Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 BADAI DI BALIK JENDELA DAN RETAKNYA SEBUAH KEPERCAYAAN
Minggu, 11 Mei 2025, Musim Semi
Malam itu, langit Monte Carlo yang biasanya bertabur bintang mendadak berubah muram. Awan hitam pekat menggantung rendah, dan tak butuh waktu lama bagi hujan deras untuk mengguyur bumi dengan intensitas yang menakutkan. Di dalam butik Aurevyn Couture, Olivia Elenora Aurevyn baru saja meletakkan pensil sketsanya. Ia menghela napas panjang, merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku. Karena terlalu fokus pada detail gaun pesanan terbaru, ia sama sekali tidak menyadari jika waktu telah merambat jauh melewati jam operasional butik.
Luna, asistennya yang rajin, sudah pulang sejak sore tadi karena ada jadwal kuliah malam. Kini, Olive sendirian di tengah kesunyian butik yang mewah. Ia menatap ke luar jendela besar; jalanan tampak remang dan licin.
"Sial, aku lupa waktu," gumam Olive pelan.
Ia mencoba membuka aplikasi taksi daring, namun nihil. Di jam selarut ini, ditambah cuaca badai, tidak ada satu pun pengemudi yang mau mengambil pesanan di area eksklusif tersebut. Olive kemudian menelepon kakaknya, Brian. Namun, panggilan itu hanya berujung pada pesan suara karena Brian sedang terjebak dalam rapat darurat mengenai proyek properti mereka di luar kota.
Tidak ada pilihan lain. Dengan jari yang sedikit gemetar karena kedinginan, Olive mencari nama Liam di daftar kontaknya. Ia merasa sedikit sungkan, namun rasa takut terjebak sendirian di butik lebih besar. Ia menekan tombol panggil.
Satu kali... dua kali... hingga lima kali panggilan, tidak ada jawaban.
Di tempat lain, di dalam ruang kerja pribadinya yang kedap suara, Liam Maximilian Valerius sedang menatap tumpukan berkas keamanan dengan tatapan muak. Ponselnya bergetar di atas meja kayu mahoni itu. Ia melirik sekilas, namun ia tidak mengangkatnya. Sejak siang tadi, Liam terus-menerus diteror oleh nomor tidak dikenal yang ia tahu adalah milik Thalia, model yang baru saja kembali ke Monako itu.
Liam berpikir jika panggilan yang masuk sekarang adalah Thalia lagi yang mencoba mengganggunya dengan berbagai alasan sampah. Ia mematikan deringnya dan kembali fokus pada layar monitor, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang dicintainya sedang kedinginan menunggu bantuannya.
Sementara itu, Olive berdiri di depan teras butik, memeluk tubuhnya sendiri untuk mencari kehangatan. Gaun rajut lavendernya tidak cukup kuat menahan terpaan angin malam. Pikirannya mulai berkelana liar. Ia teringat ucapan Luna tadi siang tentang model bernama Thalia. Rasa cemburu yang asing dan menyakitkan mulai menggerogoti hatinya.
Apakah Liam benar-benar sesibuk itu? Atau dia memang sengaja tidak mengangkatnya? batin Olive.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Olive membukanya dengan harapan itu adalah pesan dari layanan taksi. Namun, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat gambar yang terlampir.
Itu adalah sebuah foto. Foto Liam, pria yang semalam baru saja menjanjikan dunia padanya, sedang memeluk Thalia di sebuah bar remang-remang. Thalia tampak mabuk dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Liam, sementara tangan Liam melingkar di bahu wanita itu.
Prak!
Ponsel Olive jatuh ke lantai marmer teras. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh membasahi pipi porcelain-nya. Rasa sakitnya begitu nyata, jauh lebih perih daripada dinginnya hujan. "Jadi... ini alasan kenapa kau tidak mengangkat teleponku, Liam?" bisiknya dengan suara pecah.
Dengan tangan bergetar, Olive memungut ponselnya yang layarnya sedikit retak. Ia tidak akan menelepon Liam lagi. Ia segera menghubungi Zaylee. Hanya butuh satu kali nada sambung, Zee langsung mengangkatnya.
"Olive? Ada apa? Suaramu kenapa?" suara Zee terdengar khawatir di seberang sana.
"Zee... tolong jemput aku di butik. Tolong..." Olive terisak.
Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil Sport putih berhenti tepat di depan butik dengan decitan ban yang tajam. Zee dan Vera keluar dengan membawa payung besar, langsung menghambur memeluk Olive yang sudah basah kuyup di bagian pundaknya.
"Masuk dulu, Olive! Ya Tuhan, badanmu dingin sekali!" seru Vera dengan nada protektifnya.
Di dalam mobil, suasana begitu tegang. Zee fokus menyetir menembus badai, sementara Vera di kursi belakang terus mengusap punggung Olive yang masih menangis tersedu-sedu.
"Olive, katakan pada kami. Apa yang terjadi? Apa Liam menyakitimu?" tanya Zee memberanikan diri.
Olive tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menyodorkan ponselnya, memperlihatkan foto laknat itu kepada kedua sahabatnya. Vera dan Zee tertegun. Mata Vera yang biasanya tenang kini berkilat tajam.
"Apakah aku pantas cemburu, Zee? Vera? Apakah hubungan yang dia janjikan semalam itu nyata? Atau aku hanya pelarian?" tanya Olive di sela tangisnya.
Vera menghela napas berat, mencoba menjernihkan pikirannya. "Tentu saja kau pantas cemburu, Olive. Dia calon suamimu! Tapi lihat wanita ini... Thalia." Vera menunjuk foto itu dengan jijik. "Aku tahu sedikit tentang masa lalu mereka. Dulu, Liam memang dipaksa dekat dengan Thalia karena keinginan mendiang kakeknya. Tapi setelah kakeknya tiada, Liam langsung memutuskan hubungan itu karena dia merasa tidak cocok. Thalia menghilang ke Korea untuk operasi plastik, dan sekarang dia kembali dengan wajah baru dan trik lama."
Zee, sang perancang drama yang handal, memicingkan matanya menatap foto di ponsel Olive. "Tunggu dulu... ada yang aneh dengan foto ini. Pencahayaannya tidak konsisten, dan posisi tangan Liam terlihat terlalu kaku untuk sebuah pelukan alami. Olive, aku merasa ini editan atau setidaknya ini adalah jebakan yang direncanakan. Thalia bukan lawan yang mudah, dia licik."
"Tapi dia tidak mengangkat teleponku, Zee! Berkali-kali!" teriak Olive frustasi.
Zee terdiam. Ia tidak bisa memberikan pembelaan untuk bagian itu. "Kita akan urus ini nanti. Sekarang, kau tidak boleh pulang ke rumah Aurevyn dalam keadaan seperti ini. Ayahmu atau Brian bisa mengamuk jika melihatmu hancur begini. Kita ke rumah Vera saja, rumahnya yang paling dekat dari sini. Kita akan menginap di sana malam ini."
Olive hanya mengangguk lemah, menyandarkan kepalanya di jendela mobil yang basah. Di balik kegelapan malam Monako, hatinya yang baru saja mulai berbunga kini terasa hancur berkeping-keping, meninggalkan luka yang mendalam tepat sebelum hari pernikahannya tiba.
Kita pada pngen type cwo gini, Ade ❤️🤗😘
Mg Liam selamat & segera sehat kembali y ❤️🤗😘