Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 21 - CARA BRUTAL MORGANA
Siang itu, Ash makan dengan lahap di ruang makan bersama Eveline dan Razen. Mereka berdua terlihat lelah tapi puas.
"Bagaimana latihan kalian?" tanya Ash sambil mengunyah roti dengan keju.
"Melelahkan," jawab Eveline sambil mengurut bahunya. "Instruktur assassin di sini... brutal. Dia bilang teknikku terlalu 'lembut' dan 'terlalu banyak ragu'."
"Kau? Lembut?" Ash hampir tersedak. "Itu hal yang paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar."
"Dibanding assassin Lunar yang sudah bertahun tahun latihan, aku masih amatir." Eveline meminum airnya. "Tapi aku belajar banyak. Teknik baru untuk mematahkan tulang tanpa suara. Cara membunuh dengan satu tusukan di titik vital."
"Kedengarannya... menyenangkan," ucap Ash sambil meringis.
Razen tertawa kecil. "Latihanku juga tidak kalah keras. Strategi, formasi, cara membaca medan perang dari peta. Dan mereka kasih aku akses ke perpustakaan militer Lunar. Isinya... menakjubkan."
"Jadi kalian berdua senang?"
"Lelah. Tapi senang," jawab Razen. "Dan kau? Bagaimana dengan Violet?"
Ash menceritakan latihannya. Tentang merasakan dua titik energi. Tentang menarik mana alami untuk pertama kali. Tentang pelajaran teori elemen.
"Kedengarannya produktif," komentar Eveline.
"Ya. Tapi Lyra bilang sore ini ada yang mau ketemu aku. Dan aku yakin itu Morgana."
Razen dan Eveline bertukar pandang.
"Berhati hatilah," ucap Razen serius. "Morgana mungkin terlihat main-main, tapi dia... bukan manusia biasa. Entah dia apa, tapi aku merasakan aura yang sangat berbeda darinya."
"Aku tahu." Ash menghela napas. "Tapi aku sudah janji. Dan... aku butuh semua bantuan yang bisa kudapat."
Setelah makan siang, Ash kembali ke kamarnya untuk istirahat sebentar. Tapi dia tidak bisa tidur. Pikirannya terus berkutat pada apa yang akan Morgana lakukan.
Tepat pukul tiga sore, ketukan di pintu terdengar.
Ash membuka pintu. Lyra berdiri di sana dengan ekspresi yang lebih tegang dari biasanya.
"Dia sudah menunggu," ucap Lyra singkat. "Di halaman belakang, di luar barrier istana."
"Di luar?"
"Dia bilang tidak mau merusak taman Yang Mulia dengan... metodenya." Lyra menatap Ash. "Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Tapi Yang Mulia sudah kasih izin. Jadi... semoga beruntung."
Mereka berjalan keluar istana, melewati taman, dan keluar dari gerbang belakang yang dijaga ketat.
Di luar gerbang, ada sebuah lapangan terbuka yang dipenuhi reruntuhan batu bata tua. Sepertinya ini dulunya bangunan yang sudah runtuh dan tidak diperbaiki.
Dan di tengah reruntuhan itu, Morgana duduk di atas batu besar sambil mengayunkan kakinya seperti anak kecil.
Begitu melihat Ash, dia melompat turun dengan senyum lebar.
"Vessel kesayangan datang juga~! Nivraeth pikir kau akan kabur~."
"Aku tidak kabur dari janji," jawab Ash sambil berjalan mendekat.
Lyra berhenti di pinggir lapangan. "Aku tunggu di sini. Jangan... jangan mati."
Lalu dia mundur, meninggalkan Ash sendirian dengan Morgana.
Morgana berjalan mengelilingi Ash, mengamatinya dari atas ke bawah dengan mata kuning yang menyala. "Nivraeth dengar kau latihan dengan Violet tadi pagi. Bagaimana? Menyenangkan~?"
"Melelahkan. Tapi aku belajar banyak."
"Tentu saja. Violet pandai mengajar. Tapi dia terlalu... lembut. Terlalu sabar." Morgana berhenti di depan Ash dan menatapnya. "Nivraeth tidak lembut. Nivraeth tidak sabar. Nivraeth akan buat kau belajar dengan cara yang... lebih efektif~."
Ash menelan ludah. "Apa yang akan kau lakukan?"
"Sederhana~." Morgana mengangkat tangannya, dan tiba-tiba tanah di bawah kaki Ash retak. Dari retakan itu, muncul tangan-tangan batu yang mencengkeram kakinya, menahannya di tempat.
"Hei! Apa yang—"
"Nivraeth akan lepaskan monster. Monster kecil. Tier D. Tidak terlalu kuat. Tidak terlalu lemah." Morgana tersenyum manis yang sangat kontras dengan kata katanya. "Dan kau akan bunuh mereka. Dengan mana biasa. Bukan dengan kekuatan Uroboros."
"Tunggu, aku bahkan belum bisa kontrol mana biasa dengan stabil!"
"Makanya kau harus belajar~. Dengan cepat. Atau mati." Morgana menjentikkan jarinya.
Dari balik reruntuhan, muncul tiga mahluk kecil seukuran anjing besar. Tubuh mereka terbuat dari batu dan tanah yang menyatu, dengan mata merah yang bersinar. Golem kecil.
Mereka langsung menggeram dan berlari ke arah Ash.
"MORGANA! AKU BELUM SIAP!"
"Tidak ada yang pernah siap~. Sekarang bertarung atau mati~!" Morgana melompat ke atas reruntuhan dan duduk dengan nyaman, seperti menonton pertunjukan.
Golem pertama melompat ke arah Ash. Ash mencoba menghindar tapi kakinya masih dicengkeram tangan-tangan batu.
Terpaksa dia mengangkat tangannya untuk melindungi wajah.
Golem itu menabrak tangannya dengan keras. Ash terpental ke belakang, tangan batu di kakinya hancur, membebaskannya.
Dia berguling di tanah, bangkit dengan cepat.
Tiga golem mengelilinginya.
"GUNAKAN MANA BIASA!" teriak Morgana dari atas. "KALAU KAU PAKAI UROBOROS, NIVRAETH AKAN TAMBAH LIMA GOLEM LAGI~!"
Ash mengutuk dalam hati. Dia menutup mata sebentar, mencoba merasakan titik kecil di dadanya. Titik mana alami.
Tapi dengan adrenalin yang memuncak dan golem yang terus mendekat, dia tidak bisa fokus.
Golem kedua menyerang. Ash menghindar, tapi golem ketiga menyerangnya dari samping.
Cakar batu menggores lengannya. Darah mengalir.
Rasa sakit menyambar. Dan secara refleks, Ash merasakan titik emas di dadanya berdenyut.
"JANGAN!" teriak Morgana. "KALAU KAU PAKAI ITU, NIVRAETH BENERAN TAMBAH LIMA GOLEM!"
Ash menahan diri dengan susah payah. Dia mundur, menghindari serangan berikutnya.
Napasnya memburu. Pikirannya kacau.
Fokus. Fokus. Titik kecil. Bukan yang emas. Yang kecil.
Dia menutup mata sebentar lagi di tengah pertempuran, mencoba merasakan.
Ada. Titik kecil itu. Bergetar lemah.
Dia menarik. Seperti yang diajarkan Violet. Pelan. Hati-hati.
Golem pertama menyerang lagi.
Ash membuka mata dan mengangkat tangannya.
Cahaya biru muncul sebentar di telapaknya, lalu padam.
"HAMPIR~! TAPI BELUM~!" teriak Morgana sambil tertawa.
Ash berguling menghindari serangan, bangkit, mencoba lagi.
Titik kecil. Tarik. Pelan.
Cahaya biru muncul lagi. Lebih stabil kali ini.
Tapi golem kedua sudah di depannya, cakarnya terayun.
Refleks, Ash mendorong cahaya biru itu ke depan.
WHOOSH!
Semburan angin kecil keluar dari tangannya, mendorong golem itu mundur beberapa langkah.
Ash terkejut. "Aku... aku melakukannya?"
"LAGI~!" teriak Morgana. "JANGAN BERHENTI~!"
Ash mencoba lagi. Menarik mana. Cahaya biru muncul.
Kali ini dia mencoba membentuknya. Seperti yang dibaca di buku Violet. Bayangkan elemen yang diinginkan.
Angin sudah berhasil. Bagaimana dengan yang lain?
Dia membayangkan api. Panas. Nyala.
Cahaya biru di tangannya berubah warna menjadi oranye kemerahan.
Golem ketiga menyerang.
Ash mengayunkan tangannya.
Semburan api kecil keluar, mengenai golem di dada. Batu di tubuh golem itu mulai retak karena panas.
"BAGUS~! SEKARANG BUNUH MEREKA SEMUA~!"
Ash tidak punya waktu untuk berpikir. Dia hanya bertindak.
Menarik mana. Bentuk jadi angin. Dorong golem pertama.
Tarik lagi. Bentuk jadi api. Bakar golem kedua.
Tarik lagi. Bentuk jadi... batu?
Dia membayangkan tanah yang keras. Berat.
Cahaya di tangannya berubah jadi coklat.
Dia menghentak tanah dengan tangan.
Tanah di bawah golem ketiga tiba-tiba melunak, menarik kaki golem itu ke dalam seperti pasir hisap.
Golem itu terjebak, tidak bisa bergerak.
Ash menarik mana lagi, bentuk jadi api, dan lempar ke golem yang terjebak.
Api mengenai. Golem itu retak, lalu hancur jadi serpihan batu.
Dua golem lainnya masih menyerang.
Tapi sekarang Ash sudah mulai merasakan ritmenya. Tarik. Bentuk. Lepaskan.
Dia melawan dengan semburan angin dan api, menghindari serangan dengan gerakan yang semakin percaya diri.
Lima menit kemudian, ketiga golem sudah hancur jadi reruntuhan batu.
Ash jatuh berlutut, napasnya terengah, tubuhnya penuh luka kecil dan memar.
Tapi dia berhasil.
Tanpa menggunakan kekuatan Uroboros sama sekali.
Morgana melompat turun dari reruntuhannya dan berjalan mendekat sambil bertepuk tangan pelan.
"Bagus~! Sangat bagus~! Nivraeth hampir tidak percaya kau bisa!"
Ash mendongak menatapnya dengan napas berat. "Kau... kau kejam..."
"Nivraeth tahu~." Morgana berjongkok di depannya. "Tapi metode Nivraeth berhasil. Kau sekarang bisa pakai mana biasa dengan spontan. Violet butuh berminggu minggu untuk ajari orang sampai tahap ini. Nivraeth cuma butuh satu sore~."
"Karena kau nyaris membunuhku!"
"Nyaris~. Tapi tidak. kau menang~." Morgana berdiri dan mengulurkan tangannya. "Ayo. Besok kita lanjutkan. Nivraeth mau lihat seberapa jauh kau bisa berkembang~."
Ash menatap tangan itu dengan horror. "Besok... lagi?"
"Tentu~. Sampai kau bisa kontrol mana biasa setara dengan penyihir Lunar tingkat menengah. Mungkin butuh... seminggu? Atau dua minggu kalau kau lambat~."
"Aku akan mati sebelum seminggu..."
"Tidak akan~. Kau punya regenerasi. Itu salah satu alasan kenapa Nivraeth pilih metode ini~." Morgana menarik Ash berdiri paksa. "Sekarang pulang. Istirahat. Makan. Besok kita mulai lagi jam yang sama~."
Ash berjalan terhuyung ke arah Lyra yang masih menunggu di pinggir lapangan dengan wajah pucat.
"Kau... masih hidup," ucap Lyra dengan nada lega.
"Nyaris tidak," jawab Ash lemah.
Lyra menatap Morgana yang melambai ceria dari tengah lapangan. "Dia benar-benar gila."
"Ya. Tapi metodenya... berhasil." Ash menatap tangannya yang masih gemetar. "Aku bisa pakai sihir dasar sekarang."
"Dengan harga hampir mati."
"Sepertinya itu harga standar untuk semua latihan di dunia ini." Ash tertawa pahit.
Mereka berjalan kembali ke istana. Ash hampir jatuh beberapa kali karena kelelahan, tapi Lyra menahannya.
Begitu sampai di kamarnya, Ash langsung roboh di kasur tanpa sempat ganti baju.
Tubuhnya sakit di mana-mana. Tapi ada perasaan puas di dadanya.
Dia berhasil.
Untuk pertama kalinya, dia bertarung dengan kekuatan sendiri yang bisa dikontrol, bukan dengan kekuatan Uroboros yang liar.
Ini adalah langkah kecil.
Tapi langkah yang sangat penting.
---
Malam itu, Eveline mengetuk pintu kamarnya dan masuk tanpa menunggu jawaban.
Dia melihat Ash terbaring dengan tubuh yang tadinya penuh luka dan memar, sekarang hanya tinggal goresan kecil. Ia langsung duduk di pinggir kasur sambil mengeluarkan salep dari kantongnya.
"Kau bodoh," ucapnya sambil mulai mengobati luka di lengan Ash.
"Aku tahu."
"Tapi kau juga berani."
Ash membuka mata dan menatapnya. "Itu pujian?"
"Tentu saja bukan." Eveline melanjutkan mengobati dengan gerakan yang lembut meski ekspresinya tetap datar.
Mereka diam sebentar. Hanya suara angin malam yang masuk dari jendela.
"Eveline," panggil Ash pelan.
"Ya?"
"Terima kasih. Karena sudah peduli."
Eveline berhenti sebentar, lalu melanjutkan mengobati. "Kau juga selalu ada untukku. Jadi kita impas."
Ash tersenyum. "Impas."
Setelah selesai mengobati, Eveline berdiri dan berjalan ke pintu. Tapi sebelum keluar, dia berhenti dan menoleh.
"Besok kalau Morgana terlalu sadis, teriak. Aku akan datang untuk membunuhnya."
Ash tertawa. "Kau tak akan bisa. Dia... entah apa dia sebenarnya."
"Tidak ada yang tidak bisa dibunuh kalau kau tahu titik lemahnya." Eveline tersenyum tipis. "Selamat malam, Ash."
"Selamat malam."
Pintu tertutup pelan.
Ash menatap langit langit kamarnya, tubuhnya lelah tapi pikirannya tenang.
Besok akan jadi hari yang berat lagi.
Tapi dia siap.
Karena dia tidak sendirian.
Dia punya Eveline. Razen. Violet. Bahkan Morgana dengan metode sadisnya.
Dia punya orang orang yang peduli dan membantu dengan cara mereka masing masing.
Dan dengan bantuan mereka, dia akan belajar kontrol.
Dia akan jadi cukup kuat untuk melindungi mereka.
Dia tidak akan kehilangan siapa pun lagi.
Itu janjinya.
Pada dirinya sendiri.
Dan pada mereka yang mempercayainya.