NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Zavran melangkah bolak-balik di ruang kerjanya. Sesekali tangannya membetulkan letak jam tangan, lalu matanya kembali menatap pintu di depannya.

"Di mana kamu Devan..." gumam Zavran.

Tak lama kemudian, pintu besar itu terdorong pelan. Devan melangkah masuk dengan tangan kecilnya menggenggam erat sebuah boneka rajut beruang cokelat, disusul oleh dua pengawal berjas hitam.

"Kamu dari mana aja, Sayang? Papa cariin dari tadi, lho," bisik Zavran lembut seraya memegang kedua bahu mungil Devan.

Tangannya memeriksa seluruh tubuh sang anak dengan teliti, memastikan tak ada luka sedikit pun.

"M-Maaf... P-Pa..."

"Papa kan sudah pesan, duduk di sini saja sama Paman. Kenapa kamu keluar?" tanya Zavran pelan.

"B-bosan, P-Pa," sahut Devan patah-patah.

"Bagaimana ini bisa terjadi? Saya sudah tegaskan, jangan pernah lepas pandangan dari Devan satu detik pun!" tegur Zavran tegas.

Salah satu pengawal menunduk dalam-dalam. "Mohon maaf , Pak Zavran. Tadi Tuan Muda tiba-tiba lari sangat cepat ke arah koridor utama."

"Lain kali kalau masih terjadi seperti ini, kalian akan saya pecat!" tegas Zavran.

"B-Baik, Pak."

Kedua pengawal itu pamit dan meninggalkan Zavran serta Devan yang asyik bermain dengan mainan barunya.

"Kamu senang banget hari ini. Siapa yang ngasih boneka itu, Van?" tanya Zavran penasaran.

Devan tersenyum bahagia. "Ma... Ma..."

"Mama?! Mama yang ngasih kamu mainan ini?" Tanya Zavran kaget.

Devan mengangguk dan kembali sibuk dengan boneka barunya.

"K-kamu ketemu Mama di mana, Sayang?"

"B-bawah. Ma.. Ma.. cantik."

Zavran kaget mendengar jawaban dari Devan. Selama ini Devan sangat tertutup. Tidak mau bicara dengan orang asing, bahkan menolak hadiah atau pemberian dari siapa pun. Tapi, sekarang Devan sangat senang dengan boneka barunya.

Zavran takut semua itu hanya halusinasi Devan yang sangat merindukan sosok ibu.

"Mau... ketemu.. Ma.. Ma..." ucap Devan memegang tangan Zavran.

"Oke, Sayang... Nanti, ya. Sekarang kita ke rumah sakit dulu. Dokter Ica sudah menunggu kita," ucap Zavran mengalihkan perhatian Devan. Ia memeluk tubuh kecil itu sangat erat.

"Oke.. Pa.."

**

Sore harinya, setelah jam kantor selesai Aisha tidak langsung pulang ke apartemen, gadis itu justru membelokkan langkahnya menuju salah satu pusat oleh-oleh dan toko suvenir paling terkenal di kota tersebut.

"Oke, baju bayi udah, kain wol khas Skotlandia udah... Tinggal kado buat Tari," gumam Aisha sembari mendorong troli belanjaannya yang sudah menggunung dengan berbagai barang.

Tiba-tiba, ponsel di sakunya bergetar. Nama "Tari" tertera di layar. Aisha langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponselnya di antara telinga dan bahu, sementara kedua tangannya tetap bertengger di pendorong troli.

"Halo, Tar! Aku lagi di toko suvenir. Kamu mau nitip apa lagi, sih? Troliku udah kayak mau rubuh nih," seru Aisha setengah berbisik agar tidak mengganggu pengunjung lain.

"Aisha! Plis, satu lagi! Cariin boneka tartan khas sini yang lucu banget itu! Yang bajunya kotak-kotak merah. Buat pajangan di kamar pengantin nanti!" suara Tari terdengar memelas di ujung telepon.

"Tartan bear? Haduh, Tari... toko ini segede gaban. Mana aku tahu boneka itu ditaruh di sebelah mana," keluh Aisha sambil celingukan ke kiri dan ke kanan, matanya sibuk memindai deretan etalase tinggi.

"Plis, Sha! Kamu kan sahabat terbaik aku se-dunia-akhirat. Cariin ya? Dadah Aisha cantik!"

"Eh, Tari! Tunggu dulu—"

Bip. Telepon diputus sepihak oleh Tari.

Aisha menghela napas pelan sambil tersenyum tipis. "Dasar Tari... kebiasaan main matiin telepon gitu aja."

Aisha kembali mendorong trolinya. Karena sibuk melirik ke atas etalase di sisi kiri dan kanan mencari boneka titipan Tari, Aisha kurang memperhatikan jalan di depannya. Lorong toko yang agak menurun membuat troli berat itu meluncur semakin kencang.

Di sisi lain lorong, Zavran sedang berdiri berjingkit di atas sebuah kursi kayu kecil. Pria berjas rapi itu sedang berusaha menjangkau boneka beruang rajut cokelat ukuran jumbo yang bertengger di etalase paling atas.

"Sedikit lagi..." gumam Zavran.

SRAAKKK!

"Aww! Eh—ya Allah!" Aisha menjerit kaget saat trolinya tanpa sengaja menabrak kaki kursi kayu yang dinaiki Zavran.

Zavran kehilangan keseimbangan. Matanya membelalak kaget. Ia berusaha menyelamatkan diri agar tidak jatuh dengan mencengkeram papan rakitan etalase di depannya.

CRASH! DUK! DUK! DUK!

Niat hati mencari pegangan, Zavran justru merobohkan papan penyangga etalase atas. Seketika itu juga, puluhan boneka beruang berbagai ukuran runtuh seperti longsoran salju, menimpa tubuh Zavran yang ambruk ke lantai.

"Aaaaa!" jerit Aisha kaget setengah mati.

Bukannya langsung menarik troli mundur, dalam kepanikannya Aisha malah tak sengaja maju sambil mendorong trolinya lebih jauh.

KREK!

GUBRAK!

Roda troli yang lumayan berat itu sukses melindas ujung kaki Zavran, dan yang lebih parah, kaki Aisha yang berbalut sepatu bot tanpa sengaja menginjak telapak tangan kanan Zavran yang tergeletak pasrah di lantai!

"AARRGGHH!!"

Aisha melompat mundur dengan wajah pucat pasi. "Astaghfirullahaladzim! Eh, sorry, Sir! I am so so sorry! Saya tidak sengaja!" celetuk Aisha panik.

Beberapa penjaga toko langsung berlari menghampiri dengan wajah panik.

"Is everything alright, Sir?" tanya salah satu penjaga toko dalam bahasa Inggris dengan logat lokal yang kental.

Zavran menggeram pelan. Kemudian menepis tumpukan boneka di atas dadanya, lalu duduk sambil memegang tangannya yang kebas akibat terinjak.

"Do I look alright to you?" sembur Zavran dengan sangat dingin.

Penjaga toko itu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ketakutan.

Aisha yang berdiri di samping troli mengedipkan matanya beberapa kali. Ia baru sadar pria yang barusan ia 'lindas' itu ternyata orang Indonesia juga, terlihat dari parasnya.

"Maaf! Maaf banget, Pak! Saya benar-benar tidak sengaja! Pak, Bapak tidak apa-apa?!" panggil Aisha penuh penyesalan.

"Maafkan saya, Pak... Saya benar-benar minta maaf..."

"KAMU PUNYA MATA GAK SIH?!" bentak Zavran.

Aisha tersentak kaget mendegar bentakan Zavran.

"Kalau jalan pakai mata bukan pakai jidat!" bentak Zavran lagi.

"Lorong segini luasnya, kenapa saya yang kamu tabrak?! Sudah tangan saya kamu injak, kaki saya dilindas lagi! Kamu mau bikin saya cacat, hah?!"

"Heh, Pak! Santai dong! Gak usah bentak-bentak gitu!" cercah Aisha.

"Saya kan udah minta maaf baik-baik! Lagian situ ngapain juga manjat-manjat kursi kayu rapuh di toko orang?"

"Apa kamu bilang?! Kamu yang nabrak saya, kamu yang salah, kenapa sekarang kamu yang galakan?!"

"Bukan galak, Pak! saya tadi udah minta maaf sampai mau sukem di kaki Kamu. Tapi Kamu malah bentak-bentak aku kayak ngajak perang. Ya udah, aku layani!"

Zavran mengelus jemarinya yang masih kebas, lalu berlutut di lantai untuk memungut boneka-boneka beruang yang berserakan di sekitarnya.

Aisha yang melihat itu ikut berlutut di sampingnya, meraih dua boneka beruang rajut sekaligus sambil terus menatap Zavran tajam.

" Semua ini gara-gara kamu yang jalan sambil melamun! Berantakan semuanya!"

"Siapa yang melamun?!" sahut Aisha tak mau kalah sambil menyusun tiga boneka beruang kecil ke rak bawah.

"Aku itu lagi cari kado! Lagian Kamu pendek banget apa gimana, sampai harus manjat kursi cuma buat ambil boneka gituan?"

"Saya tidak pendek!Boneka ini ditaruh di rak paling atas! Mana ada orang bisa jangkau tanpa kursi?!"

"Tinggal bilang ke petugasnya, Pak Es Kutub! 'Sir, tolong ambilkan boneka yang itu', simpel kan? Otak dipasang, bukan cuma gengsi yang dipasang tinggi-tinggi!" jawab Aisha sambil menyikut pelan pinggang Zavran agar pria itu bergeser dari tumpukan boneka lain.

"Kamu nyikut saya?!"

"Sengaja! Habisnya Kamu ngatur jalanan toko serasa jalanan milik nenek moyang Kamu!" balas Aisha sambil terkekeh pelan melihat ekspresi syok Zavran.

"Kurang ajar kamu ya..." gumam Zavran ngotot, mukanya sudah merah padam. Sambil terus memungut boneka terakhir, yaitu boneka beruang rajut cokelat jumbo yang memang jadi incaran utamanya Zavran.

"Kalau jari saya patah dan tidak bisa digunakan besok, saya bakal cari kamu sampai ke ujung dunia buat minta ganti rugi! Ingat itu!"

"Cari aja kalau bisa! Biar sekalian aku tagih ganti rugi atas kerusakan gendang telinga aku gara-gara dengar omelan Kamu!" cerocos Aisha ringan tanpa beban.

Seorang petugas toko bergegas menghampiri mereka berdua yang masih berlutut berdampingan di lantai sambil saling memplototi.

"Is everything alright, Sir, Miss?" tanya petugas toko cemas.

Zavran langsung berdiri kaku sambil mendekap erat boneka beruang rajut jumbo di dadanya. Ia mencoba merapikan jas mewahnya.

"I am fine," cetus Zavran dingin, lalu melirik Aisha tajam. "Just dealing with a walking disaster."

Aisha ikut berdiri santai sambil mengibaskan debu di rok panjangnya. "Biarin dibilang bencana berjalan, daripada cowok suka ngomel lagi!" ledek Aisha tengil.

Zavran mendengus keras, memutar badannya dan berjalan kaku menuju kasir dengan kaki yang masih sedikit pincang, sementara bibirnya masih komat-kamit mengutuki nasib sialnya sore itu.

Aisha tertawa kecil melihat punggung Zavran yang menjauh. "Ganteng sih ganteng... tapi ngomelnya ngalahin ibu-ibu posyandu," guman Aisha sambil mendorong trolinya.

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!