NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Lampu ruangan rapat Arlan Corp berkedip sekali saat guntur terdengar mengelegar di kejauhan. Arlan masih menggenggam kunci perak itu dengan ujung jarinya yang sedikit dingin. Siska berdiri mematung di sisi meja dengan napas yang tertahan di tenggorokan.

"Mbak Siska, kunci ini benar-benar milik ayah Mbak?" tanya Arlan sambil menyerahkan benda logam itu kepada Siska.

Siska menerima kunci tersebut dengan tangan yang bergetar hebat. Ia mengamati ukiran kecil di bagian kepala kunci yang menunjukkan angka sebuah loker.

"Nomor lokernya adalah 742, Arlan. Ini adalah angka yang selalu digunakan ayahku sebagai kode akses rahasia," ucap Siska dengan nada suara yang sangat lirih.

"Stasiun pusat memiliki ribuan loker, tapi blok tujuh ratus adalah area lama yang sudah jarang digunakan," sahut Maya sambil menatap layar tabletnya untuk mencari denah stasiun.

"Siapa pun yang mengirimkan kunci ini tahu bahwa kita sedang diawasi oleh Aliansi Logistik Nasional," ucap Arlan sambil berjalan mengambil jaketnya yang tersampir di kursi.

{Sistem, lakukan pemindaian pada kunci tersebut. Apakah ada perangkat pelacak aktif?}

[Analisis Selesai: Kunci perak murni. Tidak terdeteksi perangkat elektronik atau GPS. Namun, terdapat residu sidik jari yang baru saja dibersihkan.]

"Kita akan ke stasiun sekarang juga, Mbak Maya, tolong siapkan pengalihan melalui tim kurir Tegar di lobi bawah," perintah Arlan dengan nada yang sangat tegas.

"Kamu pikir ini bukan jebakan dari aliansi untuk memancingmu keluar dari gedung, Lan?" tanya Maya dengan dahi yang berkerut karena khawatir.

"Jika mereka ingin membunuhku, mereka tidak perlu memberikan kunci ini. Mereka hanya ingin aku menemukan sesuatu sebelum rapat besok pagi dimulai," jawab Arlan sambil melangkah menuju pintu keluar.

Arlan, Siska, dan Maya turun menggunakan lift khusus karyawan yang langsung terhubung ke area parkir bawah tanah. Tegar sudah menunggu di sana dengan tiga buah motor matik yang biasa digunakan oleh kurir pengantar paket kilat.

"Mas Arlan, anak-anak sudah menyebar ke lima arah berbeda untuk membingungkan mobil hitam yang berjaga di luar gerbang," ucap Tegar sambil menyerahkan helm kepada Arlan.

"Terima kasih, Gar. Tetaplah di sini dan awasi kantor sampai aku kembali," balas Arlan sambil menaiki motornya.

Ketiga motor itu melesat keluar dari area parkir dengan kecepatan yang cukup tinggi. Siska membonceng Arlan dengan tangan yang memeluk erat tas punggungnya yang berisi kunci perak tadi. Hujan mulai turun membasahi jalanan kota saat mereka memasuki area stasiun pusat yang masih cukup ramai oleh penumpang kereta komuter.

"Area loker lama ada di sebelah timur, dekat pintu keluar kargo yang sudah ditutup," ucap Siska sambil menunjuk ke arah lorong yang sedikit gelap.

"Mbak Maya, tetaplah di dekat pintu masuk dan awasi siapa pun yang masuk ke lorong ini," perintah Arlan sambil menyalakan senter dari ponselnya.

Lorong itu terasa sangat dingin dan sunyi dibandingkan dengan hiruk pikuk di peron stasiun. Arlan berjalan perlahan sambil memeriksa deretan angka di setiap loker besi yang sudah mulai berkarat.

"Ini dia, nomor 742," ucap Arlan sambil berhenti di depan sebuah loker yang catnya sudah mengelupas.

Siska memasukkan kunci perak itu ke dalam lubang kunci dengan gerakan yang sangat hati-hati. Suara denting besi terdengar saat kunci itu berputar dan pintu loker terbuka secara perlahan. Di dalam loker tersebut tidak terdapat banyak barang, hanya sebuah kotak kayu kecil dan sebuah amplop cokelat yang sudah mulai menguning.

"Ini bukan barang ayahku, Arlan. Kotak ini terlihat jauh lebih baru dari amplopnya," bisik Siska sambil mengambil kotak kayu tersebut.

"Buka amplopnya dulu, Mbak Siska," sahut Arlan sambil tetap waspada melihat ke arah lorong.

Siska membuka amplop cokelat tersebut dan mengeluarkan selembar surat pernyataan kepemilikan saham yang sudah ditandatangani oleh almarhum ayahnya sepuluh tahun lalu.

"Arlan, ayahku ternyata adalah salah satu pendiri Aliansi Logistik Nasional. Namanya tertulis sebagai pemegang saham utama di sana," ucap Siska dengan suara yang hampir menghilang karena terkejut.

"Jadi itu alasan kenapa Pak Pratama membunuh ayah Mbak. Dia ingin mengambil alih posisi saham itu di dalam aliansi," balas Arlan sambil mengambil surat tersebut untuk membacanya.

[Peringatan: Terdeteksi sensor tekanan di bawah kotak kayu tersebut] [Saran: Jangan memindahkan kotak tanpa menyeimbangkan beban di atasnya]

"Tunggu, Mbak Siska! Jangan angkat kotak itu dulu!" teriak Arlan sambil menahan tangan Siska yang hendak menarik kotak kayu dari dasar loker.

"Ada apa, Lan? Kamu membuatku takut," tanya Siska dengan wajah yang mendadak pucat.

"Ada mekanisme pemicu di bawahnya. Siapa pun yang menaruh kotak ini ingin kita tetap berada di sini untuk sementara waktu," jawab Arlan sambil merogoh saku jaketnya.

Arlan mengambil sebuah batu kecil yang ia temukan di lantai lorong dan mencoba menyelipkannya di bawah kotak kayu tersebut untuk menahan sensor tekanan. Setelah beberapa saat yang menegangkan, kotak kayu itu berhasil diangkat tanpa memicu ledakan atau alarm apa pun.

"Isinya adalah sebuah drive USB dan sebuah kartu anggota aliansi tingkat tinggi," ucap Siska sambil membuka tutup kotak kayu tersebut.

"Benda-benda ini adalah tiket kita untuk masuk ke rapat besok pagi tanpa harus tunduk pada aturan mereka," sahut Arlan dengan senyum yang penuh arti.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah pintu keluar kargo yang seharusnya terkunci. Arlan segera menarik Siska untuk bersembunyi di balik barisan loker yang besar. Seorang pria dengan jaket kulit panjang masuk ke dalam lorong sambil memegang sebuah radio komunikasi di tangannya.

"Target sudah berada di dalam lorong loker. Segera tutup semua akses keluar stasiun sekarang juga," ucap pria itu ke dalam radionya dengan nada yang sangat dingin.

"Mbak Maya, apa kamu masih di sana?" tanya Arlan melalui alat komunikasi nirkabel di telinganya.

"Arlan, sekelompok pria berseragam hitam baru saja masuk ke stasiun. Mereka menutup semua pintu keluar!" jawab Maya dengan suara yang terdengar sangat panik.

"Tenanglah, Mbak Maya. Cari jalur keluar melalui terowongan pembuangan air di bawah peron kargo," perintah Arlan sambil menatap pria berjaket kulit itu dari celah loker.

{Sistem, tunjukkan jalur pelarian tercepat dengan tingkat keamanan paling rendah.}

[Analisis Selesai: Gunakan jalur ventilasi di atas loker nomor 800. Jalur tersebut terhubung langsung ke area parkir taksi di luar stasiun.]

"Ikuti aku, Mbak Siska. Kita harus memanjat ke atas loker ini sekarang juga," bisik Arlan sambil memberikan instruksi kepada Siska.

Mereka bergerak dengan sangat sunyi di tengah kegelapan lorong. Pria berjaket kulit itu mulai mendekati loker nomor 742 dengan senjata yang sudah siap di tangannya. Arlan membantu Siska naik ke atas barisan loker dan kemudian menyusulnya tepat sebelum pria itu mencapai posisi mereka tadi.

"Lorong kosong! Mereka menghilang!" teriak pria itu ke dalam radionya dengan penuh amarah.

Arlan dan Siska merangkak di dalam saluran ventilasi yang sempit dan berdebu. Suara derap sepatu para pengejar terdengar tepat di bawah mereka, namun Arlan terus memandu Siska menuju ujung saluran yang memiliki cahaya remang-remang.

"Kita hampir sampai, Mbak. Tetaplah fokus pada napasmu," ucap Arlan sambil membuka penutup ventilasi di ujung saluran.

Mereka keluar tepat di sebuah gang kecil di samping pangkalan taksi. Arlan segera melambaikan tangan ke arah sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya.

"Ke bandara, Pak. Cepat!" perintah Arlan kepada sopir taksi tersebut.

"Kenapa ke bandara, Lan? Kita harus kembali ke kantor," tanya Siska dengan wajah yang masih dipenuhi debu ventilasi.

"Kantor kita sudah tidak aman lagi, Mbak. Kita akan membawa data ini ke tempat yang paling tidak mereka duga," jawab Arlan sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang.

"Siapa yang kamu telepon, Arlan?" tanya Siska dengan rasa penasaran yang besar.

"Seseorang yang memberiku peringatan tentang matahari lusa pagi. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu cara menggunakan kartu anggota ini," jawab Arlan tepat saat sambungan teleponnya diangkat.

Suara wanita yang sama kembali terdengar di telinga Arlan, namun kali ini suaranya terdengar jauh lebih mendesak daripada sebelumnya.

"Kamu sudah mengambil barangnya? Bagus. Sekarang pergilah ke gudang tua nomor lima di pelabuhan utara sebelum mereka menemukan taksimu," ucap wanita itu sebelum kembali memutuskan sambungan secara sepihak.

Arlan menatap Siska dengan tatapan yang sangat dalam. Ia menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam labirin masa lalu yang jauh lebih gelap daripada perang bisnis yang ia jalani selama ini.

"Pak, ganti tujuannya ke pelabuhan utara," ucap Arlan kepada sopir taksi yang tampak bingung.

Taksi itu melesat membelah hujan yang semakin deras menuju wilayah pelabuhan yang terisolasi. Arlan memegang erat drive USB di tangannya, menyadari bahwa benda kecil ini mengandung rahasia yang bisa meruntuhkan seluruh sistem logistik nasional besok pagi.

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!