NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Kepulangan Sang Mukjizat

Debu jalanan pedesaan beterbangan saat iring-iringan mobil keluarga besar Pesantren Al-Ikhlas memasuki gerbang utama. Matahari sore yang berwarna jingga hangat menyambut kepulangan mereka. Di sepanjang jalan masuk pesantren, ribuan santri telah berdiri berjajar dengan rapi. Gema selawat yang dilantunkan secara serempak menciptakan getaran yang menggetarkan sanubari.

Di dalam mobil utama, Amara duduk dengan perasaan campur aduk. Ia mengenakan gamis berwarna abu-abu muda yang longgar dengan jilbab lebar. Namun yang paling mencolok adalah kain hitam yang menutupi wajahnya—Amara kini telah mantap mengenakan cadar. Cadar itu bukan lagi sekadar alat untuk bersembunyi dari kejaran Bastian, melainkan bentuk ketaatan dan rasa nyamannya sebagai istri seorang pemuka agama.

Di pangkuannya, Zahra tertidur pulas dalam bedongan kain sutra yang lembut.

"Mas... aku takut," bisik Amara dari balik cadarnya. Suaranya terdengar agak terendam kain, namun Hannan bisa merasakan getaran kecemasan itu. "Bagaimana jika mereka tetap tidak menerimaku? Bagaimana jika mereka melihatku sebagai wanita penuh noda?"

Hannan segera menggenggam tangan Amara yang terasa dingin. Ia membawa tangan istrinya itu ke bibirnya dan mengecupnya lama, tepat di atas punggung tangan.

"Amara, lihat aku," ujar Hannan lembut. Amara menatap mata suaminya melalui celah cadarnya. "Kamu pulang sebagai ratu di hatiku dan menantu kebanggaan Abah. Cadar ini adalah mahkotamu sekarang. Kamu tidak berhutang penjelasan apa pun pada dunia tentang masa lalumu. Cukup jadilah ibu yang hebat untuk Zahra."

Mobil berhenti tepat di depan teras ndalem. Kiai Abdullah dan Ummi Salamah turun terlebih dahulu. Saat Hannan membantu Amara turun, suasana seketika menjadi hening. Ribuan pasang mata menatap ke arah wanita bercadar yang menggendong bayi kecil itu. Ada rasa penasaran, namun tertutup oleh rasa hormat kepada keluarga Kiai.

Kiai Abdullah berbalik menghadap para santrinya. Beliau mengangkat tangan, meminta perhatian.

"Anak-anakku, para santri Al-Ikhlas..." suara Kiai Abdullah menggelegar melalui pengeras suara. "Hari ini, saya perkenalkan kepada kalian, menantu saya, istri dari Gus Hannan, dan cucu pertama saya, Zahra Amara Shatila. Dia telah melewati ujian hidup yang berat demi menjaga amanah Allah. Siapa pun yang menghormati saya, maka dia wajib menghormati menantu saya ini."

Mendengar pengumuman itu, para santri serentak menundukkan kepala. Suasana haru menyeruak saat beberapa santriwati senior meneteskan air mata melihat Gus mereka kembali dengan keluarga yang utuh.

Malam harinya di dalam kamar pribadi Hannan yang luas dan beraroma kayu gaharu, Amara akhirnya bisa bernapas lega. Ia perlahan melepas cadarnya di depan cermin, menampakkan wajah yang meski masih tirus namun mulai memancarkan kebahagiaan.

Hannan mendekat dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Amara dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. Mereka menatap pantulan diri mereka di cermin.

"Kamu cantik sekali memakai cadar, Amara. Rasanya aku ingin menyembunyikan kecantikanmu ini hanya untuk mataku saja," goda Hannan dengan suara rendah yang membuat pipi Amara bersemu merah.

"Mas bisa saja..." jawab Amara malu-malu. Ia berbalik dan merapikan kerah baju koko Hannan. "Terima kasih sudah membawaku kembali ke tempat yang suci ini."

Hannan tersenyum, lalu mengecup kening Amara dengan penuh perasaan. Namun, saat ia hendak memeluk Amara lebih erat, matanya menangkap sebuah amplop cokelat yang terselip di bawah pintu kamar, seolah ada seseorang yang baru saja meletakkannya di sana secara diam-diam.

Hannan mengerutkan dahi. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu. Saat dibuka, amplop itu tidak berisi nama pengirim. Di dalamnya terdapat sebuah foto lama Amara saat masih di California, berpose di sebuah pesta mewah tanpa jilbab, dengan tulisan merah di belakangnya:

"Masa lalu tidak pernah benar-benar terkubur, Gus. Berapa banyak santrimu yang akan pergi jika tahu siapa 'Siti' sebenarnya?"

Hannan meremas kertas itu hingga hancur di tangannya. Amarahnya memuncak, namun ia segera mengatur napas agar Amara tidak curiga. Ia tidak akan membiarkan kebahagiaan yang baru saja diraih dengan tetesan darah ini hancur begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!