"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejahatan David Veyron
Suasana di dalam ruang analisis kediaman Velmore terasa amat hening. Hanya deru pendingin udara dan suara berdengung halus dari server komputer berperforma tinggi yang mengisi ruangan. Di atas meja kaca berukuran besar, kotak besi kedap air yang dibawa Levara dari rumah tua Edlan telah terbuka lebar.
Layar monitor utama dipenuhi baris-baris kode biner yang rumit. Dante memarkirkan kursi rodanya rapat di depan meja, jemarinya menari lincah di atas papan ketik seraya mengawasi setiap baris data yang muncul. Levara duduk tepat di samping suaminya, menatap pergerakan angka di layar dengan dada berdebar kencang, sementara Riko berdiri sigap di samping mereka.
"Ada drive penyimpanan terenkripsi ganda di dasar kotak ini, Levara," ujar Dante seraya menunjukkan flashdrive berbahan baja titanium khusus. "Sistem keamanannya menggunakan algoritma ganda. Dan yang luar biasa ... enkripsi ini ditandatangani dengan kunci kriptografi milik mendiang Ayah saya."
Levara tersentak pelan. "Ayahmu, Dante?"
"Benar," jawab Dante mantap seraya menghubungkan drive tersebut ke port server. "Tampaknya sebelum Edlan menghilang, Ayah saya sudah lebih dulu mengamankan salinan dokumen terenkripsi ini dan menyembunyikannya di dalam brankas kedap air milik Edlan."
"Apa kamu bisa membukanya, Dante?" tanya Levara antusias, menatap layar monitor yang mendadak berkedip merah.
"Sistem ini menuntut delapan digit kunci enkripsi kombinasi huruf dan angka," sahut Dante. "Ada teks petunjuk otomatis yang ditinggalkan Ayah saya di layar: 'Tanggal ikrar pendirian Velmore dan awal perlawanan.'"
Dante terdiam sejenak. Ia memejamkan matanya, mengingat kembali percakapan masa kecilnya dengan sang ayah sebelum kecelakaan tragis merenggut nyawa orang tuanya.
"Dante, Velmore dibangun bukan cuma untuk bisnis, tapi untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi dari orang seperti Veyron."
Mata Dante mendadak terbuka lebar. Ia menatap Riko dan Levara. "Kodenya ... 21041998."
"21 April 1998?" tanya Levara pelan.
"Itu tanggal Ayah saya dan Edlan pertama kali menandatangani kesepakatan aliansi Velmore," tegas Dante.
Dante menekan tombol Enter.
Bip!
Bip!
Bip!
Layar monitor yang semula menyala merah seketika berubah hijau terang. Bilah kemajuan melompat cepat menuju seratus persen.
ACCESS GRANTED.
Ratusan berkas rahasia, rekaman audio digital, hingga lembaran bukti transaksi bank terhampar jelas di layar monitor besar. Dante dengan cepat membuka folder utama berstempel rahasia.
"Lihat ini, Levara ...," suara Dante mendadak menegang, matanya menajam menatap baris-baris data di hadapan mereka. "Ini bukan cuma dokumen alokasi saham biasa."
Levara memajukan duduknya. "Apa isinya, Dante?"
"Ini adalah bukti alur transaksi ilegal senilai triliunan rupiah yang dilakukan Veyron Tower untuk mencaplok aset Velmore secara paksa selama belasan tahun," jawab Dante. "Dan yang paling krusial ... rekaman audio di folder ini berisi percakapan langsung antara Julian dan David Veyron saat merencanakan pembunuhan ayahmu serta sabotase kecelakaan mobil saya!"
Dante menekan tombol putar pada salah satu berkas audio digital.
Suara berat dan dingin milik David Veyron bergema nyaring di dalam ruangan.
"Habisi Edlan sampai ke akar-akarnya. Buat seolah itu kecelakaan biasa. Jangan tinggalkan bukti satu pun."
Suasana ruangan seketika membeku. Air mata Levara menetes membasahi pipinya saat mendengar bukti kejam di balik hancurnya masa kecil mereka.
Dante mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras bagaikan batu karang, memancarkan aura dendam dan dominasi yang amat dingin.
"Dokumen terenkripsi milik Ayah saya ini adalah Vonis Mati bagi mereka," bisik Dante dengan suara rendah yang mengintimidasi. Ia mengulurkan tangannya dan meremas erat jemari Levara. "Permainan bertahan kita selesai malam ini, Levara. Mulai besok, kita hancurkan David Veyron sampai ke akarnya."
Levara menghela nafas pelan, "Jangan terburu-buru, kita harus cari saksi kunci,"
Ruangan itu terasa makin menusuk dingin. Di layar monitor utama, ratusan halaman draf gugatan hukum, foto medis berstempel rahasia, serta salinan berita acara pemeriksaan dari dua puluh satu tahun lalu terbentang tanpa ampun.
"Lihat ini," titah Dante.
Levara berdiri membatu di samping kursi roda Dante, matanya bergerak cepat membaca setiap kalimat yang tertera di dokumen digital tersebut. Jemarinya bergetar hebat saat menatap baris demi baris nama para korban, gadis-gadis muda yang hidupnya dihancurkan oleh kekuasaan tanpa batas David Veyron.
"Satu per satu dari mereka dibungkam ...," suara Levara bergetar parau, hampir tenggelam oleh napasnya yang tercekat. "Ada yang diancam, diusir dari kota, bahkan dihilangkan tanpa jejak ...,"
Dante menarik satu folder lain yang ditandai dengan stempel merah pudar bertuliskan Hukum & Etika.
"Ayahmu, Edlan, adalah satu-satunya pengacara yang berani berdiri membela mereka," ujar Dante dengan suara berat dan dalam.
"Ketika seluruh firma hukum di kota ini menolak karena takut pada cengkeraman Veyron, Papa Edlan justru mempertaruhkan karier dan nyawanya. Dia mengumpulkan bukti visum, merekam kesaksian saksi kunci, dan menyusun draf gugatan ini secara sembunyi-sembunyi."
Levara menatap layar dengan mata berkaca-kaca. Di lembaran terakhir dokumen tersebut, tertera tanda tangan Edlan di atas meterai, berdampingan dengan cap resmi aliansi rahasia Velmore.
"David Veyron panik," lanjut Dante, pandangannya menajam menatap baris kode transaksi di monitor sebelah kanan. "Jika draf ini sampai masuk ke pengadilan negeri, kekuasaan dan citra mulia Veyron yang dibangun puluhan tahun akan hancur seketika. Merek dagang mereka runtuh, dan David akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam sel."
"Makanya ... makanya malam itu mereka datang," bisik Levara, air matanya akhirnya menetes membasahi pipi. "Mereka tidak cuma mau merebut aset Velmore. Mereka mau memusnahkan berkas ini dan menculik Papa ...,"
Levara menghapus air matanya, ia ingat kenangan manis bersama sang ayah.
"Lepa mau jadi pengacala kayak Papa,"
"Pengacara? Heum ... jangan sayang, Levara jadi putri cantik saja biar Papa yang jadi pengacara,"
"Kenapa?" Tanya Levara kecil bingung.
"Karena ... Tuan putri perlu penjagaan ketat. Kalau pengacara, akan banyak bahaya yang datang. Mengerti?"
Levara menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Rasanya dadanya sesak, sulit menarik oksigen. Ia mengangkat tangannya dan mencoba menghapus air matanya. Namun, ia teringat sesuatu. Ia pun membuka semua berkas investigasi selama beberapa wakti belakangan ini. Matanya melihat ke arah alamat yang ada di Sebuah kertas dan bertuliskan huruf H.
"Ha ... Hele ...,"
"Dante, Tante Helena!"
"Helena? Siapa?" tanya Dante bingung karena istrinya tiba-tiba menyebut nama yang tidak dia tahu.
"Asisten Papa! Dia ... dia pasti memegang kunci lain tentang Papa!" Seru Levara yang membuat Dante menoleh pada Riko yang langsung mengangguk.
"Besok, kita berangkat,"
_______________
Pusing ya🤣🤣 ku bawa kalian pusing pusing dulu, sebelum karya selanjutnya ku buat kalian nangis nangis 🤣
malemgara2 mikirin leva😭😭