Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Notifikasi Pertama
BEEP! BEEP! BEEP!
Suara notifikasi yang belum pernah didengarnya membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 terpaku.
Layar smartphone ESIA miliknya berubah merah. Sebuah pemberitahuan resmi dari World Hunter Organization memenuhi layar, lengkap dengan lambang organisasi dan identitas Hunter miliknya.
[ HUNTER — NEW MISSION ASSIGNMENT ]
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menegakkan posisi duduknya.
"𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢..."
Dua minggu terakhir ia menghabiskan hampir seluruh waktu luangnya untuk berlatih. Namun, menghadapi pemberitahuan tersebut ternyata membuat jantungnya berdebar lebih cepat dibandingkan ketika mengangkat beban tujuh puluh kilogram.
Ia menarik napas sebelum menyentuh notifikasi.
Layar berpindah menuju halaman rincian penugasan.
W.H.O — MISSION BOARD
PENDING
MISSION CODE: E-EXTERMINATION / 08-117
Mission Type: Extermination
Threat Level: E
Target BETA: Razorback Hound
Race: Beast
Estimated BP: 170–220
Distance: ±56 km
Civilian Casualties
Wounded: 4 civilians
Deceased: 1 civilian
TEAM REWARD: 160.000 Sen [$]
Hazard premium included. Pembayaran berdasarkan hasil operasi dan pembagian kontribusi anggota tim.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membaca informasi tersebut berulang kali.
Perhatiannya berhenti pada angka BP.
"𝘚𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩... 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘶𝘢 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘥𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩."
Ia menyandarkan punggung ke kursi.
Dalam ujian Survival Field sebelumnya, Brindle Prowler yang dihadapinya hanya memiliki BP 66.
Monster tersebut bahkan hampir membuatnya kehilangan nyawa.
Sekarang, target penugasan pertamanya memiliki estimasi parameter hampir tiga kali lipat, bahkan lebih jika menggunakan batas atas pengukuran.
"𝘚𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭 𝘌, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘪𝘯𝘪?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuka database BETA untuk memastikan klasifikasinya.
Threat Level E memang mencakup rentang BP yang cukup luas. Artinya, dua BETA dalam klasifikasi sama belum tentu memiliki kemampuan tempur yang sebanding.
Ia kembali membaca laporan.
Empat warga terluka.
Satu orang meninggal dunia.
Senyum kecil yang sempat muncul ketika menerima notifikasi perlahan menghilang.
Berbeda dengan arena ujian, angka tersebut merupakan korban sungguhan.
Seseorang tidak pernah kembali kepada keluarganya.
Dan sekarang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menjadi salah satu Hunter yang ditugaskan memastikan hal serupa tidak terjadi lagi.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuka halaman informasi tambahan.
Lokasi penugasan berada di kawasan hutan kota tetangga, sekitar lima puluh enam kilometer dari tempat tinggalnya.
Menurut laporan W.H.O, kemunculan Razorback Hound pertama kali diketahui setelah sejumlah warga melaporkan suara binatang asing dan kerusakan di sekitar jalur hutan.
Beberapa hari kemudian, serangan terhadap manusia terjadi.
Otoritas setempat telah menutup akses menuju kawasan yang dianggap berbahaya.
Namun, posisi pasti BETA belum berhasil dikonfirmasi.
"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳. 𝘉𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperbesar peta.
Sebagian jalur hutan terlihat berdekatan dengan area permukiman. Beberapa jalan kecil menghubungkan kawasan tersebut dengan perkebunan dan fasilitas umum.
Jika monster itu bergerak melewati batas penutupan, jumlah korban bisa bertambah.
Pada bagian bawah laporan terdapat peringatan.
Informasi Threat Level dan BP merupakan estimasi berdasarkan laporan terakhir. Kondisi lapangan dapat berubah sewaktu-waktu.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengusap dagunya.
Kalimat itu sederhana.
Namun, setelah mengalami pertarungan sebenarnya, ia memahami betapa berbahayanya bertindak berdasarkan asumsi yang keliru.
Ia kemudian membuka rincian formasi.
Penugasan tersebut menggunakan sistem operasi tim dengan empat anggota. Seorang Hunter berpengalaman akan memimpin dan mengawasi para Hunter Novie yang terlibat.
Identitas anggota lain belum ditampilkan sepenuhnya.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sedikit lega.
Setidaknya W.H.O tidak mengirim seorang Hunter pemula seperti dirinya untuk menghadapi monster tersebut sendirian.
Meski begitu, sebuah pertanyaan muncul.
𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘶𝘯𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘮 𝘪𝘯𝘪?
Jarinya berhenti di atas tulisan ACCEPT MISSION.
Menerima penugasan berarti menyetujui prosedur operasi, menghadiri pengarahan, dan menjalankan tanggung jawab sesuai peran yang diberikan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melirik kartu Hunter di meja.
Ia teringat bagaimana dirinya nyaris menyerah saat Brindle Prowler terus menghantam tubuhnya.
Saat itu, satu kesalahan saja cukup untuk membuatnya kehilangan nyawa.
Sekarang, lawan yang akan dihadapi jauh lebih berbahaya.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱? 𝘙𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengembuskan napas panjang.
Ia memang belum sehebat Hunter lain.
Namun, dua minggu terakhir bukan sekadar latihan untuk memperbesar otot atau meningkatkan stamina.
Ia telah memperbaiki teknik dasar, mempelajari kesalahannya, dan belajar memahami keterbatasan tubuh sendiri.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali menatap laporan korban.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯. 𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳... 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨."
Ia menekan tombol penerimaan.
Bip!
MISSION ACCEPTED
Mission E-EXTERMINATION / 08-117
ASSEMBLY: 2 DAYS
Lokasi berkumpul: W.H.O Regional Branch. Perlengkapan operasional dan briefing dilakukan sebelum keberangkatan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam beberapa detik.
Kemudian ia menjatuhkan tubuh ke kasur.
"𝘋𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘺𝘢..."
Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar.
"𝘔𝘪𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯."
Keesokan paginya, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mulai menyusun persiapan.
Hal pertama yang dilakukannya bukan berlatih, melainkan memeriksa kembali seluruh persyaratan penugasan.
Ia memastikan kondisi kesehatan terakhirnya tercatat pada sistem W.H.O.
Setelah itu, ia membuka halaman Regalia.
Gauntlet yang digunakannya ketika seleksi masih berstatus inventaris organisasi. Perangkat tersebut belum menjadi miliknya dan baru dapat diterima kembali melalui prosedur peminjaman resmi sebelum operasi.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membaca spesifikasi perlengkapannya.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘎𝘢𝘶𝘯𝘵𝘭𝘦𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘧𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘤𝘰𝘯𝘥𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢."
Namun, ia tidak boleh mengandalkan pengalaman tersebut sepenuhnya.
Razorback Hound jelas berbeda dari Brindle Prowler.
Menurut database, BETA jenis itu memiliki struktur tubuh menyerupai gabungan serigala besar dan babi hutan. Bagian punggungnya ditumbuhi tonjolan keras menyerupai bilah, sementara kekuatan kaki depan menjadi salah satu senjata utamanya.
Pola serangan yang tercatat meliputi terjangan berkecepatan tinggi, gigitan, dan tabrakan menggunakan massa tubuh.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan ilustrasi anatominya.
"𝘛𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪... 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘶𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯, 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥-𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳 𝘥𝘶𝘭𝘶𝘢𝘯."
Ia memperbesar bagian kaki dan leher monster tersebut.
Daripada mengincar bagian tubuh yang dilindungi otot tebal, mungkin lebih masuk akal menunggu kesempatan menyerang titik yang sulit dipertahankan.
Namun, ia segera menggeleng.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮. 𝘎𝘢𝘮𝘣𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬."
Ia mengambil buku catatan dan mulai menuliskan beberapa kemungkinan taktik.
Siang harinya, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengunjungi toko perlengkapan medis.
Ia membeli perban elastis, kasa steril, cairan pembersih luka, plester, dan beberapa perlengkapan pertolongan pertama sederhana.
Ketika melihat total pembelian, wajahnya sedikit berubah.
"𝘓𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢..."
Sebagian besar tabungannya masih terbatas karena sebelumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan perayaan kelulusan.
Ia menghitung ulang uang yang tersisa.
Reward misi sebesar 160.000 Sen memang terlihat menggiurkan.
Namun, angka tersebut merupakan pembayaran untuk satu tim.
Belum termasuk pembagian berdasarkan kontribusi serta ketentuan administrasi W.H.O.
Artinya, uang yang benar-benar akan diterimanya belum tentu sebesar yang dibayangkan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memasukkan barang-barang ke dalam tas.
"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩. 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘥𝘰𝘮𝘱𝘦𝘵 𝘵𝘪𝘱𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯."
Sore harinya, 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 menemukan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sedang memeriksa isi tas di ruang tengah panti.
Perempuan tua itu memperhatikan perlengkapan medis yang tersusun di atas meja. Ia mengambil satu gulungan perban dan menimbangnya sebentar di tangan.
"𝘗𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪... 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat kepala.
Untuk sesaat, ia mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.
Namun, menyembunyikan penugasan pertamanya dari orang yang telah membesarkannya sejak kecil jelas bukan keputusan baik.
"𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘞.𝘏.𝘖, 𝘕𝘦𝘬. 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘩𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮. 𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨."
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 terdiam. Gulungan perban itu masih berada di tangannya.
"𝘔𝘪𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢? 𝘊𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩-𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩."
"𝘔𝘦𝘮𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘉𝘌𝘛𝘈. 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭 𝘌, 𝘥𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 buru-buru menambahkan, "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯, 𝘕𝘦𝘬. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘮, 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨."
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 menarik kursi, lalu duduk di hadapannya.
"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap wajahnya.
Ia ingin mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Namun, laporan lima korban yang dibacanya semalam masih terbayang jelas.
"𝘉𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢, 𝘕𝘦𝘬. 𝘌𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢. 𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨... 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵."
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 meletakkan perban itu kembali ke meja. Pelan sekali.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melanjutkan sebelum keheningan itu terlalu panjang.
"𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯. 𝘓𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘦𝘬𝘢𝘵, 𝘕𝘦𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘬𝘶."
"𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘬𝘪𝘳𝘢, 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯, 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨." 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak bertahan lama. "𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘫𝘶𝘨𝘢."
Ia meraih tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘮𝘦𝘩𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘶𝘤𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘱𝘢𝘩𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam cukup lama.
Kemudian ia membalas genggaman tangan 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘕𝘦𝘬. 𝘐𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪."
Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"𝘓𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘶𝘭𝘢, 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬. 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘶𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳-𝘬𝘶."
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 menepuk punggung tangannya.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯-𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘴𝘶𝘭𝘪𝘵. 𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘱𝘢."
Malam sebelum keberangkatan tiba.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sudah menyelesaikan seluruh persiapan.
Pakaian lapangan telah disusun.
Perlengkapan medis disimpan dalam kompartemen terpisah.
Smartphone ESIA terisi penuh, sementara dokumen dan identitas Hunter berada di tempat yang mudah dijangkau.
Ia juga sudah meminta izin tidak masuk kerja kepada pengelola minimarket.
Semuanya tampak siap.
Namun, untuk ketiga kalinya malam itu, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali membuka tasnya.
"𝘗𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯... 𝘢𝘥𝘢. 𝘐𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴... 𝘢𝘥𝘢. 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘪𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘺𝘢... 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩."
Ia menutup tas.
Lima menit kemudian, tangannya kembali bergerak menuju ritsleting.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendengus.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘺𝘢𝘸𝘪𝘴𝘢𝘵𝘢?"
Ia tertawa pelan, meskipun kegelisahannya tidak benar-benar hilang.
Dari jendela kamar, cahaya lampu halaman panti terlihat redup.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 teringat percakapannya bersama 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
Kemudian bayangan anak-anak yang berebut ingin melihat kartu Hunter miliknya muncul dalam ingatan.
Ia mematikan layar ponsel.
"𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩. 𝘛𝘪𝘥𝘶𝘳. 𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘫𝘦𝘳𝘯𝘪𝘩."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 merebahkan tubuh dan memejamkan mata.
Malam itu, ia berusaha tidur lebih awal.
Pagi berikutnya.
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 telah menyiapkan sarapan sederhana.
Sebelum berangkat, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memastikan seluruh perlengkapan berada di dalam tas.
Udara masih terasa dingin ketika ia melangkah keluar dari panti.
"𝘔𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘭𝘶," ujar 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 dari depan pintu.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh.
"𝘐𝘺𝘢, 𝘕𝘦𝘬. 𝘉𝘦𝘬𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘣𝘢𝘸𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘤𝘢𝘳, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳𝘪."
𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 mendekat dan membetulkan tali tas di bahunya, meskipun tidak ada yang perlu dibetulkan.
"𝘏𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯. 𝘋𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangguk, lalu berbalik.
Beberapa waktu kemudian, ia tiba di depan kantor cabang W.H.O.
Bangunan yang sama.
Pintu yang sama.
Namun, perasaannya jauh berbeda.
Beberapa minggu lalu, ia datang ke tempat ini sebagai peserta yang dijuluki Zero.
Seseorang yang bahkan tidak dipercaya mampu menyelesaikan ujian Hunter.
Sekarang, sebuah kartu resmi tersimpan di sakunya.
ERVAN NOIR — HUNTER RANK NOVIE.
Ia mengeluarkan smartphone dan membuka aplikasi HUNTER.
Status penugasannya telah berubah.
[ ASSEMBLY POINT REACHED ]
[ MISSION E-EXTERMINATION / 08-117 ]
[ REPORT TO OPERATIONAL BRIEFING ROOM ]
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengencangkan tali tasnya.
Kemudian ia melangkah menuju pintu otomatis.
Whoosh!
Pintu terbuka.
Namun, baru beberapa langkah memasuki lobi, seorang pria berseragam operasional W.H.O menghentikannya.
"𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧?"
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 segera menegakkan tubuh.
"𝘐𝘺𝘢, 𝘗𝘢𝘬. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘳𝘪𝘦𝘧𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘴𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯."
Pria itu mengamati kartu identitas yang ditunjukkan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Kemudian pandangannya berhenti pada informasi Rank Novie. Hanya sedetik, tetapi 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyadarinya.
"𝘈𝘯𝘨𝘨𝘰𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘮𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘳𝘪𝘦𝘧𝘪𝘯𝘨."
Ia menyerahkan kartu akses sementara.
"𝘒𝘦𝘵𝘶𝘢 𝘵𝘪𝘮𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪. 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘈𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerima kartu tersebut.
"𝘉𝘢𝘪𝘬, 𝘗𝘢𝘬. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢."
Pria itu menunjuk koridor di sebelah kanan.
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengikuti arah tersebut.
Setiap langkah membuat detak jantungnya semakin jelas terdengar.
Di ujung koridor terdapat sebuah pintu dengan tulisan:
OPERATIONAL BRIEFING ROOM — TEAM 04
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti tepat di depannya.
Dari balik pintu terdengar beberapa suara orang sedang berbicara.
Ia menarik napas.
Kemudian tangannya bergerak menuju panel akses.
Bip!
Lampu indikator berubah hijau.
Pintu perlahan terbuka.
Dan tepat ketika 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hendak melangkah masuk, sebuah suara berat terdengar dari dalam ruangan.
"𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat wajah.
Seorang pria yang tampak lebih tua sedang berdiri di depan layar proyeksi peta hutan.
Tatapannya tajam, tetapi tidak menunjukkan permusuhan.
Pria tersebut melipat kedua tangan.
"𝘔𝘢𝘴𝘶𝘬, 𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘴𝘪. 𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵, 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘶𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melangkah masuk. Pintu menutup di belakangnya.
Pria itu mengetuk layar di sampingnya.
"𝘉𝘗, 𝘛𝘩𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘷𝘦𝘭, 𝘱𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘵𝘢𝘳𝘨𝘦𝘵. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘪𝘳𝘢𝘢𝘯." Ia menatap mereka satu per satu. "𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘢𝘬𝘶. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘞.𝘏.𝘖 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯?"
---
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊