NovelToon NovelToon
Kaisar, Pelayan Hanya Ingin Menjalankan Misi!

Kaisar, Pelayan Hanya Ingin Menjalankan Misi!

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Pembaca Pikiran / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zhuzhu

Mei Zhiyi dipindahkan ke sebuah dunia kuno oleh sistem setelah mengalami insiden penembakan di markas militer.

Dia diubah menjadi seorang pelayan istana yang akan segera mati karena telah menyinggung seseorang di istana yang dalam.

Untuk mencegah kemusnahan karakter asli, Mei Zhiyi diminta melakukan serangkaian misi penyelamatan diri.

Namun ketika dia bertemu dengan Liu Yan, Kaisar penguasa dinasti yang sangat ditakuti dan sukar diajak kompromi, sistem tiba-tiba berkata: Taklukan dia, cegah dia jadi iblis tiran atau kau akan mati!
***
"Mentang-mentang seorang Kaisar, suka sekali menyuruh-nyuruh bawahan," Mei Zhiyi menggerutu dalam hati.

Kaisar tiba-tiba bertitah, "Pelayan Mei menghina atasan. Hukum cambuk lima kali!"

"Dasar Kaisar jahat. Aku mengutukmu impoten sampai mati!" Mei Zhiyi berseru dalam hatinya.

Tiba-tiba Kaisar menariknya ke tempat tidur dan berkata, "Beraninya kau mengutukku! Akan kubuktikan padamu apakah aku impoten atau tidak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 20: REUNI YANG TAK DIHARAPKAN

Raja Yun, sang adik dari Liu Yan, nama aslinya adalah Liu Cheng. Dia putra kedua Ibu Suri, lahir tiga tahun lebih lambat dari Liu Yan. Dia diberi gelar raja setelah Liu Yan naik takhta dan dia diberikan sebuah tanah kekuasaan di Yunzhou, sebuah wilayah subur yang luas dan makmur.

Sosok itu punya tinggi yang hampir sama dengan Liu Yan. Wajahnya juga sama tampannya dengan Liu Yan. Ketika Mei Zhiyi melihatnya berjalan memasuki aula dengan langkah yang tenang, dia merasakan semacam aura gelap menguar dari sosok itu. Instingnya mengatakan bahwa Liu Cheng ini bukanlah orang baik.

Terutama ekspresinya itu. Berhadapan dengan seorang Kaisar, meskipun itu adalah kakaknya sendiri, reaksinya tidak semestinya. Ada ketenangan, tapi bukan ketenangan yang menyiratkan sebuah ketulusan seorang adik yang bertemu kakaknya.

“Adikmu yang tidak berbakti, Liu Cheng, memberi salam kepada Kakak Kaisar. Semoga Kakak Kaisar selalu sehat dan panjang umur,” ucap Liu Cheng dengan rendah hati. Tak lupa dia menyelipkan sebuah senyuman dalam kalimatnya, disertai sebuah postur bungkuk penuh hormat.

“Bangunlah, tidak perlu sungkan. Kau sudah meninggalkan ibu kota selama bertahun-tahun dan perjalananmu kali ini pasti melelahkan. Adikku, kau pergilah untuk beristirahat. Aku akan menyiapkan perjamuan untuk menyambut kedatanganmu.”

Senyum di wajah Liu Cheng mendadak jadi kaku. Mei Zhiyi dapat melihatnya. Liu Yan dengan ucapan yang terdengar seperti penuh perhatian sebenarnya langsung menekan Liu Cheng, mencegahnya untuk berlama-lama di dalam aula. Dia seolah mengisrayatkan: pergi saja, di sini bukan tempatmu, ini pengadilan kekaisaranku.

“Adik tidak lelah sama sekali. Adik sangat merindukan Kakak Kaisar dan ingin berbagi beban denganmu,” ucap Liu Cheng dengan perasaan kecut.

Namun, Liu Yan malah menggelengkan kepalanya. “Aku tahu kau peduli pada negara. Tapi, hari ini kau memang harus istirahat. Bebanku memang banyak, tapi para menteriku bersedia berbagi beban denganku. Jadi, kau tidak perlu khawatir.”

Racun yang sangat mematikan, pikir Mei Zhiyi. Dia dengar Liu Cheng ini awalnya disebut-sebut sebagai calon kaisar, tapi rumor itu langsung padam begitu Liu Yan naik takhta di usia muda. Meski mereka kakak beradik dan lahir dari rahim ibu yang sama, sifat dan karakter mereka jelas jauh berbeda. Mei Zhiyi dapat melihat ada ambisi yang belum padam di mata Liu Cheng.

Saat ini Liu Cheng pasti sangat kesal. Baru datang tapi langsung diusir oleh Liu Yan, bahkan tanpa sempat diberi kesempatan untuk menyampaikan keinginan secara jelas. Cara Liu Yan memotong tangan seseorang ini patut diacungi jempol. Tidak perlu pura-pura, langsung menyindir dan melarang lewat kata-kata.

“Perdana Menteri masih ada, para menteri tinggi juga masih sehat. Adik, kau tidak perlu khawatir. Mereka punya lebih banyak energi untuk mengurus negara ini. Kau pulang saja, istirahat saja.”

“Kalau begitu, adikmu ini menuruti perintah.”

Ada ketidaksenangan dalam kepatuhan yang dipaksakan itu. Liu Cheng merasa marah karena kakaknya secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa dia tidak diizinkan ikut campur dalam pemerintahan secara langsung. Penolakan yang dibungkus dengan cangkang kekhawatiran itu sudah mempermalukannya di depan para menteri.

“Ya, kau baik sekali. Jangan lupa kunjungi ibunda. Semalam, istananya tiba-tiba saja kebakaran.”

“Apa? Kebakaran? Apakah ibunda tidak apa-apa?”

“Entahlah. Aku belum melihatnya pagi ini. Seharusnya dia belum mati.”

Sudut mulut Liu Cheng berkedut. Sembari mengepalkan tangan di samping tubuh, dia berkata dengan nada berat, “Syukurlah jika ibunda selamat. Kakak Kaisar, apakah kau sudah menyuruh orang menyelidikinya? Insiden kebakaran tidak mungkin terjadi begitu saja.”

“Ada orang yang sudah datang untuk menyelidiki. Kebakaran pada dasarnya sering terjadi secara alami. Adikku, apakah kau berpikir ada yang sengaja menyalakan api di istana Ibu Suri?”

Mei Zhiyi merasa tersindir. Untung saja di zaman ini tidak ada kamera pengawas, jadi dia tidak akan ketahuan. Tak disangka keisengan yang menimbulkan kegaduhan itu ternyata bisa dimanfaatkan Liu Yan sebagai tameng untuk menguji keinginan dan niat hati Liu Cheng.

“Adikmu ini tidak tahu. Adik hanya mengkhawatirkan keselamatan ibunda saja.”

“Karena kau begitu khawatir, cepat lekas lihat dia.”

“Baik, Kakak Kaisar.”

Sudah berakhir? Reuni yang tak diharapkan ini benar-benar sebuah tontonan menarik. Kini aku tahu bahwa ungkapan kasih sayang antar keluarga kerajaan begitu tipis seperti lapisan es itu ternyata sungguhan.

Liu Yan lalu membubarkan sidang tanpa kejelasan. Suasana hatinya memburuk seiring waktu. Sepanjang jalan kembali ke Istana Zhaoyang, wajahnya begitu masam dan kecut. Para pelayan yang berpapasan dengan mereka tidak berani mengangkat kepala sedikit pun karena takut.

“Peringatan: tingkat kebencian Kaisar Daqi mencapai 80%. Silakan tuan lakukan upaya untuk mencegah kenaikan ke tingkat yang lebih tinggi lagi!”

Suara sistem terdengar jelas di telinga Mei Zhiyi. Dia juga sama terkejutnya. Kemarin sudah turun menjadi 75%, kenapa sekarang malah naik lagi? Sepertinya satu pertemuan dengan orang yang tidak dia senangi dapat menimbulkan efek domino terhadap tingkat kebencian dalam hatinya.

Liu Yan pergi ke lapangan memanah tanpa mengganti pakaiannya. Semua berkas kenegaraan yang perlu ditinjau di meja ditinggalkan tanpa dilirik sedikit pun. Li Dezai mengikutinya dengan terburu-buru, takut sang majikan agung itu menghilang tanpa jejak seperti yang sudah-sudah.

Setibanya di lapangan memanah, Liu Yan lekas menaiki seekor kuda jantan berwarna hitam legam. Dia mengambil busur besar yang terbuat dari tanduk rusa, kemudian mulai berputar mengelilingi lapangan sembari membentangkan panah. Satu-satunya fokus tujuannya saat ini adalah papan sasaran yang terletak di tengah-tengah arena.

Panah melesat memecah udara, secepat angin yang berembus di penghujung musim dingin itu. Liu Yan terus menembak tanpa memedulikan papan sasaran sudah penuh oleh panah yang ia lesatkan. Ekspresinya mungkin terlihat biasa saja, namun matanya berbicara sebaliknya.

“Apa Kaisar selalu melampiaskan kemarahannya dengan cara seperti ini?” tanya Mei Zhiyi. Seingatnya, Liu Yan hobi menumpahkan darah orang saat marah. Kenapa sekarang dia lebih suka menghanyutkan diri dalam memanah?

Li Dezai menghela napas. Dia juga merasa berat melihat sang Kaisar terus memanah tanpa memedulikan keselamatan diri. Tapi sebagai bawahan yang mengerti bagaimana dinamika kehidupan Liu Yan, Li Dezai tidak berani berbicara untuk menentang atau mencegahnya.

“Kaisar memang sesekali suka melampiaskan kemarahannya. Namun cara seperti ini hanya akan ia tempuh jika orang yang membuatnya marah tidak bisa diatasi atau sulit disentuh,” jawab Li Dezai.

“Maksudmu, setiap kali ada anggota keluarga kekaisaran yang membuatnya marah, dia akan melampiaskannya sendirian dengan menghabiskan waktu di lapangan panahan ini?”

“Kaisar dan Raja Yun memang kakak beradik, tapi mereka tidak tumbuh bersama. Ada beberapa momen ketika Kaisar harus menekan amarahnya ketika berhadapan dengan Raja Yun.”

Demi menjaga hubungan keluarga kekaisaran, Liu Yan mengambil langkah bijak dengan menelan kemarahannya dan memilih melampiaskannya dengan sesuatu yang menantang. Mei Zhiyi merasa salut karena di balik sosok otoriter ini, tersimpan seseorang yang bisa begitu sabar dan menahan segalanya sendirian.

Mei Zhiyi kemudian menaiki seekor kuda lainnya dan mengambil busur. Dia berteriak pada Liu Yan, “Yang Mulia, apakah kau mau bertanding?”

Liu Yan seketika menarik tali kekang dan menghentikan laju kudanya. Matanya menatap Mei Zhiyi dengan tatapan sedikit tidak percaya.

“Kau bisa berkuda dan memanah?”

Mei Zhiyi menguasai bidang itu, tapi tubuh ini tidak mendukung. Kemarin dia sudah meminum pil pemulih energi. Efeknya seharusnya sudah berdampak pada tubuhnya. Berkuda dan memanah tidak memerlukan energi yang besar. Dia seharusnya bisa melakukannya.

“Karena ini bertanding, maka harus ada hadiahnya. Bagaimana menurutmu, Yang Mulia?”

“Kalau kau kalah, gajimu bulan ini dipotong lagi seperempatnya. Perlu kutekankan juga kalau kau jatuh dan menjadi cacat, itu hanya akan jadi kesialanmu, tidak ada hubungannya denganku.”

Gaji dipotong? Sungguh ancaman yang menyebalkan sekali. Bisa-bisa Mei Zhiyi kehilangan semua gaji pertamanya bulan ini kalau mengalah terus-terusan pada Liu Yan. Dia harus bertindak agar Liu Yan tahu bahwa meski dia seorang pelayan, dia juga memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.

“Tidak masalah. Tapi jika aku menang, hadiah apa yang akan Yang Mulia berikan padaku?”

“Kau mau hadiah apa?”

“Nanti saja aku pikirkan. Yang Mulia, berapa banyak anak panah yang harus ditembakkan?”

“Tiga panah sudah cukup.”

“Baik. Mari bertanding tiga panah!”

Kuda Mei Zhiyi meringkik setelah dia menarik tali kekangnya. Kuda mulai berlari mengitari lapangan panahan, berkejar-kejaran dengan kuda Liu Yan yang berlari cukup jauh di depannya. Jejak-jejaknya memutari lapangan, menandakan bahwa pertandingan sengit baru saja dimulai.

Liu Yan berhasil menembakkan satu panah di papan sasaran. Saat kudanya meringkik, dia melihat sebuah panah melesat dari arah lain dan tertancap membelah panah miliknya. Ketika dia menoleh, Mei Zhiyi baru saja menurunkan busurnya.

Tak pernah ia sangka Mei Zhiyi juga akan memiliki kemampuan yang bagus dalam berkuda dan memanah. Dengan tubuh seorang wanita yang mudah sakit ketika tertiup angin, Mei Zhiyi dapat menembakkan panah sampai membelah panah yang menghalangi jalannya.

“Yang Mulia, skor kita satu sama.”

“Masih ada dua anak panah lagi. Jangan merasa senang lebih dulu.”

Kuda-kuda itu kembali berlari memutari lapangan. Kali ini Mei Zhiyi yang berinisiatif menembakkan panah lebih dulu. Ujung runcingnya menembus papan sasaran tepat di tengahnya. Liu Yan kemudian menyusul dan panahnya menembus panah Mei Zhiyi.

“Masih mau bertanding? Satu panah lagi biar jadi penentuan. Kalau kau menyerah sekarang, aku mungkin bisa mempertimbangkan untuk mengembalikan gajimu secara utuh bulan ini.”

“Apa Yang Mulia menganggapku anak kecil? Sudah sepakat tiga panah. Mana mungkin aku menyerah.”

Kali ketiga, keduanya menarik busur bersama-sama dan menembakkan panah di waktu yang bersamaan. Dua panah itu sekarang melesat memburu papan sasara, berlomba panah manakah yang akan menancap terlebih dahulu. Ini bukan lagi soal panah biasa, tapi soal pertaruhan harga diri yang tidak boleh dilukai.

Kedua panah itu menancap berbarengan di papan sasaran. Tidak ada yang lebih awal atau lebih akhir. Hasil itu memberi mereka skor yang sama dan pertandingan berakhir seri.

“Yang Mulia, menembakkan panah tidak bisa menentukan siapa pemenangnya. Bagaimana kalau kita bertanding balapan saja untuk menentukan siapa yang menang?”

Liu Yan tersenyum. Sebuah senyuman mahal yang tidak dapat dibeli dengan uang atau benda duniawi.

“Siapa takut!”

1
Ai
sekejam kejamnya ibu kandung tdk mgkn mencelakai anaknya sendiri meski anak itu ada dari seorg laki2 yg tdk dia suka.. klo cuma mengacuhkan msh bisa ditoleransi tapi ini keterlaluan, klo aku jg akan benci setengah mati sama ibu yg spt itu
Ai: banget banget banget 🤭
total 2 replies
Biyan Narendra
Sempet khawatir banget td sama Mei..
Takut knp knp sama Liu yan
Sun Flower: tenang pemirsa
total 1 replies
Imas Fatimah
kayaknya mereka ini satu ibu beda ayah 🤭😉
Sun Flower: hmmmmmm
total 1 replies
Dyana
bgus ibu suri ni d apa in y... Liu cheg jg mnding d buang jauhhh.. putri ruoxi d nikahnya aj k tmpat jauh ga bs balik lg.... huhhhhhb
Sun Flower: digoreng rame-rame
total 1 replies
Dyana
mg aj putri ruoxi ini bknsahabat zhiyi yg brkhianat... mg aj org baik
Sun Flower: baik gak yaaa
total 1 replies
Ai
tenang mei zhiyi tdk akan mati semudah itu😄
Ai: 🤣🤣🤣🤣lanjut yg bnyk thor
total 2 replies
vivi oh vivi
🤭🤭
Sun Flower: 😄😄😄😄😄
total 1 replies
Biyan Narendra
Semoga Mei baik baik saja
Sun Flower: baik-baik kok
total 1 replies
Biyan Narendra
Makin gondok dong ibu Suri
😁😁😁😁
Sun Flower: darting gak tuh
total 1 replies
Biyan Narendra
bakalan rame nih pestanya
Sun Flower: mau ikut?
total 1 replies
Imas Fatimah
wah...penasaran nih kelanjutannya,up lg thor..
Sun Flower: siappp
total 1 replies
Machsunatul Istianah
hmmm.... mencurigakan putri ruoxi ini🤔
Sun Flower: kenapa hayooo
total 1 replies
Libra
Putri Ruoxi itu musuh Zhiyi di dunia modern ya kk author?
nebak" aja dulu
Sun Flower: coba tebakkk
total 1 replies
Biyan Narendra
🤣🤣🤣🤣🤣
Emang enak di ghibahin sama Mei
Sun Flower: gibahin dalam hati lebih seru, apalagi kalau bisa didengar, mau kesal pun tak berdaya🤣
total 1 replies
Ai
apakah penyerangan mei zhiyi ada hubungannya dg putri ruoxi.. tp knp dan apa alasannya? penasaran ini thor
Ai: ada hubungannya ini pasti soale klo ibu suri ndak mgkn
total 2 replies
Ai
andai kaisar daqi tau yg sebenar nya kampung halaman yg diceritakan mei zhiyi berasal dari dunia yg jauhhh di masa depan gimana respect ya
Ai: klo kaisar daqi ikut pantes klo jd ceo keren pasti y thor😄
total 2 replies
Machsunatul Istianah
Liu zhao atau putri ruoxi itu perpindahan jiwa yao shu🤔
Sun Flower: ayoo tebakkk
total 1 replies
Imas Fatimah
mungkinkah yg menyerang Mei itu putri Ruoxsi?🤔
Sun Flower: apa alasannya cobaa
total 1 replies
Imas Fatimah
kaisar bisa membaca pikiran org lain?atau khusus Mei saja yg bisa dibaca pikirannya?
Sun Flower: cheat khusus untuk Mei Zhiyi
total 1 replies
Machsunatul Istianah
pujian yang ber bahaya 😁
Sun Flower: berbahaya untuk jantung dan hati
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!