Kusuma Pawening, gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA itu tiba-tiba harus menjadi seorang istri pria dewasa yang dingin dan arogan. Seno Ardiguna.
Semua itu terjadi lantaran harus menggantikan kakanya yang gagal menikah akibat sudah berbadan dua.
"Om, yakin tidak tertarik padaku?"
"Jangan coba-coba menggodaku, dasar bocah!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Wening menutup mulutnya rapat-rapat, menyimak dengan seksama siraman rohani yang diberikan suaminya pagi ini dengan kecepatan delapan koma lima kata perdetik. Rasanya ingin membekap mulutnya agar berhenti mengomel, sepertinya itu hal yang mustahil. Bahkan, hingga sampai halaman sekolah, pria itu belum selesai marah-marah.
Krik! Krik!
Wening masih setia menatapnya tanpa minat. Lebih baik pura-pura nurut karena sesungguhnya ia malas berdebat pagi ini.
"Om, sudah sampai, Wening masuk kelas dulu ya, nanti sambung lagi pesan-pesannya. Bila perlu dibikin podcast gitu Om. Hehe ... assalamu'alaikum!" pamit Wening sungguh semakin membuat pria itu kesal saja.
"Kamu dengerin nggak sih dari tadi aku ngomong, bisa ngerti 'kan?" tekan pria itu cukup garang.
"Ngerti Om, paham!" jawabnya seserius mungkin.
"Dilarang panggil Om, aku bukan Om kamu!" protes Seno kembali murka.
"Siap Pak Seno!" ralat Wening dengan panggilan baru. Pria itu semakin mendelik. Bocah satu ini emang tidak ada sopan-sopannya.
"Ini apa lagi, kapan saya kawin sama ibu kamu. Bapak, Bapak, saya bukan Bapak kamu! panggil dengan nama yang baik dan benar."
"Haish ... ribet deh, kasih contoh. Panggilan yang baik dan benar," ujar Wening banyak aturan.
"Ya manggilnya yang enak didengar gitu, itu namanya menghormati dan menghargai."
"Baiklah suamiku, Sayang. Aku berangkat dulu," ujar gadis itu tersenyum manis.
Sungguh panggilan menggelikan, tapi demi kelancaran paginya gadis itu harus menahan amarah.
"Apalagi? Udah sana masuk, aku mau berangkat ke kantor," ujar Seno merasa aneh.
"Om nggak mau nitip uang? Kasihan lambung kecilku ini butuh jajan," ujarnya nyengir tanpa dosa.
"Ish ... merepotkan saja, emang tadi belum?"
Gadis itu menggeleng, biasanya Seno menaruh uang saku istrinya di atas meja belajar. Tapi berhubung pagi itu cukup riweh dan terjadi pertikaian kecil, jangankan uang saku, yang ada ceramah cukup panjang yang ia dapat.
Seno mengambil dompetnya, membuka dan mencari-cari uang cash yang terselip di dompetnya. Nihil, tak menemukan satu lembar pun di sana. Membuat pria itu menggerutu kesal.
"Ada nggak Om, lama amad, keburu masuk nih," ujar gadis itu menyela.
"Nggak ada uang cash, nanti biar Wahyu ambil dulu, nanti disusulin aja deh," ujar pria itu mudah saja.
"Hish ... ribet deh, jadi orang kaya nggak jelas banget, masa uang cash aja nggak punya. Tahulah!" Wening menggerutu sebal.
"Nanti disusulin, bila perlu aku beli kantinnya biar kamu bisa jajan tanpa ribet."
Wening mrengut seraya berjalan meninggalkan suaminya. Seno sendiri langsung meninggalkan lokasi. Tepat di gerbang sekolah pintu gerbang hendak ditutup satpam yang berjaga.
"Pak! Tunggu! Jangan ditutup dulu!" pekik seorang pria menahan gerbang tralis setinggi dua meter itu.
Keduanya saling melirik dalam diam, tak bertegur sapa. Sedetik kemudian bersamaan mengiba agar bisa masuk karena hanya terlambat lewat tiga menit saja.
"Pak, dibayar berapa sih, cuma telat tiga menit doang buka! Ini buat Bapak!" sela Yuda terlihat tidak seperti biasanya. Orang pendiam kalau ngamuk emang serem.
"Kamu mau nyogok saya?" tanya Pak Satpam garang.
"Buka nggak, aku bilangin ke kepala yayasan biar Bapak dipecat sekalian!" bentak pemuda seumuran Wening itu.
"Lain kali jangan terlambat lagi, cepet masuk!" titah satpam itu memberi akses masuk.
Yuda kembali naik ke atas motornya, ia berhenti sejenak tepat di pintu gerbang.
"Naik cepetan! Mau telat lo!" tukas pria itu terlihat galak.
Alamak, salah apa diriku pagi-pagi gini dibentak-bentak cowok sana sini.
Wening menunjuk diri sendiri dengan jari telunjuknya. Memastikan pria itu berkata pada dirinya.
"Iya elo, cepetan! Siapa lagi!" geram pria itu kesal.
Gadis itu pun naik dalam boncengan. Motor melaju hingga ke parkiran khusus siswa-siswi. Wening langsung turun berbarengan dengan gumamam terima kasih.
Pria itu pun berlalu begitu saja mendahului gadis itu yang berjalan menuju kelasnya.
"Cie ... barengan!" celetuk salah satu teman cowok lainnya.
"Bacot! Bosan sekolah di sini?" balas Yuda sepertinya tak senang.
Wening dibuat melongo dengan tingkah pria dingin yang menyeramkan itu.
"Kok lo bisa barengan sama Yuda, sudah gue bilang jangan cari masalah!" bidik Silvi memperingatkan.
"Nggak kok, cuma dari pintu gerbang, emang kenapa? Heboh banget kayaknya," jawab gadis itu santai.
"Semoga elo selamet hari ini dan seterusnya, gue nggak mau kena apes," ujar Silvi waswas.
"Pada nggak jelas, kenapa sih?" tanya Wening sungguh tidak tahu.
Gadis itu mencoba menengok ke belakang. Di mana tempat favoritnya Yuda duduk. Pria itu terlihat diam tanpa kata, balas menyorot Wening tajam.
"Astaga! Serem amad," batin Wening menerka.
Usai pelajaran pertama, Wening keluar sebentar menuju halaman utama sekolahan. Tepat di sana seseorang tengah menunggunya.
"Om, kok Om yang datang? Om Wahyu mana?"
"Ngapain cari yang nggak ada, aku udah bela-belain ke sini. Ini uang sakunya. Ingat, nanti nunggu jemputan! Jangan membuat masalah!" pesan pria itu serius.
"Hmm!" jawab gadis itu datar saja.