NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.28

Tidak ada seorang pun di antara mereka yang sungguh-sungguh siap ketika malam itu akhirnya runtuh ke dalam kekacauan. Bukan karena mereka tidak pernah membayangkan kemungkinan terburuk, melainkan karena bayangan-bayangan itulah yang sejak lama memenuhi pikiran mereka, bertumpuk tanpa kendali, tumbuh tanpa pernah diuji oleh nalar. Sejak malam-malam sebelumnya, sejak rumah kosong di ujung jalan itu mulai dibicarakan dengan nada berbisik, sejak alat deteksi buatan Moren lebih sering berbunyi tanpa sebab daripada diam dengan makna, sejak suara-suara kecil yang datang dan pergi seolah sengaja memilih waktu ketika manusia paling rapuh, ketakutan telah perlahan mengambil alih ruang berpikir mereka. Ia pergi diam-diam, tanpa pamit, membawa serta ketenangan, keraguan yang sehat, dan kebiasaan untuk bertanya sebelum mempercayai. Yang tertinggal hanyalah kelelahan, sugesti, dan sekelompok manusia yang berjaga di malam hari dengan keyakinan samar bahwa sesuatu, entah apa, sedang mengamati mereka dari kegelapan.

Malam itu, ketakutan tidak datang sebagai dentuman besar atau peristiwa yang tak terbantahkan. Ia datang sebagai sesuatu yang kecil dan nyaris tak berarti. Semuanya bermula dari satu bunyi pendek, krek, yang terdengar dari arah rumah kosong. Suara itu begitu ringan sehingga, andai terdengar pada siang hari, barangkali hanya akan dianggap sebagai ranting yang patah karena angin, atau seekor tikus yang salah perhitungan melompat dari genteng tua. Bahkan mungkin seekor kucing yang gagal mendarat dengan anggun. Namun malam memiliki hukum yang berbeda. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, setiap bunyi kehilangan kewajarannya dan berubah menjadi tanda tanya.

Paijo adalah orang pertama yang bereaksi. Tubuhnya membeku seketika, seolah seseorang telah memutar kunci tak kasat mata di punggungnya. Ia berdiri kaku, senter di tangannya berhenti bergerak, cahayanya jatuh lurus ke tanah, menyorot permukaan jalan yang tak menyimpan apa-apa selain debu dan bayangan kakinya sendiri. Namun justru bayangan itulah yang kini tampak asing, seakan tidak lagi sepenuhnya miliknya.

Udin, yang berdiri tak jauh darinya, menelan ludah dengan susah payah. Bunyi kecil dari tenggorokannya terdengar terlalu keras di telinganya sendiri. Ia menggenggam tongkat kayu di tangannya—tongkat yang lebih sering dipakai untuk menghalau ayam tetangga daripada untuk melawan bahaya apa pun—dan untuk pertama kalinya ia menyadari betapa ringan benda itu terasa.

Bodat telah setengah jongkok. Kakinya membuka sedikit, tubuhnya condong ke depan, seolah bersiap melesat. Posisi itu mengingatkan pada seorang pelari yang menunggu aba-aba di garis start, hanya saja wajahnya tidak menunjukkan tekad, melainkan penyesalan. Dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya mengapa ia tidak berpura-pura sakit saja malam itu.

Moren menunduk, menatap alat deteksi yang digenggamnya dengan penuh harap sekaligus curiga. Lampu-lampunya berkedip tak beraturan, hijau, merah, kuning, lalu mati, lalu menyala kembali seperti sebuah mesin yang tak lagi yakin akan fungsinya sendiri. Bunyi kecil yang keluar darinya terdengar ragu, seolah alat itu pun ikut dilanda kebingungan.

Ani, berbeda dari yang lain, justru melangkah sedikit ke depan. Matanya berbinar, bukan oleh keberanian, melainkan oleh rasa ingin tahu yang tak pernah benar-benar mengenal batas. Dalam diri Ani, ketakutan dan keingintahuan selalu berhadapan, dan hampir selalu keingintahuanlah yang menang, meski dengan harga yang kerap membuatnya menyesal kemudian.

Dan kemudian, teriakan itu meledak. Tidak seorang pun dapat memastikan siapa yang pertama kali bersuara. Yang jelas, jeritan itu menyebar dengan kecepatan yang mengalahkan logika, menular dari satu orang ke orang lain, memicu kekacauan sebelum pikiran sempat mengejar.

“AAAAAAAAAA!”

Tidak jelas siapa yang teriak duluan.

Yang jelas, teriakan itu menular lebih cepat daripada gosip warga tentang anak KKN yang katanya suka mandi malam dan minum kopi tanpa gula.

“LARI ...!!!”

“ITU GERAK!”

“BENTUKNYA TINGGI!”

“ITU BUKAN MANUSIA!”

Teriakan-teriakan itu bertabrakan di udara, saling tindih, saling menyabotase. Tidak ada yang benar-benar mendengar siapa pun. Tidak ada yang menjawab siapa pun. Yang ada hanya kepanikan kolektif yang tumbuh liar tanpa arah. Dalam hitungan detik, formasi ronda yang sejak awal memang tidak pernah rapi berubah total. Mereka berhamburan seperti ayam kaget disiram air es. Tidak ada strategi. Tidak ada komando. Tidak ada yang ingat arahan Udin lima menit lalu tentang “jangan panik dan jangan lari sendiri-sendiri.” Arahan itu sekarang terasa seperti nasihat diet di depan meja prasmanan.

Paijo berlari sambil tetap menggenggam senter yang entah kenapa justru menyorot ke langit. Cahaya putihnya membelah udara, menabrak awan tipis, seolah Paijo berharap jika langit terang, hidupnya ikut terang.

“KENAPA LANGIT, JO?!” teriak Udin sambil tersandung batu dan hampir mencium tanah.

“REFLEKS!” jawab Paijo, suaranya pecah, hampir menangis, sambil terus berlari tanpa menurunkan senter. Di otaknya, refleks adalah satu-satunya sistem yang masih aktif. Logika sudah logout.

Bodat tidak seberuntung itu. Ia menabrak jemuran bambu yang entah kenapa masih berdiri sejak siang. Jemuran itu roboh dengan suara brak-bruk, kain-kain basah beterbangan lalu jatuh menutupi wajah dan tubuhnya. Sprei, kaus, dan kain batik bermotif bunga besar menyelimuti Bodat seperti kain kafan versi domestik.

“MAAF BU MAR, BU MARNI!” teriaknya dari balik kain, yakin hidupnya akan berakhir tercekik sprei dan disalahpahami warga.

Di sisi lain, Moren justru berhenti mendadak. Bukan karena berani, tapi karena panik sambil mikir.

“STOP! STOP! ALAT GUE DETEKSI SESUATU BESAR!”

Kalimat itu seharusnya menenangkan. Sayangnya, efeknya justru sebaliknya.

“ITU BUKAN ALAT LO, ITU JANTUNG GUE!” teriak Udin sambil menarik Moren paksa.

Alat deteksi Moren tiba-tiba berbunyi panjang, tiiiiiiiiiit, lalu mati total.

Layarnya berubah gelap dan lampunya padam. Seperti menyerah pada hidup dan memilih pensiun dini.

“Habis baterai…” gumam Moren lirih, dengan nada orang yang tahu ini adalah pengakuan paling salah di waktu paling salah.

Kalimat itu seperti menyiram bensin ke api panik.

“BATRAI HABIS SAAT BEGINI?!”

“INI PERTANDA!”

“PERTANDA APA?!”

“YA… PERTANDA KITA BODOH!”

Suara dari rumah kosong terdengar lagi. Kali ini lebih jelas seperti benda jatuh diikuti bunyi gesekan pelan seperti sesuatu diseret. Atau seseorang berjalan malas, tidak terburu-buru, seolah tahu semua mata tertuju padanya. Semua berhenti serentak, lalu pintu rumah kosong itu, yang sejak tadi mereka yakini tertutup rapat berderit terbuka. Suara kreeeet itu panjang, pelan, dan menyakitkan telinga.

Ani menjerit paling keras. Jeritan yang terdengar seperti ia sedang dibayar per desibel. Seekor kucing di ujung gang ikut melompat kaget dan kabur tanpa pamit.

“ITU DIA!”

“SUMPAH GUE LIAT BAYANGAN!”

“ITU MUNDUR, EH MAJU, EH, POKOKNYA ITU!”

Tidak ada yang sepakat, tapi semua sepakat satu hal, ini nyata. Mereka kembali lari lagi.

Udin tersandung bangku ronda. Bangku itu terjungkal, menabrak termos kopi. Air kopi tumpah ke tanah, mengalir seperti darah pengorbanan ronda malam.

Paijo menabrak tiang listrik kecil dan memeluknya erat, seolah itu satu-satunya pegangan hidup yang tersisa.

“PAIJO, NGAPAIN LO PELUK TIANG?!”

“GUE BUTUH PEGANGAN HIDUP!”

Bodat kehilangan sendalnya. Ia menoleh ke belakang, refleks.

“GUE BALIK AMBIL”

“JANGAN!” teriak semua serempak, lebih kompak daripada saat rapat pembagian tugas.

Di tengah kekacauan itu, terdengar suara lain.

“WOY! SIAPA ITU?!”

Semua berhenti. Meski dengan suara jantung yang seakan lompat satu ketukan.

“HAH?”

“ITU… SUARA ORANG?”

“Atau SETAN YANG BISA NGOMONG?”

Pintu rumah kosong terbuka lebih lebar. Sosok itu keluar perlahan. Tinggi? Iya. Besar? Lumayan. Bayangan? Jelas.

“KENAPA RAMAI-RAMAI?!” teriak sosok itu lagi.

Ani hampir pingsan. Bodat benar-benar duduk di tanah. Paijo menutup mata sambil baca doa campur-campur, dari yang ia hafal sampai yang ia karang sendiri di tempat. Sosok itu melangkah ke bawah cahaya lampu jalan. Dan ternyata, Itu adalah Pak RT. Ia mengenakan jaket lusuh dengan topi miring yang dipasang miring dikepala. Di tangannya ada senter dan sapu.

“…Pak RT?” suara Udin keluar ragu, seperti orang salah sambung telepon.

“IYA LAH!” bentak Pak RT. “INI RUMAH GUDANG RT! KUNCI NYA NYANGKUT! DARI TADI GUE BENERIN!”

“Jadi… suara tadi..”

“EMBER JATUH!”

“Pintu..”

“ANGIN!”

“BAYANGAN...”

“BADAN GUE!”

Ketegangan runtuh satu per satu, digantikan rasa malu kolektif yang menampar lebih keras daripada hantu mana pun. Ani terduduk.

“Jadi… bukan apa-apa?”

Pak RT melotot.

“APA-APA APA?! KALIAN YANG APA-APA!”

Moren menatap alat deteksinya yang mati.

“Oh… sinyalnya ketangkep badan Pak RT…”

Pak RT menatap Moren lama.

“Kamu bikin alat apa, Nak?”

“Deteksi… hal gaib, Pak.”

“Deteksi kebodohan bisa nggak?”

“…belum update, Pak.”

Tawa pun pecah dengan lepas dan lega. Tapi terasa capek dan malu. Sebelum semuanya benar-benar tenang, Udin berkata pelan,

“Tapi… Pak… kalau cuma ember jatuh… suara di atap tadi apa?”

Pak RT menghela napas panjang.

“KUCING LAGI BERANTEM.”

Semua mengangguk dan merasa bahwa itu masuk akal. Mereka saling pandang lalu tertawa lagi. Baru saja mereka hampir lapor aparat yang mungkin bisa bikin heboh desa.

kejadian itu hampir bikin mereka trauma massal. Dan semua itu karena sugesti, gelap, dan imajinasi yang kebablasan. Malam itu ditutup dengan kopi baru, bangku ronda yang patah, dan satu kesepakatan diam-diam banwa besok, semua akan pura-pura ini tidak pernah terjadi seperti sebelum-sebelumnya.

...🍃🍃🍃🍃...

Bersambung....

1
Ai_Li
Untung ga dihitung pakai hati hehehe
Ai_Li
baca ini jadi inget momen saya KKN waktu itu
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!