Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
MEMILIH KAMPUS YANG SESUAI DENGAN HATI
Setelah hasil Ujian Nasional keluar dengan nilai yang memuaskan – rata-rata 8,75 – Khatulistiwa menghadapi keputusan penting dalam hidupnya: memilih kampus dan jurusan yang akan ditempuhnya. Dia duduk di ruang tamu bersama orang tuanya dan beberapa brosur kampus yang telah dia kumpulkan dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi bahkan Jawa.
"Kamu sudah punya pilihan awal belum, sayang?" tanya Ayah Arif sambil melihat brosur-brosur tersebut. "Banyak pilihan yang menarik kok – mulai dari Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, hingga kampus di Jakarta atau Surabaya."
Khatulistiwa mengangguk perlahan. "Aku memang sudah memiliki beberapa pilihan, Ayah. Pertama adalah Jurusan Sejarah di Universitas Hasanuddin – aku semakin menyukai sejarah setelah belajar tentang budaya daerah kita bersama Tenggara. Selain itu, aku juga mempertimbangkan Jurusan Manajemen karena ingin membantu mengembangkan usaha kukis keluarga kita nantinya."
Ibunda Senja mengangguk dengan pemahaman. "Kedua jurusan itu bagus, sayang. Yang penting kamu memilih sesuai dengan minat dan bakatmu sendiri. Jangan terpengaruh oleh pilihan temanmu atau apa yang orang lain katakan."
Hari berikutnya, Khatulistiwa bertemu dengan Tenggara di Gramedia Makassar – tempat pertama mereka bertemu – untuk membicarakan keputusannya. Tenggara yang sudah berada di semester ketiga Jurusan Sejarah UH dengan senang hati memberikan informasi yang dia butuhkan.
"Jurusan Sejarah di UH memang sangat baik, Khatulistiwa," jelas Tenggara dengan antusias. "Kita memiliki dosen-dosen yang kompeten dan banyak program penelitian tentang sejarah daerah yang bisa kamu ikuti. Selain itu, kamu juga bisa bergabung dengan klub budaya yang sudah kita dirikan – pasti akan sangat menyenangkan."
"Namun aku juga merasa tertarik dengan Manajemen," ucap Khatulistiwa dengan sedikit ragu.
"Aku ingin bisa membantu orang tua mengembangkan usaha kukis kita menjadi lebih besar, bahkan mungkin membuka cabang seperti yang diimpikan Kakak."
"Kamu tidak perlu merasa harus memilih salah satu saja lho," katanya dengan senyum cerdas. "Beberapa kampus menyediakan program double degree atau kamu bisa mengambil program studi utama satu jurusan dan mengambil mata kuliah tambahan dari jurusan lain. Atau kalau kamu memilih Jurusan Sejarah, kamu tetap bisa belajar tentang manajemen melalui pelatihan atau kursus tambahan."
Tenggara kemudian mengajaknya mengunjungi kampus UH untuk melihat langsung lingkungan perkuliahan dan bertemu dengan beberapa dosen serta mahasiswa Jurusan Sejarah. Di sana, Khatulistiwa merasa sangat nyaman dengan suasana kampus yang hangat dan ramah. Dia juga mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan beberapa mahasiswa yang memberitahunya tentang berbagai aktivitas yang bisa diikuti, termasuk penelitian tentang sejarah kerajinan makanan tradisional – sesuatu yang sangat menarik bagi dia karena terkait dengan usaha keluarga.
Beberapa hari kemudian, Khatulistiwa juga mengunjungi Universitas Negeri Makassar untuk mengeksplorasi Jurusan Manajemen. Dia bertemu dengan dosen yang menjelaskan tentang kurikulum yang fokus pada pengelolaan usaha kecil dan menengah – yang sangat relevan dengan impiannya untuk mengembangkan usaha kukis keluarga.
Setelah melakukan berbagai pertimbangan dan diskusi dengan keluarga serta Tenggara, Khatulistiwa akhirnya membuat keputusannya. Malam itu, dia berkumpul dengan orang tuanya di ruang makan untuk menyampaikannya.
"Ayah, Bu – aku sudah memutuskan untuk mendaftar di Jurusan Sejarah Universitas Hasanuddin," ucapnya dengan suara yang penuh keyakinan. "Namun aku juga akan mengambil program kursus tambahan tentang Manajemen Usaha Kecil di fakultas ekonomi. Dengan begitu, aku bisa mengejar minatku tentang sejarah dan budaya, sekaligus mempelajari hal-hal yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha kita."
Orang tuanya langsung memberikan senyum bangga dan pelukan hangat. "Kita sangat mendukung keputusanmu, sayang," ucap Ayah Arif dengan suara penuh cinta. "Kamu telah memikirkan semuanya dengan matang dan menemukan jalan yang tepat untukmu."
Keesokan harinya, Khatulistiwa mengirim pesan kepada Tenggara: "Hai Tenggara, aku sudah memutuskan untuk mendaftar di Jurusan Sejarah UH dan mengambil kursus manajemen tambahan. Terima kasih banyak atas semua bantuannya dan informasi yang kamu berikan. Aku tidak sabar untuk bergabung denganmu di kampus nanti!"
Balasan datang dengan cepat: "Wah, sangat bagus sekali! Aku sangat senang mendengarnya. Kita akan menjadi teman sekampus ya! Aku sudah tidak sabar untuk membantumu beradaptasi dan mengajakmu bergabung dengan klub budaya kita. Semoga pendaftaranmu berjalan lancar!"
Khatulistiwa tersenyum lebar sambil menyimpan ponselnya. Dia merasa sangat bersyukur telah memiliki dukungan dari keluarga dan teman yang baik seperti Tenggara. Meskipun jalan yang akan ditempuhnya tidak akan mudah, dia merasa siap untuk menghadapinya dengan penuh semangat dan keyakinan bahwa dia telah memilih jalan yang tepat sesuai dengan hati dan impiannya.