"Mas kamu sudah pulang?" tanya itu sudah menjadi hal wajib ketika lelaki itu pulang dari mengajar.
Senyum wanita itu tak tersambut. Lelaki yang disambutnya dengan senyum manis justru pergi melewatinya begitu saja.
"Mas, tadi..."
Ucapan wanita itu terhenti mendapati tatapan mata tajam suaminya.
"Demi Allah aku lelah dengan semua ini. Bisakah barang sejenak kamu dan Ilyas pulang kerumah Abah."
Dinar tertegun mendengar ucapan suaminya.
Bukankah selama ini pernikahan mereka baik-baik saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana dinner romantis.
Jombang tampak sedikit terik hari ini. Meski hari beranjak sore, matahari masih terasa hangat di kulit. Jalanan relatif padat, hari biasa sudah agak macet apalagi malam Minggu. Beberapa titik tempat nongkrong pinggir jalan mulai dipadati pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya.
Irham meminta driver Taxi agar berhenti di salah satu penjual sate, Irham ingat kebab Turki dan Pie untuk Dinar ketinggalan di mobilnya yang di bawa ke bengkel.
"Masih lama ya, Pak?" tanya Irham pada si Bapak penjual sate yang masih mulai persiapan.
"Lumayan, Mas. Baru mau bakar baranya."
"Oh, baik, lain kali saja, Pak."
Irham mengedarkan pandangannya mencari makanan yang pas untuk istrinya. Dinar tidak suka makanan berkuah, seperti, bakso, soto, rawon, dan makanan berkuah lainnya, untuk itu Irham memilah.
Akhirnya pilihannya jatuh pada terang bulan dan pisang aroma.
Laki-laki itu kembali masuk mobil setelah membawa tentengan di tangannya.
" Ini untuk Bapak." Irham menyerahkan bungkusan untuk driver Taxi.
"Wah, nggak usah repot-repot, Mas." tolak si Bapak, merasa tidak enak.
"Nggak repot Pak, kebetulan belikan istri saya. Di terima ya Pak, untuk keluarga di rumah."
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama."
Setelahnya perjalanan hanya diisi oleh suara radio mobil, hingga kendaraan roda empat berwarna biru itu sampai di depan rumah Irham dan Dinar.
Setelah membayar tagihan dan turun dari mobil, Irham gegas melangkah ke kediamannya.
Kedatangannya di sambut cium tangan dan pelukan hangat Dinar. Ternyata Ilyas juga langsung mau di gendong.
"Biar Abi ganti baju dulu, Nak." Dinar ingin melarang Ilyas, tapi lebih dulu Irham menimpali. "Mas sudah sempat singgah di masjid untuk ganti baju tadi."
Ah, benar. Baju yang dikenakan Irham berbeda dari yang di pakai pagi tadi.
Bingkisan di tangan segara di ulurkan pada Dinar, dan tangannya gegas meraih putranya yang sudah memeluk kakinya.
"Bagaimana keadaan korbannya, Mas." Dinar bersyukur suami nya pulang tak ada satupun yang kurang.
"Masih di rawat di rumah sakit untuk pemulihan."
"Sudah ada keluarganya?"
"Belum, makanya tadi Mas agak lama mengurusnya." jelas Irham.
Dinar mengangguk, menerima uluran tangan Irham untuk di ajak masuk ke ruang tengah.
******
Mereka duduk dengan piring berisi terang bulan dan pisang aroma, dengan seteko kecil teh hangat.
Dinar menuangkan teh kedalam cangkir untuk Irham, Irham menerimanya dengan senang hati.
"Mas ingin katakan sesuatu."
"Ya?"
"Orang yang Mas bawa ke rumah sakit itu adalah Ratih dan suaminya." jujur Irham.
Dinar sempat tertegun, akan tetapi tersenyum manis kemudian.
Hanya sebuah kebetulan!
Dinar berpikir positif.
Irham meninggalkan Ilyas yang asik bermain robot. Menghampiri Dinar dan menggenggam tangan wanita itu.
"Mas ingin jujur karena tidak mau kejadian yang kemarin terulang kembali, kata orang, pengalaman adalah guru terbaik."
Mereka tidak tahu jika cinta datang karena terbiasa. Dah sah saja jika itu terjadi pada pasangan halal seperti Dinar dan Irham. Sebab cinta dalam sebuah pernikahan itu naik turun.
Dinar sama sekali tidak menyadari jika suaminya itu seperti kehilangan diri saat mengetahui keluarganya mengirim surat gugatan cerai ke pengadilan, panik, Tremor, sedih, bahkan terus menyalahkan diri. Dinar tak mengerti jika Irham benar-benar ingin berubah untuk keluarga kecil mereka.
Pernikahan seperti proses kenalan terus sama satu orang. Karena sebenarnya menyatukan dua isi kepala itu sangatlah sulit.
Yang bisa Dinar lakukan adalah membangun rasa percaya pada Irham, Dinar tidak pernah sebelumnya sedikitpun meragukan suaminya, hanya saja setelah apa yang terjadi rasa kurang percaya itu tak mampu Dinar singkirkan dari kepala kecilnya.
Ternyata Irham tetaplah lelaki biasa yang bisa khilaf.
Malamnya. Irham terlelap lebih dulu setelah shalat Isya. Suami Dinar tampak lelap dalam tidurnya. Laki-laki itu memeluk sayang buah hatinya yang semakin hari memiliki paras yang mirip dengan sang Ayah.
Dinar membaca serentetan pesan dari seseorang di sana.
Cukup familiar. Dan hanya dengan membaca saja Dinar tahu siapa yang mengirim pesan untuk suaminya.
Dinar tidak tahu, jika Irham telah memblokir kontak wanita itu sebelumnya, dan kini wanita itu mengirim pesan dengan nomor baru.
Kang Irham, bisa tolong besok antar IrRa dan Mustika ke rumah Ibu? Kasihan mereka tidak ada yang urus nanti.
Tidak ada yang aneh dari pesan itu, tapi mengapa wanita itu menulis nama IrRa harus memakai huruf I dan R dengan huruf kapital? Seperti menegaskan sesuatu. Apa nama anaknya singkatan namanya dan nama suaminya?
Jantung Dinar berdebar kencang, sepanjang malam ia tak dapat tidur lena. Baru ketika menjelang subuh Irham berbalik memeluknya erat, membuat Dinar sedikit lebih tenang.
******
"Yank ..." pagi harinya Irham sudah siap dengan stelan, untuk mengajar.
Sejak tadi malam Dinar belum sedikitpun membuka suara tentang pesan di ponsel Irham.
Hingga pagi ini setelah sarapan suaminya membicarakan padanya.
Ada rasa lega Irham jujur. Tapi, tak dipungkiri bahwa Dinar agak tak terima jika Irham kembali bertemu wanita itu.
"Nanti Mas ke rumah sakit sebentar. Ratih meminta tolong untuk antar anak-anaknya ke rumah orang tuanya." begitu kata Irham pada Dinar di meja makan.
Dinar menunduk, Irham yang peka mendekati sang istri untuk di peluk, tidak hanya di peluk, Irham juga mengecup puncak kepala Dinar bertubi-tubi.
"Jangan cemburu. Sungguh, hanya kamu yang saat ini memenuhi hati Mas, Dinar." bisik Irham.
"Atau gini saja, kamu biar diantar Pak Wildan ke restoran tempat pertama kali kita makan sebagai pasangan suami istri, Mas mau dinner sama kamu di sana. Ilyas biar sama Umi, biar nanti Mas yang minta izin."
"Nggak usah, Mas. Dinar nggak papa kok."
"Iya,kamu nggak papa, tapi Mas kepikiran, bersiap yuk, kita kerumah Abah, mas antar kalian baru ke pondok, kita bertemu di restoran, nanti kamu bisa pesan ikan bakar sepuasnya, hari ini Mas gajian." tak pelak ucapan Irham memercik tawa Dinar. Anak Pak Kiai Ahmad Sulaiman itu akhirnya menyetujui rencana sang suami.
*****
Irham benar-benar mengantar Dinar dan Ilyas ke rumah mertuanya.
Sambutan Pak Kiai Ahmad Sulaiman dan Umi Zalianty sudah sehangat dulu.
Bahkan mereka meminta Irham untuk sarapan bersama, sayang sekali Irham harus cepat pergi, kegiatannya padat hari ini. Dan, Irham juga harus mempersiapkan dinner romantis untuk sang istri.
Terkadang sesuatu yang sudah kita rencanakan dengan sepenuh hati, endingnya tak sesuai ekspektasi.
Siang itu Irham menjemput anak-anak Ratih dari rumah pengasuhnya untuk di antar ke rumah keluarga suami Ratih.
Habis ashar Irham sudah mewanti Pak Wildan untuk mengantarkan Dinar tepat jam 8 malam ke restoran yang sudah ia pesan sebelumnya.
Senyum lelaki itu tak pernah pudar dari bibirnya, sebuah gamis berwarna guava pilihannya sendiri sudah Irham kirim untuk Dinar.
Malam ini, Irham ingin sekali menunjukkan kepada Dinar bahwa ia ingin memulai semuanya dari awal. Dimulai dari restoran yang sama saat pertama kali mereka menjadi pasangan suami istri.
Ketika jam kerjanya habis, Irham bersiap untuk mengambil pesanan bunga yang akan ia bawa untuk istrinya.
Saat tangannya meraih kunci mobil di meja, ponselnya berdering.
"Hallo, Assalamualaikum...."
" ..............
"Apa? Ba-baik saya segera ke sana."
Tut.
Langkah laki-laki itu mengayun kian cepat menuju mobilnya, di injaknya pedal gas selaju yang ia mampu. Tujuannya adalah rumah sakit yang baru ia usai kunjungi beberapa jam yang lalu.