Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melatih 3 Pengecut Besar
**
Setelah mendengar cerita Sam, semua orang kembali hening. Dan Elle mulai bertanya pada dia orang lain yakni Luca dan Avin, bertanya apakah mereka punya saudara lain yang ingin dijemput atau tidak.
Keduanya serempak menjawab tidak. Membuat Elle semakin penasaran akan kehidupan asli Luca. Terlebih, wajah tampan dinginnya ini, benar-benar menarik perhatian. Tak dapat dipungkiri, Elle juga tertarik, meski banyak laki-laki tampan pernah ia jumpai Luca adalah salah satu yang tertampan.
Kulitnya sedikit berwarna tan, tapi alis, hidung, dan bibirnya benar-benar cantik. Mata dan rahangnya terlihat tajam, dan jakun yang bergerak naik turun menambah kesan maskulin. Ia benar-benar seperti malaikat? Lalu tubuhnya yang kekar alami... Pokoknya sangat tampan, pikir Elle dan memujinya dalam hati.
Luca berdehem kecil merasa diperhatikan, membuat Elle mengerjap dan buru-buru meluruskan pandangannya lagi. Sam dan Paman Jergh yang melihat interaksi keduanya lewat kaca depan mobil, saling menatap sebelum akhirnya diam-diam mengulum senyum.
"Cari tempat yang ada lebih sedikit zombie, biarkan semuanya berlatih." Ucap Elle kemudian, ia merasa untuk mengalihkan perhatian ia harus bertindak. Dan inilah tindakannya, sekaligus melatih orang-orangnya.
Mulai dari jumlah kecil, perlahan bisa dinaikkan jumlahnya sampai besar. Saat ini, prioritasnya adalah membuat orang-orang terbiasa dulu dikelilingi oleh zombie, agar ketika berhadapan dengan banyak zombie mereka tidak gemetar ketakutan seperti sebelumnya.
"20 meter di depan ada lapang kecil, zombie disana hanya sekitar 30 an." Ucap Luca memecah keheningan setelah Elle meminta mencarikannya tempat yang tidak dipenuhi zombie.
Elle menganggukkan kepalanya. "Lumayan, cocok. Kesana saja. Darrion dan paman Jergh butuh latihan ekstra. Terutama Avin, agar tidak bergantung terus pada kekuatan invisiblenya." Ucap Elle.
Jadi, ketika hummer berhenti melaju, semua orang termasuk Sam keluar dengan senjata masing-masing. Kecuali Elle yang memegang pedang, yang lain masing-masing menggunakan belati yang lebih ringan dibawa.
Elle belum mengganti semua senjata tersebut, ia belum menemukan waktu dan situasi yang cocok untuk mengeluarkan senjata dari ruangnya. Apalagi, hanya ada pedang, tombak, dan panah yang dibuat otomatis olehnya di dalam. Juga ada beberapa belati khusus bagi prajurit didunia kuno. Selain itu, massa senjatanya juga lebih berat daripada kebanyakan senjata di dunia ini.
Jadi, selain menunggu waktu dan situasi yang cocok. Elle juga akan meningkatkan kekuatan fisik setiap orang terlebih dahulu. Dengan melatih orang-orang ini, seraya membunuh zombie, ia juga akan mengarahkan agar ketangkasannya juga meningkat.
Pada saat ini, Elle bersandar pada bodi hummer, menatap empat orang dewasa dan remaja yang sudah maju berhadapan dengan zombie. Disampingnya ada Luca yang sama-sama mengawasi dalam diam.
Sesekali, Elle berteriak mengarahkan, jadi lebih efisien ketika mereka mulai menjatuhkan satu persatu zombie yang datang. Namun ketika ada satu dua zombie yang lolos, Elle juga tidak tinggal diam, ia mengeluarkan sulurnya menahan zombie itu agar tidak mencabik orangnya. Namun setelahnya, akan ada adegan memarahi karena membiarkan ikan lolos dari jaring yang membahayakan nyawa diri sendiri serta teman satu tim.
Crash! Bugh! Srett!
Suara penyerangan silih bersahutan. Elle mengangguk sedikit puas melihat efisiensi pembunuhan empat orang didepan. Cukup bagus, tapi masih kurang, masih diperlukan banyak latihan, kecuali Sam. Ia lebih baik daripada tiga lainnya, mungkin karena pengalamannya juga selama bertahun-tahun menjadi pengawalnya.
Satu persatu zombie jatuh, satu persatu zombie berkurang, sampai 2 jam kemudian zombie dilapangan kecil ini habis. Dan tiga orang jatuh terduduk dengan nafas terengah.
Sedangkan Sam berjalan kembali menghampiri Elle, "nona, aku rasa aku butuh senjata baru. Belati ini selain mudah tumpul juga sulit membunuh zombie dalam satu serangan. Sangat berisiko." Jelasnya mengeluh.
Elle tersenyum. "Memang beresiko, untuk zombie memang terlalu lambat. Hanya 30 an zombie tapi kalian menghabiskan banyak waktu. Mengecewakan." Ucap Elle, menggeleng.
Meski wajar bagi mereka, tapi Elle sengaja mengatakannya. Agar keempatnya bisa lebih cepat membunuh, agar dikesempatan lain waktu yang terpakai lebih sedikit yang lebih efisien bagi tim beranggotakan 6 orang ini. Namun, waktu 2 jam sudah melebihi kemampuan banyak orang, dalam hati sebenarnya ia cukup bangga.
"Aku akan mencari senjata lain yang lebih cocok nanti. Simpan saja dulu, belati tumpul juga masih berguna untuk manusia jelek." Ucap Elle, membuat Sam menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, waktunya membelah kepala zombie!" Ucap Elle kemudian, membuat dua orang yang belum pernah melakukannya bergidik sebelum benar-benar beraksi.
Meski dengan raut jijik, mereka tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Elle. Semuanya akan terbiasa setelah pengalaman pertama, seperti Avin dan Sam yang lebih cepat dalam aksinya mencari inti kristal.
Satu jam berlalu lagi, dari 30an zombie inti kristal yang ditemukan hanya berjumlah 8. Yang jumlahnya lumayan. Elle menerima inti tersebut setelah dibersihkan, dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu membiarkan empat orang itu mencuci bagian tubuh yang kotor termasuk wajah yang terciprat darah zombie sebelum kembali menaiki hummer, melanjutkan perjalanan yang tertunda.
Lalu memberi air dan biskuit sebagai ganjal perut setelah bertarung. Kini, Elle berada di kursi depan dengan Luca yang mengemudi, sebab Sam terlihat lelah, Elle tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi selama perjalanan, jadi membuat Luca menggantikan Sam setelah tahu Luca bisa mengemudi.
"Kakak, apakah kita akan menjalani hari-hari kita seperti ini dimasa depan?" Tanya Darrion terlihat sedih.
"Biasakan dirimu, tuan muda." Ucap paman Jergh menghibur.
"Perjalanan masih panjang, tuan muda. Kita akan pergi ke kota Q, ingat? Jangan membuat keluhan di awal." Ucap S seraya tertawa kecil.
Darrion terlihat sangat kelelahan, tapi inilah yang harus ia hadapi. Dan Elle tidak akan memanjakannya sama sekali.
"Benar. Untuk sampai ke kota Q kita harus melewati 5 kota besar dan 2 kota kecil lainnya. Lewat jalur udara, bisa sampai dalam 48 jam. Tapi lewat darat, dalam keadaan baik-baik saja bisa memakan waktu 1 bulan. Namun lihat keadaan saat ini, butuh berapa bulan agar kita bisa sampai kesana? Jika tidak bergegas, kita akan banyak membuang waktu dijalan. Jadi bersabarlah, apalagi salah satu yang menghambat perjalanan adalah pembersihan zombie. Efisiensinya juga harus ditingkatkan. Kalian semua, termasuk aku akan bekerja lebih keras di masa depan." Jelas Elle menatap Darrion lewat spion.
Membuat Darrion menelan ludah gugup, meski lelah setelah mendengar penjelasan sang kakak, ia mulai menumbuhkan percikan api semangat dalam hatinya.
"Selain meningkatkan kekuatan dan ketangkasan, kita semua juga harus meningkatkan kemampuan supernatural kita. Ingat ini, keduanya harus seimbang agar tidak mudah dikalahkan oleh yang satu tingkatan." Ucap Elle melanjutkan.
"Mari bekerja keras!" Ucap Avin berteriak kecil, seraya mengangguk paham. Membuat Elle ikut mengangguk dan tersenyum samar. Bisa diajari, pikirnya.
**