NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Sang Pewaris

Gedung Opernhaus Zurich bermandikan cahaya keemasan yang menembus badai salju malam itu, berdiri bagaikan kuil kemewahan di jantung Eropa. Di dalam Grand Ballroom yang didominasi ornamen klasik berhias emas dan kristal, ratusan tamu undangan telah duduk di kursi berlapis beludru merah. Namun, ini bukanlah pertunjukan opera biasa. Para tamu yang hadir dalam setelan tuksedo dan gaun malam bertabur permata itu adalah para penguasa bayangan dari berbagai belahan bumi—bos kartel Amerika Latin, pemimpin Triad Asia, hingga oligarki Eropa Timur. Udara di dalam ruangan itu terasa berat, dipenuhi oleh aroma cerutu mahal dan ketamakan yang tak berujung.

Di atas panggung utama, Sebastian Vance berdiri dengan senyum pongah yang menjijikkan. Konsul Agung pengkhianat itu memegang palu lelang kayu mahoni, berdiri tepat di depan sebuah layar proyeksi raksasa yang menampilkan brankas biometrik Mawar Hitam.

"Para hadirin yang terhormat," suara Sebastian menggema melalui pelantang suara, memecah gumaman rendah di seluruh ruangan. "Malam ini kita akan menyaksikan peralihan kekuasaan terbesar abad ini. Akses penuh menuju aset klan Mawar Hitam, bernilai ratusan triliun rupiah, beserta seluruh jaringan intelijen bawah tanahnya... akan segera jatuh ke tangan penawar tertinggi. Dan kuncinya, biometrik hidup dari darah campuran Adhitama dan Hapsburg, sedang dalam perjalanan menuju—"

BLAAAM!

Pintu kayu jati raksasa berukir emas di ujung belakang ballroom terdorong terbuka dengan hempasan yang luar biasa keras, memotong ucapan Sebastian seketika. Angin dingin bercampur serpihan salju berhembus masuk, membuat nyala lilin-lilin kristal di dinding ruangan berkedip liar.

Ratusan kepala serempak menoleh. Hening. Keheningan yang begitu pekat dan mencekik hingga suara jatuhnya sebatang jarum pun akan terdengar seperti ledakan bom.

Dari balik pusaran kabut salju di ambang pintu, tiga sosok melangkah masuk dengan keanggunan yang menggetarkan jiwa.

Xander von Hapsburg berjalan di tengah. Jubah mantel bulu hitamnya berkibar pelan, sementara mata birunya memancarkan aura kematian mutlak yang membuat para bos kartel paling kejam sekalipun menahan napas dan menundukkan pandangan. Di sebelah kirinya, Tania melangkah layaknya seorang dewi perang yang menyamar dalam balutan gaun merah anggur, tatapannya menyapu setiap sudut ruangan dengan ketajaman seekor elang. Dan di sebelah kanan Xander... Dea melangkah tegap dalam balutan gaun sutra hitam bermahkotakan tiara perak. Gadis remaja itu tidak gemetar. Kepalanya mendongak penuh kebanggaan, mewarisi keanggunan ibunya dan keberanian ayah serta ibu sambungnya.

Langkah sepatu kulit Xander menggema di atas lantai marmer saat mereka bertiga berjalan menyusuri lorong tengah, membelah kerumunan ratusan penjahat kelas kakap seolah-olah mereka membelah lautan.

"Xander..." desis Sebastian dari atas panggung, senyum pongahnya memudar sesaat sebelum ia kembali memaksakan tawa sumbang yang dipenuhi kepanikan. "Ah! Sang Dominus Umbrae akhirnya berkenan hadir! Sungguh sebuah kehormatan! Tapi kau datang terlambat untuk menyelamatkan hartamu, Xander. Jika kau maju satu langkah lagi menaiki panggung ini, detak jantungku akan memicu belasan bom cair di bawah lantai ini!"

Sebastian membuka jasnya, memperlihatkan sebuah perangkat pemindai biometrik yang menempel tepat di dada kirinya, berkedip merah seirama dengan detak jantungnya.

"Serahkan anak haram itu padaku sekarang, Xander!" raung Sebastian, suaranya kini dipenuhi keputusasaan yang dibalut ancaman. "Bawa dia ke pemindai brankas ini! Atau kita semua akan mati menjadi abu di sini!"

Beberapa tamu mulai berdiri dari kursi mereka dengan wajah pucat pasi. Panik mulai menjalar di antara para penguasa dunia bawah tanah yang baru menyadari bahwa mereka telah dijebak di atas ladang ranjau mematikan.

Namun Xander tidak berhenti. Pria itu terus melangkah hingga ia tiba di undakan pertama panggung utama. Ia menatap Sebastian dengan pandangan kasihan yang teramat sangat.

"Kau menghabiskan dua puluh tahun untuk merancang perangkap ini, Sebastian," suara Xander mengalun rendah, sangat tenang, namun entah bagaimana menembus hingga ke sudut terjauh ballroom. "Kau menyewa peretas terbaik, memasang bom cair bertekanan tinggi, dan menjadikan seluruh penguasa dunia sebagai sandera. Rencanamu hampir sempurna."

Xander menyeringai—sebuah seringai dingin yang membuat darah Sebastian seolah membeku.

"Hampir sempurna," ulang Xander pelan. "Jika saja kau tidak lupa bahwa lima belas tahun lalu, akulah yang membangun rancang bangun ventilasi bawah tanah gedung opera ini."

Mata Sebastian membelalak ngeri. Sebelum pria tua itu sempat bereaksi, seluruh lampu di Grand Ballroom padam selama dua detik penuh.

TSSSS!

Dari celah-celah pilar marmer dan ventilasi lantai di bawah panggung, gas nitrogen cair bersuhu minus seratus sembilan puluh derajat Celsius disemburkan dengan tekanan tinggi oleh tim taktis Freya dan Dirga yang telah menyusup ke ruang bawah tanah sejak satu jam yang lalu. Udara di sekitar panggung seketika membeku. Embun beku merambat cepat menutupi kabel-kabel detonator dan tabung-tabung bom cair, membekukan cairan reaktif itu sepenuhnya sebelum sinyal dari pemindai jantung Sebastian sempat memicu reaksi ledakan.

Lampu kembali menyala. Indikator pemindai di dada Sebastian berubah menjadi abu-abu mati. Sinyalnya terputus total.

"T-tidak mungkin..." bisik Sebastian dengan bibir bergetar, mundur terhuyung-huyung sambil menekan-nekan pemindai di dadanya secara histeris. "Ledak! Meledaklah, sialan!"

"Sistem pemicumu sudah membeku di bawah titik nol mutlak, Vance," ucap sebuah suara wanita yang begitu jernih dan mematikan.

Tania melesat dari samping Xander bagaikan kilatan petir merah anggur. Gerakannya terlalu cepat untuk ditangkap oleh mata telanjang. Empat pengawal elite Teratai Merah yang berjaga di sisi panggung mencoba mencabut senjata mereka, namun Tania tidak memberi mereka celah sedetik pun.

Dengan memadukan keanggunan seorang penari dan insting membunuh Silat Harimau, Tania menyapu kaki pengawal pertama hingga pria itu terpelanting ke udara, lalu menggunakan bahu pria itu sebagai tumpuan untuk melompat memutar, mendaratkan satu tendangan tumit yang amat telak ke rahang pengawal kedua. KRAK! Dua pengawal tersisa mencoba menyerbu dari arah belakang, namun Tania menunduk luwes, menarik gaun panjangnya, dan melontarkan kedua pisau perak kecil dari balik pita pahanya yang langsung menembus pergelangan tangan kedua pengawal tersebut, melumpuhkan mereka tanpa membunuh.

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, pertahanan terakhir Sebastian hancur tak bersisa di tangan seorang ibu rumah tangga dari Bogor.

Sebastian jatuh terduduk di atas panggung, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Tangannya gemetar hebat saat Xander melangkah pelan menaiki panggung, berdiri menjulang menutupi cahaya di atas tubuh pria tua renta yang tamak itu.

"Kau meracuni istriku. Kau mengurungku dalam tidur panjang," desis Xander, mencengkeram kerah kemeja Sebastian dan mengangkat pria itu hanya dengan satu tangan, seolah tubuh Sebastian tak memiliki bobot sama sekali. "Dan kau membiarkan putriku disiksa selama enam belas tahun di neraka dunia."

Xander melemparkan tubuh Sebastian ke arah lantai dengan tenaga penuh. Pria tua itu terbatuk mengeluarkan darah, mengerang kesakitan di depan ratusan mata penguasa dunia bawah tanah yang kini menatapnya dengan penuh kebencian karena telah menjadikan mereka sandera.

Tania melangkah mundur, merapikan kembali gaunnya seolah ia baru saja selesai menyapu daun-daun kering di halaman rumah. Ia mengulurkan tangannya pada Dea yang masih berdiri di bawah panggung.

"Waktunya mengambil apa yang menjadi hakmu, Sayang," bisik Tania penuh kebanggaan.

Dea menaiki undakan panggung. Gadis itu tidak melirik Sebastian sama sekali. Pandangannya lurus tertuju pada terminal biometrik transparan yang berdiri di tengah panggung—brankas peninggalan ibunya. Dea melangkah mendekati terminal itu. Ia melepaskan sarung tangan sutranya perlahan, lalu meletakkan telapak tangan kanannya yang mungil tepat di atas panel pemindai.

Cahaya biru seketika memindai telapak tangannya, menembus hingga ke aliran pembuluh darah, membaca kode genetik murni yang tak bisa dipalsukan oleh siapa pun.

TING!

Layar raksasa di belakang panggung berubah warna menjadi hijau keemasan. Sebuah lambang Mawar Hitam yang berjalin dengan Naga Emas perlahan mekar di layar tersebut. Suara denting brankas berlapis yang terbuka bergema di seluruh ruangan, menandakan bahwa aset ratusan triliun rupiah, daftar nama intelijen, dan kekuatan penuh konsorsium akhirnya terbuka.

Namun, alih-alih memasukkan nomor rekening pribadinya, Dea mengetikkan serangkaian perintah yang telah ia setujui bersama Xander malam sebelumnya di vila.

"Mulai malam ini," suara Dea bergema lembut namun memiliki wibawa yang tak tertahankan melalui mikrofon panggung. Matanya menatap seluruh hadirin di ballroom itu. "Seluruh dana dari Mawar Hitam tidak akan lagi digunakan untuk membiayai sindikat, pembunuhan, atau peperangan."

Dea menekan tombol Enter.

Di layar raksasa, ratusan triliun rupiah yang tersimpan di berbagai bank cangkang dunia terpencar. Secara real-time, dana-dana hitam itu dicuci melalui protokol kuantum milik Dominus Umbrae dan langsung ditransfer ke ribuan yayasan panti asuhan, lembaga penelitian medis, dan organisasi penyelamatan anak di seluruh pelosok dunia.

Para mafia dan oligarki di ruangan itu membelalak tak percaya. Uang haram terbesar dalam sejarah Eropa baru saja disumbangkan habis tanpa sisa dalam hitungan detik.

"Mawar Hitam tidak lagi berdiri di atas darah," lanjut Dea, menatap lurus ke kamera yang menyiarkan momen tersebut. "Mawar Hitam kini akan menjadi pelindung bagi anak-anak yang ditinggalkan di seluruh dunia. Dan jika ada dari kalian yang berani menentang keputusan ini..."

Dea menoleh pada Xander dan Tania yang berdiri mengapitnya layaknya perisai abadi. "...kalian tahu siapa yang akan menjemput kalian di tengah malam."

Seluruh ruangan membisu. Tidak ada satu pun penguasa bawah tanah yang berani melayangkan protes. Kekuasaan telah beralih sepenuhnya, bukan pada orang yang memiliki senjata paling tajam, melainkan pada gadis muda yang memilih untuk menghancurkan kutukan darah keluarganya demi sebuah lembaran yang baru.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!