Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 ~ Tidak Akan Bisa Menggantikan Amira
Entah pukul berapa sekarang, tapi tenggorokannya terasa kering. Marvin membuka matanya dan melihat langit-langit kamar di dalam remang lampu tidur. Die meraih gelas berisi air di atas nakas dengan tangan panjangnya. Setengah terbangun untuk meminumnya, lalu menyimpan kembali gelas itu di tempat semula. Marvin menjatuhkan kembali kepalanya di atas bantal, rasa kantuk tiba-tiba hilang. Luka di keningnya mulai terasa, membuatnya sedikit pusing dan sulit tidur.
Dalam beberapa saat hanya terdiam dengan tatapan kosong pada langit-langit kamar. Sampai sebuah suara lirih tapi jelas disampingnya membuat Marvin kembali tersadar dari lamunan, dia hampir lupa jika sekarang tidur di kamar yang ditempati Raina.
"Hiks... Kak Amira jangan pergi, bagaimana aku akan menjalani hidup ini jika Kakak pergi. Jika memang ingin tetap pergi, tolong bawa serta aku bersama Kakak. Hiks.. Ak tidak sanggup berada disini, Kak. Aku lelah"
Marvin sedikit memiringkan tubuhnya untuk menatap wanita yang terbaring di sampingnya. Isak tangis yang begitu nyata dan suara yang parau, jelas terdengar di keheningan malam dalam ruangan ini. Marvin melihat air mata yang mengalir dari sudut mata sayu itu, bahkan tangan Raina memegang selimut dengan erat, seolah dia benar-benar sedang ketakutan. Meski dalam cahaya lampu tidur yang sedikit remang, tapi Marvin bisa melihat jelas wajah istrinya ini.
"Kenapa kau ingin ikut bersamanya? Apa kau benar-benar ingin mati?"
Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu jawaban, selain karena Raina juga sedang tertidur dalam mimpinya, Marvin juga seharusnya sadar jika dia juga pernah meminta Raina untuk ikut mati bersama Amira. Namun ketika dia mengingat kejadian itu, tiba-tiba saja dadanya terasa nyeri seperti ada sesak yang tak bisa diungkapkan. Marvin memegang dadanya sendiri dengan perasaan heran.
"Ada apa ini? Apa mungkin efek dari kecelakaan tadi?"
Saat ada pergerakan kecil dari perempuan disampingnya, Marvin segera ke posisi semula. Menutup matanya dan berpura-pura jika dia terlelap. Sementara Raina baru saja tersadar dari mimpinya, keringat dingin membasahi keningnya, bahkan dia menyadari adanya air mata yang benar-benar keluar. Mimpi itu terasa begitu nyata baginya, ketika Amira datang hanya untuk menguatkannya. Sementara Raina sendiri merasa jika dirinya tidak akan pernah kuat terus menjalani kehidupan ini.
"Kak Amira mungkin sudah tenang disana, tapi ... aku sangat merindukanmu, Kak"
Raina mengangkat tubuhnya untuk terbangun, satu tangan menjadi penopang tubuhnya sebelum benar-benar bangun terduduk. Menatap Marvin yang tertidur disampingnya, dia sedikit membenarkan selimut yang tidak menutupi kaki Marvin. Melihatnya dalam tidur seperti ini, wajahnya cukup tenang. Raina bahkan betah untuk berlama menatap wajah suaminya ini.
"Maaf karena aku menjadi penyebab kebahagiaanmu pergi, Kak"
Raina turun dari tempat tidur setelah mengatakan itu. Dia pergi keluar kamar untuk menenangkan diri setelah terbangun dari mimpi. Untuk kembali bisa tidur lagi, rasanya akan sulit. Jadi Raina memilih keluar kamar dan duduk sendirian di meja makan dengan segelas air putih.
Mimpi itu masih terasa nyata, Amira datang dengan gaun putih bersih dan wajah yang berseri begitu cantik. Senyumannya selalu menenangkan, tatapan mata yang hangat dan penuh kelembutan. Raina masih mengingat jelas bayangan Amira dalam mimpinya itu.
"Kak, seandainya bisa ditukar, aku ingin kita bisa bertukar kembali. Biarkan aku yang pergi, dan Kakak yang selamat"
Hidupnya seperti sudah tidak di inginkan siapapun. Dia hidup adalah seperti kesalahan yang besar bagi orang-orang di sekitarnya. Namun, entah apa alasan Tuhan masih membiarkan dirinya hidup.
*
Di dalam kamar, Marvin kembali membuka matanya setelah mendengar suara pintu kamar yang di tutup. Menyadari jika Raina pergi keluar kamar. Mendengar ucapan gadis itu barusan membuat dadanya kembali berdenyut sakit.
"Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa harus lemah hanya karena mendengar racauannya dalam mimpi dan permintaan maaf yang dia hanya mampu ucapkan saat aku tertidur. Seharusnya aku tidak seperti ini, dia tetap menjadi penyebab Amira pergi dari hidupku untuk selamanya"
Marvin merasakan dirinya sendiri mulia berkhianat, mulai merasa iba yang seharusnya tidak pernah dia lakukan pada perempuan yang sudah menjadi penyebab meninggalkan Amira.
Ketika pintu kamar kembali terbuka, Marvin menatap ke arah Raina yang berjalan ke arah tempat tidur. Belum menyadari jika Marvin sudah terbangun.
"Loh, Kak Marvin bangun ya. Mau apa? Mau ke kamar mandi atau mau minum?"
Marvin terdiam menatap Raina dengan dingin. Mengusir rasa iba yang sempat muncul dalam dirinya tadi. Kembali memenuhi hatinya sendiri dengan rasa benci. "Kau tidur di lantai saja bisa? Tidak perlu tidur denganku satu ranjang seperti ini. Aku terganggu dengan keberadaanmu disini!"
Raina yang baru saja akan beranjak naik ke atas tempat tidur, langsung terhenti dengan wajah tertegun. Dia kembali berdiri dan menunduk di depan Marvin. Bahkan belum satu malam penuh mereka tidur satu ranjang, tapi Marvin sudah mengusirnya karena merasa Raina hanya mengganggunya.
"Baik Kak, maaf karena membuatmu tidak nyaman tadi"
Raina berpikir mungkin karena dia bermimpi tadi, dan itu mengganggu Marvin. Dia tidak ingin terlalu berharap pada pria ini, bahkan tahu jika Marvin mungkin sudah ingin dari tadi mengatakan hal ini. Meminta Raina untuk tidak tidur di ranjang yang sama dengannya.
Raina mengambil selimut dan bantal, lalu dia menggelar selimut di atas lantai samping ranjang, dan tidur disana. Raina tidur membelakangi Marvin. Diam-diam air matanya kembali luruh tanpa bisa ditahan lagi.
Marvin menatap punggung gadis itu, tersenyum sinis melihatnya tidur di atas lantai sekarang. "Salah kau sendiri meminta membawaku kesini, jadi kau harus merasakan kerasnya lantai itu"
Raina menghembuskan napas panjang sebelum dia mencoba menjawab. Menenangkan dulu dirinya dari tangisan yang tercekat di tenggorokan. "Tidak papa Kak, yang penting aku bisa merawat Kak Marvin dan mengawasi Kak Marvin saat dalam keadaan seperti ini. Jika di kamar atas, nanti Kak Marvin akan sulit untuk ke dapur atau kemana pun, dan jika ada sesuatu terjadi tidak akan ada orang yang cepat tahu"
Marvin terdiam, napasnya sedikit memburu karena tiba-tiba sesak di dada semakin bertambah. Seolah ada yang tercekat di tenggorokan dan tidak bisa dia luapkan.
"Meski kau mencoba bersikap baik dan peduli padaku. Kau tetap tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Amira, karena aku tahu kau seperti ini hanya karena ingin menggantikan Amira. Sayangnya, itu tidak mungkin terjadi!"
"Ya, aku tahu Kak"
Raina memejamkan matanya, tidak lagi ingin berbicara apapun dengan Marvin. Tangannya meremas bajunya dengan erat meski mata mencoba terpejam dan tertidur. Namun, ucapan Marvin barusan sudah cukup membuat hatinya teramat perih.
Sampai kapanpun memang aku tidak akan pernah pantas menggantikan Kak Amira.
Amira terlalu baik, terlalu seperti malaikat yang tidak pernah marah dan begitu peduli pada sesama. Bahkan Raina saja selalu ingin menjadi Kak Amira, apalagi saat melihat Amira banyak di kelilingi orang-orang yang sayang padanya, karena kebaikan dan ketulusannya. Raina sempat merasa iri karena bukan dirinya yang berada dalam posisi Kak Amira itu.
Namun sekali lagi, takdir Tuhan yang membuatnya tetap seperti ini. Tetap kuat untuk menjadi Raina yang terasingkan.
Bersambung
👍
pergi dari rumah Marvin,,