NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Goes to Gimpo

Suasana di kantin siang itu terasa jauh lebih gerah daripada biasanya. Sejak aksi klaim sepihak Viona di halaman kampus kemarin, identitas aslinya mulai terkupas satu per satu. Kabar bahwa Viona bukan sekadar mahasiswi biasa, melainkan putri dari keluarga konglomerat yang dijodohkan dengan dosen muda paling brilian di kampus, menyebar secepat api di padang rumput.

Viona bisa merasakan pasang mata yang mengikutinya. Mereka tidak lagi menatapnya dengan santai, melainkan dengan tatapan penuh segan, iri, dan canggung. Lingkaran pertemanannya mendadak menyusut. Meja kantin yang biasanya penuh dengan tawa teman-teman seangkatannya, kini sepi.

Hanya Laura yang masih berani duduk di sebelahnya, meski gadis itu berkali-kali membenarkan letak kacamatanya dengan gugup.

"Vio, lo berasa jadi selebriti nggak sih? Semua orang kayak lagi nonton drakor live pas lihat lo," bisik Laura pelan.

Viona hanya mendengus, mengaduk jus jeruknya tanpa selera. "Gue malah berasa kayak tersangka kasus korupsi, Lau. Risih banget."

Keheningan itu pecah saat sosok jangkung Noah Sebastian muncul di area kantin. Bukannya pergi ke area khusus dosen, Noah justru melangkah lurus menuju meja Viona. Kehadirannya seolah memberikan penegasan tebal pada status mereka: Iya, dia istri saya. Ada masalah?

Viona mendongak, menatap Noah yang baru saja berdiri di samping kursinya dengan wajah tanpa dosa. Entah kenapa, melihat wajah Noah yang lempeng itu membuat jiwa manja Viona keluar, mungkin juga sebagai bentuk proteksi diri dari tatapan orang-orang.

"Noah... pesenin pizza itu dong," pinta Viona manja sambil menunjuk gerai pizza di pojok kantin. Ia sengaja tidak menggunakan embel-embel "Pak" sedikit pun.

Noah menghela napas panjang, sebelah tangannya masuk ke saku celana. "Dih! Lo! Gue baru dateng ya, belum juga duduk udah dijadiin kurir," gerutu Noah ketus, namun kakinya tetap bergerak menuju gerai yang ditunjuk Viona.

Laura yang menyaksikan interaksi itu melongo. Matanya hampir keluar dari bingkainya. Ia tidak pernah membayangkan "Dosen Killer" yang ditakuti seluruh fakultas bisa diajak bicara se-informal itu oleh mahasiswinya sendiri.

"Vio... kalian suami istri tapi ngomongnya 'lo gue'?" tanya Laura setelah Noah agak menjauh. Suaranya penuh nada tidak percaya.

Viona menoleh ke arah Laura, lalu tertawa kecil. "Oh, itu... kita kan aslinya emang sahabat dari kecil, Lau. Sebelum ada surat nikah, yang ada itu surat tantangan berantem. Jadi kalau tiba-tiba panggil 'Sayang' atau 'Mas', yang ada kita berdua malah merinding disko."

"Gila sih," gumam Laura sambil geleng-geleng kepala. "Tapi jujur, liat Pak Noah nurut gitu pas lo suruh-suruh... itu pemandangan paling memuaskan sepanjang gue kuliah di sini."

Viona tersenyum tipis. Ia melirik punggung Noah yang sedang mengantre pizza. Ternyata, meski status mereka sudah berubah dan seluruh kampus tahu, ada satu hal yang tetap sama: Noah akan tetap menjadi orang yang paling bisa ia andalkan, bahkan untuk urusan perut sekalipun.

Noah duduk di sebelah Viona dengan santai, meletakkan nampan pizza yang masih mengepul panas. Kehadirannya seketika menciptakan medan magnet yang membuat Laura, yang biasanya berisik, mendadak kaku seperti manekin toko baju.

Noah melirik Laura yang duduk tegak dengan tangan terkepal di atas paha. "Santai aja, Laura. Gue nggak bakal kasih nilai E cuma gara-gara lo makan bareng istri gue," ucap Noah santai, mencoba mencairkan suasana.

"Baik, Pak," jawab Laura singkat, suaranya naik satu oktav karena canggung. Ia tetap tidak berani menatap mata dosennya itu.

Viona tidak memedulikan kecanggungan sahabatnya. Fokusnya beralih pada urusan pekerjaan yang sedang memenuhi kepalanya.

"Noah, gue hari ini ada cek tanah di Gimpo," jelas Viona sambil mengambil sepotong pizza.

Noah menoleh, keningnya berkerut sedikit. "Jam berapa? Gue antar aja ya?" tawar Noah tanpa ragu.

"Lo nggak sibuk?" tanya Viona. Saking semangatnya bicara sambil mengunyah, ia tiba-tiba tersedak. "Uhukk—!"

Dengan sigap, tangan Noah menyambar gelas minuman dan menyodorkannya ke bibir Viona, sementara tangan satunya mengusap punggung istrinya dengan lembut. "Pelan-pelan, Vio. Nggak ada yang mau ambil pizza lo," gerutu Noah, tapi tatapannya penuh perhatian.

Setelah napasnya kembali teratur, Noah melanjutkan, "Sibuk sih, cuma kan proyek bisa dipantau lewat iPad sambil nyetir. Itu proyek villa baru lo ya?"

Viona mengangguk antusias, matanya berbinar kalau sudah bicara soal arsitektur. "Iya, villa yang gue desain konsepnya kayak zaman kerajaan dulu, tapi interiornya tetap modern minimalis. Gue harus mastiin kontur tanahnya pas buat pondasi kayu."

Laura yang sedari tadi menyimak hanya bisa melongo. Ia merasa sedang menonton pertemuan dua CEO muda daripada pasangan suami istri biasa. "Wah... kalian nggak mumet sama kehidupan? Kuliah iya, kerjaan proyek iya, urusan rumah tangga iya..." gumam Laura dengan wajah takjub.

Viona terkekeh, ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai. "Mumet sih, Lau. Tapi gue lebih mumet kalau diem aja nggak lakuin apa-apa. Gue bisa gila kalau cuma duduk manis nungguin Noah pulang kerja."

Noah tersenyum tipis, menatap Viona dengan bangga. Inilah alasan kenapa ia jatuh cinta pada wanita di depannya; Viona bukan sekadar "istri pajangan", tapi wanita ambisius yang punya dunianya sendiri.

"Gue suka gaya lo," bisik Noah pelan, hampir tidak terdengar oleh Laura. "Ya udah, habis ini kita ke Gimpo. Gue jadi sopir pribadi lo hari ini."

———

SUV hitam milik Noah melaju stabil membelah jalanan menuju arah Gimpo. Di dalam kabin, suasananya terasa kontras; Noah yang tampak tenang di balik kemudi, dan Viona yang dikelilingi tumpukan gulungan kertas denah serta tablet yang terus menampilkan grafik kontur tanah.

Keheningan itu hanya diisi oleh suara gesekan kertas, sampai akhirnya Viona menghentikan aktivitasnya dan menatap profil samping wajah Noah yang tampak tegas terkena sinar matahari sore.

"Noah, lo gak risih punya istri super sibuk kayak gue?" tanya Viona tiba-tiba, memecah kesunyian.

Noah melirik sekilas melalui spion tengah sebelum kembali fokus ke jalanan. "Kenapa? Tumben banget lo tanya hal-hal filosofis gini," jawabnya dengan nada santai namun tetap perhatian.

Viona menyandarkan punggungnya, menghela napas panjang sambil menatap berkas-berkas di pangkuannya. "Ya... dipikir-pikir aja. Biasanya cowok selevel lo tuh mau cewek yang jago urus rumah, jago masak, lembut, yang selalu ada di rumah pas suami balik. Lah gue? Masak air aja hampir bikin dapur kebakaran, sibuk proyek, dan sekarang malah nyuruh lo jadi sopir ke Gimpo," jawab Viona jujur, ada sedikit nada sangsi dalam suaranya.

Noah terkekeh pelan, sebuah tawa rendah yang terdengar sangat tulus. Ia memindahkan satu tangannya dari kemudi untuk mengacak rambut Viona sebentar sebelum kembali fokus menyetir.

"Gue akui, jago masak atau urus rumah itu memang seharusnya basic manusia buat bertahan hidup ya, Vio," jawab Noah apa adanya. Ia terdiam sejenak, mencari kata yang pas. "Tapi gue cari istri, bukan cari maid (asisten rumah tangga)."

Viona menoleh, terpaku mendengar jawaban suaminya.

"Buat gue, wanita yang punya ambisi dan gairah sama mimpinya itu jauh lebih seksi daripada wanita yang cuma nunggu di rumah tanpa tahu mau ngapain. Gue bangga punya istri yang desainnya bisa jadi villa megah di Gimpo. Jadi, buat apa gue risih kalau yang lo lakuin itu keren?" lanjut Noah dengan suara beratnya.

Viona merasakan pipinya memanas. Selama bertahun-tahun bersahabat, ia tahu Noah adalah orang yang logis, tapi ia tidak menyangka bahwa pandangan Noah tentang dirinya se-modern dan se-menghargai itu.

"Tapi kalau gue makin sibuk gimana?" pancing Viona lagi.

"Ya tinggal gue yang makin giat nyari jadwal buat nyelip di antara jadwal sibuk lo," sahut Noah enteng. "Lagian, kalau kita berdua sama-sama sibuk, waktu pas kita berdua di rumah bakal terasa lebih berharga, kan?"

Viona tersenyum lebar, rasa insecure yang tadi sempat mampir mendadak hilang tak berbekas. Ia kembali menekuni berkasnya, namun kali ini dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Memiliki Noah ternyata bukan hanya memiliki seorang suami, tapi memiliki pendukung nomor satu yang tidak pernah mencoba mematahkan sayapnya.

1
deeRa
haii... I found ur story, accidentally 😊
Vha Evha
karya yg bagus porsi nya pas cwe nya gk trlalu lebay dan menye" dan cwo nya meskipun bucin tpi gk kehilangan cool nya, smoga panjang crita nya
Nihayatuz Zain
lanjut kk
Nihayatuz Zain
wah karya bagus kok nggk ketauan pembaca ya
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca
Sunshine: Wahh makasihh ya kak udah suka karya aku❤️ maybe aku pikirkan dulu judul yg menarik lagi, terima kasih sarannya kak❤️❤️
total 1 replies
Nihayatuz Zain
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!