Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Matahari semakin tinggi, membakar semangat ribuan penonton yang memadati tribun Arena Keluarga Han. Sorak-sorai, teriakan dukungan, dan ejekan bergemuruh silih berganti, menciptakan atmosfer panas yang memabukkan. Bagi warga Kota Awan Terapung, ini adalah hiburan terbesar tahun ini. Mereka haus akan darah, drama, dan kemunculan pahlawan baru.
Di tribun kehormatan yang teduh dan mewah, Kepala Keluarga Han, Han Tian, duduk di kursi singgasana berlapis kulit harimau. Wajah Han Tian yang tegas memancarkan wibawa seorang pemimpin klan besar. Di samping Han Tian, duduk seorang tamu istimewa berjubah putih dengan sulaman pedang perak di dadanya—Tetua Zhang, perwakilan dari Sekte Pedang Langit yang datang untuk memantau potensi bibit baru.
"Kepala Keluarga Han," ucap Tetua Zhang sambil menyesap tehnya dengan anggun. "Tahun ini sepertinya panen yang cukup baik. Aku melihat banyak anak muda dengan fondasi yang kokoh. Terutama putramu, Han Lie. Aura Qi-nya stabil dan tajam."
Han Tian tersenyum bangga, namun tetap berusaha merendah. "Tetua Zhang terlalu memuji. Anak itu, Han Lie, memang sedikit berbakat, tapi dia masih harus banyak belajar tentang kerendahan hati."
Di barisan peserta di bawah, pertarungan demi pertarungan berlangsung. Kebanyakan adalah pertarungan standar antar murid Pembentukan Tubuh Tingkat 4 atau 5. Ada yang menggunakan pedang, ada yang menggunakan tinju. Darah mulai tumpah, tulang mulai patah, dan penonton bersorak setiap kali ada peserta yang terlempar keluar arena.
Namun, Han Feng tidak peduli.
Han Feng duduk bersila di sudut area tunggu peserta, terpisah dari kerumunan. Pedang Meteor Hitam yang terbungkus kain kusam bersandar di bahunya seperti nisan kuburan. Mata Han Feng terpejam, mengabaikan kebisingan di sekitarnya. Han Feng sedang mengatur napas, menjaga kondisi puncaknya.
"Pertandingan ke-7!" suara wasit senior menggema melalui pengeras suara magis, membelah kebisingan arena.
"Han Feng dari Cabang Utama... melawan Han Ji dari Cabang Timur!"
Mendengar nama "Han Feng" dipanggil, suasana arena yang riuh mendadak berubah aneh. Ejekan dan siulan sinis mulai terdengar dari berbagai sudut tribun. Reputasi Han Feng sebagai "sampah" selama bertahun-tahun sudah tertanam kuat di benak penonton, meskipun rumor tentang insiden pilar kekuatan kemarin sempat beredar.
"Han Feng? Si sampah itu?"
"Kenapa dia ada di sini? Bukannya dia harusnya di rumah sakit?"
"Lihat itu! Dia membawa bungkusan besar di punggungnya. Apa dia mau pindahan rumah?"
Tawa meledak saat Han Feng berdiri perlahan. Han Feng berjalan menaiki tangga batu menuju panggung arena. Setiap langkah kaki Han Feng terdengar berat dan stabil.
Dari sisi berlawanan, lawan Han Feng melompat naik ke arena dengan gerakan salto yang indah, mendarat dengan ringan dan penuh gaya.
Han Ji.
Pemuda ini dikenal karena kecepatannya. Kultivasinya berada di Pembentukan Tubuh Tingkat 5 Puncak. Han Ji menggunakan sebilah rapier (pedang tusuk) yang tipis dan fleksibel. Wajah Han Ji dipenuhi seringai arogan saat melihat Han Feng yang berjalan lambat seperti kura-kura.
"Hei, Sepupu Ketiga," sapa Han Ji dengan nada mengejek yang keras. Dia memutar-mutar pedangnya dengan lincah. "Aku dengar kau memukul pilar batu kemarin. Lumayan untuk seorang kuli panggul. Tapi ini pertarungan sungguhan, bukan adu pukul batu diam. Kecepatan adalah raja di sini."
Han Ji menunjuk bungkusan kain di punggung Han Feng dengan ujung pedangnya.
"Dan apa itu? Kau membawa balok kayu? Atau kau sudah menyiapkan peti matimu sendiri? Sebaiknya letakkan beban itu. Aku tidak ingin orang bilang aku menang karena lawanku membawa beban berat."
Han Feng tidak menjawab. Wajah Han Feng sedatar permukaan danau yang tenang. Han Feng hanya melepaskan ikatan tali di dadanya, lalu menurunkan Pedang Meteor Hitam itu.
DUM!
Saat ujung pedang yang terbungkus kain itu menyentuh lantai arena, seluruh panggung batu bergetar. Debu mengepul di sekitar kaki Han Feng.
Mata Han Ji berkedut sedikit melihat dampak berat benda itu. Tapi arogansinya menutupi kewaspadaannya.
"Kau tidak akan membukanya?" tanya Han Ji, melihat Han Feng tetap membiarkan pedang itu terbungkus kain.
"Untuk melawanmu?" Han Feng akhirnya berbicara. Suaranya tenang namun menusuk tulang. "Tidak perlu. Kain pembungkus ini sudah cukup untuk melindungi pedangku agar tidak kotor oleh darahmu."
Wajah Han Ji memerah padam karena marah. Penonton di tribun tersentak kaget mendengar provokasi sombong itu.
"Sombong! Mati kau!"
"MULAI!" teriak wasit.
Seketika, Han Ji melesat.
Teknik Pedang Angin Puyuh: Tusukan Seribu Bayangan!
Han Ji tidak main-main. Dia langsung mengeluarkan teknik andalannya. Tubuhnya bergerak cepat, pedangnya bergetar menciptakan ilusi lima bayangan tusukan yang mengarah ke titik-titik vital Han Feng: mata, tenggorokan, dan jantung.
"Cepat!" seru penonton kagum. "Han Feng pasti tidak bisa melihat serangan itu!"
Di tribun kehormatan, Han Lie tersenyum sinis. "Habis kau, Han Feng. Matamu tidak akan bisa mengikuti kecepatan Han Ji."
Namun, di tengah arena, Han Feng tidak bergerak. Dia tidak mengangkat pedangnya untuk menangkis. Dia tidak mundur.
Di mata Sutra Hati Naga Purba, gerakan Han Ji yang terlihat cepat bagi orang lain, tampak seperti gerakan lambat yang penuh celah bagi Han Feng.
Saat ujung pedang Han Ji berjarak satu meter dari wajahnya, Han Feng akhirnya bergerak.
Bukan dengan tangan, melainkan dengan kaki.
Han Feng menghentakkan kaki kanannya ke lantai arena.
Langkah Naga Guntur: Ledakan Pertama!
BLAARR!
Suara ledakan seperti meriam meletus di bawah kaki Han Feng. Lantai batu di pijakannya hancur berkeping-keping.
Sosok Han Feng lenyap dari pandangan Han Ji.
"Apa?!"
Mata Han Ji terbelalak. Serangan tusukannya hanya menusuk udara kosong. Bayangan Han Feng menghilang begitu saja, meninggalkan jejak asap debu di tempatnya berdiri tadi.
Sebelum otak Han Ji sempat memproses apa yang terjadi, sebuah bayangan hitam besar tiba-tiba muncul di sisi kanannya.
Han Feng tidak menggunakan teknik pedang rumit. Han Feng memegang gagang Pedang Meteor Hitam yang masih terbungkus kain itu dengan satu tangan, lalu mengayunkannya secara horizontal seperti seseorang yang sedang memukul bola baseball.
"Tidur sana."
WOOOOSH!
Suara angin yang dihasilkan ayunan pedang itu terdengar mengerikan, seperti raungan badai.
Han Ji mencoba mengangkat pedang tipisnya untuk menangkis secara refleks. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
KRAK!
Saat bungkusan kain berisi 150 kg besi meteor itu menghantam pedang Han Ji, pedang tipis itu patah seketika seperti lidi kering.
Hantaman itu tidak berhenti. Pedang besar Han Feng terus melaju, menghantam sisi tubuh Han Ji yang tak terlindungi.
BUUUUUGGHHH!
Suara benturan itu membuat ngilu gigi semua orang yang mendengarnya.
Tubuh Han Ji terlipat menjadi huruf 'V' di udara. Dia terlempar—bukan terdorong, tapi benar-benar terbang—secara horizontal keluar dari arena. Tubuhnya melesat sejauh dua puluh meter, melewati pagar pembatas, dan mendarat di tengah kerumunan penonton barisan depan dengan suara gubrak yang keras.