Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sakti mandraguna
Hari ini pada pagi buta Elena diajak oleh sang Ayah ke barak militer keluarga Denilen. Elena memakai pakaian untuk bertarung, karena hari ini selain memilih pengawal Elena juga akan berlatih pedang bersama Ayahnya.
"Ayah bagaimana jika aku memilih pengawal yang bisa mengalahkan ku?." Ucap Elena.
"Bahkan semut pun bisa menjadi pengawal mu Elena." Duke heran.
"Hiikkkk Ayah terlalu meremehkanku. Putrimu ini kuat dan sakti mandraguna Ayah." Kesal Elena.
"Hahahahah benarkah? kalau begitu bagaimana jika Ayah yang pertama menjadi lawanmu?." Ucap Duke tertawa geli.
"Ide bagus, jika aku memang maka Ayah harus merestuiku menikah dengan Theor." Ucap Elena setuju.
"Maka keinginan mu itu akan semakin mustahil Elena." Duke percaya diri.
"Bumi, buat aku menjadi ahli pedang yang hebat dan bisa mengalahkan Ayahku." Batin Elena ngecheat.
Elena dengan percaya diri menghampiri pedang sungguhan alih-alih pedang kayu. Duke yang melihat itu keheranan, saat hendak melarang tapi Elena mengambil pedang yang beratnya sekitar 40kg dengan sangat mudah.
"A-apa?." Duke tercengang.
"Hehehehe Putrimu ini kuat Ayah, tapi kadang bisa menjadi lemah jika menyangkut perasaan ku." Ucap Elena dramatis.
"Wah, ini mengejutkan. Tapi tetap saja, Ayah tidak akan membiarkan mu menang." Tekad Duke, menolak keras memiliki mantu Theor.
"Aku juga tidak akan membiarkan Ayah menang." Tekad Elena sama kuatnya.
Klang
Pertarungan antara Ayah dan anak pun dimulai, para pasukan melihat dengan tegang. Tidak menyangka nona manja pembuat onar mereka bisa begitu kuat dan mahir menggunakan senjata, Duke sendiri syok dan merasa putrinya bahkan jauh lebih kuat dari komandan pasukan miliknya.
"Wah, kau sungguh mengejutkan Ayah. Baiklah, Ayah akan serius mulai sekarang." Ucap Duke.
"Hahahaha, jangan menangis jika kalah Ayah." Elena merasa senang, dia merasa keren karena bisa berkelahi.
Pertarungan berlangsung sengit, Elena dan Duke tidak mengalami luka karena memang keduanya tidak mau melukai satu sama lain. Mereka hanya akan menangis dan menyerang saja tanpa melukai.
Klang
Blamm
"Aku menang Ayah." Elena tersenyum penuh kemenangan.
Duke benar-benar terdesak dan pedangnya berhasil di jatuhkan oleh Elena, Duke benar-benar menatap tidak percaya karena putrinya ternyata sekuat ini. Dia merasa bangga tapi juga sedih, apa yang sudah dialami putrinya sampai bisa memiliki pertahananan hidup begitu baik di usia yang masih muda.
"Heii Ayah murung karena kalah taruhan? jangan membuatku berat hati dong." Elena jadi ikutan sedih.
"Hahahahha, kau benar-benar putriku yang membanggakan Elena." Duke mengusap matanya yang berair.
"Hahahah tentu saja, bagaimana menurut Ayah siapa yang cocok menjadi pengawalku?." Tanya Elena.
"Tidak ada yang cocok." Jawab Duke tersenyum.
"L-loh...." Elena mematung syok.
"Siapa diantara mereka yang bisa lebih kuat dari Ayahmu ini Elena? di mansion Denilen kau lah yang paling kuat. Kau cukup memiliki pelayan pribadi saja, karena kekuatanmu sudah setara bahkan diatas Ayah." Ucap Duke tersenyum.
"Tidak jadi memilih pengawal ya???." Elena sedikit menyayangkan.
"Ayah akan mencarikan orang yang cocok untukmu, sementara waktu kau andalkan dulu dirimu sendiri." Ucap Duke, cukup percaya pada Elena.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita cari pelayan pribadi." Elena bersemangat.
Selesai berlatih dan memberisihkan diri, Elena ditemani sang Ayah mulai memilih dan memilah pelayan yang cocok menjadi pelayan pribadi. Kebanyakan yang di usulkan oleh Duke adalah anak Baron, karena mereka memiliki pendidikan yang membantu segala urusan Elena.
"Bagaimana jika aku tidak sengaja membanting atau membunuh mereka Ayah?." Elena bertanya polos, karena ingin menunjukkan kekuatannya.
"Ayah tidak bisa apa-apa untuk itu, karena Ayah sudah kalah telak saat melawanmu hari ini." Duke mengerti maksud putrinya.
"Jadi siapa diantara kalian semua yang memiliki ilmu dasar beladiri?." Tanya Elena seperti sedang membacakan kuis.
Satu pelayan paling belakang mengangkat tangannya dengan ragu-ragu, Elena tertarik dan memanggilnya ke depan. Elena harus memiliki pelayan pribadi yang bisa bela diri, karena setelah ini mungkin akan ada banyak masalah.
Seorang pelayan wanita dengan tinggi sekitar 165cm, berambut coklat terang dengan bekas luka di alis dan pelipisnya. Itu luka sayatan pedang atau pisau, Elena tau jika pelayan di depannya mungkin sudah mengalami banyak masa sulit.
"Siapa namamu?." Tanya Elena.
"Merida, Lady." Jawabnya gugup.
"Halo Merida, darimana kau belajar bela diri? atau sebelumnya kau bekerja di tempat yang mengandalkan hal itu?." Tanya Elena blak-blakan.
"Saya hidup di wilayah kumuh, setiap hari selalu ada perampok, pencuri, pem*rk*s* bahkan pembunuhan secara terang-terangan. Saya memiliki insting bertahan hidup tinggi berkat itu, karena jika lengah maka nyawa saya bisa melayang." Ucap Merida.
"Kau hebat bisa bertahan sejauh ini, kalau begitu aku memilih Merida sebagai pelayan pribadiku Ayah." Ucap Elena memilih.
"Sepertinya kau anak baru yang di kirim penyalur minggu lalu, apa kau yakin bisa menjadi pelayan pribadi putriku? kau pasti sudah mendengar kabar tentang mantan pelayan putriku kan?." Ucap Duke sendikit tidak percaya.
"Saya masih memiliki banyak kekurangan, tapi saya akan sebisa mungkin mengikuti perintah Lady. Saya akan menggunakan kesempatan ini dengan baik, saya tidak akan melakukan tindakan seperti yang dialami mantan pelayan Lady." Ucap Merida, meskipun gugup dia menjawab dengan tegas.
"Tandatangani kontrak." Duke melambaikan tangannya, memberi kode pelayan untuk membawakan surat kontrak.
Merida memberikan cap jempolnya dan secara sah menjadi pelayan pribadi Elena, Elena merasa senang karena merasa memiliki pesuruh pribadi. Kehidupan nona muda kaya-raya yang sesungguhnya akan segera datang, Elena merasa sangat bahagia.
"Merida, cepat ikut aku ke kamar. Aku benar-benar kelelahan." Ucap Elena.
"Baik Lady." Merida menjawab patuh.
"Ayah, aku kembali untuk istirahat. Sampai jumpa saat makan malam, Ayah jangan lupa istirahat yaa jangan sampai sakit atau aku akan marah." Ucap Elena protektif.
"Iya dasar cerewet." Duke terlihat kesal, tapi hatinya senang karena di khawatirkan.
Elena kembali ke kamarnya, dia langsung berganti gaun yang lebih ringan dan merebahkan diri di kasur empuk. Sungguh hari yang melelahkan sekali, skil Elena mungkin terlihat hebat tapi tetap saja fisik Elena kesulitan mengendalikan tenaganya.
"Merida, kaki dan tanganku sangat sakit karena berpedang sejak pagi. Bisakah kau memijatku?." Ucap Elena, tersenyum polos.
"Tentu Lady__
"Tidak panggil aku Nona saja, tidak ada bantahan." Potong Elena.
"Tentu nona, apa anda ingin menggunakan minyak terapi?." Tawar Merida dengan patuh.
"Boleh, pijat perlahan saja jangan sampai kau kelelahan. Jika aku tertidur tolong tetap temani aku disini, kau bisa tidur di sofa atau dimanapun yang menurutmu nyaman." Ucap Elena, dia tidak mau ditinggal sendirian.
"Tentu, nona." Merida patuh.
"Merida, kau pasti tau kan jika aku tumbuh di panti asuhan sejak bayi sampai berusia 16 tahun. Aku mengalami banyak hal selama hidup, aku merasakan apa yang kau rasakan sampai akhirnya menemukan takdir ini. Aku harap kita bisa berteman baik, karena aku lelah jika harus di khianati berulang kali." Ucap Elena, merayu secara psikologis.
Merida mendengarkan sambil memijat, dia terkejut karena Elena mengatakan hal yang cukup aneh. Berteman dengan pelayan? ini sangat asing di telinga Merida. Tapi mengingat jika Elena pernah hidup seperti rakyat jelata, sepertinya Merida mengerti maksud Elena.
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘