Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Hutan Belantara Selatan telah berubah menjadi neraka dunia.
Tanah bergetar hebat seolah-olah bumi sedang menggigil ketakutan. Debu tebal membubung tinggi menutupi matahari, menciptakan senja buatan yang mengerikan di tengah hari. Suara patahan pohon raksasa terdengar seperti ledakan meriam yang bersahut-sahutan, ditimpali oleh lolongan ribuan binatang buas yang berlari dalam satu kawanan gila.
Gelombang Binatang (Beast Tide).
Ini adalah mimpi buruk bagi setiap kultivator rendah. Bukan tentang seberapa kuat satu monster, tetapi tentang jumlah mereka yang tak terbatas bagai air bah.
Lin Xiao bergerak di atas kanopi pohon. Kakinya berpijak ringan di dahan-dahan yang bergoyang, melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan kelincahan seekor kera iblis.
Di bawahnya, sungai monster mengalir deras. Babi Hutan Berduri Besi, Serigala Angin, Macan Tutul Bayangan, hingga Beruang Tanah—spesies yang biasanya saling memangsa kini berlari bersama dalam satu arah, didorong oleh insting purba yang sama.
"Arah Tenggara. Lembah Kabut Beracun," gumam Lin Xiao, matanya tajam mengamati pergerakan massa. "Sesuatu di sana memanggil mereka. Atau mungkin, energi yang bocor dari makam kuno membuat mereka mabuk kepayang."
Tiba-tiba, telinga Lin Xiao menangkap suara lain di antara gemuruh monster. Suara dentingan logam dan teriakan manusia.
"Tahan formasi! Jangan biarkan mereka menembus lingkaran!"
Itu suara perempuan. Jernih, tegas, namun terselip nada kepanikan.
Lin Xiao berhenti sejenak di dahan pohon ulin raksasa. Dia menoleh ke arah sumber suara, sekitar seratus meter di sebelah kirinya.
Di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi batu-batu besar, sekelompok peserta turnamen sedang bertarung mati-matian. Ada lima orang. Mereka mengenakan seragam biru muda dengan bordiran awan putih—Keluarga Su.
Di tengah lingkaran itu berdiri seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang yang diikat kuda. Dia memegang pedang panjang ramping yang memancarkan hawa dingin.
Su Mei. Putri kebanggaan Keluarga Su, kultivator Tingkat 4 Puncak.
Namun, situasi mereka kritis. Mereka dikepung oleh kawanan Kera Api Merah (Red Fire Apes). Ada sekitar dua puluh ekor kera, masing-masing setinggi dua meter dengan bulu merah menyala dan taring keluar. Mereka adalah monster Tingkat 1 Puncak, tapi mereka menyerang secara berkelompok dan bisa menyemburkan bola api kecil.
"Nona Su! Tinggalkan kami! Lari!" teriak salah satu pengawal muda Keluarga Su saat seekor kera berhasil mencabik bahunya.
"Tidak! Kita masuk bersama, kita keluar bersama!" tolak Su Mei keras kepala. Pedangnya menari cepat, menciptakan Tebasan Bunga Es yang membekukan udara. Dua ekor kera yang menerjangnya terpental mundur dengan luka beku di dada.
Tapi jumlah musuh terlalu banyak.
Seekor Kera Api yang lebih besar—kemungkinan pemimpin kawanan—melompat dari atas batu di belakang Su Mei. Ia memanfaatkan celah saat Su Mei sibuk menangkis serangan dari depan.
"Awas!" teriak pengawal itu.
Terlambat. Su Mei berbalik, tapi kera itu sudah di udara, cakarnya yang membara siap merobek punggung gadis itu.
Su Mei membelalakkan mata. Waktu seolah berhenti. Dia melihat kematian di depan mata.
Apakah aku akan mati di sini?
VWOOOM!
Tepat sebelum cakar itu menyentuh kulit halusnya, sebuah bayangan hitam jatuh dari langit bagaikan meteor.
Bukan meteor batu, tapi meteor manusia.
CRAAAK!
Lin Xiao mendarat tepat di atas kepala pemimpin Kera Api itu. Kedua kakinya menghantam tengkorak monster itu dengan berat tubuh ditambah momentum gravitasi.
Kepala kera itu meledak seketika seperti semangka busuk yang dijatuhkan dari menara. Tubuh besarnya ambruk ke tanah, gepeng di bawah injakan Lin Xiao.
Debu dan darah berhamburan.
Hening. Kera-kera lain yang sedang menyerang mendadak berhenti, kaget melihat pemimpin mereka mati dalam sekejap mata.
Su Mei terpaku. Dia menatap punggung sosok yang berdiri di depannya. Sosok itu mengenakan jubah hitam, rambutnya berkibar liar, dan di punggungnya ada pedang hitam besar yang bahkan belum dicabut.
Lin Xiao berdiri tegak di atas mayat kera itu. Dia menatap kawanan kera yang tersisa dengan tatapan dingin dan niat membunuh yang meluap-luap.
"Enyah," ucap Lin Xiao pelan.
Dia melepaskan sedikit aura Qi Naga dari dalam tubuhnya. Bagi manusia, aura ini hanya terasa menekan. Tapi bagi binatang buas, aura ini adalah aura predator puncak—Raja dari segala binatang.
Kera-kera itu gemetar. Insting mereka menjerit bahaya. Tanpa dikomando, mereka berbalik dan lari tunggang langgang, lebih memilih menghadapi Beast Tide daripada menghadapi monster berbentuk manusia ini.
Lin Xiao turun dari bangkai kera, lalu menoleh ke arah Su Mei.
"Kau masih hidup?" tanyanya datar.
Su Mei mengerjap, baru sadar dari keterkejutannya. "L-Lin Xiao? Kau... kau menyelamatkanku?"
"Jangan salah paham," potong Lin Xiao. Dia menendang mayat kera itu, mengambil Inti Monster merah dari sisa kepalanya. "Aku hanya kebetulan lewat dan melihat 'dompet' ini melompat ke arahmu. Sayang kalau Inti Monster dibuang."
Su Mei terdiam. Rumor mengatakan Lin Xiao itu sombong, kejam, dan gila. Tapi melihatnya dari dekat, Su Mei melihat sesuatu yang lain. Ketenangan yang menakutkan.
Empat pengawal Keluarga Su yang tersisa menjatuhkan senjata mereka, lutut mereka lemas karena lega. Mereka menatap Lin Xiao dengan pandangan penuh rasa terima kasih sekaligus takut.
"Terima kasih, Tuan Muda Lin," kata Su Mei, mencoba menenangkan detak jantungnya. Dia menyimpan pedangnya dan membungkuk hormat—gestur yang jarang dilakukan oleh putri bangsawan kepada anggota keluarga saingan. "Keluarga Su berhutang nyawa padamu hari ini."
"Hutang bisa dibayar nanti," Lin Xiao melihat ke langit. "Sekarang, kalian punya dua pilihan. Mundur ke pinggiran hutan dan sembunyi di gua sampai gelombang ini lewat, atau..."
Lin Xiao menunjuk ke arah Tenggara, ke pusat kekacauan.
"...Ikut aku menuju pusat badai."
Su Mei mengerutkan kening. "Pusat badai? Maksudmu Lembah Kabut Beracun? Tapi semua monster berlari ke sana! Itu bunuh diri!"
"Justru itu," Lin Xiao menyeringai tipis. "Di mana ada bahaya besar, di situ ada peluang besar. Gelombang monster ini terjadi karena sesuatu di lembah itu terbuka. Kemungkinan besar warisan kuno."
Mata Su Mei membelalak. Warisan kuno! Sebagai putri keluarga pedagang kaya, dia tahu nilai dari informasi itu. Risiko tinggi, hasil tinggi. Jika dia bisa mendapatkan satu saja teknik atau senjata dari reruntuhan kuno, posisi Keluarga Su akan meroket.
Dia menoleh pada pengawalnya. "Kalian terluka. Mundurlah ke pinggiran hutan. Bawa sinyal suar dan tunggu bantuan."
"Nona! Anda tidak mungkin pergi sendiri!" protes salah satu pengawal.
"Aku tidak sendiri," Su Mei melirik Lin Xiao. "Aku bersama Juara Babak Duel."
Lin Xiao mengangkat alis. "Aku tidak ingat menyetujui untuk menjadi pengasuh bayi."
"Aku bukan bayi," Su Mei menatap tajam mata Lin Xiao. Sifat keras kepalanya muncul. "Aku kultivator Tingkat 4 Puncak. Aku punya teknik elemen Es yang bisa memperlambat musuh. Kau tipe petarung jarak dekat yang brutal, kau butuh pengendali kerumunan (crowd control). Kita bisa bekerja sama. Hasil bagi dua."
Lin Xiao menatap gadis itu selama beberapa detik. Dia menilai. Su Mei memang benar. Teknik Es Keluarga Su cukup berguna untuk membekukan gerakan monster, memberinya celah untuk membunuh dengan satu serangan. Efisiensi.
"Tujuh-tiga," kata Lin Xiao. "Aku tujuh, kau tiga."
Su Mei menggertakkan gigi. Rakus sekali! Tapi tanpa Lin Xiao, dia nol besar. "Enam-empat."
"Tujuh-tiga. Atau aku pergi sendiri," Lin Xiao berbalik, mulai berjalan.
"Baik! Tujuh-tiga! Dasar pelit!" seru Su Mei kesal, lalu bergegas menyusul langkah lebar Lin Xiao.
Para pengawal Keluarga Su hanya bisa melongo melihat nona mereka yang biasanya anggun dan tenang kini berdebat harga dengan "Iblis Lin Xiao" dan berlari menuju sarang monster.