memancarkan cahaya keperakan yang redup. Di sinilah, menurut sang naga, tempat saudaranya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari rahasia alam dan obat-obatan.

Naga Petir mendarat dengan lembut di tanah yang empuk karena tertutup lumut tebal. Begitu kakinya menyentuh tanah, Penyihir Petir turun dengan perasaan takjub. Lingkungan di sini terasa sangat damai, kontras dengan kekacauan yang baru saja ia alami di Lembah Kematian. Naga itu memberikan anggukan kecil sebelum terbang kembali menuju puncak awan, meninggalkan sang Penasehat di depan sebuah Tunggul pohon yang sangat besar, yang tampak seperti sebuah bangunan alami dengan pintu yang terbuat dari jalinan akar yang rapat.

Sang Penasehat melangkah mendekati pintu akar tersebut. Ia bisa merasakan kehadiran saudaranya di dalam sana—sebuah energi yang halus, lembut, namun sangat kompleks, berbeda dengan energinya yang kasar dan meledak-ledak. Ia mengetuk pintu akar tersebut tiga kali, menggunakan pola yang biasa mereka gunakan saat masih belajar sihir bersama di masa muda. Suara gesekan kayu terdengar, dan perlahan akar-akar itu merayap membuka, menampakkan lorong remang-remang yang dipenuhi dengan aroma rempah-rempah dan serbuk tanaman yang menenangkan. Dengan langkah yang mantap namun penuh kerinduan, ia melangkah masuk ke dalam rumah saudaranya.

Di dalam Tunggul pohon yang luas itu, cahaya berasal dari jamur-jamur yang berpendar di dinding kayu. Ruangan tersebut dipenuhi dengan ribuan botol kecil, tumpukan buku tua, dan berbagai jenis serbuk warna-warni yang melayang di udara. Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian sederhana dari serat tumbuhan. Ia adalah Penyihir Serbuk, saudara kandung dari sang Penasehat Kerajaan Atlas. Pria itu tidak menoleh, ia sibuk menimbang serbuk keperakan dengan timbangan kecil yang terbuat dari tulang.

"Kau datang lebih cepat dari yang aku perkirakan, saudaraku," ucap Penyihir Serbuk dengan suara lembut namun berwibawa. Ia akhirnya berdiri dan berbalik, menatap saudaranya dengan senyuman tipis. Penyihir Petir tidak bisa menyembunyikan kelegaannya. Ia segera menceritakan segala hal yang terjadi: penyakit aneh yang menyerang Ratu Layla, keputusasaan Panglima Delta, dan pertempurannya dengan Arachne. Penyihir Serbuk mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk sambil mengelus jenggot pendeknya yang berwarna abu-abu.

Penyihir Serbuk menjelaskan bahwa penyakit yang menyerang Ratu Layla bukanlah penyakit biasa, melainkan kutukan yang berasal dari beban kebencian yang terlalu besar yang ia tanam di kerajaannya. Namun, sebagai seorang ahli ramuan, ia memiliki penawarnya—sebuah serbuk rahasia yang ia ciptakan dari sari pati bunga yang hanya tumbuh seribu tahun sekali di dalam hatinya. Ia setuju untuk membantu,

Sebelum mereka berangkat menuju Atlas, Penyihir Serbuk bersikeras agar saudaranya makan terlebih dahulu. Ia tahu bahwa kondisi fisik Penyihir Petir masih sangat lemah akibat racun Arachne. Ia menyajikan hidangan sederhana namun penuh nutrisi: sup jamur cahaya dan roti yang terbuat dari serbuk biji-bijian hutan. Mereka duduk di sebuah meja kayu yang tumbuh langsung dari lantai gua. Di tengah suasana yang tenang itu, mereka bercerita tentang masa lalu, mengenang masa-masa ketika mereka masih menjadi murid di akademi sihir kuno sebelum jalan hidup memisahkan mereka.

Penyihir Petir sangat menikmati perjamuan singkat itu. Setiap suapan sup terasa seperti mengalirkan energi kehidupan ke dalam sel-sel tubuhnya yang lelah. Penyihir Serbuk juga memberikan segelas ramuan hijau pekat yang berfungsi untuk menetralkan sisa racun laba-laba di dalam darah saudaranya. Perlahan, rona merah kembali ke wajah sang Penasehat. Mereka juga mendiskusikan rencana saat tiba di Atlas nanti. Penyihir Serbuk memperingatkan bahwa ramuannya memerlukan ketenangan dan kepercayaan, sesuatu yang sulit ditemukan di istana Ratu Layla yang penuh dengan kecurigaan.

"Ratu itu sangat kejam, kau harus berhati-hati," bisik Penyihir Petir. Ia tahu bahwa Layla tidak menyukai orang asing, terutama mereka yang tidak tunduk langsung di bawah perintahnya. Namun, Penyihir Serbuk hanya tersenyum tenang. Ia memiliki caranya sendiri untuk menghadapi kekuasaan. Baginya, setiap manusia, sekejam apa pun mereka, tetaplah makhluk yang memiliki titik lemah pada kesehatannya. Perjamuan itu berakhir saat cahaya dari jamur di dinding mulai meredup, menandakan waktu telah berlalu cukup lama.

Mereka bangkit dari meja makan, mempersiapkan segala kebutuhan terakhir. Penyihir Serbuk mengambil sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu gaharu, tempat ia menyimpan serbuk paling berharga miliknya. Ia mengenakan jubah hijau tuanya yang sudah kusam namun bersih. Mereka berdua melangkah keluar dari Tunggul pohon, disambut oleh udara lembah yang masih segar. Di luar, Naga Petir telah menunggu, tampak tenang namun siap untuk melakukan perjalanan jauh kembali ke jantung peradaban yang penuh dengan kemegahan dan intrik politik.

Penyihir Petir dan Penyihir Serbuk kini berada di atas punggung Naga Petir. Perjalanan kali ini terasa berbeda; beban mental sang Penasehat terasa lebih ringan karena ia membawa harapan bagi kerajaannya. Mereka melesat melintasi cakrawala, melewati wilayah-wilayah yang luas. Dari ketinggian, mereka bisa melihat barisan pasukan Centaur yang sedang berpatroli di perbatasan, serta beberapa ekor Griffon yang terbang rendah untuk mengawasi keadaan. Begitu benteng tinggi Kerajaan Atlas mulai terlihat di kejauhan, Penyihir Petir memberikan instruksi kepada naga itu untuk mendarat tepat di pelataran utama istana.

Naga Petir yang megah itu tidak luput dari perhatian. Dari menara-menara pengawas, para prajurit melihat sesosok makhluk legendaris mendekat. Alarm tidak dibunyikan karena mereka melihat sang Penasehat Utama berada di atas punggungnya. Namun, kemunculan naga petir tetap menimbulkan kegemparan. Rakyat Atlas yang berada di jalanan berhenti beraktivitas, menatap ke langit dengan penuh kekaguman dan ketakutan. Keberadaan naga petir adalah pertanda bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di dalam lingkup kekuasaan Ratu Layla.

Saat Naga Petir mendarat di pelataran istana, debu-debu beterbangan tertiup oleh kepakan sayapnya yang perkasa. Panglima Delta segera berlari keluar dari aula utama, pedangnya masih tergantung di pinggang, namun wajahnya menunjukkan kelegaan yang luar biasa. Ia melihat Penyihir Petir turun dengan selamat, dan yang lebih mengejutkan lagi, ia membawa seseorang yang penampilannya sangat kontras dengan kemegahan istana. Naga Petir itu mengeluarkan suara geraman pelan sebelum akhirnya kembali terbang ke angkasa, meninggalkan kedua penyihir itu di tengah perhatian seluruh penghuni istana.

"Kau kembali, Penasehat! Dan siapa pria ini?" tanya Panglima Delta dengan nada mendesak. Penyihir Petir memperkenalkan saudaranya sebagai satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Ratu Layla. Meskipun penampilan Penyihir Serbuk sangat sederhana, aura kebijakan yang terpancar darinya membuat Panglima Delta menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Mereka tidak membuang waktu lagi; dengan pengawalan ketat dari pasukan elit Minotaur, kedua penyihir itu segera melangkah menuju kamar pribadi sang Ratu yang selama ini tertutup rapat dari siapa pun.

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!