Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 25
PERCAKAPAN YANG PILU
Malam turun perlahan di atas mansion itu, seperti tirai hitam yang diseret tanpa suara. Lampu-lampu taman menyala satu per satu, memantulkan bayangan pepohonan ke dinding kaca yang tinggi, membuat siluetnya tampak seperti cakar-cakar raksasa yang mengintai dari luar.
Elizabeth duduk di tepi ranjang kamar tamu, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan. Selimut putih terlipat rapi, tak tersentuh. Sejak Esme meninggalkannya, pikirannya tak pernah benar-benar diam.
-‘Vale dan Holloway… satu darah?’
Luis bukan hanya suaminya. Ia adalah bagian dari keluarga pria yang kini menyembunyikannya.
Dadanya terasa sesak.
Ia berdiri, melangkah ke jendela, menyingkap tirai tipis. Gelap. Hutan mengelilingi mansion seperti penjara tanpa jeruji. Tak ada jalan kabur. Bahkan jika ia berlari, ia tahu Luis akan menemukannya.
Selalu.
Ucapan Vale kembali terngiang. (“Dia tidak akan berhenti mencarimu.”)
Elizabeth memejamkan mata. “Aku tidak bisa terus seperti ini…” bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca.
Keputusan itu datang bukan sebagai keberanian, melainkan kelelahan. Ketika rasa takut terlalu lama menetap, ia berubah menjadi sesuatu yang dingin dan nekat.
Elizabeth meraih cardigan tipis, menyampirkannya, lalu membuka pintu kamarnya.
Lorong mansion sunyi, hanya diterangi lampu dinding berwarna kekuningan. Setiap langkahnya terdengar terlalu keras di telinganya sendiri. Ia berhenti di depan sebuah pintu besar di ujung koridor—kamar Vale.
Ia mengangkat tangan, namun ragu. Menurunkannya lagi, lalu mengetuk satu kali.
Dua kali.
Beberapa detik berlalu sebelum pintu terbuka.
Vale berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam tanpa jas, dua kancing teratas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan, seolah baru saja melepas topeng formal yang selalu ia pakai di luar.
Tatapan peraknya turun menelanjangi Elizabeth dalam sekali lirikan. Sungguh, dia takut setelah mendengar perkataan Esme. Traumanya melihat Luis saja sudah membuatnya gemetar.
“Kau seharusnya tidur,” katanya datar.
“Aku perlu bicara.” Suara Elizabeth pelan, tapi tidak goyah.
Vale menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu membuka pintu lebih lebar. “Masuk.”
Kamarnya luas, gelap, hanya diterangi lampu meja. Bau alkohol tipis dan aroma kayu bercampur menjadi satu. Maskulin. Dingin.
Elizabeth berdiri di dekat pintu, tak berani melangkah lebih jauh. Namun tak ada benda-benda aneh di kamar tersebut seperti benda yang ada di kamar suaminya.
“Kau memintaku tetap di sini,” katanya akhirnya. “Kau menyembunyikanku. Kau menantang Luis secara tidak langsung.”
Vale menuang minuman ke dalam gelas kristal. Tidak menawarkannya. “Apa yang ingin kau tanyakan?”
Elizabeth menelan ludah. “Kenapa?”
Vale menoleh.
Tatapan mereka bertabrakan.
“Jika aku mengatakannya, maka aku akan terdengar kejam,” jawabnya tanpa emosi.
Elizabeth membeku. “Ka-katakan saja. Aku sudah cukup tersakiti,”
Pria dengan jubah tidurnya itu terdiam, matanya menelusuri tubuh Elizabeth dari atas ke bawah. Ia melangkah maju, dan berhasil membuat Eliza tersentak hingga mundur beberapa langkah.
“Di dunia kami, semua adalah milik seseorang.” Vale melangkah mendekat. Tidak tergesa. Seperti predator yang tahu mangsanya tak punya jalan lari. “Pertanyaannya hanya… milik siapa.”
Elizabeth menahan napas. “Lalu kenapa kau memintaku datang ke kamarmu?”
Keheningan menegang. Vale berhenti tepat di depannya. “Aku tidak suka berputar-putar,” katanya rendah. “Aku menginginkanmu. Malam ini.”
Wajah Elizabeth memucat. “Kau gila?” kesal wanita itu yang tak segan mundur dan menatap marah dengan nada tinggi.
“Maybe. (Mungkin).”
Ia mundur selangkah. “Aku bukan perempuan seperti itu.” ucap Eliza yang kini dadanya naik turun.
Vale menatapnya tanpa berubah. “Luis tidak menyentuh barang bekas.”
Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan.
Elizabeth gemetar namun juga terheran karena— bagaimana Vale bisa tahu tentang dirinya, keluarganya dan bahkan Holloway.
“Kau menjadikanku alat?”
“Aku memberimu pilihan.” Nada Vale tetap tenang, kejam dalam ketidakpeduliannya. “Tetap menjadi istrinya ketika dia menemukanmu… atau menjadi sesuatu yang sudah tidak dia inginkan lagi.”
Matanya meredup. “Aku tidak memaksamu. Tapi dunia tidak akan menunggumu siap.”
Elizabeth menatap lantai. Tubuhnya terasa dingin, seperti tenggelam ke dalam air hitam tanpa dasar. Bagaimana dia mengingat pukulan, hinaan hingga kematian keluarganya. Dan sekarang—
“Jika kau menolak, maka pergilah. Tidak ada yang mencegah atau memaksa mu di sini.” Kata Vale, lalu ia berjalan maju sampai jarak mereka sangat dekat, namun Eliza masih merendahkan pandangan nya saat pria itu menatapnya lekat.
“Tapi jangan... menemuiku lagi. Jika kau tidak ingin menyesal.”
Wanita itu langsung menatapnya, mendengar kata terkahir Vale yang seolah dia hanya memberikan kesempatan terkahir saja.
Di luar, angin malam menggesek jendela.
Dan jauh di suatu tempat, Luis Holloway sedang tersenyum… sambil menghitung berapa banyak nyawa lagi yang akan ia patahkan sebelum menemukan miliknya kembali.
“Luis! Aku rasa kita harus bicara.” Kata Esperance yang berdiri di ambang pintu.
Pria itu menoleh saat senyumannya pudar lalu berbalik menatap ibunya yang nampak tegas dan serius.
“Soal apa? Aku tidak ingin membicarakan hal yang tidak penting.”
“Mungkin ini tidak penting, Luis. Tapi kita harus membicarakan nya.” Ujar Esperance.
.
.
.
Detik jam bergerak lambat namun pasti. Para pelayan di sana juga hening tak bersuara ketika bos mereka ada di ruangan tersebut.
Mata Esperance mengamati putranya yang masih terlihat tidak baik-baik saja. Tentu, dia sebagai ibu sangat khawatir, namun berbeda dengan Soraya yang hanya bisa menatap dair balik tembok karena Lusi— pria itu tak ingin melihatnya untuk beberapa hari, mungkin.
“Kau harus bisa mengendalikan dirimu, Luis. Aku dengar dari Rodrigo sebelum dia tewas... Vale— ”
“Jika ini hanya membahas soal pria sialan itu, lebih baik kita akhiri sebelum aku berubah pikiran, Ibu.”
Esperance terdiam beberapa detik seolah dia ingin lebih berhati-hati saat berbicara dengan Luis. “Ya, baiklah. Tapi perlu kau ketahui, aku sangat khawatir dalam kondisi mu yang marah.”
Luis menoleh, memberikan tatapan mutlak ke ibunya. “Kalau begitu temukan Elizabeth, agar aku tidak melampiaskan amarahku kepada kalian.” Ucap Luis yang beranjak dari kursinya sehingga Esperance ikut berdiri.
“Jika kau bisa membunuh Vale.. Apa kemungkinan putraku yang dulu bisa kembali?”
Pria itu terdiam, membelakangi ibunya yang menatapnya takut namun juga ingin tahu.
Luis menyeringai kecil tanpa menoleh maupun berbalik. “Berdoalah untuk itu.” Jawabnya yang lalu pergi.
Namun kini Esperance memejamkan mata hingga berderai air mata saat dia tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Dia rindu dengan Luis kecil, tidak Dnegan sekarang.
Sementara Soraya yang mendengar sejak tadi, ia juga terdiam seolah dia benar-benar merasakan hal yang sama seperti ibunya saat ini. Dia menginginkan adiknya yang dulu. Luis yang sekarang benar-benar tidak pantas disebut manusia, saat dia tega menghabisi siapa saja termasuk orang tua, maupun anak kecil yang menurutnya salah di matanya.
“Haa... Astaga... Keluarga yang malang.” Gumam Cili dengan mata lebarnya dia ikut prihatin saat harus diam-diam menguping seperti biasa.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl