Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18: Langit Selatan yang Berdarah
Satu bulan kemudian.
Lembah Abu, yang kini menjadi Wilayah Terlarang pribadi Li Wei, sunyi seperti kuburan. Namun, kesunyian itu dipecahkan oleh suara angin yang tidak wajar.
WUUUNG...
Suara itu berat dan rendah, seperti dengungan lebah raksasa.
Di tengah ladang yang sudah dipanen, Li Wei berdiri telanjang dada. Keringat membasahi tubuhnya yang berwarna perunggu. Di tangannya, ia menggenggam batang besi hitam berkarat sepanjang dua meter Fragmen Tombak Penembus Langit.
Benda itu jelek. Tidak ada ukiran naga, tidak ada permata, hanya sebatang besi rongsokan yang penuh karat.
Tapi beratnya 500 jin.
Bagi manusia biasa, mengangkatnya saja mustahil. Bagi kultivator Lapis 6 biasa, mengayunkannya akan menguras Qi dalam sekejap.
Tapi bagi Li Wei dengan Tubuh Lima Elemen, ini adalah pasangan jiwa.
"Hah!"
Li Wei mengayunkan tongkat itu secara horizontal.
Tidak ada teknik Qi yang digunakan. Hanya kekuatan otot murni dan rotasi pinggang.
Tongkat itu membelah udara. Tekanan angin yang dihasilkan begitu kuat hingga menciptakan gelombang kejut.
BLAR!
Sebuah batu besar yang berjarak lima meter di depannya meledak menjadi debu, hancur semata-mata karena tekanan angin dari ayunan tongkat itu.
Li Wei menurunkan tongkatnya, napasnya sedikit memburu. Tanah di bawah kakinya retak membentuk jaring laba-laba karena menahan beban pijakannya.
"Ganas," Li Wei tersenyum puas, mengusap batang besi kasar itu.
Ia menemukan bahwa tongkat ini memiliki sifat aneh Anti Qi. Ia tidak bisa mengalirkan Qi keluar dari tongkat ini (seperti menembakkan sinar pedang). Tapi, tongkat ini sangat keras dan tidak bisa dihancurkan.
Gaya bertarungnya telah berubah total. Dulu dia menggunakan pedang untuk kecepatan dan teknik elemen. Sekarang, dia menggunakan tongkat ini untuk Kekuatan Absolut.
"Siapa butuh teknik rumit jika satu pukulan bisa meratakan gunung?"
Tiba-tiba, Giok Dao Abadi di dadanya bergetar tajam. Bukan getaran latihan, tapi getaran peringatan bahaya.
Di saat yang sama, lonceng besar di Puncak Utama Sekte berdentang.
TENG! TENG! TENG!
Tiga kali. Tanda Darurat Perang.
Li Wei mendongak. Di langit selatan, gumpalan asap hitam dan merah terlihat membubung tinggi, menodai awan putih.
"Sesuatu terjadi."
Li Wei segera mengenakan jubah Murid Inti nya jubah biru tua dengan sulaman benang perak. Ia menyampirkan tongkat besi itu di punggungnya, dibungkus kain agar tidak terlalu mencolok.
Baru saja ia hendak melangkah keluar lembah, sesosok bayangan mendarat tergesa-gesa di depan gubuknya.
Itu Xiao Lan.
Wajahnya pucat pasi, matanya merah dan basah. Napasnya tersengal-sengal, seolah ia terbang secepat mungkin tanpa mempedulikan konsumsi Qi.
"Li Wei!" serunya, suaranya pecah.
"Ada apa? Lonceng apa itu?" tanya Li Wei, memegang bahu Xiao Lan untuk menenangkannya.
"Sekte Darah Merah..." Xiao Lan terisak. "Mereka menyerang perbatasan selatan. Mereka... mereka menyerang Desa Lembah Bunga."
Desa Lembah Bunga. Kampung halaman Xiao Lan. Tempat di mana mereka bertemu saat melarikan diri dari bandit dulu.
"Laporannya baru masuk," lanjut Xiao Lan, tubuhnya gemetar. "Ini bukan perampokan biasa. Mereka memasang Formasi Pengorbanan Darah. Mereka menangkap penduduk desa hidup-hidup untuk... untuk dijadikan bahan ritual."
Mata Li Wei menyipit. Hawa dingin meledak dari tubuhnya.
Ritual Darah. Ia tahu tentang itu dari buku-buku terlarang di perpustakaan. Itu adalah teknik iblis untuk memurnikan "Pil Darah Manusia" guna meningkatkan kultivasi secara instan, atau lebih buruk lagi... membuka segel dimensi.
"Ayahku... teman-temanku... mereka semua masih di sana," Xiao Lan mencengkeram jubah Li Wei. "Aku harus pergi. Aku harus menyelamatkan mereka. Tapi aku takut aku tidak cukup kuat."
Xiao Lan sekarang berada di Lapis 5 (berkat sumber daya Puncak Pengobatan), tapi dia adalah alkemis, bukan petarung. Pergi ke zona perang sendirian sama saja bunuh diri.
Li Wei menatap mata gadis itu. Ia melihat ketakutan yang sama seperti yang ia rasakan saat desanya dibakar bandit. Saat itu, dia lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Tapi sekarang berbeda.
"Hapus air matamu," kata Li Wei tegas.
Xiao Lan tertegun.
"Menangis tidak akan menyelamatkan siapa pun," Li Wei mengencangkan ikatan tongkat besi di punggungnya. "Kau bilang kau tidak cukup kuat? Maka pinjamlah kekuatanku."
"Li Wei..."
"Ayo pergi," Li Wei memanggil Pedang Terbang standar sekte (hadiah murid inti) dan melompat naik. "Kita akan ke sana. Dan siapa pun yang menyentuh desamu, akan kujadikan pupuk untuk tanah."
Alun-alun Sekte Langit Biru sudah dipenuhi ratusan murid.
Suasana tegang. Tetua Penegakan Hukum berdiri di panggung, wajahnya serius.
"Dengarkan! Sekte Darah Merah telah melanggar perjanjian gencatan senjata! Mereka menyerang tiga desa di perbatasan selatan: Lembah Bunga, Batu Putih, dan Sungai Merah."
"Misi Darurat Tingkat C: Pembersihan Iblis."
"Murid Inti dan Murid Dalam diwajibkan turun gunung! Selamatkan warga dan bunuh setiap kultivator sesat yang kalian temukan! Setiap kepala musuh Lapis 4 ke atas bernilai 100 Poin!"
Murid-murid bersorak, sebagian karena semangat keadilan, sebagian karena tergiur poin.
Li Wei dan Xiao Lan mendarat di pinggiran kerumunan.
Banyak mata yang melirik ke arah Li Wei. Sejak turnamen sebulan lalu, nama "Li Wei si Pematah Dantian" telah menjadi legenda yang menakutkan. Murid-murid lain segera memberi jalan, tidak berani menghalangi.
"Kita tidak perlu menunggu kelompok besar," bisik Li Wei pada Xiao Lan. "Gerakan mereka lambat. Kita berangkat duluan."
"Tapi, bukankah berbahaya jika terpisah?" tanya Xiao Lan ragu.
"Justru di situlah keuntungannya. Mereka tidak akan menduga serangan cepat."
Li Wei dan Xiao Lan tidak menunggu pidato Tetua selesai. Mereka melesat ke udara, meninggalkan alun-alun menuju arah selatan.
Di udara, pemandangan di bawah mereka berubah dari hutan hijau yang damai menjadi pemandangan yang membuat darah mendidih.
Asap hitam membubung di kejauhan.
Setelah dua jam terbang dengan kecepatan penuh, mereka mendekati wilayah Desa Lembah Bunga.
Dari atas, desa yang indah itu kini dikelilingi oleh kubah energi berwarna merah darah sebuah Formasi Pengurung. Di dalamnya, rumah-rumah terbakar. Jeritan samar terdengar bahkan dari ketinggian ini.
Di gerbang desa, sekelompok kultivator berjubah merah sedang menyeret penduduk desa wanita, anak-anak, orang tua menuju alun-alun pusat di mana sebuah altar darah telah didirikan.
"Lepaskan aku! Ayah!"
"Tolong!"
Seorang kultivator Sekte Darah tertawa, mencambuk seorang pria tua yang berjalan terlalu lambat. "Jalan, ternak tua! Darahmu akan berguna bagi Tuan Iblis!"
Di atas pedang terbangnya, Xiao Lan menutup mulutnya menahan jeritan. "Itu Paman Zhang... tetanggaku..."
Li Wei tidak berkata apa-apa. Wajahnya sedingin es.
Ia melihat formasi merah itu.
"Xiao Lan," kata Li Wei pelan. "Siapkan pil penyembuh dan penawar racunmu. Saat kubah itu pecah, tugasmu adalah menyelamatkan warga. Jangan ikut bertarung kecuali terpaksa."
"Kubah itu pecah?" Xiao Lan bingung. "Itu Formasi Darah Tingkat Menengah. Kita butuh ahli formasi untuk..."
Li Wei tidak mendengarkan.
Ia berdiri di atas pedang terbangnya. Ia melepaskan ikatan kain di punggungnya.
Batang besi hitam berkarat itu kini berada di genggamannya.
"Ahli formasi?" Li Wei mendengus. "Aku punya kunci pembuka yang lebih cepat."
Li Wei melompat turun dari ketinggian lima puluh meter. Tanpa teknik meringankan tubuh. Ia membiarkan gravitasi dan berat 500 jin senjatanya bekerja.
Ia jatuh seperti meteor hitam.
Di bawah, para kultivator Sekte Darah mendongak kaget saat mendengar suara siulan angin yang memekakkan telinga.
"Apa i—"
Li Wei memutar tubuhnya di udara, mengayunkan Tongkat Penembus Langit dengan segenap tenaga otot Tubuh Lima Elemen nya. Targetnya Titik pusat kubah energi merah itu.
"HANCUR!!!"
BOOOOOOOM!
Hantaman itu menciptakan ledakan suara yang memecahkan gendang telinga.
Kubah energi merah itu tidak retak. Ia pecah berkeping-keping seperti kaca.
Hantaman Li Wei tidak berhenti di situ. Ia mendarat di tanah, tepat di depan gerbang desa.
Tanah meledak. Gelombang kejut menyapu para kultivator Sekte Darah yang berdiri di dekat gerbang, melemparkan mereka hingga muntah darah.
Debu mengepul tinggi.
Saat debu perlahan menipis, sesosok tubuh berdiri tegak di tengah kawah kecil. Di bahunya, terpikul batang besi hitam yang meneteskan sisa energi merah formasi yang hancur.
Para murid Sekte Darah yang selamat mundur dengan wajah pucat.
"S-Siapa kau?!" teriak pemimpin regu mereka, seorang Lapis 5.
Li Wei mengangkat wajahnya. Matanya bersinar dengan niat membunuh yang murni.
"Pencabut nyawa," jawab Li Wei.
Ia menoleh ke langit, memberi isyarat pada Xiao Lan untuk masuk. Lalu ia menatap musuh-musuhnya.
"Kalian suka darah?" Li Wei mengayunkan tongkatnya, menciptakan angin maut. "Hari ini, aku akan memandikan kalian di dalamnya."