NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Yang Kosong

Udara pagi yang dingin menyelinap masuk lewat celah jendela, membangunkan Putri dari tidur yang tak pernah benar-benar pulas.

Langit-langit kamarnya, yang setiap sudutnya ia hafal, seolah ikut menyimpan bisu derita yang selalu mendera.

Putri menghela napas, merasakan sesak yang biasa menyapa dadanya setiap fajar menyingsing. Ia bangkit, merapikan selimut dengan gerakan pelan namun pasti.

Ia adalah Putri, gadis yang lahir dari rahim yang tidak diinginkan, dari cinta yang tidak pernah diakui. Ibunya, seorang wanita sederhana dengan senyum sehangat mentari, pergi meninggalkan dunia tak lama setelah ia dilahirkan.

Seolah kehidupannya sendiri adalah kesaksian atas kisah cinta tulus yang tak pernah punya tempat.

Ia dibesarkan di bawah atap yang sama dengan ayah kandungnya, namun di bawah naungan kasih yang tak pernah sampai.

Istri pertama ayahnya, wanita cantik bernama Anggun, adalah sosok yang merawatnya. Bukan dengan kehangatan seorang ibu, melainkan dengan jarak yang tercipta dari rasa benci yang tersamarkan.

Di mata Anggun, Putri adalah simbol pengkhianatan suaminya, pengingat akan noda yang tak terhapuskan dalam pernikahannya.

Putri tumbuh besar di antara tatapan dingin dan kata-kata tajam yang seringkali dilemparkan dengan nada datar, seolah ia adalah perabot usang yang tak berarti.

"Jangan pernah berharap lebih, Putri," kata Anggun berbisik, saat Putri kecil mencoba meraih tangannya, mencari kehangatan. "Tempatmu bukan di sini. Ibumu yang seharusnya bertanggung jawab atas dirimu, bukan aku. Dia sudah mati!"

Kata-kata itu membekas, mengukir lubang kecil di hatinya. Ayahnya, Brahma Pradipta. Sosok yang dihormati banyak orang karena kekayaan dan wibawanya, seolah tak pernah melihat kehadirannya. Ia sibuk dengan perusahaan, dengan citra keluarga yang sempurna di mata masyarakat. Putri hanyalah anomali, noda kecil yang harus disembunyikan.

Hari ini adalah hari ulang tahun adiknya, Rian. Suasana rumah terasa lebih ramai dan ceria dari biasanya.

Bau masakan mewah tercium dari dapur, tawa renyah Anggun dan Rian terdengar jelas dari ruang keluarga.

Putri hanya diam di kamarnya, membaca buku. Ia tahu, kehadirannya di pesta itu hanya akan menjadi pengganggu. Anggun akan menyuruhnya membantu di dapur, atau lebih buruk lagi, mengabaikannya seolah ia tak terlihat.

Pukul tujuh malam, saat lampu-lampu di ruang makan sudah menyala terang dan hidangan tersaji di meja, Putri memutuskan untuk keluar.

Ia mengenakan gaun sederhana berwarna pastel, rambut panjangnya dibiarkan terurai. Saat ia melangkah masuk ke ruang makan, semua mata menoleh. Beberapa tatapan sinis dari kerabat Anggun terlempar ke arahnya, mereka sudah tahu 'kisah' di balik Putri.

"Oh, Putri. Kau di sini?" sapa Anggun dingin, tanpa senyum. "Bantu mbok Sumi menyiapkan minuman di dapur!" suruh Anggun.

Putri mengangguk, hatinya sudah kebal. Ia menuju dapur, membantu mbok Sumi yang selalu memberinya senyum hangat, satu-satunya kebaikan tulus yang ia dapatkan di rumah itu.

Di tengah meriahnya pesta ulang tahun sang adik, ia mendengar kekhawatiran yang cukup besar keluar dari mulut ayah dan ibunya.

"Bagaimana ini, Pa?" suara panik Anggun terdengar jelas dari ruang makan.

"Ada apa?" tanya pak Brahma ikutan panik.

Putri menajamkan pendengarannya, ia mencoba menguping dari balik dinding pembatas antara ruang makan dan dapur.

"Tamara enggak ada di kamarnya, Pa. Dia kabur dengan mantan pacarnya, Reno."

Seketika, suasana hening. Putri membeku di ambang pintu dapur, ini adalah aib besar bagi keluarga terpandang seperti mereka. Skandal yang bisa merusak reputasi keluarga mereka.

Kita harus segera mencari pengganti," desis pak Brahma, suaranya terdengar tegang. "Pernikahan harus tetap berlangsung. Kita tidak bisa menanggung malu ini."

Setelah itu, sebuah nama terdengar. Nama yang tidak pernah ia duga akan disandingkan dengan nasibnya.

"Putri dan Devan."

Putri memejamkan mata. Ia tahu, kehidupannya akan kembali berubah. Dijadikan tumbal, lagi. Selayaknya sebuah boneka yang bisa dipermainkan, untuk menutupi aib, untuk menyelamatkan kehormatan. Lagi dan lagi, ia hanyalah alat.

***

Gaun pengantin putih bersih, yang seharusnya melambangkan kesucian dan awal yang baru, terasa seperti kain kafan yang membungkus jiwa Putri.

Ruangan rias yang ramai dengan penata rambut dan perias wajah, seolah tak mampu menyentuh kesepian yang menggerogoti hatinya.

Pernikahan itu terjadi begitu cepat, kilat, seolah untuk menghapus jejak aib yang baru saja menimpa keluarga Brahma.

Satu minggu setelah pengumuman mengejutkan itu, Putri resmi menjadi nyonya Devan Pramudita.

Upacara pernikahan berlangsung mewah, tertutup, dan jauh dari kehangatan.

Senyum yang menghiasi wajah Anggun dan Brahma terasa hambar, hanya topeng yang dikenakan untuk menjaga citra di hadapan para kolega dan kerabat yang hadir.

Putri berdiri di samping Devan, merasa seperti patung porselen yang dipajang. Ia mengenali wajah-wajah yang hadir, teman-teman lama ayahnya, rekan bisnis Devan, bahkan beberapa teman sekolah mereka.

Ketika Devan mencium keningnya, sesuai arahan fotografer, sentuhan bibir itu terasa dingin, hampa. Tak ada getaran cinta, tak ada janji masa depan. Hanya kewajiban, hanya sandiwara.

Putri menatap mata Devan. Di sana, ia melihat jelas rasa frustrasi, kemarahan, dan mungkin juga rasa sakit yang sama seperti yang ia rasakan.

Malam pertama mereka dihabiskan dalam kebisuan yang memekakkan telinga.

Kamar mewah di penthouse milik Devan terasa asing, dingin, dan terlalu besar untuk menampung dua jiwa yang dipaksa bersatu.

Devan duduk di sofa, memunggungi Putri, sementara Putri duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun pengantin yang terasa memberatkan.

"Kamu bisa tidur di sofa, kalau kamu mau," ucap Devan. Suaranya memecah keheningan, datar dan tanpa emosi.

Putri menelan ludah. Ia mengerti. Pernikahan ini hanya formalitas. Mereka adalah dua orang asing yang terikat paksa, dipaksa bersatu untuk menutup aib keluarga.

"Baiklah," jawab Putri lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

Ia bangkit, melepas gaun pengantinnya dengan hati-hati. Di baliknya, ia merasa rapuh.

Ia mengambil piyama dari tasnya dan masuk ke kamar mandi untuk berganti. Ketika keluar, Devan sudah berbaring di ranjang, membelakanginya, seolah kehadirannya tak berarti.

"Mas, aku minta maaf. Maaf karena tidak bisa menolak pernikahan ini," ucapnya parau.

"Enggak perlu minta maaf, Put. Bukannya kamu juga senang, ini kan yang kamu mau? Kamu senang karena Tamara pergi dan ninggalin aku? Kamu bahagia karena akhirnya kamu bisa nikah sama aku, bukankah begitu?" ucap Devan sengit.

Devan bangun, duduk tegak dengan posisi badan tepat menghadap ke arah Putri yang kini terduduk lemas di atas sofa.

"Mas, aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku enggak pernah senang melihat hubungan kalian hancur seperti ini!" tegas Putri.

Ia mencoba membela diri, namun Devan tidak percaya.

"Kalau kamu tidak senang, kamu tidak bahagia, kenapa kamu ada di sini sekarang? Justru karena kamu senang dan bahagia dengan perginya Tamara, makanya kamu mau terima perjodohan ini kan?!" bentak Devan

Putri terdiam, bukan karena benar apa yang dikatakan Devan. Tapi karena ia tahu, perdebatan ini tidak akan pernah ada akhirnya, selagi ia diam, kekacauan tidak akan terjadi.

1
shabiru Al
terus udah tau fakta spt ini loe mau apa devan,, mau ttp cuek karena ego loe yang setinggi langit itu...
shabiru Al
keluarga biadab
shabiru Al
nah lho emang nya enak tuh kata2 dbalikin
shabiru Al
ta bejek bejek tuh sidevan,, dasar laki2 pecundang
shabiru Al
satu kata untuk devan,, pecundang
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
jangan sia2kan kesempatan kedua mu ren💪
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
pengalaman pertama jadi orang tua, wajar sih kaku
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Nama anaknya bagus banget 👍
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Ternyata Arga kang gombal /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
What happened?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!