Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orak Arik dan Kehangatan yang Kembali
Pagi itu, udara pegunungan masih menyisakan dingin yang menusuk, namun ada sesuatu yang berbeda yang membuatku terjaga. Bukan suara radio tua Ayah yang berderit, melainkan sebuah tepukan lembut dan berirama di bokongku. Aku mengerjap, mencoba mengumpulkan nyawa, dan mendapati wajah Ibu sudah berada di dekatku. Ia tidak lagi memakai baju oranye Mickey Mouse yang mentereng kemarin, ia kembali mengenakan baju sederhananya yang sudah tipis, persis seperti Ibu yang kukenal dulu.
"Ayo bangun, anak pinter. Cuci muka dulu biar segar," bisik Ibu.
Ia menuntunku keluar rumah. Di rumah kami, fasilitas memang sangat terbatas. Kami belum punya kamar mandi yang layak, hanya ada sekat kayu sederhana untuk buang air kecil. Di sudut luar, terdapat sebuah ember kecil yang dilubangi bawahnya, berfungsi sebagai pancuran darurat untuk wudhu atau sekadar membasuh wajah.
Dua ember besar berwarna hitam dan cokelat sudah terisi penuh oleh air pegunungan yang jernih dan sedingin es, hasil jerih payah Ayah dan Ibu yang mengambilnya dari tempat pemandian umum dekat rumah sebelum subuh tadi. Begitu air itu menyentuh kulitku, rasa kantukku langsung menguap, digantikan oleh kesegaran yang membuatku menggigil.
"Cepat masuk, duduk di depan tungku supaya hangat," perintah Ibu.
Aku segera berlari masuk dan berjongkok di depan tungku api yang sedang menyala terang. Kayu bakar berderak, memberikan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Di atas tungku, Ibu sedang sibuk dengan sebuah wajan kecil. Tak lama kemudian, aroma gurih yang asing namun menggoda menyeruak ke seluruh penjuru dapur.
Ibu menyodorkan sebuah piring plastik berisi tumisan sayur berwarna oranye cerah bercampur dengan butiran kuning telur.
"Ibu masakin orak-arik wortel telur. Kamu harus coba, ini menu baru. Majikan Ibu di kota saja selalu suka kalau Ibu masak ini di sana," ujar Ibu dengan nada bangga. Matanya berbinar, seolah ia sedang mempersembahkan sebuah harta karun dari perantauannya.
Aku menerima piring itu. Ini adalah pertama kalinya aku melihat dan mendengar nama makanan bernama "orak-arik". Dengan ragu, aku menyuapkan sesendok kecil ke dalam mulutku.
Deg.
Rasanya sangat berbeda dari sayur lodeh atau sambal goreng yang biasa kami makan. "Ibu... ini manis banget," kataku jujur sambil terus mengunyah. Lidah kecilku merasa rasa manisnya terlalu dominan, hampir seperti memakan camilan.
Ibu tampak sedikit terkejut, raut bangganya berubah menjadi cemas. "Masa, sih? Sini, Ibu bumbui lagi saja biar lebih gurih. Tadi sepertinya Ibu kebanyakan kasih gula karena terlalu semangat."
Ibu hendak mengambil kembali piring itu, tapi aku segera menariknya menjauh dan mendekapnya. Aku teringat pembicaraan rahasia semalam, betapa Ibu sangat merindukan kami dan betapa keras usahanya di sana. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya di pagi pertama kepulangannya ini.
"Tapi aku suka, Bu! Masakan Ibu enak sekali," kataku cepat, lalu menyuap satu sendok besar lagi sebagai bukti. "Besok-besok buatkan lagi ya, Bu... tapi yang tidak kemanisan seperti ini."
Mendengar pujianku yang polos namun jujur, senyum manis Ibu kembali mengembang. Ia mengusap kepalaku lembut. "Iya, Sayang. Besok Ibu kurangi gulanya. Yang penting hari ini kamu makan yang banyak supaya kuat bermain."
Aku menghabiskan isi piring itu sampai bersih, meski setiap suapan terasa seperti permen sayur. Di depan tungku yang hangat itu, aku menyadari bahwa rasa orak-arik ini bukan sekadar soal bumbu dapur, melainkan rasa rindu Ibu yang tertuang begitu banyak hingga meluap menjadi rasa manis yang tak terkira.
Pagi itu, meja makan yang biasanya hanya berisi piring-piring sepi, kini dipenuhi dengan kepul asap dari masakan Ibu. Meski hanya nasi hangat dan orak arik yang ia buat dari bahan sisa di dapur, aromanya terasa seperti pesta besar bagiku. Ayah duduk di kursi plastik hijaunya, tapi kali ini ia tidak menghela napas berat. Ia justru berkali-kali mencuri pandang ke arah Ibu yang sedang sibuk menyiapkan piring.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰