Di paksa ikut ke salah satu club malam, Amara tidak tahu jika ia di jadikan barang taruhan oleh kakak tirinya di atas meja judi. Betapa hancurnya hati Amara karena gadis berusia dua puluh tiga tahun harus ikut bersama Sean, seorang mafia yang sudah memiliki istri.
Amara di jadikan istri kedua oleh Sean tanpa sepengetahuan Alena, istri pertama Sean. Tentu saja hal ini membuat Alena tidak terima bahkan wanita ini akan menyiksa Amara di saat Sean pergi.
Seiring berjalannya waktu, Sean lebih mencintai Amara dari pada Alena. Hingga suatu hari, ada rahasia yang terbongkar hingga membuat Sean menceraikan Alena dan membuat Amara menjadi istri satu-satunya kesayangan Sean.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Di saat Sean dan Leon sedang berboncengan menuju arah pulang. Kedua pria ini tiba-tiba saja di hadang sebuah mobil yang melintang di jalan. Terlihat lima orang yang berdiri dengan membawa senjata tajam.
"Minggir, jangan menghalangi jalanku!" Titah Sean yang belum juga turun dari motornya.
"Aku heran pada mu, kenapa kau sangat suka mengganggu transaksi orang lain? Apa mereka ada salah pada mu?"
Remon menertawakan Sean.
"Kau seperti anak kecil...!" Cibirnya.
"Katakan, apa mau mu sekarang?" Tanya Sean tanpa basa basi.
"Kau pasti tahu Alena. Cepat, katakan di mana dia?" Tanya Remon dengan nada tinggi.
Sean tersenyum sinis kemudian pria ini turun dari motor tanpa melepas helm.
"Akhirnya, setelah sekian tahun kau berani juga menanyakan Alena pada ku." Ucap Sean yang tertawa renyah.
"Katakan saja, di mana dia...!!"
"Aku tidak tahu!" Jawab Sean acuh. "Bukankah dia sedang pergi berlibur dengan mu? Seperti tahun sebelumnya?"
Mata Remon melebar saat mendengar ucapan Sean.
"Jangan kau pikir selama ini aku tidak tahu hubungan mu dengan Alena. Kalian sampah!" Cibir Sean.
Remon mengepalkan kedua tangannya, rahang pria ini mengeras menahan emosi.
"Brengsek!" Umpat Remon yang langsung maju menyerang Sean.
Remon bertarung dengan Sean, sedangkan empat orang lainnya melawan Leon sendirian.
Ssssst......
Bug......bug.....bug.....
Terus saling memukul, sampai saat ini Remon belum pernah sekali pun mengalahkan saudara sepupunya ini.
bug....plak....plak.....
Aaaaaargh.......
Remon jatuh tersungkur merintih kesakitan saat Sean menendang ke arah ulu hatinya.
"Jika aku tidak memandang kau sebagai saudara, sudah ku habisi dari dulu." Ucap Sean dingin.
Sean dan Leon pun kembali melanjutkan perjalanan pulang mereka sedangkan Remon di bantu anak buahnya untuk berdiri.
Aaaaargh......
"Sial....brengsek!" Umpat Remon emosi. "Sean, awas saja kau. Suatu saat kau akan mati di tangan ku ini," ucapnya penuh dendam.
Remon pun pergi, lelaki bodoh ini terpaksa menemui Sean hanya untuk mencari Alena yang entah di mana keberadaannya.
Pukul dua dini hari lewat sedikit Sean akhirnya sampai juga di mansion. Pria ini bergegas mandi setelah itu pergi ke kamar Amara.
Di lihatnya Amara yang sedang terlelap, wajah cantiknya mampu menghangatkan hati Sean. Di usapnya wajah Amara hingga membuat perempuan itu bangun.
"Baru pulang?" Tanya Amara yang sangat mengantuk.
"Hem,....!" Jawab Sean tanpa membuka mulutnya.
Amara menghembuskan nafas panjang lalu melirik ke arah jam weker yang berada di atas nakas. Matanya mendadak lebar segar saat melihat angka di ujung jarum jam.
"Kau janji pada ku akan pulang jam satu. Tapi, kenapa malah lewat seperti ini?" Tanya Amara menyelidik.
"Karena pekerjaan ku baru selesai," jawab Sean dengan santainya.
"Tidak bisa begitu dong!" Seru Amara yang kesal. "Malam itu waktunya beristirahat, kenapa harus bekerja di tengah malam? Katanya kau orang kaya, memiliki banyak harta. Kenapa harus bekerja siang malam, tubuh mu juga butuh istirahat."
Sean menarik nafasnya pelan, baru sekarang ada yang berani memarahinya saat ia pulang malam. Saat dengan Alena, wanita itu sama sekali tidak peduli apa yang di lakukan Sean di luar.
"Kau harus ingat, kau memiliki dua istri. Seharusnya kau bisa membagi waktu mu, lihat saja nanti, saat istri kesayangan mu itu pulang, kau tidak akan memiliki waktu bersama kau lagi."
"Kau cemburu?" Tanya Sean.
"Meskipun aku tidak mencintaimu, setidaknya hargai aku sebagai istri mu. Aku memang perempuan bodoh, aku tidak sama seperti kalian tapi, tolong hargai aku." Ucap Amara membuat Sean tertegun.
"Berhenti mengomel, lanjutkan tidur mu. Aku tidak akan mengulanginya lagi, cukup malam ini." Ujar Sean yang langsung naik ke atas tempat tidur.
Amara benar-benar kesal, tanpa membuka suara lagi ia kembali merebahkan diri tanpa menghadap suaminya.
"Amara, hadap ke sini...!" Titah Sean.
"Tidurlah, kau pasti lelah!" sahut Amara tanpa mengubah posisinya bahkan perempuan ini dengan beraninya menaruh guling sebagai pembatas tidur antara dirinya dan Sean.
"Beraninya kau memberi batas dengan guling jahanam ini," ucap Sean yang kesal dan langsung membuang guling tersebut. "Jika kau marah pada ku, kita selesaikan sekarang juga!"
"Aku mengantuk, kita bahas besok saja!" Tolak Amara.
Sean mengacak rambutnya frustasi, istri keduanya ini sangat jauh berbeda dan sikap Alena.
"Mau apa kau?" Tanya Amara saat Sean sudah menindih tubuhnya.
"Aku sedang ingin sekarang!" Jawab Sean.
"Aku mengantuk...!"
"Tunda tidur mu!" Sahut Sean yang langsung mencumbu istrinya.
Amara tak bedaya apa lagi saat ini Sean mengunci kedua tangannya agar tak melawan.
Ueeeemph......
Lenguh Amara saat Sean mengecup di atas dada. Bulu kuduknya merinding saat Sean mendengus di leher Amara. Hembusan nafas membuatnya merasa geli.
"Tidak mencintaiku, katamu. Nyatanya kau sangat menikmati permainan ku." Ejek Sean membuat Amara malu.
Sean menanggalkan semua pakaian ia dan istrinya. Tubuh yang lelah mendadak hilang saat Sean melihat dua bukit indah dan hutan masa depan.
Aaaarh.......
Rintih Amara saat Sean memasukan pedang pusakanya.
"Pelan-pelan, sakit...!"
Sean hanya melirik wajah istrinya, di bukanya bibir dompet sang istri kemudian Sean langsung memasukan pedangnya.
Jleb......
Aaaaaaah......
Sean menghembuskan nafas lega.
"Setelah malam ini kau belum juga mencintai ku, itu artinya ada yang salah di hati mu." Ucap Sean sebelum memulai permainan.
"Menikah terpaksa, mencintai pun harus di paksa. Menyebalkan!" Sahut Amara membuat Sean kesal.
Deep.....
Aaaaaaw......
Amara menjerit saat Sean menghentak batang keras miliknya.
"Pelan-pelan, sakit....!"
Sean tersenyum tipis, di usapnya kening sang istri barulah pria ini menggoyangkan pinggulnya.
Erangan manja, memenuhi ruangan kamar. Saling menggelinjang menahan kenikmatan entah sudah berapa kali di rasakan Sean dan Amara.
Menjelang pagi mereka baru selesai melakukan hubungan suami istri bahkan sampai pukul sebelas siang Amara dan Sean belum juga bangun.
"Tolong panggilkan tuan," pinta Daren pada pak Pet.
"Aduh, aku tidak berani." Jawab pak Pet. "Tuan sejak pagi belum keluar."
"Jam segini belum bangun?" Tanya Daren tidak percaya.
"Tuan tidur di kamar istri keduanya. Jika kau ingin melaporkan sesuatu, nanti sore saja." Ujar Pak Pet.
"Sejak kapan dia bangun siang seperti ini?"
Pak Pet menunduk malu membuat Daren bingung.
"Kau kenapa pak tua?" Tanya Daren heran.
"Ada dua pelayan tadi melaporkan pada ku. Saat mereka membersihkan lantai tiga tanpa sengaja mendengar suara desaahaan, itu artinya tuan sedang bercocok tanam jadi wajar jika mereka bangun siang." Ucap pak Pet memberitahu Daren.
"Serius pak?" Tanya Daren tidak percaya.
"Iya. Kau tahu sendiri pelayan di mansion ini akan melakukan bersih-bersih di pagi buta. Kamar di lantai tiga itu tidak kedap suara."
"Aku tidak percaya, aku harus mendengar secara langsung nanti malam." Ujar Daren.
"Iya, kita akan mengintip malam ini." Sahut pak Pet.