Kesempatan kembali ke masa lalu membuat Reina ingin mengubah masa depannya yang menyedihkan.
Banyak hal baru yang berubah, hingga membuatnya merasakan hal tak terduga.
Mampukah Reina lari dari kematiannya lagi atau takdir menyedihkan itu tetap akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seca
Besoknya, dengan wajah enggan, dirinya harus tetap menyiapkan diri untuk berkunjung ke rumah Edwin untuk bisa merayaka ulang tahun ayahnya.
Sejak semalam, Edwin terus mengiriminya pesan permintaan maaf jika memang ia melakukan kesalahan dan pemuda itu meminta penjelasan atas apa yang mungkin telah ia perbuat.
Reina menarik napas panjang. Ia tahu Edwin mungkin merasa tak adil karena tiba-tiba saja dia berubah dingin padanya.
Namun Reina tak bisa bersikap biasa padanya. Ingatan tentang apa yang lelaki itu perbuat padanya di masa depan membuatnya membenci Edwin tanpa alasan di masa kini.
Ting
Sebuah pesan kembali masuk. Edwin yang biasanya tak seperti ini juga membuatnya heran.
Apa sebegitu berubahnya ia, hingga membuat kekasihnya itu seperti kalang kabut.
Namun Reina ingat, dulu waktu mereka masih sama-sama SMA kekasihnya itu bahkan pernah membuatnya kecewa, tapi tak pernah segalau ini.
Reina menebak, ini pasti Edwin telah melakukan kesalahan fatal. Ingatannya kembali saat dirinya memergoki Edwin bersama Elyana dulu.
Suaminya berkelit dan lalu sikapnya berubah sangat manis. Edwin membujuknya agar dirinya tak salah paham dan luluh.
Kesalahan konyol dirinya yaitu, ia memaafkan dan percaya dengan penjelasan sang suami meski nalarnya menganggap tak masuk akal.
Kini Reina memilih mengabaikan rayuan sang kekasih yang mengatakan akan menjemputnya sekarang.
Sungguh, berdua di mobil yang sama dengan Edwin membuat Reina malas. Namun ia bingung bagaimana harus menolaknya.
"Hei! Kamu ditunggu sama Tuan, cepat kalau ngga mau dihajar oleh nyonya!" itu suara Seca.
Reina benar-benar muak, dia lantas keluar dan menghadapi wanita itu.
"Kau punya tangan kan? Harusnya kau mengetuk, bukan menendangnya!" pekik Reina kesal.
"Kau—" saat Seca menaikan tangan hendak menampar Reina, gadis itu dengan sigap mengelak membuat Seca justru jatuh tersungkur mengenai pot bunga hingga dahinya berdarah.
"Kau!" Seca memegang dahinya lalu berteriak, membuat pelayan lain mendekatinya.
"Kamu kenapa?" tanya pelayan lain.
"Dia, dia menyiksaku, dia mendorongku hingga jatuh," dustanya.
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" cecar Meike pada mereka.
"Nyonya, tolong, anak sialan ini memukulku hingga jatuh!" Seca mengeluarkan air mata tipuan.
Para pelayan lain hanya bisa terdiam, mereka bimbang, ingin membenarkan ucapan rekan mereka, tapi melihat sikap tenang Reina dan kejadian kemarin membuat mereka sadar bahwa nona mudanya kini sudah berani memberontak.
"Kamu, kamu tahukan ini bisa masuk pasal penyiksaan, kamu bisa dijebloskan kepenjara!" kecam Meike.
"Kalau begitu lakukan, kita lihat siapa yang akan mendekam di penjara," tantang Reina tenang.
"Mih, ada apa ini? Malu dong suara mamih kedengaran sampai ke ruang tamu," sela Hendro yang akhirnya ikut menyusul karena mendengar keributan yang dilakukan oleh istrinya.a
"Papih lihat ini, anak kamu ini nyiksa Seca sampai dahinya berdarah. Ini enggak bisa dibiarkan, dia harus dilaporkan supaya jera."
Hendro lantas menatap Reina yang terlihat santai.
"Apa yang terjadi?" Reina tahu pertanyaan itu untuk dirinya.
"Harusnya ayah tanya sama pelayan kesayangan istri ayah itu!"
"Tu-Tuan, nona Reina memukul dan mendorong saya hingga jatuh," sela Seca mencari perhatian majikannya.
"Benarkah?" tanya Hendro tapi menatap putri bungsunya.
Keberuntungan sepertinya tengah berpihak pada Reina, karena pelayannya jatuh di tempat yang terlihat kamera pengawas.
"Percuma aku menjelaskan. Ayah lihat sendiri saja," dagunya menunjuk sebuah kamera tersembunyi.
Tubuh Hendro menegang. Ternyata anaknya ini tahu di mana dirinya meletakan beberapa kamera pengawas.
"Lihat apa pih?" tanya Meike bingung.
Reina tak mungkin bicara omong kosong apalagi dia dengan yakin bisa membuktikan dirinya tak bersalah.
"Ya sudah kamu lekas ke depan, Edwin udah nunggu kamu—" putusnya.
"Apa? Papih harusnya kasih dia hukuman, lihat dia udah melukai Seca sampai kaya gini."
"I-iya tuan saya ... Ngga terima diperlakukan seperti ini," sambung Seca dengan air mata berderai.
"Baiklah, nanti papih lihat kamera pengawas, kalau terbukti Reina bersalah maka mamih boleh menghukum dia. Tapi kalau—"
"A-apa kamera pengawas? Papih punya kamera pengawas? Di mana?"
Tubuh Seca menegang seketika, dia bahkan tak tahu jika rumah majikannya memiliki kamera pengawas di area kamar para pelayan.
Mati aku.
"Dan kalau aku ngga kebukti salah, maka aku bakal minta kamu pergi dari sini," sambar Reina dengan senyum sinisnya.
"Apa? Enggak-enggak, ngga bisa gitu dong. Kok main pecat aja. Seca ini pelayan mamih—"
"Tadi kan Anda yang minta membawa kasus ini ke ranah hukum, kok jadi takut?" tantang Reina lagi.
Tiba-tiba tubuh Seca ambruk di kaki Hendro. Jelas dia yakin kalau Reina berani bersikap tenang seperti itu, gadis itu pasti bisa membalik keadaan.
Dia tak mau pegi dari sana. Selain nyaman, dia senang dengan majikan bodohnya yang selalu bisa dia poroti, siapa lagi kalau bukan Meike.
"Maaf kan saya Tuan, ini cuma kelalaian saya aja. Tolong jangan pecat saya."
Meike terbelalak tak percaya, pelayaan kepercayaannya bahkan rela merendahkan diri dengan mengakui kesalahannya.
Apa benar-benar ada kamera pengawas? Di mana sih! Sial!
Reina memilih berlalu dari sana karena tahu ayahnya pasti akan luluh dengan rengekan pelayan kepercayaan istrinya.
Dia menuju ruang tamu di mana Edwin menunggunya bersama ... Elyana?
Edwin bergegas bangkit dan mendekatinya. Ia menyerahkan sebuah paper bag padanya.
"Ini gaun—"
"Ini aku yang milih loh kak kemarin ... Upss!" Elyana menutup mulutnya dengan sengaja. Seolah dia keceplosan telah membuka sebuah rahasia.
Ah, ternyata kemarin mereka menghabiskan waktu bersama, pantas Edwin terlihat panik, ternyata ini buat menebus rasa bersalahnya.
Melihat sang kekasih yang diam saja karena tindakan impulsif Elyana, Edwin mengeram kesal dalam hati.
Dia lantas meraih tangan sang kekasih berusaha menjelaskan kesalah pahaman ini.
"Kemarin saat nemenin mamah belanja aku ketemu Elyana, terus dia bantu aku pilihin gaun yang cocok buat kamu, sungguh Rei. Kamu jangan berpikiran buruk."
Reina melihat Elyana memutar bola matanya. Ia yakin ucapan Edwin adalah dusta.
Melihat kekasihnya hanya diam mematung, Edwin menyerahkan paper bag itu secara paksa pada tangan Reina.
"Ganti gih, aku tunggu di sini," pintanya lembut.
Edwin berjanji setelah acara sang ayah dia akan menghibur kekasihnya agar melupakan ucapan Elyana tadi.
"Eh, kak aku boleh ikut kan? Aku bosan banget di rumah, boleh kan ka?"
Pintanya dengan tangan dikatupkan di depan dada dan mata besarnya penuh permohonan.
.
.
.
Lanjut