NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DELAPAN BELAS: DI BAWAH PENGUASA

Ruangan kerja itu seolah menjadi semesta yang terisolasi dari peradaban luar. Di dalam sana, waktu seakan berhenti berputar, menyisakan hanya aroma kayu mahoni yang tua dan napas Orion yang terasa panas di permukaan kulit Seraphina. Gadis itu terbaring tak berdaya di atas meja kerja yang luas, sebuah posisi yang begitu menghina martabatnya namun ia tidak memiliki kekuatan sedikit pun untuk mengubah keadaan. Cahaya lampu meja yang kekuningan memantul pada air mata yang menggenang di pelupuk matanya, membuat sosok Seraphina tampak seperti lukisan penderitaan yang sangat indah di mata seorang predator seperti Orion.

Orion tidak segera melanjutkan tindakannya. Pria itu justru berhenti sejenak, hanya untuk menikmati pemandangan kehancuran di depannya. Ia menyukai cara Seraphina gemetar; getaran halus yang menjalar dari ujung jari kaki hingga ke bahu gadis itu adalah musik bagi ego Orion yang haus akan dominasi. Baginya, kecantikan Seraphina mencapai puncaknya justru saat gadis itu berada di ambang keputusasaan yang paling dalam.

"Kau tahu, Seraphina," Orion memulai pembicaraannya kembali, suaranya kini terdengar sangat rendah dan berat, bergetar di dalam dada yang menekan tubuh gadis itu. "Banyak wanita di luar sana yang bersedia menyerahkan segalanya hanya untuk berada di posisimu saat ini. Mereka menginginkan nama Valentinus, mereka menginginkan kemewahan ini, dan mereka akan dengan senang hati merangkak di bawah kakiku. Tapi kau... kau justru menatapku seolah-olah aku adalah monster yang paling menjijikkan di muka bumi ini."

Seraphina tidak menjawab. Bibirnya terkatup rapat, menahan isakan yang ingin meledak dari tenggorokannya. Ia tahu bahwa setiap kata yang ia ucapkan hanya akan menjadi bahan bakar bagi kekejaman Orion. Ia memilih untuk menatap langit-langit, mencari perlindungan dalam kekosongan pikiran, meskipun tangan Orion kini mulai bergerak lebih berani, menjelajahi lekuk pinggangnya yang ramping dengan tekanan yang seolah ingin meremukkan tulang-tulangnya.

"Ketidaksukaanmu itu... justru membuatku semakin bergairah," Orion melanjutkan, ia mencondongkan wajahnya, menghirup aroma leher Seraphina dengan tarikan napas yang panjang dan kasar. "Karena setiap kali aku menyentuhmu, aku tahu bahwa aku sedang mengambil sesuatu yang tidak ingin kau berikan. Dan itu adalah bentuk kepemilikan yang paling murni. Aku tidak butuh cintamu, Seraphina. Aku hanya butuh kepatuhanmu, rasa sakitmu, dan pengakuanmu bahwa kau hanyalah milikku."

Tangan Orion berpindah ke wajah Seraphina, mencengkeram rahang gadis itu dengan jari-jarinya yang panjang dan kuat. Ia memaksa Seraphina untuk kembali menatap matanya yang hitam legam, sebuah tatapan yang tidak memiliki sisa-sisa kemanusiaan di dalamnya. "Katakan namaku," perintah Orion dengan nada yang tidak menerima penolakan.

"Ti-tidak..." bisik Seraphina, suaranya pecah dan bergetar hebat.

Cengkeraman Orion di rahangnya mengeras, membuat Seraphina merintih kesakitan. "Aku tidak suka mengulang perintah, kelinci kecil. Katakan namaku sekarang, atau aku akan memastikan malam ini menjadi jauh lebih menyakitkan daripada yang kau bayangkan."

Seraphina memejamkan mata, air mata mengalir semakin deras membasahi jemari Orion. "O... Orion..." ucapnya dengan nada yang sangat rendah, dipenuhi dengan rasa benci dan keterpaksaan yang mendalam.

"Lagi. Katakan lebih jelas. Biarkan aku mendengar betapa namaku terdengar sangat manis saat keluar dari bibirmu yang kotor itu," desis Orion, wajahnya kini hanya berjarak satu milimeter dari wajah Seraphina.

"Orion... Tuan Orion..." Seraphina mengucapkannya dengan suara yang lebih keras, meskipun diiringi dengan isakan yang menyayat hati.

Orion tersenyum puas, sebuah seringai yang memancarkan kegelapan yang absolut. Ia melepaskan cengkeramannya di rahang Seraphina, lalu beralih ke pakaian gadis itu dengan gerakan yang sangat sistematis. Ia tidak merobeknya dengan kasar kali ini; ia justru membukanya dengan sangat perlahan, seolah sedang menguliti sebuah persembahan yang sangat berharga. Setiap inci kulit Seraphina yang terpapar udara dingin membuat gadis itu merasa semakin kecil dan tidak berarti.

Narasi internal Orion terasa semakin mendidih di dalam kepalanya yang dipenuhi oleh hasrat gelap. "Lihatlah tubuh ini. Begitu putih, begitu suci dalam ketidaktahuannya. Aku akan menjadi orang pertama dan terakhir yang mengukir sejarah di atas kulit ini. Aku akan meninggalkan tanda-tanda yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh siapa pun, bahkan oleh waktu sekalipun. Dia akan selalu ingat bagaimana rasanya berada di bawah kendaliku, bagaimana rasanya saat napasku menjadi satu-satunya udara yang boleh ia hirup."

Di luar ruangan, hujan mulai turun dengan lebat, suara rintik-rintik air yang menghantam jendela kaca besar di ruang kerja Orion menciptakan latar belakang suara yang suram. Petir sesekali menyambar, memberikan kilatan cahaya putih yang menerangi ruangan itu selama sepersekian detik, memperlihatkan bayangan raksasa Orion yang sedang menguasai tubuh Seraphina di atas meja kerja. Suasana itu begitu dramatis, seolah alam semesta pun sedang meratapi nasib malang sang gadis panti asuhan.

Orion kini mulai menciumi bahu Seraphina, memberikan gigitan-gigitan kecil yang menyakitkan di sepanjang tulang selangkanya. Seraphina hanya bisa meremas permukaan meja kayu di bawahnya, kuku-kukunya menggores permukaan mahoni yang mahal itu sebagai bentuk pengalihan atas rasa perih yang ia rasakan. Setiap sentuhan Orion terasa seperti api yang membakar harga dirinya, meninggalkannya dalam keadaan yang hancur berkeping-keping.

"Kau tahu, ibuku sangat menyukaimu," Orion bergumam di sela-sela aktivitasnya, suaranya bergetar di kulit Seraphina. "Dia melihatmu sebagai pengganti putri yang tidak pernah ia miliki. Dia ingin mendandanimu, membawamu ke pesta, dan memamerkanmu pada seluruh dunia. Dan aku akan membiarkannya. Aku akan membiarkanmu menjadi pusat perhatian di siang hari, mengenakan gaun sutra terbaik dan perhiasan termahal."

Orion mengangkat kepalanya, menatap Seraphina dengan tatapan yang sangat tajam. "Tapi ingatlah satu hal, Seraphina. Saat matahari terbenam, dan saat pintu-pintu di mansion ini terkunci, kau bukan lagi putri Giselle. Kau hanyalah barang pribadiku. Kau adalah tempatku membuang segala amarah, segala hasrat, dan segala kekosongan yang aku miliki. Tidak ada sutra yang bisa melindungimu dariku."

Seraphina tersedu-sedu, dadanya naik turun dengan cepat akibat sesak napas yang luar biasa. Ia merasa terjepit di antara dua monster yang berbeda; Giselle yang ingin memanipulasi identitasnya, dan Orion yang ingin menghancurkan eksistensi fisiknya. Ia merasa tidak ada lagi tempat yang aman bagi jiwanya untuk beristirahat.

"Hiks... kenapa... kenapa harus aku?" Seraphina bertanya di tengah tangisnya, matanya menatap Orion dengan pandangan memohon yang sangat pilu. "Kenapa Tuan tidak mencari wanita lain yang memang menginginkan semua ini? Kenapa Tuan menghancurkan hidupku?"

Orion terdiam sejenak, menatap mata Seraphina dengan kedalaman yang sangat dingin. "Karena kau adalah satu-satunya yang tidak bisa aku beli dengan uang, Seraphina. Dan bagi seorang pria yang memiliki segalanya, hal yang tidak bisa dibeli adalah hal yang paling berharga untuk dihancurkan. Aku ingin melihat sejauh mana kau bisa bertahan sebelum kau benar-benar memohon padaku untuk mengakhiri penderitaanmu."

Pria itu kemudian kembali melakukan aktivitasnya, kali ini dengan intensitas yang lebih tinggi. Ia tidak lagi memedulikan air mata Seraphina yang kini sudah membasahi seluruh permukaan meja. Ia hanya berfokus pada pemuasannya sendiri, pada rasa dominasi yang ia dapatkan setiap kali mendengar rintihan kesakitan dari mulut gadis itu. Baginya, Seraphina bukan lagi manusia; gadis itu telah bertransformasi menjadi sebuah simbol dari kemenangannya atas segala sesuatu yang suci.

Ruangan itu semakin terasa menyesakkan. Bau keringat, aroma kertas tua, dan parfum maskulin Orion bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang sangat memuakkan bagi Seraphina. Ia merasa seolah-olah sedang tenggelam di dalam lumpur yang sangat dalam, dan setiap kali ia mencoba menarik diri, Orion justru mendorongnya masuk lebih jauh.

"Ingatlah rasa sakit ini, Seraphina," bisik Orion di sela-sela tindakannya yang semakin agresif. "Karena rasa sakit inilah yang akan menjagamu agar tetap berada di sampingku. Kau tidak akan pernah berani melarikan diri, karena kau tahu bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang bisa menyembunyikanmu dari jangkauan tanganku."

Seraphina hanya bisa pasrah. Kesadarannya perlahan mulai memudar, tertutup oleh awan hitam keputusasaan yang sangat tebal. Ia membiarkan tubuhnya dipermainkan seperti boneka yang tidak bernyawa, membiarkan Orion menanamkan setiap benih trauma yang akan tumbuh menjadi hutan kegelapan di dalam batinnya. Di atas meja kerja mahoni yang dingin itu, Seraphina Elara telah kehilangan segalanya, menyisakan hanya sebuah cangkang kosong yang kini menjadi milik mutlak sang penguasa keluarga Valentinus.

Orion terus bergerak, tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Ia ingin menghabiskan malam ini dengan memastikan bahwa setiap sel di tubuh Seraphina menyadari siapa pemiliknya yang sebenarnya. Ia ingin meninggalkan jejak yang begitu dalam hingga bahkan jika Seraphina pergi ke ujung dunia sekalipun, ia akan selalu merasakan kehadiran Orion di dalam aliran darahnya.

Malam semakin larut, dan hujan pun belum reda. Di dalam istana kaca yang megah namun mematikan itu, sebuah tragedi terus berlangsung tanpa ada yang menghentikan. Orion Valentinus telah mendapatkan apa yang ia inginkan, dan Seraphina Elara telah membayar harga yang terlalu mahal untuk kemewahan yang tidak pernah ia minta.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!