Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 – Cerita yang Dipelintir
Hujan berhenti menjelang malam, tapi kepala Tara masih riuh.
Ia duduk di kursi penumpang mobil, menatap jendela yang berembun. Lampu jalan memantul di kaca, memanjang seperti bayangan yang tak mau pergi. Setiap detik perjalanan terasa berat.
Ia tidak pulang.
Ia minta diantar ke rumah oma.
Keputusan itu muncul tiba-tiba, tapi terasa sangat perlu.
Rumah besar bercat krem itu menyambut Tara dengan sunyi yang terlalu rapi. Aroma kayu tua dan minyak kayu putih selalu membuatnya merasa aman—tempat di mana segala hal buruk biasanya bisa diredam.
Biasanya.
Oma duduk di ruang tengah, merajut seperti biasa. Rambutnya yang memutih digelung rapi, kacamata bertengger rendah di hidung.
“Kok malam-malam ke sini?” tanya oma lembut. “Papa sama Mama tahu?”
Tara mengangguk pelan. “Aku cuma mau ngobrol, Oma.”
Oma meletakkan rajutan. Menatap wajah cucunya lama.
“Kamu habis nangis,” katanya.
Tara menahan bibirnya agar tidak bergetar.
“Aku capek,” jawabnya singkat.
Oma menepuk sofa di sampingnya. Tara duduk. Punggungnya kaku, tangannya saling menggenggam.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Lalu semuanya tumpah.
---
“Ada perempuan di sekolah,” kata Tara akhirnya. “Namanya Kia.”
Oma mengangguk pelan. “Lalu?”
“Dia benci aku. Dari awal,” lanjut Tara cepat, seperti takut kehilangan keberanian. “Dia selalu menantang, selalu bikin masalah. Dan sekarang… sekarang dia menyeret nama keluarga kita.”
Oma mengerutkan kening. “Menyeret bagaimana?”
Tara menelan ludah. Kata-kata yang keluar berikutnya bukan seluruh kebenaran—tapi bukan sepenuhnya bohong.
“Dia bilang ayahku ada hubungannya dengan ibunya,” ucap Tara. “Dia bilang ibunya dihancurkan.”
Oma terdiam.
Diamnya terlalu lama.
Tara mengangkat kepala. “Oma tahu sesuatu, ya?”
Oma berdiri perlahan. “Kamu mau minum teh?”
“Oma,” suara Tara meninggi. “Jawab.”
Oma menatapnya dengan mata yang tiba-tiba tua sekali. “Cerita itu… tidak sesederhana yang kamu dengar.”
“Jadi itu benar?” Tara berdiri. “Papa benar-benar—”
“Duduk,” potong oma tegas. Nada yang jarang dipakai.
Tara duduk kembali, napasnya tersengal.
Oma kembali ke kursinya. Tangannya gemetar saat meraih cangkir.
“Kia itu… anak dari perempuan yang dulu dekat dengan ayahmu,” kata oma akhirnya. “Itu saja yang perlu kamu tahu.”
“Itu saja?” Tara tertawa getir. “Dia bilang kami saudara.”
Cangkir di tangan oma bergetar.
*Clink.*
Teh tumpah sedikit ke piring.
Ruangan mendadak sunyi.
“Kamu tahu,” lanjut Tara, suaranya makin tajam, “apa yang paling menyakitkan? Bukan kalau itu benar. Tapi kalau semua orang tahu… kecuali aku.”
Oma memejamkan mata.
“Itu bukan cerita untuk anak,” ucapnya lirih.
“Aku bukan anak kecil!” bentak Tara. “Aku yang harus berhadapan dengan dia tiap hari!”
Oma membuka mata. Tatapannya basah.
“Kia memang saudara tirimu.”
Kalimat itu jatuh tanpa peringatan.
Tanpa pelan.
Tanpa peredam.
Tara membeku.
Seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan suara, kehilangan udara.
“Apa?” bisiknya.
Oma menelan ludah. “Ayahmu… ayah kalian sama.”
Kepala Tara berdengung.
Dinding terasa menjauh.
“Jadi…” napasnya terputus-putus. “Jadi semua ini benar?”
Oma mengangguk.
Tara berdiri, tubuhnya gemetar hebat.
“Sejak kapan?” suaranya hampir tak keluar.
“Sejak sebelum kamu lahir,” jawab oma pelan. “Tapi kami pikir… menyembunyikan ini akan melindungimu.”
Tara tertawa keras. Hampir histeris. “Melindungiku?”
Ia menatap oma dengan mata penuh amarah yang belum pernah ada sebelumnya.
“Kalian membiarkan aku membenci dia,” katanya. “Membiarkan aku menghina ibunya. Membiarkan aku terlihat seperti orang bodoh.”
“Kami takut,” ucap oma. “Takut keluargamu hancur.”
“Keluarga kami hancur sekarang!” teriak Tara.
Tangannya mengepal.
“Dan Mama?” tanya Tara dengan suara pecah. “Mama tahu?”
Oma diam.
Itu jawaban paling kejam.
Tara menutup wajahnya, bahunya terguncang. “Jadi Mama juga bohong.”
“Kami semua salah,” kata oma pelan. “Tapi tidak ada yang berniat menyakitimu.”
Tara menoleh tajam. “Lalu siapa yang kalian sakiti selama ini?”
Oma tidak menjawab.
Dan untuk pertama kalinya, Tara melihat retak besar pada sosok yang selalu ia percaya.
---
Malam itu, Tara pulang dengan langkah berat.
Rumah terasa asing.
Lampu ruang makan menyala. Mamanya duduk di sana, menunggu.
“Kamu dari mana?” tanya mamanya lembut.
Tara berdiri di ambang pintu. “Dari oma.”
Mamannya tersenyum kecil. “Kamu kenapa?”
Tara menatap wajah itu—wajah yang selama ini ia lindungi, ia bela, ia percayai sepenuhnya.
“Kia itu siapa buat Mama?” tanya Tara tiba-tiba.
Mamannya menegang.
Sangat cepat.
“Kok tanya begitu?”
“Jawab,” kata Tara.
Mamannya berdiri perlahan. “Kamu jangan dengarkan gosip sekolah.”
“Aku dengar dari Oma,” potong Tara. “Dan sekarang aku tanya ke Mama.”
Sunyi.
Jam dinding berdetak terlalu keras.
Mamannya menghela napas panjang. “Tara…”
“Aku saudara dia, ya?” suara Tara bergetar. “Aku anak dari pria yang sama dengan dia.”
Air mata jatuh dari mata mamanya.
Dan saat itu, dunia Tara runtuh sepenuhnya.
“Kenapa?” teriak Tara. “Kenapa semua orang bohong ke aku?”
Mamannya mendekat. Tara mundur.
“Jangan sentuh aku,” katanya dingin. “Aku muak.”
“Kami ingin melindungimu,” ucap mamanya terisak. “Kia dan ibunya itu masa lalu yang menyakitkan.”
“Bagi siapa?” balas Tara tajam. “Bagi Mama? Atau bagi mereka?”
Mamannya terdiam.
“Itu yang aku benci,” lanjut Tara. “Kalian memelintir cerita. Kalian membuat aku jadi pelaku kebencian, sementara kalian sembunyi di balik kata ‘demi anak’.”
Mamannya menutup mulut, menangis.
“Kamu tahu rasanya?” kata Tara lirih tapi menusuk. “Tahu kalau orang yang paling kamu benci ternyata darah dagingmu sendiri?”
Mamannya jatuh terduduk di kursi.
Tara mengusap wajahnya kasar. “Aku nggak mau dengar penjelasan sekarang.”
Ia berbalik menuju tangga.
“Tara,” panggil mamanya lemah.
Tara berhenti. Tidak menoleh.
“Aku butuh waktu,” katanya. “Dan jangan paksa aku memaafkan.”
---
Di kamar, Tara duduk di lantai, punggung bersandar ke pintu.
Tangisnya pecah tanpa suara.
Semua kemarahannya selama ini—ternyata salah sasaran.
Dan yang lebih menyakitkan, ia menyadari satu hal:
Kia tidak pernah merebut apa pun.
Kia hanya hidup di puing-puing keputusan orang dewasa.
Di sisi lain kota, Kia duduk di samping ibunya yang tertidur kelelahan di sofa.
Ia menatap wajah itu lama.
Tanpa tahu bahwa kebenaran akhirnya sampai ke Tara—dengan cara paling menyakitkan.
Dan bahwa setelah ini, tidak ada lagi ruang untuk kebohongan.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya