Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 35: HARI PERTAMA KULIAH
Pagi itu matahari bersinar cerah.
Aku bangun jam empat. Sholat subuh. Doa panjang.
"Ya Allah... ini hari yang aku tunggu tunggu. Hari pertama kuliah di Fakultas Kedokteran UI. Permudahkan jalan aku ya Allah. Kuatkan aku."
Setelah sholat, aku mandi. Pake baju putih rapi yang aku setrika sendiri kemaren malem. Celana jeans biru yang aku beli dari uang beasiswa pertama.
Dan yang paling bikin aku bangga... jaket almamater UI. Jaket kuning bertuliskan Universitas Indonesia di punggung. Jaket yang selama ini cuma bisa aku liat dari jauh waktu lewatin kampus.
Sekarang jaket itu ada di badan aku.
Aku keluar kamar. Ibu udah di dapur. Masak nasi goreng spesial. Pake ayam. Pake sayuran.
"Sat... ayo sarapan dulu. Ibu masakin spesial buat hari pertama kuliah kamu."
Aku duduk. Makan bareng ayah yang udah di kursi roda di sebelah meja.
Ayah natap aku lama. Matanya berkaca kaca.
"Sat... ayah... ayah gak nyangka bisa liat hari ini. Hari di mana anak ayah masuk ke universitas terbaik di Indonesia."
Suaranya gemetar. Penuh haru.
"Ayah bangga nak. Sangat bangga."
Aku pegang tangan ayah. Tangannya yang kurus. Yang lemah. Tapi genggamannya tetep kuat waktu pegang tangan aku.
"Ini semua karena doa ayah sama ibu. Satria gak akan sampai sini tanpa kalian."
Ibu duduk di sebelah aku. Dia pegang pipi aku. Tangannya yang kasar. Yang penuh luka bekas nyuci baju orang.
"Sat... ibu cuma mau bilang... jangan pernah lupa dari mana kamu berasal. Jangan pernah sombong. Tetep rendah hati."
Aku ngangguk. "Iya Bu. Satria janji."
Ayah nambah. Suaranya lebih serius.
"Sat... ingat nak. Di saat kamu jadi bintang dan bersinar... terangilah orang lain. Jangan sampai sinar itu bikin orang silau."
Aku bingung. "Silau gimana maksudnya Yah?"
"Silau karena kesombongan. Banyak orang yang waktu sukses jadi sombong. Jadi lupa diri. Cahayanya yang tadinya indah malah bikin orang lain sakit mata. Jangan jadi kayak gitu."
Ayah pegang kedua pundak aku.
"Bersinar itu buat menerangi. Buat bantuin orang lain liat jalan mereka. Bukan buat pamer. Bukan buat bikin orang lain merasa kecil. Kamu ngerti?"
Aku ngangguk pelan. Kata kata ayah nancep dalem.
"Satria ngerti, Yah. Satria janji gak akan sombong. Satria akan tetep jadi Satria."
"Bagus nak. Itu yang ayah mau denger."
***
Jam tujuh pagi, kami bertiga jalan ke halte bus kampus. Ayah di kursi roda didorong ibu. Aku jalan di sebelah mereka sambil bawa tas baru. Tas ransel biru dongker yang aku beli kemaren.
Di halte, bus kampus udah nunggu. Bus kuning besar bertuliskan Universitas Indonesia.
"Yah, Bu... Satria berangkat ya."
Ibu peluk aku erat. Nangis.
"Hati hati, Nak. Jaga diri baik baik. Jangan lupa makan. Jangan lupa sholat."
"Iya Bu. Satria janji."
Ayah dari kursi roda ulurin tangan. Aku jabat tangannya. Dia tarik aku turun sampe sejajar sama mukanya.
"Sat... ayah doain kamu. Semoga kamu jadi dokter yang hebat. Dokter yang bermanfaat buat banyak orang. Bukan cuma buat keluarga kita."
Aku peluk ayah. Peluk erat.
"Terima kasih Yah. Terima kasih buat segalanya."
Aku naik ke bus. Duduk di deket jendela. Lambaiin tangan ke ayah sama ibu.
Bus jalan pelan. Ayah sama ibu tetep berdiri di halte. Ibu nangis sambil lambaiin tangan. Ayah senyum lebar meski aku tau dia juga nahan nangis.
Aku liat mereka sampe mereka jadi titik kecil di kejauhan.
***
Bus sampe di gerbang kampus UI Depok. Gerbang kuning besar dengan tulisan Universitas Indonesia.
Aku turun bareng puluhan mahasiswa baru lain. Pada pake jaket kuning. Pada bawa tas gede. Pada terlihat excited.
Aku jalan masuk. Liat gedung gedung megah. Perpustakaan pusat yang besar banget. Danau UI yang indah. Pohon pohon rindang.
Ini... ini kampus impian aku.
Aku samperin papan petunjuk. Cari Fakultas Kedokteran.
"Gedung A, lantai 3."
Aku jalan kesana. Naik tangga. Jantung deg degan.
Di lantai tiga, udah banyak mahasiswa baru berkumpul. Ada yang ngobrol ngobrol. Ada yang sibuk liat jadwal. Ada yang foto foto.
Aku cari ruang kelas. Ruang A301.
Masuk. Udah ada sekitar lima puluh orang di dalam. Duduk di kursi kuliah yang susun kayak tangga. Kursi yang empuk. Meja yang lebar.
Aku cari tempat duduk. Pilih yang di pojok belakang. Tempat favorit aku dari dulu.
Duduk. Taro tas. Keluarin buku catetan baru yang masih kosong.
Di sebelah aku ada cowok pake baju polo branded. Jam tangan mahal. Parfum yang baunya kenceng.
Dia liat aku sekilas. Trus lanjut main hape.
Beberapa menit kemudian, ruangan mulai penuh. Semua kursi keisi.
Mayoritas mahasiswa disini keliatan dari keluarga mampu. Baju branded. Tas branded. Gadget mahal.
Tapi aku gak minder kayak dulu. Aku udah beda. Aku tau siapa aku.
Tiba tiba ada cowok tinggi masuk. Rambutnya gondrong. Pake jaket kulit. Rokok masih nempel di tangan.
Dia jalan ke belakang. Duduk dua kursi dari aku.
Cowok yang tadi duduk di sebelah aku bisik. "Itu Alex. Anak orang kaya. Bapaknya pengusaha tambang. Tapi kelakuannya kayak preman."
Aku cuma ngangguk. Gak terlalu peduli.
Alex nyalain rokok di dalam kelas. Asepnya ngepul.
Beberapa mahasiswa yang deket sama dia pada batuk batuk. Tapi gak ada yang berani negur.
Aku tahan napas. Gak suka asep rokok. Tapi gak mau bikin masalah di hari pertama.
Tiba tiba Alex manggil aku. "Eh, lu yang pake jaket kumel!"
Aku toleh.
Dia natap aku sambil nyengir. "Lu anak beasiswa ya? Keliatan banget dari penampilan lu."
Beberapa orang di sekitar mulai nengok.
Aku cuma diem. Gak jawab.
Alex berdiri. Jalan deket ke aku. Asep rokok di mulutnya ngepul ke muka aku.
"Gue nanya, lu anak beasiswa kan?"
Aku jawab pelan. "Iya. Emang kenapa?"
Dia ketawa. "Gak kenapa kenapa. Cuma lucu aja. Anak beasiswa sok sokan masuk kedokteran. Emang lu sanggup bayar biaya praktikum nanti? Biaya buku? Biaya ini itu?"
Aku mulai kesel. Tapi aku tahan.
"Semua udah ditanggung beasiswa. Jadi lu gak usah khawatir."
"Oh gitu?" Alex senyum sinis. "Tapi tetep aja... lu tetep anak miskin kan? Beda sama kita kita yang dari keluarga mampu."
Dia tiba tiba pegang bahu aku. Tekan keras.
"Di sini gak ada yang peduli sama cerita sedih lu. Semua orang cuma peduli sama prestasi dan uang. Lu punya dua duanya?"
Sebelum aku sempet jawab, dia ambil rokok dari mulutnya. Rokok yang masih nyala. Masih panas.
Dan dia...
Dia gosokin puntung rokok itu ke pipi aku.
"ARGH!"
Aku teriak. Rasa panas langsung nembus kulit. Bau gosong. Sakit banget.
Aku terdorong jatuh dari kursi. Pegang pipi aku yang perih.
Seluruh kelas pada liat. Pada shock. Tapi gak ada yang berani bantu.
Alex ketawa keras. "Itu buat ngajarin lu posisi lu di sini. Anak beasiswa kayak lu itu sampah. Gak pantas sejajar sama kita."
Aku masih duduk di lantai. Tangan aku pegang pipi yang perih. Rasanya kayak terbakar.
Air mata keluar. Bukan karena sedih. Tapi karena sakit.
Tapi di tengah rasa sakit itu, ada sesuatu yang bangkit di dalam dada aku.
Kemarahan.
Aku udah terlalu sering diinjak. Dihina. Direndahin.
Dan aku udah janji sama diri sendiri... aku gak akan diem lagi.
Aku berdiri pelan. Tangan masih pegang pipi.
Alex masih senyum sinis. "Kenapa? Mau nangis? Mau pulang?"
Aku natap matanya. Tajam.
"Lu... lu pikir lu siapa sampe bisa perlakuin orang kayak gini?"
Alex naik alisnya. "Gue Alex Prasetyo. Anak pemilik Prasetyo Mining Group. Lu tau perusahaan itu?"
"Gue gak peduli ayah lu siapa. Yang gue tau... lu baru aja nyakitin orang tanpa alasan. Dan itu salah."
Alex ketawa lagi. "Salah? Memangnya lu mau apa? Lapor dosen? Lapor polisi? Silakan aja. Ayah gue bisa beresin semua."
Aku maju selangkah. Meski badan aku lebih kecil dari dia. Meski aku tau dia lebih kuat.
"Gue gak akan lapor siapa siapa. Tapi gue mau lu tau satu hal."
Aku ambil napas.
"Gue disini bukan karena uang orang tua gue. Gue disini karena otak gue. Karena kerja keras gue. Dan lu... lu disini cuma karena uang ayah lu. Lu gak punya apa apa selain itu."
Senyum Alex ilang.
"Coba lu ulang kata kata lu."
"Gue bilang... lu gak punya apa apa selain uang ayah lu. Otot? Iya. Uang? Iya. Tapi otak? Nol besar."
Wajah Alex merah. Dia maju. Siap mukul aku.
Tapi tiba tiba pintu kelas kebuka.
Dosen masuk. Pak Hendra. Dosen senior Anatomi.
"Selamat pagi semuanya!"
Semua langsung balik ke kursi masing masing. Alex juga balik. Tapi dia bisik ke aku sambil lewat.
"Kita belum selesai."
Aku duduk lagi. Pipi masih perih. Tapi aku gak peduli.
Aku udah capek takut.
***
Kelas dimulai. Pak Hendra jelasin tentang mata kuliah Anatomi. Tentang sistem tubuh manusia.
Aku coba fokus. Catet poin poin penting. Meski pipi masih perih dan mulai bengkak.
Setelah kelas selesai, aku langsung ke toilet. Basuh muka. Liat luka bakar di pipi.
Merah. Melepuh sedikit.
"Sial..."
Aku keluarin salep dari tas. Salep yang biasa ibu pake kalau tangannya luka kena air panas.
Oles ke pipi. Perih. Tapi harus diobatin.
Pas keluar dari toilet, ada cowok berdiri di depan pintu. Mukanya ramah. Senyumnya tulus.
"Kamu Satria Bumi Aksara kan?"
Aku ngangguk. "Iya. Emang kenapa?"
Dia ulurin tangan. "Namaku Genta. Genta Mahardika. Mahasiswa tahun ketiga. Aku tadi liat kejadian di kelas tadi. Maaf gak bisa bantuin. Soalnya Alex itu... dia punya koneksi kuat di kampus ini."
Aku jabat tangannya. "Gak papa. Gue udah biasa."
Genta senyum sedih. "Aku tau siapa kamu. Aku baca berita tentang kamu yang bongkar korupsi di sekolah. Tentang perjuangan kamu. Dan aku... aku juga anak beasiswa."
Mataku melebar. "Serius?"
Dia ngangguk. "Serius. Ayah aku buruh pabrik. Ibu aku tukang cuci kayak ibumu. Aku kuliah disini full beasiswa prestasi."
Dadaku anget denger itu.
"Dan aku mau bilang... kalo kamu butuh bantuan apapun disini... aku siap bantuin. Aku tau rasanya jadi anak beasiswa di kampus yang mayoritas isinya anak orang kaya."
Aku senyum. Senyum lega.
"Terima kasih... terima kasih banyak."
Genta tepuk pundak aku. "Sama sama. Kita harus saling bantu kan? Sesama pejuang."
***
Siang itu ada acara orientasi mahasiswa baru di auditorium besar.
Semua mahasiswa baru Fakultas Kedokteran berkumpul. Ada sekitar tiga ratus orang.
Di panggung ada dekan fakultas. Para dosen. Sama beberapa mahasiswa senior.
Acara dimulai dengan sambutan dekan. Lalu pengenalan dosen dosen. Lalu penjelasan program studi.
Di tengah acara, dekan manggil aku.
"Satria Bumi Aksara, bisa maju ke panggung sebentar?"
Aku kaget. Gak nyangka bakal dipanggil.
Aku berdiri. Jalan ke panggung dengan kaki gemetar.
Di panggung, dekan senyum ramah.
"Satria disini adalah mahasiswa berprestasi kita. Dia lulusan terbaik se-Jakarta dengan nilai ujian nasional sempurna seratus. Dia juga pejuang anti korupsi yang berhasil membongkar kasus korupsi dana pendidikan di sekolahnya. Satria, bisa kamu cerita sedikit tentang perjalanan kamu?"
Dekan kasih mikrofon ke aku.
Aku pegang mikrofon dengan tangan gemetar. Liat ratusan mahasiswa di bawah panggung. Semua natap aku.
Tarik napas panjang.
"Selamat siang teman teman. Nama saya Satria Bumi Aksara. Saya... saya anak dari keluarga miskin. Ayah saya lumpuh. Ibu saya tukang cuci. Saya kuliah disini karena beasiswa penuh dari pemerintah."
Suara aku masih gemetar. Tapi aku lanjut.
"Saya gak akan cerita panjang lebar. Cuma mau bilang... kalau ada yang disini juga dari keluarga susah... jangan menyerah. Saya dulu tiap hari dihina. Diejek. Bahkan tadi pagi... saya baru aja dibakar pake rokok sama mahasiswa yang merasa lebih tinggi dari saya."
Auditorium langsung heboh. Pada bisik bisik.
"Tapi saya gak akan menyerah. Karena saya percaya... kita gak didefinisikan dari mana kita berasal. Tapi dari mana kita mau pergi."
Aku liat Alex di barisan belakang. Mukanya pucat.
"Ayah saya pernah bilang... Sat, jadilah bintang yang bersinar. Tapi jangan bikin orang silau karena kesombongan. Bersinar untuk menerangi."
Aku berhenti sejenak. Inget semua perjuangan.
"Dan saya juga percaya... diinjak untuk bersinar. Semakin kita diinjak, semakin kita harus bangkit dan bersinar lebih terang. Bukan buat pamer. Tapi buat tunjukin sama dunia... kalau kita layak ada disini."
Seluruh auditorium hening.
Lalu tiba tiba... tepuk tangan.
Dimulai dari satu orang. Lalu dua. Lalu sepuluh. Sampe akhirnya seluruh auditorium tepuk tangan berdiri.
Standing ovation.
Aku nangis. Nangis lega.
Dekan peluk aku. "Terima kasih Satria. Kamu inspirasi buat kita semua."
***
Setelah acara selesai, banyak mahasiswa yang datengin aku. Jabat tangan. Minta foto bareng. Bilang terima kasih.
Genta juga dateng. Dia senyum lebar.
"Lu luar biasa, Sat. Speech lu bikin gue pengen nangis."
Aku ketawa. "Lebay lu."
"Serius. Dan kayaknya... lu bakal punya banyak temen disini setelah ini."
Bener aja. Beberapa mahasiswa baru yang tadinya gak kenal jadi deket sama aku. Ngajakin kenalan. Ngajakin ngobrol.
Untuk pertama kalinya sejak masuk kampus... aku ngerasa diterima.
***
.