Dina Aurelia, seorang wanita berusia 24 tahun yang harus menerima kenyataan pahit hamil anak mantan pacarnya.
Dina mencoba meminta pertanggungjawaban kepada Ernando Ari, mantan kekasihnya. Akan tetapi, justru penolakan yang diterima Dina. Nando tak mengakui anak yang dikandung Dina dan justru menuduh Dina telah bermain dengan pria lain.
"Tidak, aku tak pernah melakukan itu padamu! Mengapa kamu melakukan fitnah padaku? Pasti anak itu bukan anak ku, tetapi anak dari pria lain. Kau tau kan kalau aku akan menikahi wanita yang aku cinta, mana mungkin aku melakukan hal itu padamu."
- Ernando Ari -
"Baiklah, jika kau tak mau mengakuinya. Aku tak masalah. Namun, satu hal yang harus kamu ingat. Jangan pernah menyesal di kemudian hari, jika anak ini lahir ke dunia tak mengakui kamu sebagai Ayahnya.
- Dina Aurelia -
Bagaimana nasib Dina? Jalan apa yang akan Dina pilih? Akankah Dina ikhlas atau memilih berjuang mendapatkan Nando, walau Nando telah berstatus suami orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyaSyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
So sweet
"Akhirnya sampai juga," ujar Rian. Saat mobil mereka sudah terparkir di halaman parkir kosan Dina. Dina turun lebih dulu untuk membuka pintu kamarnya, dan Rian menurunkan barang Dina satu persatu dan membawanya ke kamar kosan Dina.
"Sayang, aku langsung pulang ya. Sudah larut malam banget, besok aku harus kerja. Kalau kamu besok mau ke kantor datang saja, nanti kamu langsung aku bawa ke Om Andi. Mungkin saja kamu mau pamitan dulu sama teman-teman di sana," ucap Rian.
Mendengar penuturan Rian, entah mengapa Dina menjadi sedih. Jika dirinya tak mengalami hamil diluar nikah, dia pasti tak akan berasa di posisi seperti sekarang. Terpaksa harus berhenti bekerja karena merasa malu, jika teman-teman di pekerjaan mengetahui kondisi yang dialami olehnya.
"Tak perlu bersedih, semua hanya sementara kok. Setelah anak ini lahir, kamu bebas memilih. Semua aku serahkan kepada kamu. Aku tak akan memaksa kamu untuk menuruti keinginan aku, memaksa kamu untuk menjadi ibu rumah tangga. Yang terpenting bagi aku, kamu bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan," ujar Rian.
"Sudah ya jangan nangis! Semua sudah terjadi, dan tak akan pernah kembali lagi. Lebih baik kamu jalani dengan baik kedepannya. Aku akan berusaha untuk melindungi kamu, agar tak ada satu orang pun yang membully kamu. Termasuk kedua orang tua aku. Aku akan menikahi kamu secepatnya, agar kamu tak merasa sendiri mengurus anak itu," ucap Rian lagi dan Dina hanya menganggukkan kepalanya. Dirinya merasa sedikit tenang.
Rian pamit pulang, Dina hanya mengantar Rian sampai depan pintu kamar kosnya. Karena Rian melarangnya keluar, dirinya justru menyuruh Dina segera beristirahat.
"Kamu baik banget si, Mas. Aku beruntung mendapatkan kamu. Semoga rasa cinta kamu ke aku tidak berubah sampai kapanpun," ujar Dina.
Rian memilih untuk langsung pulang ke rumahnya. Dirinya harus segera beristirahat, karena besok dirinya harus beraktivitas kembali. Setelah pulang bekerja, dia ingin ke rumah orang tuanya untuk membahas masalah pernikahan dirinya dengan Dina.
❤️❤️❤️
Jam alarm di ponsel Rian sudah berdering, sebagai tanda bahwa dirinya harus bangun untuk menjalankan ibadah sholat shubuh dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Tak ada kata lelah yang Rian rasa, dia harus bertambah semangat dalam bekerja. Karena sebentar lagi dirinya harus menjadi kepala keluarga yang harus memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya kelak.
Rian baru saja sampai di kantor, dan di sambut oleh para karyawan yang berada di posisi di bawahnya. Pesona Rian selalu menggetarkan hati kaum hawa. Diam-diam banyak karyawan wanita yang terpikat kepadanya. Namun, Rian terlihat dingin jika sedang berada di perusahaan.
"Pak Rian, kemana saja ya? Kok baru masuk," ujar Astrid karyawan marketing di perusahaan tersebut.
"Iya. Dengar-dengar gosip katanya dia mau menikah. Lagi persiapan pernikahan," sahut Anya.
"Serius lo? Patah hati dong gue," ujar Astrid lagi.
"Dia mana mau sama lo. Tampilan lo seksi gitu. Setau gue, dia suka wanita yang sederhana," ucap Anya.
"Siapa ya wanita yang beruntung mendapatkan dia? Penasaran gue. Gue di kasih duda nya saja mau, apalagi perjaka gitu," cerocos Astrid.
Mereka berdua adalah karyawan yang sering bergosip. Terutama Rian. Mereka pasti akan kaget, jika mengetahui Rian menikah dengan Dina. Karena setau mereka, Dina menjalin hubungan dengan Nando. Nando sering mengantar jemput Dina ke kantor.
Meninggalkan Rian yang sibuk berkutat dengan berkas-berkas yang perlu dia cek, Dina justru sedang duduk termenung. Dirinya merasa jenuh berdiam diri di kosan. Dia rindu pekerjaannya. Menjadi orang sukses adalah impian Dina. Namun, semua sirna sejak Nando menghancurkan dirinya.
Lamunan Dina terhenti, saat Rian melakukan panggilan video dengannya. Entah ada ikatan batin atau tidak, tiba-tiba saja Rian teringat belum menghubungi Dina. Dia ingin mengingatkan Dina untuk sarapan pagi, dan menanyakan apakah Dina jadi ke kantor atau tidak.
"Assalamualaikum, calon istri aku yang cantik. Lagi apa?" sapa Rian saat pertama kali terhubung panggilan video dengan Dina.
"Walaikumsallam. Aku lagi duduk saja. Bosan aku Mas di kosan terus," rengek Dina.
"Sabar! Semua hanya sementara. Kamu sudah makan?" ucap Rian.
Dina mengatakan kalau dirinya belum mau sarapan, lagi pula dia masih malas makan dan jalan membeli makanan. Mendengar ucapan Dina seperti itu. Rian langsung mengatakan kalau dirinya akan memesankan makanan untuk Dina lewat aplikasi online.
"Pokoknya aku enggak mau dengar lagi ya, kamu alasannya malas makan. Ingat kamu itu perlu asupan gizi," cerocos Rian dan Dina mengatakan iya.
Dina sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, untuk bertemu Pimpinannya. Bagaimanapun dia ingin keluar secara baik-baik. Berpamitan dengan pemimpin dan para karyawan di sana.
"Hei, Din. Kemana saja lo? Setelah kejadian lo pingsan, lo menghilang begitu saja," ujar Andini.
Untungnya saat itu ada Sania sang sahabat, yang menolongnya. Sania langsung mengajak Dina ke dalam. Sungguh tak enak berada di posisi Dina saat itu. Dirinya merasa kikuk, berada di perusahaan tempat dia bekerja. Jantungnya juga sudah berdegup kencang, dia takut kalau temannya merasa curiga dengannya. Dirinya merasa malu.
"Lo sudah sehat Din? Lo balik kapan dari Yogya," tanya Sania.
Dina bilang kepada Sania kalau dirinya akan pulang ke Yogya, tetapi dirinya tak cerita kalau Dina pulang bersama Rian. Dina terlihat lebih banyak diam, bahkan dirinya tak berani cerita kalau dirinya akan menikah dengan Rian.
"Gue mau resign dari perusahaan ini. Kedatangan gue ke sini karena ingin bertemu Pak Andi sama pamit dengan teman-teman di sini," ucap Dina lirih. Sebenarnya, dia tak ingin seperti ini.
Dina terlihat tegang menghampiri Pak Andi, untungnya saat itu sedang ada Rian di ruangannya. Aura ketakutan tergambar di wajah Dina. Entah mengapa dirinya merasa bersalah. Setelah suara ketukan pintu, Pak Andi menyuruh untuk masuk. Rian tersenyum saat mendengar suara calon istrinya yang berada di depan pintu.
"Assalamualaikum, maaf Pak mengganggu," ujar Dina.
"Walaikumsallam. Silahkan masuk, Din. Sini duduk," ujar Pak Andi.
Rian menyambut calon istrinya dengan senyuman. Senyum manis Rian, membuat Dina meleleh. Bahkan wajah Rian lebih tampan dari Nando Dengan perasaan malu, Dina duduk di sebelah Rian. Karena hanya tempat itu yang kosong.
Om Andi, berpura-pura tak mengetahui. Padahal Rian sudah cerita, kalau dirinya akan menikah dengan Dina. Awalnya Om Andi terkejut, dirinya tak menyangka. Kalau Rian keponakannya memiliki hubungan dengan Dina. Tiba-tiba dirinya di kejutkan dengan rencana pernikahan mereka.
"Oh ya, ada apa Din? Kemana saja kamu? Mengapa tak ada kabar berita?" tanya Om Andi.
Dina menjadi bertambah tak enak. Padahal waktu itu Rian bilang kepadanya, kalau Rian sudah menceritakan kepada om sekaligus pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Dina melirik ke arah Rian, seakan dirinya bertanya. Mengapa Om Andi bertanya seperti itu kepadanya.
"Ngeselin banget sih, bilangnya sudah bicara. Sekarang Om-nya nanya gitu? Berarti dia bohongin aku," umpat Dina dan akhirnya dia memberikan tatapan tajam ke arah Rian.