NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Tumbal / Hantu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Suara di Balik Dinding Besi

Bau amis darah bercampur formalin yang menyengat seolah mencekik leher Elara, memaksanya menahan napas di tengah kepanikan yang melanda. Sosok hitam di sudut ruangan linen itu tidak lagi sekadar bayangan abstrak, melainkan mulai memadat membentuk siluet manusia dengan anggota tubuh yang tidak proporsional. Kabut tipis yang menguar dari lantai semen retak membuat pandangannya kabur, namun rasa takut yang menjalar di tulang belakangnya terasa begitu nyata.

Elara mundur perlahan hingga punggungnya menabrak dinginnya rak besi yang dipenuhi tumpukan kain putih kusam. Matanya liar menyapu sekeliling ruangan sempit itu, mencari celah sekecil apa pun yang bisa menyelamatkannya dari entitas yang kini mulai melangkah maju dengan gerakan patah-patah. Pintu utama sudah terkunci rapat, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya dari sisi luar.

"Kau tidak seharusnya berada di sini, Nona Senja," bisikan itu terdengar bukan dari mulut sosok di depannya, melainkan bergema langsung di dalam kepalanya. Suara itu terdengar basah dan parau, seperti gesekan dua batu nisan tua yang saling beradu di tengah malam buta.

Elara menggeleng kuat, berusaha mengusir suara yang mencoba meruntuhkan kewarasannya, lalu mendongak ke atas saat mendengar suara dengungan mesin. Di sana, tertutup debu tebal dan sarang laba-laba, terdapat sebuah lubang ventilasi tua dengan jeruji besi yang tampak sudah berkarat pada engselnya. Itu adalah satu-satunya jalan keluar yang masuk akal, meskipun tingginya nyaris mencapai langit-langit ruangan yang suram ini.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Elara memanjat rak besi di belakangnya, mengabaikan rasa sakit saat sudut logam tajam menggores telapak tangannya. Rak itu berguncang hebat di bawah bobot tubuhnya, menimbulkan suara berdecit yang menyakitkan telinga di ruangan yang hening itu. Sosok bayangan di bawah sana mendongak, wajahnya yang rata tanpa fitur kini mulai menampakkan lubang hitam menganga yang menyerupai mulut.

"Jangan... pergi..." erangan itu semakin keras, diikuti dengan suhu ruangan yang turun drastis hingga napas Elara mengepul menjadi uap putih. Jari-jemari Elara dengan panik meraba sekrup penahan ventilasi, bersyukur bahwa kelembapan basement RSU Cakra Buana telah membuat besi itu keropos dimakan usia.

Dengan hentakan sekuat tenaga, Elara menendang sisi kiri penutup ventilasi hingga engselnya patah dan terjatuh ke lantai dengan suara dentuman keras. Ia menarik tubuhnya masuk ke dalam lorong sempit itu tepat saat tangan-tangan hitam memanjang dari sosok di bawah sana mencoba menggapai pergelangan kakinya. Elara memekik tertahan, menendang udara kosong sebelum berhasil menyeret seluruh tubuhnya masuk ke dalam kegelapan saluran udara.

Di dalam lorong ventilasi, kegelapan terasa lebih pekat dan menekan dada, seolah dinding-dinding seng ini hidup dan bernapas. Debu tebal yang mengendap selama puluhan tahun langsung menyerbu rongga hidungnya, memicu batuk yang berusaha keras ia tahan agar tidak menimbulkan gema. Elara merayap perlahan dengan siku dan lutut, merasakan getaran halus dari mesin pendingin sentral yang entah berada di mana.

Setiap inci pergerakannya terasa menyiksa, ditambah lagi dengan imajinasi liar tentang apa yang mungkin bersembunyi di tikungan lorong gelap di depannya. Suara cakar tikus yang berlarian di balik dinding terdengar seperti bisikan arwah penasaran yang menuntut keadilan. Namun, Elara tahu ia tidak boleh berhenti; berhenti berarti mati, atau nasib yang jauh lebih buruk daripada kematian.

Setelah merayap selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Elara melihat cahaya remang-remang menembus dari celah jeruji di lantai lorong ventilasi beberapa meter di depan. Ia memperlambat gerakannya, menahan napas agar keberadaannya tidak terdeteksi oleh siapa pun yang berada di ruangan bawah sana. Jantungnya berdegup kencang saat telinganya menangkap suara percakapan yang samar namun familiar.

"...kondisinya semakin tidak stabil, kita harus mempercepat prosesnya sebelum bulan purnama berakhir," suara bariton itu terdengar tegas, namun ada getaran kecemasan yang terselip di sana.

Elara mendekatkan wajahnya ke celah jeruji, mengintip ke dalam ruangan yang tampak seperti bekas kamar operasi yang telah disulap menjadi ruang arsip rahasia. Di tengah ruangan, berdiri Dr. Arisandi dengan jas putihnya yang ternoda debu hitam, sedang berdiri menghadap sebuah meja besi tua. Di atas meja itu, bukan pasien yang terbaring, melainkan tumpukan dokumen kuno dan beberapa wadah kaca berisi cairan keruh.

"Saya mengerti risikonya, tapi jika 'penjaga' itu lepas kendali, seluruh fondasi RSU Cakra Buana akan runtuh," Dr. Arisandi melanjutkan bicaranya, kali ini sambil menekan ponsel ke telinganya. "Pak Darto mulai mencurigai area basement level 4. Kita perlu menyingkirkannya, atau setidaknya membuatnya sibuk dengan gangguan lain."

Darah Elara berdesir hebat mendengar nama Pak Darto disebut dalam konteks yang mengerikan itu. Ternyata dugaan mereka selama ini benar; ada konspirasi besar yang melibatkan pihak manajemen rumah sakit dengan kekuatan supranatural yang menghuni tanah ini. Dr. Arisandi bukan sekadar dokter forensik biasa, dia adalah perantara yang menjaga 'perjanjian' itu tetap berjalan.

Elara mencoba menggeser posisinya agar bisa melihat lebih jelas apa yang sedang dilakukan sang dokter pada wadah kaca tersebut. Namun, nasib buruk sepertinya belum bosan mempermainkannya; siku Elara menyenggol sebuah baut longgar yang tergeletak di dasar lorong ventilasi. Baut kecil itu menggelinding jatuh melewati celah jeruji, memantul di atas meja operasi dengan bunyi 'ting' yang nyaring dan menggema.

Dr. Arisandi seketika menghentikan percakapannya, tubuhnya menegang kaku sebelum perlahan mendongak menatap langit-langit ruangan. Tatapan matanya yang tajam di balik kacamata tebal itu seolah menembus kegelapan lorong ventilasi, tepat mengunci posisi di mana Elara bersembunyi.

"Tikus kecil rupanya sudah masuk ke perangkap," gumam Dr. Arisandi dingin, senyum tipis yang mengerikan tersungging di bibirnya. Ia meletakkan ponselnya, lalu berjalan santai menuju dinding di mana terdapat tuas pengendali aliran udara.

Kepanikan kembali meledak di dada Elara saat ia menyadari apa yang akan dilakukan dokter itu. Suara mesin berdengung semakin keras, berubah menjadi raungan turbin yang memekakkan telinga. Angin kencang tiba-tiba berhembus dari arah belakang Elara, mendorong tubuhnya dengan kekuatan yang tidak wajar menuju ujung lorong yang buntu.

"Kau tidak bisa lari, Elara!" teriak Dr. Arisandi dari bawah, suaranya terdengar gembira sekaligus gila. "Arcapura butuh tumbal baru untuk memperbarui segelnya!"

Elara berusaha mencengkeram sambungan pelat besi dengan jari-jarinya yang perih, namun tekanan udara itu terlalu kuat. Tubuhnya terdorong maju, meluncur melewati bagian ventilasi yang miring tajam ke bawah. Ia tergelincir tanpa kendali, meluncur dalam kegelapan total seperti ditelan kerongkongan raksasa besi.

Jeritan Elara tertelan oleh deru angin saat ia akhirnya terhempas keluar dari saluran pembuangan, jatuh berguling di atas lantai keramik yang dingin dan basah. Rasa sakit menghantam bahu dan pinggangnya, membuat pandangannya berkunang-kunang selama beberapa detik. Aroma dupa dan kemenyan yang sangat pekat langsung menyergap indra penciumannya.

Elara mengerang pelan, berusaha bangkit sambil memegangi bahunya yang terasa remuk. Saat pandangannya mulai fokus, ia menyadari bahwa ia tidak jatuh di ruang arsip tempat Dr. Arisandi berada tadi. Ruangan ini jauh lebih tua, dengan dinding batu bata merah yang telanjang dan lumut yang tumbuh subur di setiap sudutnya.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah sumur tua yang ditutup dengan papan kayu jati yang diukir dengan simbol-simbol aneh. Dan di sana, berdiri membelakanginya, adalah sosok Pak Darto yang sedang berlutut. Namun ada yang salah; satpam tua itu tidak bergerak sama sekali, seolah sedang dalam keadaan trans atau hipnosis.

"Pak Darto?" panggil Elara dengan suara parau, berharap sekutu satu-satunya itu akan menoleh dan memberikan rasa aman. Namun, ketika sosok itu perlahan memutar kepalanya, Elara menyadari bahwa mata Pak Darto telah berubah menjadi putih sepenuhnya, tanpa pupil, menatap kosong ke arahnya.

"Dia tidak ada di sini lagi, Nak," suara itu keluar dari mulut Pak Darto, namun itu bukan suara satpam yang ramah itu. Itu adalah suara ganda, gabungan antara pria tua dan wanita yang menangis. "Kau telah masuk ke jantung Cakra Buana, tempat di mana yang hidup dan yang mati saling bertukar tempat."

Langkah kaki terdengar dari lorong di belakang Elara, lambat dan penuh percaya diri. Dr. Arisandi muncul dari kegelapan sambil menepuk-nepuk debu dari jas putihnya, memegang sebuah skalpel bedah yang berkilau di bawah cahaya lampu bohlam yang redup. Situasi ini menjepit Elara di antara dua ancaman mematikan; sains gila di belakangnya, dan klenik kuno di hadapannya.

"Pilihan yang sulit, bukan?" Dr. Arisandi terkekeh pelan, memainkan skalpel di jari-jarinya. "Menjadi bagian dari sejarah medis Arcapura, atau menjadi penjaga abadi di sumur tua ini. Tapi jangan khawatir, Elara. Keduanya sama-sama menyakitkan hanya di awal saja."

Elara mundur selangkah, tangannya meraba saku celananya dan merasakan dinginnya gagang senter taktis yang masih ia bawa. Ia belum habis. Naluri bertahan hidupnya berteriak lebih keras daripada rasa takutnya. Di ruangan bawah tanah yang terkutuk ini, Elara bersumpah ia tidak akan menjadi sekadar catatan kaki dalam sejarah kelam rumah sakit ini.

1
deepey
syukurlah satu pasak sudah tercabut
chitra
seru kak
deepey
ya ampun udah seminggu elara berjuang bertahan hidup... pasti fisik dan mentalnya udah lelah bgt
deepey
ayo elara cepat kabur, sebelum arisandi datang.
deepey
elara cepat cari jalan keluar💪
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!