NovelToon NovelToon
Pelacur Metropolitan

Pelacur Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Arindarast

Pelacur mahal milik Wali Kota. Kisah Rhaelle Lussya, pelacur metropolitan yang menjual jiwa dan raganya dengan harga tertinggi kepada Arlo Pieter William, pengusaha kaya raya dan calon pejabat kota yang penuh ambisi.

Permainan berbahaya dimulai. Asmara yang menari di atas bara api.
Siapakah yang akan terbakar habis lebih dulu? Rahasia tersembunyi, dan taruhannya adalah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arindarast, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sihir: penghilang kendali

Ruang tamu mansion dipenuhi dengan kilauan lampu dan aroma bunga segar. Majalah “Der Spiegel” tengah mengadakan sesi wawancara eksklusif dengan calon walikota mudanya.

Arlo duduk di sofa kulit yang empuk, senyum menawan menghiasi wajahnya. Rambutnya yang rapi dan setelan jas mahal semakin menambah aura keagungan pada sosoknya.

“Jadi, Pak Arlo,” suara wartawan wanita yang berpengalaman, menggema di ruangan, “Anda dikenal sebagai sosok muda yang penuh ambisi. Apa visi Anda untuk kota ini?”

Arlo tersenyum, matanya berbinar. “Saya ingin membangun kota ini menjadi pusat kemajuan teknologi dan ekonomi. Saya percaya, generasi muda memiliki energi dan ide-ide segar yang dapat membawa perubahan positif.”

Ia melanjutkan dengan lantang, mengungkapkan rencananya untuk membangun infrastruktur, mendukung industri kreatif, dan meningkatkan akses pendidikan.

Kata-katanya terdengar meyakinkan, menarik hati para wartawan yang hadir. Mereka mencatat setiap kata Arlo dengan saksama, menginginkan berita utama yang menarik.

Sampai hal yang terduga terjadi. Seorang remaja berseragam SMA, menerobos masuk ke ruang tamu megah itu. Suasana yang tadinya tentram penuh kontrol, menjadi hening seketika. Para jurnalis yang berkerumun di balik kamera saling berbisik.

Semua pasang mata tertuju pada Edgar, termasuk Arlo. Tatapan yang mematikan itu menusuk jiwa Edgar. Hingga dipersekian detik potongan-potongan bayangan dalam benak Edgar, menyatu. Jadi ini kediaman Arlo, pria yang menjemput Sienna dari apartemennya.

Sebelum siapa pun dapat bereaksi, Atlas bergerak cepat. Sekali lagi menunjukkan kemampuannya menangani situasi krisis dengan tenang dan efektif.

Dengan langkah pasti, Atlas mendekati Edgar, menghalangi jalannya menuju Arlo. Ia tak menunjukkan sedikit pun kepanikan, bahkan senyum tipis terpatri di bibirnya. Gesturnya halus namun tegas, menunjukkan kewibawaan yang tak terbantahkan.

“Kita bicara di luar ya.” Atlas segera membalik badan Edgar. Gerakannya begitu halus, hampir tak terlihat seperti paksaan, namun efektif dalam mengalihkan perhatian para wartawan.

Tepat saat Atlas berhasil mengarahkan Edgar mendekati pintu, suara keras dan lantang kembali memecah kesunyian.

“Badan gede doang, gitu aja nggelinding!”

Semua orang menoleh lagi. Nakula berdiri di ambang pintu, wajahnya masih dipenuhi dengan senyum jahil.

Atlas terhenti, menatap Nakula dengan ekspresi tak percaya. Ia tak menyangka akan ada orang lain yang berani mengganggu situasi yang sudah hampir terkendali.

Arlo, yang sedari tadi mengamati situasi dengan tenang, tiba-tiba tersenyum. Gesturnya ramah, mencoba mencairkan suasana tegang yang telah tercipta.

“Kenalkan semuanya,” kata Arlo, suaranya hangat dan ramah. “Edgar. Anak laki-laki yang mendapat beasiswa dari yayasan keluarga saya… yang tadi saya ceritakan.” Ia melirik sekilas ke arah para wartawan, kemudian kembali menatap Edgar. “Kamu baru datang, Gar? Sini, duduk.”

Arlo menepuk-nepuk sofa di sampingnya, mengajak Edgar untuk duduk. Atlas, yang masih berdiri di dekat Edgar, menunjukkan ekspresi sedikit terkejut namun tetap menjaga sikap profesionalnya.

Para wartawan, yang awalnya terkejut dengan kedatangan Edgar, kini mulai penasaran. Mereka berbisik-bisik lagi, mencoba untuk memahami situasi yang sebenarnya. Beberapa dari mereka mulai mengambil gambar, menginginkan berita utama yang lebih menarik lagi.

Otak Edgar berputar tanpa kendali. Situasi ini jauh melampaui apa yang ia bayangkan.

Ia datang dengan marah membara, bertekad untuk mengkonfrontasi siapa saja yang menyakiti kakaknya. Namun, Arlo, bukannya menunjukkan permusuhan, malah menyambutnya dengan ramah, bahkan memperkenalkannya kepada para wartawan sebagai penerima beasiswa dari yayasan keluarganya.

Dengan hati-hati, Edgar duduk di sofa di samping Arlo, mencoba untuk tetap tenang. Ia harus berpura-pura mengikuti permainan Arlo.

Gerakan tangan Arlo yang tampak luwes, merapikan sedikit kerah dan dasi seragam Edgar. Sentuhannya ringan, namun membuat Edgar merasakan ada sesuatu yang janggal.

“Kakakmu aman,” bisik Arlo, suara yang hanya bisa didengar Edgar. “Dia sedang tidur pulas di kamarku.”

Hanya dengan kalimat itu, gelombang kelegaan menyapu tubuh Edgar. Kecemasannya sedikit mereda. Bahunya yang semula tegang, kini sedikit mengendur. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang.

Meskipun masih ada rasa curiga dan ketidakpercayaan yang tertinggal, rasa lega itu begitu kuat. Sebelumnya ia tidak pernah mengenal Marco, tapi setidaknya Arlo dan Atlas bisa menjamin keselamatan kakaknya.

“Ayo, kita mulai lagi,” kata Arlo, suaranya kembali lantang dan penuh percaya diri. “Saya yakin, Anda semua penasaran dengan rencana saya untuk membangun kota, berkolaborasi dengan anak-anak muda berprestasi, seperti Edgar ini.”

Edgar, mencoba untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Sedikit canggung dengan pertanyaan-pertanyaan wartawan, namun ia berusaha untuk bersikap tenang dan mulai menceritakan pengalamannya mendapatkan beasiswa, mengungkapkan rasa syukurnya dan antusiasmenya terhadap kesempatan tersebut.

Di tengah-tengah ceritanya, dari kejauhan, Nakula memberikan isyarat kecil kepada Edgar. Gerakan tangan Nakula halus, hampir tak terlihat oleh orang lain, namun Edgar memahaminya. Itu adalah isyarat untuk pergi dari sana.

Edgar mengangguk kecil, bibirnya membentuk kata “terimakasih” tanpa suara. Ekspresinya tetap tenang, mencoba untuk tidak menunjukkan apa pun kepada para wartawan yang sedang mengajukan pertanyaan.

...****************...

Apa yang diucap Arlo, akurat seribu persen. Rhaell tertidur pulas di atas kasur empuk Arlo.

Rhaell mengerang pelan, menggeliat dalam tidurnya. Ia masih tampak lucu karena mengenakan kaos besar Arlo. Matanya perlahan terbuka dan terfokus pada langit-langit kamar Arlo. Kamar yang besar dan mewah itu terasa dingin dan sunyi.

Ia mencoba mengingat apa saja yang terjadi tadi. Amarah Arlo dan ciumannya yang kasar masih terasa nyata. Sensasi panas itu membuat dirinya merinding. Ia teringat bagaimana ia berontak, menolak untuk tunduk pada Arlo.

Rhaell menghela napasnya, tidak tahu harus berbuat apa. Dia bahkan tidak memegang ponselnya yang tertinggal di kamar Marco.

Saat dirinya menoleh ke samping, beberapa buku tebal tergeletak di nakas. Buku-buku bisnis itu tampak membosankan, tetapi ia memutuskan mengambil dan membacanya. Sekedar mengusir bosan dan mengalihkan pikirannya dari kekesalan.

Namun setelah membaca beberapa lembar matanya terasa berat lagi, Rhaell menguap untuk kesekian kalinya. Entah kamar Arlo yang terlalu nyaman atau memang bukunya yang membosankan.

Rhaell tertidur dengan buku yang masih terbuka di tangannya. Perlahan detak jantungnya mulai teratur dan perlahan pula mimpi buruk menghampirinya.

Mimpi singkat namun sangat mengerikan. Ia terperangkap dalam sebuah ruangan gelap, dikelilingi oleh dinding-dinding yang dingin dan lembab. Arlo berdiri di depannya, matanya menyala marah, dan tangannya mencengkeram lehernya. Rhaell berusaha berteriak, tapi suaranya teredam.

Sedetik kemudian ia terbangun dengan keringat dingin membasahi pelipisnya. Matanya berkedip-kedip, ia bisa merasakan tangannya gemetar.

“Bahkan di mimpi dia jadi iblis.”

“Siapa iblis?”

Di samping kasurnya, berdiri Arlo. Bukan bayangan samar dari mimpi, tapi sosok nyata yang begitu dekat. Mata mereka bertemu sekejap, sebelum Rhaell sempat memproses apa yang dilihatnya.

Lelaki itu tampak tenang, tapi tatapannya Rhaell yakin, masih menyimpan sisa-sisa amarah yang sama seperti beberapa saat lalu.

Jeritan terkejut lolos dari bibir Rhaell, “Aaaaa!” Buku bisnis yang masih ada di tangannya refleks ia lemparkan ke wajahnya sendiri, menutupi matanya dari sosok Arlo yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

“Emang tidak bisa ketuk pintu dulu?!” suara Rhaell, masih tertahan di balik buku yang menutupi wajahnya. Ia merasakan tangan Arlo menyentuh buku itu, mencoba menariknya. Dengan gerakan cepat, Rhaell menahan buku itu. “Jangan pegang-pegang!”

“Tapi ini bukuku.” Suara Arlo terdengar lebih lembut, walau masih menyimpan sedikit kekesalan. Ia duduk di tepi kasur, menatap Rhaell yang masih terlentang dengan pertahanan buku yang sekeras baja di mukanya.

Rhaell mengintip sedikit dari balik buku bisnis yang masih terbuka. Ia melihat Arlo melepas kancing kemeja putihnya satu persatu, gerakannya lambat dan hati-hati, seolah takut membuat Rhaell terganggu.

Sesekali dalam diam, Arlo memperhatikan Rhaell. Rambutnya yang sedikit berantakan, kaos kebesarannya yang menyembul di beberapa bagian, dan cara ia memegang buku itu seperti tameng, semuanya tampak menggemaskan di mata Arlo.

Amarah yang masih tersisa beberapa saat lalu mulai mereda, diganti oleh perasaan yang lebih… hangat.

Ia tersenyum kecil, suara tawa kecilnya memecah keheningan. “Kamu ini… lucu sekali,” katanya, suaranya lembut, tanpa sedikit pun jejak kekesalan.

Rhaell mengintip lagi, mata bulatnya membesar karena terkejut mendengar tawa Arlo. Ia menurunkan buku itu sedikit lagi, mencoba mengintip lebih jelas.

Melihat Arlo yang kini sudah membuka seluruh kemejanya, lalu berganti memakai baju rumah yang lebih santai, gerakan-gerakan yang diciptakan pria itu sangat menarik perhatian Rhaell… “so sexy.” Batinnya.

“Jangan ketawa ih!” protes Rhaell sedetik setelah keluar dari pikiran kotornya, tapi suaranya terdengar lebih lemah, bahkan sedikit manja. Ia masih merasa takut, tapi rasa takut itu mulai bercampur dengan rasa lain yang sulit didefinisikan.

Arlo menaikkan sebelah alisnya, “Kenapa tidak boleh ketawa? Kamu yang membuatku ketawa.” Ia meraih buku itu dengan hati-hati, meletakkannya di nakas. “Jangan takut, Rhaell. Aku tidak akan menyakitimu.”

Ia mendekat, menatap wajah Rhaell yang masih memerah karena terkejut dan malu. “Kaosku… terlihat bagus di kamu”katanya, suaranya hampir berbisik. Ia menyentuh lembut pipi Rhaell, jari-jarinya terasa hangat.

Rhaell merasa pipinya semakin memerah. Sudah lama ia tidak merasakan debaran jantung ini, bahkan tidak satupun pada pelanggannya.

Seperti ada hasrat dorongan yang muncul entah dari mana, Rhaell bak tersihir oleh Arlo. “Aku boleh menciummu tidak?”

Bersambung…

1
Grace
aku baca ini sambil makan 2 bungkus indomie, /Smile/
auralintang___-
marco, lu bisa minggir dlu gx? INI AREA ARLO DAN CIA OMEJII ngapa elu ngikut" sih ah elah ah elaaaah🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️
Galih
seru batt gilak
Mrlyn
jgn2 Cia udh diincer mau dijadiin ibunya Sienna 😅🤌🏻
Mrlyn
lanjutannya jgn lama2 ya thoorrr
Mrlyn
kira2 kenapa ya Arlo sedih 🤔
Mrlyn
Wangi manis 🌼🌼🌼🌼🌼 bayi mongmong bayi😌🫶🏻
Mrlyn
Tuh kan kepincut juga 🤣🤣🤣
Mrlyn
❤️❤️❤️❤️❤️
Mrlyn
Kasian Cia🤧 tp gpp nanti juga ada hikmahnya. sabar ya nduk
Mrlyn
wkwkwk makanya jgn macem2 sama Miss Lily🤣🔥
Mrlyn
makin menarik alurnya 😍🔥
Mrlyn
waduh udh mulai main apa🙈 awas loh kebakaran😌
Mrlyn
Nah ngejob begini aja Cia, kali ketemu jodoh 🙈
Mrlyn
Panjangin lagi babnya thorrrrrr, lagi asik baca tau2 abis🤧
Mrlyn
nungguin Arlo sama Cia interaksi lagi😍🔥
Mrlyn
Awas Lo Arlo ditandain Cia tr kepincut lagi🤣
Elok Senja
up dunk thorr....pliiisss 🤗🙏🥰
Elok Senja
ada typo kecil,
tu kan mo arah ke ❤❤ gituu 😅🤗
Elok Senja
jadi tertarik dg merek parfum nya Thor 🤣🤣😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!