Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 29
MENGUMPULKAN BANYAK KEBERANIAN
Gerbang Mansion Holloway terbuka seperti gerbang neraka yang menyambut siksaan bagi Eliza.
“Sebaiknya kau tunggu saja di luar, aku akan. Masuk sendiri. Luis.... Dia sangat berbahaya— ”
“Luis dan tuan Vale tidak ada bedanya! Jangan khawatir Nyonya, aku akan menunggumu.” Kata Lou yang menyetir santai, namun berbeda dengan Elizabeth yang nampak tegang serta cemas.
Sungguh, jantungnya berdegup kencang hingga wajahnya mulai berkeringat.
Sadar akan kedatangan seorang tamu, Esperance yang tadinya hanya berjalan melewati pintu dan jendela, ia terhenti dan memperhatikan mobil hitam mewah itu sedikit heran. “Siapa yang bertamu?” tanya Esperance kepada Cili.
pelayan yang senantiasa muncul tanpa di minta.
“Saya tidak tahu Nyonya, mungkin... Klien tuan Luis?” kata Cili dengan mata terbuka lebar.
Esperance terheran namun dia tak ingin ikut campur bila memang itu adalah seorang klien. Hingga Soraya yang hendak pergi keluar pun memutuskan untuk menyambut tamu tersebut, sementara Esperance menunggu di dalam rumah.
“Tenang saja Nyonya, dia tidak akan menyentuhmu. Dan jika itu terjadi, maka tuan Vale sendiri yang akan menjemput mu.” Ujar Lou.
Elizabeth cukup merasa tenang, namun entah kenapa dia bisa merasa seperti itu ketika mendengar Vale benar-benar akan melindunginya dari suami gilanya itu.
Dengan cepat dan tak ingin membuang waktu, Eliza turun dari mobil usai menarik napas dalam-dalam. Dan saat itulah, Soraya yang sudah berada di latar rumah, ia terkejut melihat kehadiran Elizabeth di sana.
“Eliza...” ia segera berjalan menghampiri wanita itu.
“Kenapa kau datang kemari? Bukankah sebaiknya kau menghindar, Luis akan membunuhmu.” Kata Soraya yang cemas sendiri.
Eliza tersenyum tipis, sangat tipis. “Terima kasih sudah mengkhawatirkan diriku. Tapi aku perlu bicara dengan Luis. Di mana dia?”
Cili membuka lebar matanya saat dia ikut terkejut di sana, lalu melangkah maju. “Em... Tuan Luis ada di ruang kerjanya, Anda beruntung karena dia akan pergi 1 jam lagi, Nyonya.” Kata Cili begitu cempreng dan ketus.
Wanita cantik dengan dress putih selutut itu hanya memberikan tatapan yakin ke Soraya, sebelum akhirnya dia benar-benar memberanikan dirinya untuk masuk ke rumah yang pernah menjadi sarangnya.
“Elizabeth!” sapa Esperance saat melihat kehadirannya. Senyuman terukir di bibir Esperance sambil membawa secangkir teh seperti biasa.
Ibu Luis Holloway itu menatapnya heran saat harus melihat menantunya itu datang kembali dalam keadaan yang lebih baik.
“Aku ingin menemui Luis.”
“Setelah kegaduhan yang kau perbuat, hm?”
“Aku hanya menyelamatkan diriku.”
Esperance terdiam, begitu juga dengan Soraya dan Cili yang nampak tegang namun penasaran. Wanita tua itu menyeringai kecil mengamati menantunya.
“Kau terlihat lebih berani, Elizabeth! Apa yang membuatmu berubah? Tapi biarkanlah. Cili!”
“Iya... Nyonya.”
“Katakan kepada Luis Holloway, bahwa istrinya sudah datang kembali.” Tegas Esperance yang masih menatap ke Eliza tanpa berpaling.
Sementara Soraya terlihat khawatir jika akan terjadi sesuatu yang lebih bahaya.
“Semoga kau beruntung!” kata Esperance tersenyum miring lalu pergi.
Melihat kepergian ibunya, Soraya balik menatap Elizabeth. “Sebaiknya kau pergi dari sini Eliza, sebelum terlambat.”
“Aku tidak akan pergi sebelum aku menerima tanda tangan perceraian dari Luis.” Kata Eliza seolah memberikan keputusan bulatnya.
Mendengar itu, Soraya bertambah terkejut. Namun melihat mimik wajah Eliza tanpa takut, Soraya tak bisa berkata-kata.
Hingga Cili tiba dari ruangan Luis. “Tuan Luis menunggu Anda, Nyonya.” kata Cili.
Tanpa pikir panjang, Eliza melangkah maju, melewati Cili. Namun seperti biasa, pelayan itu akan membuntuti diam-diam.
“Semoga berhasil!” ucap Cili sekilas menoleh namun saat ia ditatap balik oleh Eliza, pelayan itu langsung melengos dan diam.
Tak ada perbincangan yang keluar dari mulut Soraya selain doa untuk Eliza yang malang.
-‘Jika aku mati sekarang, setidaknya aku sudah mencobanya.’ Batin Eliza yang hanya bisa menarik napas beratnya hingga langkahnya terhenti di depan pintu ruangan pribadi suaminya.
Bersamaan dengan itu, seorang wanita cantik rambut pirang panjang keluar, melirik sinis namun menyeringai kecil menatap Eliza dan berjalan melewatinya. Entah siapa wanita itu, namun Eliza tak peduli saat sorot mata tajam mengarah ke arahnya sejak menemukan dirinya kembali.
Elizabeth masuk, pintu tertutup dan kontak mata mereka bertemu.
Seringaian keluar dari mulut Luis sembari berdiri dari meja kerjanya. “Senang melihatmu kembali sayang!” kata Luis yang berjalan mendekat ke istrinya, namun Eliza hendak mundur, tapi ia urungkan kembali niatnya dan memberanikan diri saat suaminya itu mendekatinya dan menyentuh kedua pipinya begitu erat.
“Aku sangat merindukanmu!” ucap Luis yang mengamati wajah cantik istrinya, dan memperhatikan dengan seksama sampai dia tersenyum kecil. “Kau merawat lukamu dengan sangat baik hah?”
“Aku datang ingin mengatakan, kalau aku ingin bercerai denganmu, Luis.” Kata Eliza yang terus terang dan masih berani menatap mata tajam suaminya.
Mendengar itu, Luis terkekeh kecil melepaskannya dan berjalan mundur dua kali. “Dan kau memiliki nyali dengan datang sendirian?!”
“Ya.” Jawab Eliza setalah beberapa detik menatap wajah suaminya.
Luis yang mendengar jawaban dan melihat ekspresi wajah datar istrinya, dia geram sendiri. Tawanya hilang, begitu juga dengan senyumannya.
Sejak pertama datang, tubuh Eliza gemetar meski dia memasang wajah tegar dan berani, namun saat berhadapan kembali dengan Luis, rasanya sangat menakutkan.
“Jadi... Di mana kau tinggal?” tanya pria itu dengan suara lembut seolah memancing pembicaraan Eliza.
Wanita itu terdiam, menguatkan nyalinya sebelum menjawab. “Nathaniel Vale.”
Saat itu juga, mata Luis bergerak menatap lurus, tatapan datar memendam amarah. Asap rokok masih mengepul di udara setiap kali dia menghisap dan menghela napas. Seringaian muncul kembali saat dia berjalan ke arah istrinya lagi.
“Kau meminta perlindungan kepada seseorang yang salah!” kata Luis yang semakin membuat Eliza terpojok sampai reflek berjalan mundur ketika pria itu mendekatinya sambil membawa rokok di tangannya.
“Dia berbeda darimu, dan dia memberiku perlindungan.”
"Berbeda?!” Luis terkekeh kecil.
Eliza terpojok ke dinding, sementara Luis berada tepat di depannya. “Bayaran apa yang kau berikan kepada pria sialan itu huh?” tanya Luis yang kini menatap penuh emosi tertahan dan jarak yang sangat dekat membuat Eliza kesusahan mengambil oksigen.
“SAY IT! (KATAKAN)!” sentak Luis yang berhasil membuat Eliza jantungan hingga berpaling kaget.
Melihat ekspresi istrinya yang masih sama seperti dulu, tentu saja Luis menyukainya dan menyeringai kecil seraya meremas rambut panjang Eliza yang masih takut dan bingung harus menjawab apa selain hubungan intim.
“Aku kira kau sudah berubah!” kata Luis sedikit menarik rambut Eliza sampai kepala Eliza teleng ke samping dan Luis mengoleskan rokok panasnya ke leher istrinya sampai Eliza menggertakkan giginya dan mengingat kembali akan perilaku kasar Luis hingga keluarganya yang dibunuh.
Ia mencoba memberontak, namun Luis mengusap luka baru itu dan melumatnya sejenak sampai Eliza mendorongnya sembari menarik pistol dari belakang kemeja yang Luis kenakan.
Pistol itu ditodongkan ke arah Luis. Mata merah berair karena menahan rasa perih di luka yang barusan Luis berikan, serta rasa sakit di hatinya. “Bermalam yang sangat panas dengan Vale. Dan aku akan menikah dengannya.” Tegas Eliza terus terang.
Luis menyeringai tak percaya, namun juga marah saat mendengarnya.