Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Besar (2)
"Makanya jangan sok-sok an deh sama aku. Pakai ngusir aku dan mas Arya segala. Ini akibatnya," kata Intan lantas menutup panggilan.
"Sialan, ternyata dia," umpat Maura ikutan kesal.
"Sekali licik tetap licik," kata Berlian.
"Kita lapor ke tuan Dom saja," saran Maura.
"Aku rasa belum perlu melibatkan tuan Dom," Berlian tak setuju.
"Ini urusan keluarga ku," imbuh Berlian menjelaskan.
"Asal kamu ingat, urusan ini juga melibatkan nyonya Alexander," Maura mengingatkan.
"Nyonya Alexander hanya salah paham. Kenyataannya aku tak ada hubungan apapun dengan putranya," tegas Berlian.
"Terserah kau saja deh. Tapi sebaiknya segera bereskan sebelum adikmu itu ngelunjak," nasehat Maura.
"Hhhmmm," gumam Berlian mengiyakan.
.
Berlian pulang kantor langsung menuju rumah yang selama ini ditinggalinya bersama Arya.
Berlian duduk menyandarkan tubuh di ruang tengah dengan mata terpejam.
Bagi Berlian banyak sekali kenangan di rumah ini. Suka duka bersama mantan suami.
"Lupakan Berlian, dia bukan pria baik," batin Berlian menyemangati dirinya sendiri.
"Apa aku jual saja ni rumah?" gumam Berlian.
"Nyonya? Kirain siapa?" panggil Bik Sumi.
"Loh, bibi masih di sini? Kirain ikut Arya," Berlian terkaget.
"Tuan Arya pergi bersama Nona Intan," bilang Bik Sumi.
"Bik, rumah ini mau aku jual," bilang Berlian.
"Terus saya tinggal di mana nyonya," ujar Bik Sumi.
Berlian baru ingat kalau Bik Sumi sebatang kara. Nasibnya tak jauh beda dengan Berlian. Ditinggal selingkuh karena mandul.
"Bik Sumi ikut aku aja gimana? Lagian di sana aku juga tinggal sendiri kok," ajak Berlian.
"Apa nggak apa-apa nyonya?" kata Bik Sumi segan.
Berlian mengangguk.
"Makasih nyonya. Tuan Arya memang tega, wanita sebaik ini masih saja diselingkuhin," kata Bik Sumi.
"Udahlah bik, jangan dibahas lagi," bahas Berlian.
"Bik, tolong buatin teh hangat," pinta Berlian. Berlian ingin rileks sebentar aja.
"Baik nyonya," Bik Sumi menjauh.
Berlian teringat akan barang peninggalan mama nya, lantas beranjak dan pergi ke arah gudang.
Meski tak seberapa nilainya jika diuangkan tapi Berlian tetap menjadikan barang kenangan yang tak ternilai harganya.
"Nyonya nyari apa?" celetuk Bik Sumi yang menyusul karena tak mendapati sang nyonya di tempatnya semula.
"Nyari barangnya mama. Bibi tahu nggak, box yang warna kuning?" tanya Berlian, dengan arah mata mencari di antara tumpukan barang-barang.
Bik Sumi memikirkan sesuatu.
"Box kuning yang aku taruh di kamar utama di atas nakas samping ranjang," rinci Berlian.
"Oh, itu? Kalau box itu saya yang simpan nyonya," tukas Bik Sumi, Berlian merasa lega.
"Tolong bi," seru Berlian.
"Baik nyonya, saya ambilkan," Bik Sumi berlalu menjauh.
.
Berlian menimang beberapa lembar foto. Meski telah melihat beberapa kali, tak ada yang istimewa pada album milik ibunya itu.
Tapi, ada sebuah foto yang memantik rasa penasaran Berlian.
"Bukannya ini tuan Wiranata?" gumam Berlian. Berlian tahu tuan Wiranata karena bertemu dengannya hari ini.
Melihat pose yang saling berdekatan antara tuan Wiranata muda dengan mama nya, membuat Berlian tanda tanya. Apalagi mengingat respon tuan Wiranata tadi pagi.
Jika selama ini, foto-foto itu tak ada yang istimewa tapi setelah Berlian bertemu dengan Tuan Wiranata foto itu memantik antusiasme Berlian untuk bertanya pada tuan Wiranata.
"Apa aku temui saja tuan Wiranata?" gumam Berlian. Tapi foto yang ditunjuk tuan Wiranata beda dengan wajah mama.
Berlian menggelengkan kepala, "Apaan sih yang kupikir? Nggak guna juga. Kalau toh mama dan tuan Wiranata ada hubungan, itu kan hanya sekedar masa lalu,"
Ponsel Berlian berdering, "Tuan Dom?" dahi Berlian mengernyit.
"Malam tuan," sapa Berlian.
"Aku minta maaf atas nama mamaku," suara bariton terdengar di telinga Berlian.
"Ada apa tuan?"
"Bukannya mamaku telah menamparmu tadi siang? Lupa? Atau memang tak tahu siapa yang menampar?" sergah Dominic.
"Mama ku salah paham padamu. Aku akan selidiki siapa yang telah menghasut mama," ujar Dominic.
Ngapain dicari? Bukannya Intan yang menjadi pelakunya. Berlian lebih dulu tahu.
"Apa ku kasih tahu aja ya?" batin Berlian.
"Halo... Halo... Berlian," panggil Dominic saat tak ada suara balasan dari Berlian.
"Aku suda tahu siapa yang memberitahu Nyonya Alexander," keluar juga pemberitahuan Berlian
"Siapa?" sambut Dominic.
"Intan, adikku," bilang Berlian.
"Oke," Dominic menutup telpon sepihak.
Aneh banget nih orang, main tutup panggilan sesuka hati. Gerutu Berlian.
Eh, tapi tuan Dominic percaya atau nggak ya? Dikira aku cuman mengadu.
Berlian hendak pergi setelah selesai minum teh hangat.
Sementara Bik Sumi masih menempati rumah itu, daripada dibiarkan kosong.
.
.
Sementara itu di dunia lain, dunianya Arya dan Intan.
"Sayang, sejak kita menikah kamu belum belikan aku tas, sepatu, baju. Mana bajuku mulai sempit semua," keluh Intan.
"Kamu tahu sendiri, perusahaan sedang tidak baik-baik saja. Bingung buat putar modal. Apalagi barusan ada masalah baru," tanggap Arya.
"Aku tak perduli. Kewajiban suami tuh menafkahi istri," tukas Intan.
Arya mengacak rambutnya ngasal. Geram karena Intan tak mau mengerti kondisi keuangannya saat ini. Beda dengan Berlian, yang akan sangat mendukung jika terjadi masalah begini. Bukan malah merecoki.
"Lagian uang saham perusahaan Wijaya yang terjual, kamu kemanakan,?" telisik Intan.
"Terserah aku lah," kata Arya.
"Mas, kita ini suami istri. Kalau ada apa-apa lebih baik kita bicarakan bersama," saran Intan.
"Tahu apa kamu tentang saham?," ejek Arya.
Intan ingin marah, tapi yang dikatakan Arya itu benar adanya. Dia tak tahu apa-apa tentang dunia usaha. Yang Intan tahu, kapan minta dan itu harus ada.
"Mas, tapi anak kamu yang minta. Kapan lihat tas mahal, baju mahal, sepatu mahal rasanya ingin punya itu semua," rengek Intan sambil mengelus-elus perutnya yang masih datar.
"Mana ada bayi sebiji kacang tau merk barang mahal. Kamu aja yang gatal ingin beli itu semua," kata Arya jengah.
"Itu namanya ngidam sayang," kata Intan.
"Itu mah akal-akalan kamu aja. Sudahlah, aku tak pegang uang sekarang. Kalau mau beli, sana minta mama mu," suruh Arya ketus.
Mana ada suami nyuruh istri minta ke orang tuanya. Kesal hati Intan. Tidak bertanggung jawab banget.
Intan pergi sambil menghentakkan kaki.
Arya kembali fokus dengan laptop sepeninggal Intan.
"Kok bisa begini? Saham perusahaan ku merosot tajam," gumam Arya.
"Ada yang salah? Aku harus segera menemukan solusinya. Kalau tak, bisa gulung tikar usaha yang aku rintis ini,"
"Aaahhhhhhh.... Semua hancur.....," teriak Arya.
Perusahaan nya dinyatakan kolaps, hanya dalam waktu beberapa menit.
Arya mengusap wajahnya dengan frustasi.
Kegigihan membangun usaha selama tujuh tahun ini berasa sia-sia.
Intan berjalan seolah tak terjadi sesuatu. Dengan baju rapi, Intan hendak pergi.
"Mau kemana kamu?" hardik Arya. Harusnya istri memberi ketenangan, Intan malah sebaliknya. Saat suami ada masalah, malah dia mau pergi.
"Belanja, emang mau kemana lagi," jawab Intan tanpa menoleh ke arah Arya.
"Berhenti!" teriak Arya.
"Apa? Istri juga butuh hiburan," kata Intan berani pada sang suami.
"Kembalikan kartu kredit yang kamu bawa," Arya merebut tas yang bertengger manis di bahu Intan.
"Hei, mas. Apa yang kamu lakukan? Kere banget sih jadi orang," gerutu Intan.
Plak ...
Arya menampar Intan.